
Setelah memberitahu identitas Andi, keluarga Hans pergi meninggalkan kafe. Merasa sudah aman barulah Karina dan Bimo keluar dari tempat persembunyian. Karina mengangkat alisnya sebelah kepada Ryan sebagai kode bertanya. Ryan hanya menjawab menggunakan jari - jarinya namun begitu Karina memahami maksud kode Ryan.
Mereka kembali membahas tentang perempuan yang bernama Nika. Bimo memberitahu ibunya mengenai Nika yang bertemu dengan seorang pria di beberapa tempat saat mereka masih disana.
"Ibu! Jadi ceritanya saat kita pergi ke taman bermain kemarin Bimo melihat wanita ini sedang bermain bersama pria lain, bukan di taman saja saat kita di kafe, dan beberapa tempat yang kita kunjungi kemarin wanita itu masih bersama pria lain tapi dengan pria yang berbeda" ucap Bimo yang memberitahu tentang apa yang dia lihat selama tiga hari kemarin.
"Hehe... Ternyata begini taktik Andi. Bimo! Apa kamu sudah menyerahkan semua bukti yang kau dapatkan" Ryan hanya geleng - geleng kepala setelah mendengar ucapan Bimo.
"Kenapa memangnya,Ryan? Apa kau memahami sesuatu" tanya Karina yang sedikit kebingungan dengan maksud perkataan Ryan.
"Biarkan aku menjelaskan! Jadi, Andi sengaja menyuruh kita mencari bukti agar dia bisa menjalankan rencana tahap pertamanya kemudian dilanjutkan dia membuat sample biru itu selama kita pergi, setelah itu saat kita sudah menyerahkan bukti barulah Andi menjalankan rencana selanjutnya yang dimana pertama dia menjatuhkan Hans dengan meluncurkan berita pertunangan Hans dan tahap terakhir adalah menjatuhkan si wanita ular ini karena dia sudah mengetahui kebusukkannya. Menurutku tahap terakhir akan dilancarkan saat acara amal dan sedikit tambahan kalau si Andi pasti akan menjual sample birunya itu tapi kepada orang yang tidak membawa pasangan. Kenapa demikian? Sebab Andi sudah mengetahui kalau Hans pasti akan membawa wanita tersebut dan dia sudah menyiapkan orang yang akan membeli samplenya" jawab Ryan panjang lebar yang dimana dia menjelaskan tahapan - tahapan rencana Andi.
"Wahhh... Aku tidak menyangka kalau paman Andi akan secerdik ini, paman Andi hebat!" puji Bimo terhadap rencana Andi.
"Tapi Ryan... Menurutku ada yang aneh dari tahapan terakhir rencana Andi. Kenapa Andi harus mencari orang yang akan membeli rancangannya bukankah itu curang?" Karina merasakan keanehan dari rencana bagian akhir Andi.
"Aku juga merasa demikian namun sebaiknya kita tunggu aksi Andi sampai akhir" Ryan juga merasa demikian.
"Ibu! Paman Ryan! Dari pada terus membahas rencana paman Andi lebih baik paman Ryan melihat gaun yang akan dikenakan ibu" saran Bimo kepada Ryan.
"Kau benar juga! Bisakah kau mengantarku,Bimo?" Ryan sangat setuju dengan saran Bimo tersebut.
Bimo menarik tangan Ryan menuju bagian belakang kafe. Saat mereka memasuki suatu ruangan Ryan sangat terpukau melihat gaun cantik yang akan dikenakan Karina. Tidak terbayang bagaimana kecantikan Karina saat mengenakan gaun tersebut. Bimo full senyum melihat reaksi Ryan.
"Bagaimana paman Ryan? Cantik bukan?" tanya Bimo dengan penuh senyuman.
"Cantik sekali dan sangat indah" jawab Ryan yang masih terpukau dengan keindahan gaun tersebut.
"Paman juga punya pakaian saat pergi ke acara amal besok dan sangat cocok dengan paman. Yang membeli dua pakaian ini adalah paman Andi" Bimo mengeluarkan pakaian yang akan dikenakan Ryan.
"Ternyata selera Andi tidak buruk juga. Sesuai dengan diriku" Ryan mengambil pakaian tersebut dari tangan Bimo.
Ryan menempelkan pakaian tersebut ke tubuhnya kemudian melihat dirinya di cermin. Bimo tertawa melihat Ryan bergaya dihadapan cermin. Di dekat pintu, Karina melihat Ryan yang sedang bergaya. Dia ikut tertawa juga tapi dengan suara kecil.
