Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 69: Kedekatan Karina dan Ryan


__ADS_3

Peringatan! Chapter ini mengandung gula yang berlebihan jadi untuk para pembaca diharapkan berhati - hati


Karina terdiam mendengar pertanyaan Ryan. Bimo bisa merasakan ketegangan diantara Karina dan Ryan. Karina menarik nafas dalam - dalam lalu menjawab pertanyaan Ryan,


"Itu memang benar! Tapi aku bukan menganggapmu sebagai pelampiasan atau pengganti di hari annivesaryku ini bersama mendiang suamiku. Aku sengaja mengundang bukan maksud menggapmu sebagai pengganti tapi aku ingin memperkenalkan dirimu dihadapan mendiang suamiku. Aku ingin bercerita banyak tentang dirimu dihadapan mendiang suamiku".


Pikiran Ryan dari tadi hanya salah paham dia saja. Karina tidak pernah menganggap Ryan sebagai pelampiasan melainkan orang yang selalu ada di sisinya dan selalu membantu dia apa adanya.


"Jadi kau menganggapku sebagai apa, Karina?" Ryan menatap Karina dengan penuh kepastian.


"Aku menganggapmu sebagai orang spesialku" Karina memberikan senyuman manis saat menjawab pertanyaan Ryan.


Mendengar jawaban Karina, Ryan bisa merasakan hembusan angin segar dari jawaban tersebut. Ryan merasa lega dan sangat senang Karina menganggapnya sebagai orang spesial.


Bocah kecil yang masih ada disana hanya senyum - senyum sendiri melihat pemandangan indah di depannya. Bimo ingin sekali pergi dari sana dan memperhatikan kedekatan ibunya dan Ryan dari jauh.


"Ayo lanjutkan makannya Ryan!" ucap Karina yang menyadarkan Ryan dari lamunannya.


"Hm? Baiklah!" Ryan kembali melanjutkan makan siangnya.


Suasana di meja makan itu seakan ada ribuan bunga tumbuh di sekitar meja. Karina dan Ryan tersenyum satu sama lain saat mereka saling pandang dan si bocah kecil segera meghabiskan makanannya lalu ingin segera menghilang dari sana.


*******************


Selesai mereka makan siang, Karina mengajak Ryan masuk ke kamarnya untuk melihat foto mendiang suaminya. Karena tidak ingin mengganggu Bimo memutuskan bermain di tetangga sebelah.

__ADS_1


Kaki Ryan melangkah masuk ke kamar tersebut. Dapat dirasakan suasana kamar tersebut yang penuh dengan barang - barang pasangan suami istri. Ryan bisa merasakan kenangan indah di kamar tersebut.


"Ini mendiang suamiku namanya Dio. Kami sudah menikah selama lima tahun tapi dia meninggal saat usia pernikahan kita menginjak tiga tahun dan saat Bimo berusia tiga tahun memang saat itu merupakan hal terberat bagi kami berdua namun berkat dukungan dua adikku aku bisa menghadapinya dengan ketabahan" ucap Karina yang memperkenalkan mendiang suaminya sambil memegang fotonya.


"Halo! Saya Ryan! Saya suka sama istri anda, boleh tidak saya dekati dia? Saya akan menjaga dia dengan sepenuh hati dan dengan penuh tanggung jawab" Ryan memperkenalkan dirinya dihadapan foto mendiang suami Karina.


"Hahaha... Jangan gugup Ryan! Suamiku itu orang yang sangat ramah dan baik. Tidak apa - apa kan aku menceritakan tentang masa - masa pernikahanku?" Karina meletakkan foto itu di atas nakas dan duduk di pinggir kasur.


"Tidak apa - apa! Aku juga sedikit penasaran dengan kisah pernikahanmu dulu, cerita saja" Ryan juga duduk di sebelah Karina.


"Baiklah! Setelah kami menikah kami mengalami banyak hal yang menyenangkan dan aneh. Dimulai dari tidur satu kamar satu kasur terus pagi harinya aku memasak sarapan dan dia memelukku dari belakang tanpa mengenakan baju. Dio memberikanku pelukan pagi yang sangat nyaman dan hangat lalu dia memberikan aku ciu man di bi birku. Kemudian dia akan bertanya "apa yang kau masak? Aromanya sangat wangi aku sangat menyukainya" dan aku menjawab aku memasak sayur tumis dicampur daging sapi". ( Bentar dulu! Author atur nafas dulu ini terlalu manissss).


