
Petang kini telah menjelang. Mike kini terlihat sedang bersiap diri menuju ke rumah wanita yang katanya hampir dua tahun tidak pernah disentuh sang suami karena di tinggal merantau. Tidak ada persiapan khusus yang dilakukan Mike. Dia hanya memakai kaos tanpa lengan, celana kolor dan sandal jepit pemberian warga sekitar. Dengan sedikit perasaan was was, Mike mulai keluar rumah setelah pamit pada Josh.
Kampung ini kalau menjelang malam memang terlihat mencekam. Hanya ada beberapa sudut jalan setapak yang diberi penerangan dengan lampu listrik. Selebihnya hanya memakai penerangan seadanya. Mike bahkam menyusuri setapak demi setapak tanpa berpas pasan dengan tetangga di sepanjang setapak yang dia lewati. Entah karena takut atau apa, tapi yang pasti suasana lengang sangat terasa di sepanjang setapak menuju rumah wanita bernama Marina.
Tok! Tok! Tok!
Begitu Mike sampai di rumah tujuan, dia langsung mengetuk pintu. Hingga ketukan ketiga, baru terdengar suara sahutan dari dalam rumah.
"Siapa?" tanya wanita dari dalam dengan suara sedikit keras. Mungkin dia hanya sedikit waspada karena masih sedikit trauma atas kejadian penculikan terhadap dirinya.
"Saya," jawab Mike agak grogi. Mendengar suara bule yang berat dan terdengar jantan, senyum wanita yang menghuni rumah itu sendirian langsung merekah. Bergegas wanita melangkah ke arah pintu dan membukanya.
"Tuan Bule!" pekik Marina dengan tatapan tidak percaya saat sosok tampan yang ada dalam pikirannya, sekarang berdiri tepat dihadapannya. "Silakan masuk."
Mike tersenyum senang. Dengan sedikit rasa cangggung, kaki Mike melangkah masuk ke dalam rumah wederhana itu. Setelah Marina menutup pintu, wanita itu mempersilakan Mike untuk duduk di kursi kayu yang biasa digunakan untuk menerima tamu.
"Sebentar tuan Bule, saya mau bikin kopi dulu," pamit Marina. Setelah Mike mengangguk, wanita itu langsung saja beranjak menuju dapur. Wajahnya terus merona karena terlalu bahagia. Untuk malam ini, Marina bisa bernafas lega. Setidaknya dia merasa aman, dengan adanya bule di runahnya.
__ADS_1
"Silakan, Tuan, diminum," ucap Marina begitu selesai membuat kopi dan meletakkannya di meja depan Mike duduk. Rasa canggung langsung menelusup hati dua manusia itu. Mike yang biasa melakukan rayuan pada wanita, mendadak tak bisa berkata apa apa saat ini. Mike merasa mungkin karena budayanya berbeda, jadi ada rasa canggung dalam diri Mike saat terjebak dalam suasana seperti ini. Saat ini keduanya duduk saling berhadapan dan terpisah oleh meja ditengah tengah mereka.
"Kirain, Tuan Bule tidak akan datang," Marina mencoba mencairkan suasana.
Mike tersenyum sembari meraih cangkir kopi lalu menyeruput kopi itu. "Kopinya enak sekali. Apa ini kopi bungkusan itu?"
Marina sontak tersenyum. "Bukan, Tuan. Itu kopi asli bikinan saya sendiri."
"Wah! Yang bener?" tanya Mike dengan tatapan tak percaya. Marina pun mengangguk dengan tegas sebagai bukti kalau dia jujur. "Ini kopinya enak sekali, kental dan gurih. Bagaimana cara membuatnya? Apa ada proses khusus?"
Mike sontak tersenyum mendengar kejujuran wanita di hadapannya itu. "Mungkin karena cara mengolahnya masih tradisional kali ya, jadi rasanya bisa seenak ini."
"Mungkin saja, tuan."
Kedua orang itu saling lempar senyum. Mike kembali menyeruput kopinya yang hangatnya mulai berkurang. "Kamu belajar meracik biji kopi dari siapa?"
"Orang tua saya, Tuan, kebetulan keluarga saya punya kebun kopi."
__ADS_1
"Tapi kok kamu tinggal sendirian? Keluarga kamu tinggal dimana?"
Marina lantas bercerita kalau dia memang penduduk asli kampung itu. Tapi karena kebun keluarga ada di desa sebelah dan Marina juga menikah, keluarga memutuskan, Marina dan suaminya tinggal di rumah ini. Sedangkan orang tua dan saudara Marina pindah ke dese tetangga.
"Sepertinya kamu masih sangat muda, kamu menikah di usia berapa sih?"
"Saya menikah saat usia saya menginjak angka dua puluh tahun, Tuan.Dan sekarang usia hampir dua puluh tiga tahun."
Mike tercengang mendengarnya. Otaknya langsung bekerja dengan keadaan wanita itu. Menikah pada usia dua puluh tahun dan sekarang hampir dua tahun dia tidak disentuh suaminya. Sungguh sangat menakjubkan.
"Kamu tidak rindu sama suami kamu?"
Mendengar pertanyaan Mike yang menyebut kata suami, wajah Marina yang tadi nampak ceria, kini berubah menjadi sedikit sendu. Melihat reaksi wanita di depannya, membuat Mike tiba tiba merasa bersalah. Sudah pasti kalau wanita itu merindukan suaminya. Mike merasa salah melempar pertanyaan.
"Kalau kamu merasa sedih dan butuh tempat bersandar, bersandarlah di bahuku, Nona. Kemarilah."
...@@@@@@...
__ADS_1