
"Kamu mau pergi? Kok sudah rapi banget?"
"Iya, aku mau pergi ke kota menemani Tuan Ken."
"Ke kota? Menemani tuan Ken? mau ngapain?"
"Mau mencari bantuan kebutuhan yang diberikan ke kita dan warga sekitar."
"Wahh! pantas kamu terlihat senang banget."
"Iya dong. Dah dulu ya, aku berangkat. Tuan Ken pasti sudah nungguin."
Wanita bernama Meisin itu melangkah dengan senyum yang sangat ceria. Dia dan Ken memang sudah berjanji akan pergi bersama hari ini. Selain untuk urusan memberi bantuan, keduanya juga berjanji akan singgah di sebuah hotel seperti yang mereka rencanakan.
Di saat langkah wanita itu sedang menapaki setapak yang menuju tempat keberadaan Ken, Meisin bertemu dengan salah satu penghuni janda dari arah berlawanan. Melihat wajahnya yang sangat kusut, tentu saja membuat Meisin merasa penasaran.
__ADS_1
"Kamu mau kemana Mei? Kok sudah rapi gitu?" pertanyaan yang sama terlontar dari mulut wanita yang berpaspasan dengan Meisin. Bagi warga kampung pertanyaan seperti itu termasuk pertanyaan yang wajar dilontarkan, karena kebanyakan warga kampung jarang berpenampilan rapi dan wangi jika mereka berada di rumah.
"Mau pergi bareng Tuan Ken. kamu sendiri kenapa? Kok wajahnya kusut gitu? Bukankah kamu semalam menemani tuan bule ya? Kenapa kayak nggak senang gitu wajah kamu?" cercaan yang keluar dari mulut Meisin membuat wanita bernama Sansan tersenyum kecut.
"Tuan bule sangat murka sama aku semalam. Dia marah marah gitu," adu Sansan.
"Loh, marah marah kenapa?"
Sansan lantas menceritakan segela yang dia alami semalam di rumah Tuan bule. Cerita dari wanita itu tentu saja terdengar sangat mengejutkan bagi Meisin. "Bahkan sampai tadi kami pulang pun Tuan bule terlihat masih marah."
"iya sih, tapi kan Tuan bule tidak harus semarah itu. Masa hanya gara gara kita ingin puya anak dari dia, Tuan bule sampai marah banget."
"Hehehe ... mungkin Tuan bule ada suatu masalah yang berhubungan dengan anak, jadi dia sensitif dan marah gitu. Sudah, jangan terlalu dipikirkan.Mending kamu pulang dan tanyakan pada bule yang satunya. Kali aja, Tuan bule yang satunya mau menjawab rasa penasaran kamu."
Sansan pun mengiyakan, lantas mereka memutuskan untuk berpisah karena Meisin takut membuat Ken menunggu. Dia mempercepat langkah kakinya menuju rumah Pak kades. sedangkan Sansan melangkah menuju pondok janda dan ingin menanyakan sesutu kepada Tuan bule yang masih ada disana.
__ADS_1
Seperti yang sudah direncanakan, kini Ken dan Meisin sudah dalam perjalanan menuju ke kota bersama seorang supir menggunakan mobil terbuka. Setelah menempuh perjalanan dengan memakan waktu kurang lebih sekitar tiga jam, kini mereka sudah berada di kota yang mereka tuju.
Tempat yang dkunjungi pertama kali tentu saja pasar. Mereka akan membeli cukup banyak bahan makanan untuk dibagikan kepada para warga di kampung. Beruntung, Ken membawa wanita saat pergi ke tempat seperti itu, jadi dia tidak bingung dan malu memilih barang. Semua pilihan, Ken serahkan kepada Meisin.
Hingga beberapa jam berlalu. Kini barang barang sudah menumpuk di dalam bak mobil yang mereka sewa. Tak lupa juga Ken membeli beberapa ponsel untuk mengunduh aplikasi penerjamah yang akan dia sumbangkan ke sekolah buat sarana belajar anak anak nantinya.
Seperti yang sudah direncanakan juga, setelah selesai membeli barang kebutuhan, Ken dan Meisin singgah di sebuah hotel yang cukup mewah di kota itu. Ken meminta kepada si pemilik mobil sekaligus supir untuk pulang terlebih dahulu karena Ken dan Meisin akan menginap di hotel ini sampai esok hari.
Terlihat dari wajah Meisin kalau dia malu berada di tempat yang menurutnya sangat mewah. Seumur hidup bagi wanita itu, ini pertama kalinya dia berada di dalam hotel yang terkenal dengan tarif yang mahal. Sedangkan Ken yang memang sudah terbiasa, tentu saja sangat menikmati berada di hotel tersebut.
"Kasurnya empuk sekali," gumam Meisin yang tidak henti hentinya mengungkapkan rasa kagumnya sampai dirinya sekarang berada di dalam kamar. Senyum Ken tentu saja terus terkembang melihat tingkah wanita itu sedari tadi. Ken cukup terhibur dan merasa senang melakukan itu semua kepada Meisin.
"Sekaramg kita makan dulu. kita butuh tenaga yang banyak untuk menghabiskan waktu malam kita nanti," ucap Ken yang tertera pada layar ponselnya. Wajah Meisin langsung bersemu merah dan dia mengangguk. Mereka pun serentak keluar kamar untuk mengisi tenaga agar mereka cukup kuat saat menikmati pertempuran panas mereka.
...@@@@@...
__ADS_1