"Punya Bimo mana? Apakah Bimo sudah punya?" tanya Ryan yang matanya mencari kesana kemari.
__ADS_1
"Besok Bimo pergi sama kakek buyut jadi,baju Bimo ada di kediaman lama. Kan besok waktu paman Ryan dengan ibu" jawab Bimo yang mentertawakan Ryan.
"Kau memang anak yang perngertian Bimo! Paman Ryan akan membuat momen tidak terlupakan untuk ibumu" Ryan menguatkan tekadnya untuk membuat momen bahagia bersama Karina.
Bimo hanya mengangguk iya sambil tersenyum. Karina yang mendengar ucapan Ryan dengan penuh tekad merasa terpukau.
...****************...
Di sisi lain Andi sedang menyiapkan beberapa bukti yang dia dapatkan dari Karina,Ryan,dan Bimo. Andi menyusun secara hati - hati bukti tersebut.
"Kalau kau sangat menginginkan Hans katakan saja! Aku bisa memberikannya wanita bodoh! Kau macam - macam saja denganku" batin Andi yang menumpuk semua berkasnya.
Andi sudah melakukan rapat pentingnya dengan sangat cepat. Saat ini dia sedang berada kantor Dhika. Andi juga sudah menyelesaikan semua pekerjaan Dhika.
Setelah menyusun semua bukti selama setengah jam barulah Andi dapat beristirahat. Tapi semua itu sirna saat dia mendengar ketukan pintu dengan suara keras.
"Isshhh!!!... Siapa sih?! Ganggu aja! Tahu orang lagi capek malah ada orang datang!" Andi berjalan menuju pintu dengan perasaan kesal.
Andi membuka pintu tersebut dengan cara agak kasar. Saat dia melihat siapa yang mengetuk pintu langsung saja Andi menutup pintu dengan cara lebih kasar.
Andi tidak menjawab ucapan Hans melainkan dia menelpon sikuriti yang berada di bawah. Hans terus mengetuk pintu dengan kata maaf yang dia terus keluarkan. Andi menidurkan tubuhnya di sofa menunggu suara Hans mereda.
Tapi saat Andi akan memejamkan matanya tiba - tiba ponsel Andi berdering. Tangan Andi mengambil ponsel tersebut dan melihat nama yang tertera di layar adalah Hiro.
"Halo Andi! Apa kau sudah mendapatkannya ?".
"Halo sayang! Iya aku sudah mendapatkannya tinggal tahap terakhir saja".
"Kenapa kau memanggilku sayang? Kita tidak balikan".
"Ayahmu sudah merestuiku jadi boleh - boleh saja aku memanggilmu sayang".
"Hahaha... Aku hampir lupa. Ayah sangat terkejut saat mendengar kalau aku dan kau dekat kembali".
"Apa kata ayahmu? Pasti dia sangat senang".
__ADS_1
"Itu benar! Ayah mengatakan kenapa kalian tidak menikah saja?".
"Hahaha... Aku tidak bisa kembali... Hiks... Padamu lagi".
"Kenapa kau menangis my honey? Apa ada masalah?".
"Aku masih mencintaimu... Hiks... tapi disisi lain aku juga mencintai orang lain... Huhu... Apa aku salah?".
"Kau tidak salah sama sekali yang perlu kau lakukan hanya memilih saja".
"Tapi itu berat bagiku Hiro.... Hubungan kita sudah kandas dua tahun yang lalu".
"Kita bisa menjalin hubungan kita kembali dengan lebih baik".
"Aku harap begitu namun... Hiks... Hiks... Aku tidak mengecewakan orang yang membuatku nyaman selama ini".
"Jangan buru - buru Andi! Perlahan - lahan kau pasti bisa".
"Terima kasih Hiro... Uhuk... Hiro! Aku lapar!".
"Seperti biasa?".
"Iya! Tapi tambahkan sedikit cairanmu,ya?".
"Siapa yang mengajarimu sampai sebinal ini?".
"Hehe... Aku nonton film orang dewasa".
"Hmmm... Baiklah! Aku bikin sekarang tunggu sebentar,ya? Bye!".
"Bye".
Andi menutup panggilan telepon tersebut kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. Dia sudah lelah dengan kehidupan sekarang kalau tidak ada Bimo,pasti Andi sudah menghabisi diri dia sendiri.
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>