BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
Tuan, Saya Malu


__ADS_3

"Tuan, Saya malu."


Kening Ken berkerut saat membaca tulisan yang tertera di layar ponsel. Arah pandangnya lalu beralih kepada wanita yang wajahnya nampak gelisah. Setelah itu Ken mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah makan yang memang terlihat mewah.


Setelah dapat menyimpulkan apa arti kata malu yang dimaksud oleh Meisin, Ken lalu merangkai kata kata untuk membalas ucapan wanita yang sedang bersamanya. "Kenapa harus malu? Kita sama sama manusia loh."


Meisin menghembus nafasnya secara pelan. Wajahnya masih menunjukkan rasa gelisah. Wajar jika dirinya merasa malu di tempat seperti ini. Meisin hanya wanita miskin yang sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya di hotel maupun restoran yang mewah. Bahkan wanita itu juga sangat jarang makan di warung makan yang ada dikota. Tapi sekarang dia berada di dalam lingkungan orang kaya, tentu saja rasa percaya dirinya hilang.


"Bisakah kita makan di tempat lain?" balas Meisin dalam ketikannya. Ken sontak tersenyum. Dia tahu wanita yang sedang berada di sisinya sedang merasa tidak nyaman. Akhirnya Ken pun mengalah dan mengajaknya kembali ke kamar dan memesan makanan untuk diantar ke sana.


"Maaf," cicit Meisin begitu mereka sampai ke dalam kamarnya.


Ken tersenyum lalu dia berkata melalui voice note penerjemah karena di kota ada sinyal. "tidak apa apa. saya mengerti kok."


Mata Meisin sedikit membelalak lalu dia merebut ponsel yang ada ditangan dan menatapnya lalu dia mendekatkan layar ponsel ke wajahnya. Awalnya Ken terkejut melihat tingkah wanita itu, tapi saat dirinya melihat Meisin melakukan sesuatu pada ponselnya, senyum ken terkembang.

__ADS_1


Ken mengambil alih ponselnya untuk menerangkan sesuatu kepada wanita itu. "Karena di kota sudah ada sinyal, jadi kita bisa menggunakan aplikasi penerjemah ini dengan suara."


Meisin mengangguk tanda mengerti dan dia juga langsung ikut mempraktekkannya dengan ponsel lain milik Ken yang disetting dari bahasa negara ini ke bahasa negara Ken. "canggih ya, Tuan. hanya dengan berbicara, langsung bisa diterjemahkan."


Ken kembali tersenyum. Dia merasa gemas dengan tingkah wanita itu. Ken segera saja membalasnya. "Ya begitulah. Kamu bisa sambil belajar saat menggunakannya."


Meisin mengangguk antusias. "Sayangnya alat seperti ini tidak bia digunakan di kampung saya, Tuan."


Senyum Ken berubah. Dia cukup merasa prihatin dengan kampung yang dihuni wanita itu. Ken tahu disana memang penduduknya tertinggal dalam masalah perkembangan tekhnologi yang sudah semakin maju. Di saat Ken hendak membalas ucapan Meisin, dia mendengar ketukan pada pintu kamar dan Ken Tahu itu pasti makanan yang dia pesan.


Pergi seharian kesana kemari dengan udara yang panasnya cukup menyengat, tentu menghadirkan rasa lapar yang luar biasa dalam perut Ken dan Meisin. Tanpa banyak melakukan obrolan yang tidak berarti, Ken dan Meisin langsung saja menikmati hidangan yang mereka pesan dengan sedikit lebih cepat. Tidak butuh waktu lama hidangan yang mereka santap telah mereka habiskan.


"Kamu belum kenyang? Kalau mau makan lagi, nanti saya akan pesankan," tawar Ken melalui voice note.


"Tidak perlu, Tuan. Saya hanya heran saja denga makanan hotel. Sudah harganya mahal tapi porsinya sangat sedikit."

__ADS_1


Ken terkekeh saat mendengar ucapan Meisin. Saat itu juga Ken memiliki sebuah ide."bagaimana kalau kamu makan yang lainnya biar kenyang? Nggak perlu memesan, makanannya sudah ada di sini kok."


Kening Meisin seketika berkerut. "Di sini ada makanan? Dimana?"


Ken menyeringai lalu dia meraih tangan wanita yang memang duduk disebelah kanannya. Mata Meisin sontak membelalak saat tangan yang digenggam Ken diarahkan dan mendarat pada tonjolan di celananya. "Tuan!"


"Bukankah kamu sedari kemarin menginginkannya? Bukalah celana saya lalu makanlah! Nanti jika kamu kenyang gantian mulut bawah kamu yang aku kenyangkan."


Wajah Meisin lamgsung memerah malu. Memang benar wanita itu ingin merasakan isi celana bule berwajah oriental tersebut, tapi dia tidak menyangka Ken akan mengatakannya secara jelas, tidak pakai rayuan segala. Ken melepas genggaman tangannya dan membiarkan tangan Meisin mengusap tonjolan tersebut.


"Buka saja, Sayang. Jangan ragu," desak Ken lembut sanmbil mengusap pipi Meisin. wanita itu mengangguk dan dua tangannya langsung bergerak aktif melepaskan ikat pinggang dan pengait celana milik Ken.


"Ini belum tegang, Tuan?" tanya Meisin saat berhasil mengeluarkan isi celana Ken yang masih terkulai lemas. Ken pun menggeleng. "Belum bangun saja sudah segede ini."


"Ya udah bangunkan dengan mulut kamu."

__ADS_1


Meisin mengangguk dan tersenyum malu. Kepalanya bergerak maju dan mulutnya langsung menyongsong milik Ken yang berbulu lebat.


...@@@@@...


__ADS_2