"Selesai aku memasak bukannya dia mandi malahan dia langsung duduk di kursi meja makan tanpa baju. Dio menatapku dengan tatapan nakal. Aku langsung saja letakkan makanannya di atas meja lalu aku tuangkan air di gelas dia. Sarapan kami berlangsung canggung tapi Dio berhasil memecah suasana dengan memintaku untuk menyuapinya. Dio bilang kayak gini "Babe! Suapin aku dong! Sini! Aaaa" dan aku langsung saja suapi dia dengan satu sendok penuh nasi. Terus dia memakannya dengan mulut penuh dan aku mentertawakan dia, hahahaha... Haha... Haha.... Huaaaaa" belum menyelesaikan ceritanya Karina menangis mengingat mendiang suaminya.


"Huaaa... Ryan!... Aku rindu Dioku..... Aku rindu suamiku.... Huhuhu...." Karina mengungkapkan rasa rindunya dengan menangis dipelukan Ryan.


"Teruslah menangis Karina! Keluarkan saja terus biarkan emosimu mengalir" Ryan mengusap punggung Karina untuk menenangkannya.


"Kau tidak marahkan kalau aku mengingat tentang mendiang suamiku? Hiks... " Karina menatap Ryan dengan wajahnya yang memerah karena tangisan barusan.


"Tidak sama sekali! Aku malahan senang bisa melihatmu mengingat orang yang pernah memberikanmu kasih sayang,cinta,semangat,dan energi positif lainnya ke dirimu. Aku tidak bisa menyalahkanmu hanya karena tiba - tiba mengingat tentang mendiang suamimu jad jangan khawatir tentang diriku" Ryan menberikan usapan lembut di kepala Karina.


"Ryan! Kenapa dirimu baik sekali? Kau itu orang yang penyabar kecuali sama Andi,orang yang ikhlas,dan banyak pokoknya deh! Tapi kenapa dirimu tidak pernah menemukan perempuan lain sebelum diriku datang ke kehidupanmu" tanya Karina yang mengusap air matanya.


"Aku tidak tahu kalau diriku sebaik ini tapi untuk masalah tidak pernah menemukan perempuan lain aku pernah menemukannya namun aku tidak tertarik. Aku sudah menemukan banyak perempuan lain dan aku tidak memiliki perasaan apapun kepada setiap wanita yang aku temui tapi setelah aku bertemu denganmu hatiku mulai tertarik dan siap berlabuh ke hatimu" jawab Ryan yang mendekatkan wajahnya ke wajah Karina.

__ADS_1


Perasaan gugup muncul saat Karina melihat wajah Ryan dari dekat. Ryan memberikan kecupan pelan di kedua mata Karina.


"Karina! Apa kau mulai menerima diriku? Apa kau sudah mempunyai perasaan kepada diriku?".


"Aku... Aku tidak tahu.... Tapi saat aku di dekat dirimu aku merasakan kenyaman dan rasa sayang juga aku sudah mulai bisa menerima dirimu"


"Tidak perlu terburu - buru untuk menerimaku yang aku inginkan adalah kau menerima diriku sepenuhnya tidak peduli itu menbutuhkan waktu berapa lama dan yang jelas aku ingin kau menerimaku dengan penuh kasih sayang seperti aku memberikan kasih sayangku kepadamu".


Karina merasa tersentuh mendengar perkataan Ryan. Tangan Ryan menyentuh kepala Karina lalu mendorong tubuh Karina sampai berbaring di atas kasur. Mata Karina membuat besar melihat tindakan Ryan.


"Karina! Aku ingin memberikanmu kejutan saat di hari pernikahan Andi nanti, aku bersumpah aku akan membuatmu menjadi tuan putri ralat menjadi ratu paling cantik saat acara besok. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah menunggu sebentar saja, apa kau bisa?" ucap Ryan yang menyebutkan rencana dia saat di acara Andi besok.


"Aku bisa... Tapi kejutan apa itu? Tidak berbahaya kan?" jawab Karina yang merasa gugup dirinya ditatap Ryan.


"Tidak berbahaya sama sekali melainkan itu akan membuat dirimu sangat bahagia" Ryan memberikan belain di rambut Karina dengan tangan satunya.


"Ehmm... Aku akan menunggu" wajah Karina memerah bukan karena tangisan lagi tapi karena rasa malu dan gugup.


Ryan bangun dari kukungannya dan Karina pun ikut bangun. Tubuh Ryan berdiri lalu berjalan keluar kamar Karina.


SUMPAH CHAPTER KALI INI PENUH GULAAA


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2