Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 10: Di Pantai 2


__ADS_3

Setelah Karina membuka keranjang lalu ia membagikan setiap makan yang ia bawa ke setiap orang termasuk Hans.


"Bimo dimana paman Dhika?" tanya Karina yang melihat sekeliling untuk mencari adiknya.


"Masih cari cewek ibu,biarin saja Bimo sangat lapar sekarang" jawab Bimo langsung menyuapi mulutnya dengan makanan yang tersedia.


Di bibir pantai Dhika sedang berkeliling melihat wanita cantik yang lalu lalang.Matanya sangat jelalatan saat melihat wanita cantik apalagi dengan bikini.


"Ya ampun... Aku seperti sedang di surga saja" batin Dhika yang sedang berbunga-bunga.


"Brukk!" Dhika tidak sengaja menabrak seorang wanita.


"Ya ampun nona! Maafkan aku" Dhika yang meminta maaf kepada wanita itu.


"Kalau jalan itu hati-hati!" tegur si wanita yang kemudian pergi melewati Dhika.


Dhika hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan sambil tersenyum.Karena sudah bosan melihat lihat Dhika memutuskan kembali bersama yang lain.


Bimo sangat menikmati makanan buatan ibunya sampai membuat mulutnya penuh membulat.Karina dan yang lain tertawa melihat wajah Bimo yang penuh dengan makanan.


"Pelan pelan makannya Bimo" ucap Karina sambil mengusap mulut Bimo yang ada sisa remahan.


Bimo hanya tersenyum menjawab ibunya Karina hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian Dhika baru kembali dia melihat makanan yang hampir habis dimakan oleh Karina,Bimo,Andi,dan Hans.Tapi Dhika sedikit terkejut melihat kehadiran Hans disini.


"Selamat siang tuan Hans! Senang bertemu denganmu" sapa Dhika yang mengulurkan tangannya.


"Selamat siang juga tuan Dhika! Tidak perlu terlalu formal kepada saya ketika di luar pekerjaan" Hans menyapa balik dan membalas uluran tangan Dhika.


"Paman Dhika tahu paman Hans?" tanya Bimo sambil meminum susu.


"Dia ini mitra kerja paman" jawab Dhika yang mendudukan tubuhnya di sebelah Bimo.


"Kak! Ada makanan yang tersisa?" Mata Dhika melihat sekeliling dengan piring piring yang hampir kosong.


Karina mengeluarkan satu piring sisa dari keranjang yang berisi hanya ikan goreng saja.Kemudian menyerahkannya kepada Dhika dengan penuh senyuman dan Dhika menerima dengan perasaan bingung.


"Kakak kira aku kucing?! Cuman ini yang sisa?" protes Dhika yang terus melihat ikan goreng itu.


"Yap itu saja!" jawab singkat Karina.

__ADS_1


Dhika hanya bisa pasrah saja yang penting ia dapat makan saja.Karina dan Andi menertawakan Dhika yang terlihat seperti kucing sungguhan.


Di bagian timur pantai ada Ryan dan Tio yang baru tiba di pantai untuk melakukan promosi dengan cara membagikan brosur.


"Haaahhh~... Segar sekali" Tio yang menghembuskan nafasnya merasakan sejuknya angin pantai.


"Jangan bermain! Kita harus serius mempromosikan restoran kita ini" ucap Ryan yang menepuk punggung sahabatnya.


Tio hanya cengar cengir di hadapan sahabatnya.Mereka pun mula beraksi membagikan selembaran brosur itu.


Untungnya setiap pengunjung pantai menerima brosur itu dan merasa tertarik untuk mendatangi restoran miliki Ryan dan Tio.Kegiatan mereka terus berlanjut.


Ryan terus membagikan brosur dan matanya tidak sengaja melihat ada pujaan hatinya sedang bermain bersama anaknya.Tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri Karina.


Karina saat sedang bermain di bibir pantai tidak sengaja menabrak seseorang di belakangnya.


"Astaga! Maafkan aku,hei kau disini" ucap Karina yang terkejut melihat kehadiran Ryan di pantai.


"Ehehe... Iya"


"Aku sedang membagikan selembaran brosur restoranku" Ryan yang tersenyum senyum melihat kecantikan Karina.


