BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
nyamannya Pondok Janda


__ADS_3

Masih di hari yang sama, Josh dan Mike masih terdiam di kamarnya masing masing. pikirannya menerawang dengan apa yan baru saja mereka lakukan kepada para janda itu. Entah apa yang harus mereka perbuat selanjutnya, padahal mereka masih membutuhkan para janda untuk mendapatkan barang yang membuat mereka bertahan disini.


Dengan penolakan yang mereka lakukan pasti hubungan mereka yang semula hangat akan menjadi canggung dan hambar. Lalu bisa saja mereka tidak memiliki kesempatan untuk mendekati mereka lagi karena penolakan yang mereka lakukan. Apa lagi saat ini ada Ken disana. jelas mereka akan tersaingi dengan adanya pria itu.


"Permisi!" seruan seseorang yang familiar membuat dua bule yang hanyut dalam lamunan di dalam kamar merasa sedikit terkejut. Hampir beersamaan, keduanya langsung turun dari ranjang dan keluar kamar untuk menemui orang yang baru saja berteriak di depan rumah mereka.


"Eh, Pak Kades, masuk, Pak," ucap Mike saat dirinya sudah berada di luar kamar.


"Apa kedatangan saya mengganggu waktu istirahat kalian?" tanya pak kades setelah duduk di kursi kayu.


"Tentu saja tidak, pak Kades. Apa pak Kades ada perlu dengan kami?"


Pak kades meletalkkan buku tebal yang dia bawa dia atas meja. "Saya datang keisni hanya akan mendata kalian saja. Apa kalian masih meyimpan kartu identitas dan surat ijin tinggal di negara ini?"

__ADS_1


"Untuk identias ada, Pak. cuma untuk visa dan surat lainnya, dulu kami meninggalkannya di kamar hotel yang kami sewa. Tapi kami sudah memberi keterangan saat dibandara kalau kami disini sebagai wisatawan selama tiga bulan."


"Oh begitu? Ya udah saya minta kartu identitas saja. Takutnya ada inspeksi mendadak dari kota nanti malah saya yang kena masalah dengan tuduhan menyembunyikan imigran gelap."


Josh dan Mike sontak terkekeh mengiringi kekehan yang keluar dari mulut pak kades yang menggema terlebih dahulu. Keduanya lantas bangkit dan masuk ke kamar untuk mengambil kartu identitas mereka.


"Tuan Ken kemana? Apa kalian tidak melihatnya?" tanya pak Kades sambil menerima karu identitas dua bule itu.


"Tidak tahu. Mungkin masih di pondok janda. Kenapa, Pak kades?" tanya Josh.


"Oh begitu. mungkin dia punya cara sendiri untuk mengatasi masalah itu, pak kades. buktinya semalam dia mampu berjaga di pondok janda."


"Ah iya, benar juga." Pak kades kembali melanjutlkan pekerjaaannya. Setelah semuanya beres, dia lngsung pamit karena ingin beristirahat. Dua bule itupun sama, mereka memilih masuk ke kamarnya masing masing buat istirahat.

__ADS_1


Sementara itu di pondok janda, Ken masih terlibat obrolan dengan beberapa janda di depan pondok. Ken masih mengetik kata untuk menjawab pertanyaan yang tadi belum sempat terjawab. Ken pun menjawab sebisanya. "Yang saya tahu, di negeri kami, banyak orang yang memilih hidup tanpa ikatan. Mereka tidak mau membebani dirinya dengan ikatan khusus yang seakan mengekang gerakan mereka."


Para janda yang membaca jawaban dalam ponsel Ken, nampak manggut manggut pelan. lalu salah satu diantrara mereka kembali mengetik sesuatu. "Lalu, apa mereka tidak memikirkan masa tua mereka? Kan nantinya mereka jika tua. Apa tidak kesepian?"


Senyum ken sontak terbesit saat membaca balasan dari janda dan dia kembali mengetik sesuatu. "Bukankah mereka sama degan kalian? Kalian sendiri kenapa memilih brpisah dengan pasangan kalian? Terus masa tua kalian bagiamana?"


Tentu saja semua janda yang ada di sana langsung terkejut dan mereka merasa teersindir dengan ucapan Ken. Sedangkan bule berwajah oriental itu malah terkekeh melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan para janda. Ken tahu, para janda pasti tersindir dengan pertanyaan yang dia berikan.


Di saat mereka mau melanjutkan percakapan, dari dalam rumah keluar seorang wanita dan meminta salah satu dari para janda untuk mengambil kayu bakar yang ada di hutan. Ken tertegun sat sala satu janda bangkit dan melangkah pergi, saat Ken bertanya, wanita itu bilang mau ke hutan. Ken pun memutuskan untuk ikut menemaninya. Tentu saja janda itu sangat senang.


Sepenjang perjalanan mereka berbincang melalui ponsel yang ken bawa. Hingga Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di sebuah gubug dimana sisi kanan kirinya ada kayu bakar dari kumpulan ranting dan dahan yang siap diangkut. Karena penasaran, Ken masuk ke dalam gubug itu, juga wanita yang bersama Ken mengikutinya dan mereka duduk sejenak disana.


Saat mereka sedang asyik ngobrol, Ken dikejutkan dengan pertanyaan yang diajukan janda di depannya yang sedang senyum senyum menahan malu.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2