
Di sana, di dalam rumah yang sangat sederhana itu, dengan dinding yuang terbuat dari papan kayu, Josh dan seorang wanita yang duduk dihadapannya nampak saling diam setelah mereka terlibat dalam pembicaraan serius. Pembicaraan tentang arti bahagia dari cara pandang mereka masing masing.
Definisi bahagia memang tidak ada batasannya, Dan semua itru tergantung dengan cara pandang dari masing masing orang yang menjalaninya. Tidak semua orang harus sama dalam mengartikan kebahagiaan. seperti Josh dan Wanita itu. Mereka juga memiliki cara pandang yang berbeda untuk menentukan rasa bahagia mereka sendiri.
"Jika menikah membuat kita bahagia? Lalu kenapa ada perceraian untuk menyongsong kebahagiaan yang lain? Harusnya bahagia itu untuk selamanya, bukan?" tanya Josh sedikit menyinggung wanita yang terdiam sembari menatapnya. Wanita itu lantas tersenyum tipis, biar bagaimanapun apa yang dikatakan Josh ada benarnya.
"Tapi jika tidak ada yang berkhianat, pasti tidak ada yang namanya perceraian, Tuan," wanita itu masih mampu melawan ucapan Josh. Dari apa yang dikatakannnya, Josh mengerti, wanita itu bercerai karena suaminya berselingkuh.
"Apakah Nona yakin hanya pengkhianatan yang menjadi penyebab gagalnya sepasang suami istri mempertahankan jalannya rumah tangga?" pertanyaan yang keluar dari mulut Josh membuat wanita itu terdiam. Tentu saja dia tahu, bukan hanya perselingkuhan yang menjadi penyebab gagalnya suatu hubungan rumah tangga. Ada banyak kasus penyebab lain, cuma perselingkuhan, faktor yang paling banyak menjadi penyebab banyaknya perceraian.
"Berapa lama anda bercerai, Nona?" tanya Josh lagi karena wanita itu lebih banyak diam sejak dirinya seperti kalah dalam berdebat dengan Josh.
"Sekitar lima tahun, saat anak saya baru umur dua tahun," wajah wanita itu berubah menjdi sedikit sendu.
__ADS_1
"Dari perceraian itu, tetap yang menjadi korban anak anak, bukan?" wanita itu mengangguk pelan. "Itulah, alasan saya tidak ingin terikat dengan wanita manapun. Saya pernah berada lebih buruk dari anak anda. Meski orang tuanya berpisah, anak anda masih bisa melihat wajah orang tuanya, sedangkan saya. Saya sendiri bahkan tidak tahu dari rahim mana saya dilahirkan dan benih pria mana yang menyebabkan adanya saya di dunia ini. tapi saya bahagia dengan apa yang saya jalani saat ini."
Wanita itu masih memandang lekat pria tampan yang ada dihadapannya. Ada rasa haru yang menyeruak dalam hatinya saat mendengar kisah pria tampan itu. Cerita kisah hidup yang dialami oleh Josh tentu cukup membuat wanita itu terkejut. ternyata masa lalu pria itu sangat pahit.
"Banyak yang bilang akan ada pelangi setelah hujan, akan ada kebahagiaan setelah penderitaan, tapi percayalah, bagi saya itu hanya kata kata tak berguna yang terlontar dari mulut orang orang yang masih berharap kebahagiaan abadi."
"Kenapa begitu? Tapi memang benar, kan? Setiap penderitaan pasti akan berakhir dengan kebahagiaan?" wanita itu kembali mengajak Josh untuk berdebat.
Josh pun sontak menyeringai. "Belum tentu! Belum tentu setelah hujan akan selalu ada pelangi. Belum tentu juga setiap penderitaan akan berakhir dengan kebahagiaan. Buktinya pernikahan yang katanya membahagiaan tetap ada perceraian."
"Kenapa perkataan Tuan seakan akan menyindir saya?" sungut si wanita, dan hal itu sukses membuat tawa Josh pecah.
"Hahaha ... saya tidak berniat menyindir, Nona. Saya hanya berbicara tentang kenyataan saja."
__ADS_1
"Tapi kan bisa memakai contoh lain, bukan perceraian," balas wanita itu masih merasa kesal.
"Hahaha ... baiklah, saya minta maaf," pada akhirnya laki lakilah yang harus mengalah dan minta maaf, padahal wanita itu yang terlebih dulu mengajak berdebat. Namun udah menjadi hukum alam, wanita akan selalu menang dalam perdebatan. "Ya udah kita bahas aja yang lainnya."
"Membahas tentang apa? Saya tidak tahu."
Josh pun nampak berpikir sembari terus menatap wanita di depannya hingga wanita satu anak itu menjadi salah tingkah karena Josh memandangnya hampir tak berkedip.
"Kenapa Tuan memandangi saya begitu banget? Tuan tidak sedang berpikiran nakal bukan?"
"Hahaha ..." tawa Josh kembali pecah. Tiba tiba timbul iseng untuk menggoda wanita itu. "Emang apa salahnya kalau saya berpikiran nakal? Nona juga pasti pernah berpikiran nakal tentang saya, iya kan?"
Wajah wanita itu langsung memerah. Bahkan dia menjadi salah tingkah dan memilih memalingkan wajahnya. Senyum nakal Josh pun kembali terkembang. "Selagi saya ada disini. Apa Nona tidak ingin berbuat nakal sama saya?"
__ADS_1
...@@@@@...