"Kalau begitu semangat membagikannya"


Ryan yang masih tersenyum dikagetkan oleh air yang membasahi wajah dan brosurnya.


"Hei! Eh-"


"Ada apa kau disini" Ryan menatap orang yang menyiramnya yang ternyata adalah Hans.


"Aku tidak menyangka kau disini,apa ini?" Hans mengambil satu lembar brosur lalu melihat lihat gambaran brosur kemudian dengan kasarnya menjatuhkan brosur itu.


"Memang orang bodoh kau,Ryan"


"Untuk apa kau susah payah memulai usaha sendiri seperti ini? Apa untungnya ? Dan untuk apa perusahaan ayahmu itu?" banyak pertanyaan dilontarkan oleh Hans untuk Ryan.


"Aku hanya ingin memulai usahaku sendiri! Perusahaan itu punya ayahku bukan milikku!"


"Pantas saja kau dipanggil bodoh.Dengar baik baik ini perusahaan ayahmu itu untuk kamu agar kau tidak hidup susah dan kau tinggal mengembangkan usahanya saja"


"Lebih baik kau diam saja!"

__ADS_1


Perbincangan antara Hans dan Ryan terlihat sangat serius dan tidak dapat diganggu.Ryan menatap tajam wajah Hans.


"Aku bisa melakukan apa yang aku mau dan itu buka urusanmu!" bentak Ryan sambil menunjuk nunjuk Hans.


"Ya sudah kalau begitu selamat hidup susah kecuali kau tangguh seperti wanita" Hans menunjuk jarinya ke arah Karina.


Mata Ryan melihat arah yang ditunjuk oleh Hans dan ia melihat Karina sedang bermain bersama Bimo.Ekspresi wanita satu anak itu terlihat sangat gembira sekali.


"Kau pasti mengenal dia,kan? Dari komuk wajahmu kau sangat mengenalnya" ucap Hans mengenai Karina.


"Iya aku kenal! Kau jangan berani merebutnya kalau tidak..." ancam Ryan kepada Hans.


"Ahahaha... Aku tidak tertarik sama sekali kau tahu aku punya kelainan" kaki Hans melangkah menjauh dari Ryan.


Ryan terduduk melihat brosurnya yang basah dan yang ia buat hanya segitu saja.Dia bingung harus melakukan apa.


Dari kejauhan Tio melihat Ryan sedang menundukkan kepalanya segera ia menghampiri sahabatnya itu.


"Ryan! Apa yang kau lakukan disini? Dan kenapa brosur yang kau bawa basah" tanya Tio yang melihat brosurnya yang basah.


"Aku tidak sengaja mengenai air laut" jawab Ryan dengan nada bicara agak lemah.


"Hei bro! Apa kau baik baik saja? Kau terlihat pucat"


"Tidak apa apa kok!"


Ryan mengajak Tio untuk melanjutkan membagikan brosurnya.Mereka pun beranjak ke tempat selanjutnya.


Hari semakin sore Karina sudah selesai bermain di pantai dan sudah mengganti pakaiannya begitu juga dengan Bimo,Dhika,Andi,dan Hans.Karina melihat sunset bersama yang lainnya.


Saat melihat pemandangan sore hari itu tiba tiba Karina mengingat kenangan dulu bersama suaminya saat masih pacaran.Matanya berkaca kaca melihat pemandangan dan kenangannya dulu.


"Ibu... Jangan menangis bu" Bimo menggenggam tangan ibunya.


"Ah! Aku tidak menangis nak mata ibu hanya perih karena debu" Karina mengucek matanya.


Selesai melihat pemandangan indah itu mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.Karina,Bimo,dan Dhika satu mobil milik Dhika sedangkan Andi dan Hans bersama satu mobil milik Hans.


Dalam perjalanan pulang di dalam mobil Bimo terlihat sangat lelah sampai tertidur di kursi belakang bersama ibunya.Karina mengelus rambut putranya yang halus.


Di mobil Hans ada pemandangan yang menggugah selera sang pemilik mobil.Andi sengaja menggoda Hans dengan menggunakan celana pendek yang tidak sampai menutupi paha putihnya dan baju kaos oversize.

__ADS_1


To be continued\=\=\=\=\=>>>>>


__ADS_2