
Kabar tentang dua bule yang ingin menjadi guru sukarelawan langsung saja menyebar di kalangan para warga. Kabar baik tersebut tentu saja disambut baik oleh para penduduk, terutama kaum wanita. Para wanita disana justru lebih sangat antusias. Dengan hebohnya mereka sangat tak sabar menanti bule itu mengenalkan bahass inggris pada mereka.
Kehebohan yang sama juga terjadi di sebuah bangunan yang cukup luas dan besar. Bangunan tersebut terdiri dari banyak ruang. Ada sekitar tiga puluh lima ruang di kamar itu. dua puluh lima diantaranya adalah ruang kamar. Dari banyaknya kamar itu masing masing di isi oleh satu wanita, dan kebanyakan wanita yang ada disana adalah wanita tanpa suami alias janda.
Kenapa banyak janda di kampung itu? Dan kenapa pula janda jandanya masih begitu muda? Itulah yang sering menjadi pertanyaan bagi warga yang tidak mengetahui layar belakang kenapa disana banyak janda. Padahal disana juga banyak anak gadis dan wanita bersuami. Tapi karena banyaknya janda yang ada disana, menyebabkan nama desa itu berubah dan lebih di kenal dengan nama kampung janda.
"Kalian sudah dengar berita dari Pak Kades?" ucap salah satu dari wanita itu yang akran di panggil Mina, janda berusia dua puluh tujuh tahun.
"Tentang bule yang akan ngajar anak anak bahasa inggris? Aku sih udah dengar tadi," balas janda lainnya.
"Emang benar? Ngajar anak anak doang?" janda yang lain pun ikut bersuara.
"Lah kalau hanya anak anak aja yang diajari ya percuma. Kita juga pengin belajar."
"Iya, Betul."
"Benar, mumpung gratis."
Suasana satu ruang yang biasa dijadikan tempat berbagai kegiatan itu nampak riuh oleh suara yang bersahutan dari para wanita yang ada disana. Para wanita itu tidak terima jika niat baik dua bule itu hanya tertuju pada anak anak saja.
__ADS_1
"Gini aja deh, bagaimana kalau kita ke rumah Pak kades sekarang? Mumpung ini baru rencana, kita harus secepatnya menyampaikan aspirasi kita."
"Setuju!"
"Iya, aku juga setuju!"
Mereka saling bersahutan dan hanya ada kata setuju yang keluar dari mulut para janda itu. Karena mereka hampir mengeluarkan satu suara, maka mereka memutuskan untuk segera saja pergi ke rumah Pak Kades yang jaraknya memang tidak terlalu jauh.
"Loh, loh, loh, ini ada apa rame rame pada datang kemari?" seru Bu Kades begiu melihat kedatangan para wanita dari pondok janda.
"Pak Kades mana, Bu? Kita ingin bicara?" tanya Mina yang mewakili para janda yang datang bersama. Di saat bersamaan orang yang mereka cari lantas muncul.
"Pak Kades, apa benar bule itu akan menjadi guru gratis untuk anak anak?" ditodong pertanyaan seperti itu Pak Kades langsung saja mengiyakan. "Lah kok cuma anak anak sih, Pak Kades? Kami juga ingin belajar, Pak Kades. Masa anak anak doang?"
Pak Kades beserta istrinya pun serentak mengerutkan keningnya. "Kalian ingin belajar? Nggak salah?" tanya Bu Kades meragukan.
"Ya nggak lah, Bu kades, kita juga ingin maju, bukan cuma anak anak doang."
Pak kades dan istrinya sontak saling tatap. Biar bagaimanapun apa yang dikatakan para janda itu ada benarnya. Bukan hanya para janda yang ingin maju, semua penduduk kampung juga banyak yang ingin maju dan mampu memperbaiki kehidupan mereka.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah. Nanti usul kalian akan saya bicarakan besok dengan para pejabat desa dan orang yang berkepentingan. Sekarang, mending kalian bubar."
"Benar ya, Pak Kades. Pertimbangkan permintaan kami?"
"Iya, besok akan dimushawarahkan, kalian tunggu saja kabarnya besok. Sekarang kalian bubar."
Para janda itu lansung membuarkan diri dengan hasil yang cukup memuaskan. Tapi sayang, datangnya para janda ke rumah Pak Kades, memicu terjadinya reaksi lain dari para penduduk yang menyaksikan kejadian tersebut. Mereka tentu saja tak ingin juga amb bagian dari niat baik dua bule yang ada disana.
"Loh, kalau janda itu pada minta jatah diajar Tuan bule, kita juga harus dapat jatah juga dong, nggak adil kalau hanya para janda yang dapat jatah."
"Bener. Memangnya yang pengin maju hanya para janda doang. Kita para gadis di desa ini juga butuh pendidikan yang lebih layak. Iya nggak?"
"Nah iya, jangan janda doang yang selalu di istimewain. Mentang mentang mereka janda jadi harus selalu diistimewakan gitu? Nggak bisa!"
"Gini aja deh, kita juga harus usul kepada Pak kades gimana?"
"Setuju!"
Para gadis yang terbentuk dalam karang taruna itupu langsung saja bergegas ke rumah Pak Kades untuk melayangkann protesnya. Ternyata bukan hanya para gadis saja yang ingin ambil bagian dari rencana dua bule, para wanita bersuami juga akan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
...@@@@@@...