BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
Definisi Bahagia


__ADS_3

"Bagaimana masakan saya, tuan? Enak?" tanya seorang wanita pada pria bule yang baru saja mennghabiskan sepiring makanan tanpa sisa. Padahal dilihat dari piringnya saja harusnya wanita itu tahu jawaban yang terlontar dari pertanyyannya sendiri. Tapi wanita itu kurang yakin jika tidak menanyakannya secara lengsung.


"Enak sekali, Nona. Lihat, sampai habis," jawab Josh sambil menunjukkan piring bekas yang dia pakai. wanita itu pun tersenyum senang lalau dia merapikan meja yang baru saja dipakai untuk sarapan mereka berdua. "Apa Nona tinggal sendirian di rumah ini?"


"Tidak, saya tinggal bersama anak saya, Tuan. Tapi anak saya sedang sekolah. Tadi anak saya terlihat bersemangat saat main bola bersama anda," jawab wanita itu sambil memindahkan sisa nasi dan lauk pauk ke dalam lemari tempat menyimpan makanan. Kebanyakan warga kampung disana memang meletakkan makanan dalam tempat tertutup agar tidak dimakan tijkus atau terkena kotoran lainnya.


"Benarkah?' tanya Josh dengan mata yang berbinar. Wanita itu juga dengan antusias langsung mengiyakan. "Sayang sekali saya tidak tahu yang mana anak anda, Nona."


Wanita itu lantas tersenyum dan dia kembali duduk pada kursi yang menghadap Tuan Josh. "Anda sendiri gimana? apa anda juga memiliki seorang anak?" mendengar pertanyaan seperti itu, Josh nampak tersenyum kecut lalu menggeleng pelan. Kening si wanita sontak saja berkerut. "Kenapa? apa anda belum punya istri?"


Josh kembali tersenyum dan menatap lekat wanita yang ada dihadapannya. "Saya belum menikah, Nona."

__ADS_1


Si wanita nampak terkejut. "Loh, saya pikir Tuan sudah berkeluarga? Pantas Tuan sepertinya tenang banget gitu berada di kampung sini. Mungkin karena tidak ada orang yang menghkawatirkan keadaan tuan saat ini ya?"


mendengar pertanyaan seperti itu, tentu saja hati Josh langsung mencelos. Ada semacam cubitan yang tak kasat mata dan itu terasa sedikit sakit dan membuat suasana hatinya tidak nyaman. "Emang apa enaknya kalau ada yang menghwatirkan kita?"


Lagi lagi kening wanita itu berkerut, tapi tak lama setelahnya senyum terkembang dari bibir manisnya. "Tentu saja itu sangat membahagiakan. walaupun rasa khawatir kadang terdengar menyebalkan, tapi ada kasih sayang yang tulus dari orang yang selalu ada untuk kita."


Josh tersenyum tipis. Josh teringat, orang orang yang menghawatirkan dirinya hanyalah para pengasuh panti tempat dia dan MIke tumbuh. Setelah mereka, tidak ada lagi. Mungkin sebenarnya banyak orang yang mengkhawatirkan mereka, tapi mereka terlalu menikmati hidupnya sendiri sampai mereka tidak peka dengan perasaan orang orang terdekat mereka.


"Apa Tuan tidak ada keinginan untuk memilki sebuah keluarga?"


Pertanyaan yan terlontar dari mulut Josh tentu saja kembali membuat si wanita sangat terkejut. Tap wanita itu nampaknya mengerti sesuatu hingga dia kembali menyunggingkan senyumnya. "Ya, aku tahu sih. Mungkin Tuan termasuk penganut paham kebebasan. Mungkin tujuan anda tidak ingin memiliki keluarga, agar anda bebas kemanapun dan melakukan apapun tanpa ada beban, benar, kan? Dan, yah mungkin bagi anda, wanita hanya sebuah beban, bukan?"

__ADS_1


Kini giliran Josh yang dibuat terkejut. Wanitab itu bisa menebak isi hatinyya dengan tepat. "Yah, seperti itulah saya, Nona. Saya tidak ingin terikat hubungan dengan wanita manapun."


"Saya mengerti. Tapi apa Tuan tidak ingin merasakan kebahagiaan dari sebuah hubungan keluarga? Apa anda tidak ingin ada seorang anak kecil yang memanggil anda ayah dan dia akan sangat bahagia jika melihat anda pulang kerja. Selalu menggaanggu anda dengan keriangannya. Apa anda juga tidak pernah membayangkan hal hal seperti itu?"


Josh menghirup nafasnya dalam dalam dan menghembusknnya secara perlahan. "Untuk apa menginginkan semua hal seperti itu?" tanya Josh menyangkal kata hatinya. Jauh di dalam lubuk hati pria itu yang paling dalam, tentu saja dia pernah menginginkan berada di situasi semacam itu. Tapi pengalaman buruk akibat dirinya yang dibuang orang tua, membuat Josh tidak mau larut dalam khayalan yang terlalu manis.


"Bagi saya pribadi, tentunya untuk sebuah kebahagiaan. Tuan, lihat, hidup kami bahkan tidak bergelimang harta. Tapi karena anak anak lah saya merasa bahagia. Saya tidak pernah menganggap anak adalah beban. Karena mereka itu penyemangat buat saya."


"Lalu, kemana suami anda? Apa anda juga bahagia dengan suami anda?"


"Tentru saja kami bahagia, meski mungkin kami pernah saling menyakiti, tapi pada akhirnya kita memang harus bahagia demi anak kita."

__ADS_1


Josh tersenyum tipis. "jadi untuk apa kita menjalin hubungan kalau ujung ujungnya kita akan berpisah. Bukankah pada akhirnya yang menjadi korban itu anak anak juga? katanya menikah itu bisa membuat bahagia, lalu kenapa banyak terjadi perceraian dengan dalih bahagia juga, bukankah itu aneh?"


...@@@@...


__ADS_2