
Ryan terdiam mendengar bentakan bibinya. Ibu Ryan tersenyum melihat putranya terdiam.
"Baru saja mendengar perintah bibimu kau langsung diam,sebenarnya siapa sih ibumu? Aku atau dia?" tanya ibu Ryan yang langsung menyerang anaknya ketika melihat kesempatan.
"Seharusnya kak tidak bicara seperti itu! Ini anak kakak! Biarkan dia pergi kemana pun asalkan tempat itu aman dan nyaman untuknya!" bibi Rosie mewakili Ryan menjawab pertanyaan ibunya.
"Tapi disini tidak aman! Sebab itulah aku melarangnya datang kemari! Apa kau mengerti?! Sekarang ayo kita pulang!" ibu Ryan menarik tangan kedua putranya lalu melangkah pergi dari sana.
Bibi Rosie mengejar dari belakang dengan memohon - mohon kepada kakak iparnya. Sayangnya Ryan kecil bukanlah anak yang lemah, dia menggigit tangan ibunya sekuat mungkin sampai terlepas.
"AKHHH!!!... Apa yang kau lakukan?! Dasar anak nakal!" ibu Ryan mendorong putra sulung dan bungsunya.
"Dasar ibu tidak berguna!" balas Ryan yang melu dah di sepatu ibunya.
Rosie langsung memeluk dua ponakannya tersebut. Ibu Ryan terlihat tampak murka. Wanita tersebut mengangkat tangannya dan bersiap - siap untuk menampar bibi Rosie. Namun usahanya gagal karena paman Niki menahan tangan ibunya Ryan. Paman Niki tidak datang sendirian dia juga datang bersama ayahnya Ryan.
"Apa yang kau lakukan sayang? Kenapa kau mau menampar adik iparmu sendiri? Apa kalian bertengkar?" tanya ayahnya Ryan yang belum mengetahui situasi sebenarnya.
"Iya! Iya kami berkelahi! Gara - gara wanita ini kedua anak kita sudah pintar melawan ibunya sendiri! Ini semua gara - gara wanita ini!" jawab ibu Ryan yang membentak habis - habisan bibi Rosie.
"Kenapa kakak hanya menyalahkan istriku? Seharusnya kakak sadar diri dong! Dua anak kakak ini merasa kesepian di rumah dan ingin perhatian dari orang tuanya tapi kalian berdua tidak ada waktu untuk anak kalian sendiri!" seru paman Niki yang membela istrinya.
"Aku bekerja! Ayahnya bekerja! Kami berdua bekerja untuk mencukupi kebutuhan kedua putra kami! Seharusnya mereka bersyukur bisa terlahir di dunia karena kami!" balas ibu Ryan yang juga membentak paman Niki.
Ryan memeluk Ryaiden yang ketakutan. Bibi Rosie memeluk erat dua ponakannya. Ibu dan ayah Ryan memandang kedua putranya yang bersembunyi di dalam pelukan bibinya.
"Pulang sekarang juga Ian! Ryaiden!" perintah ibu Ryan.
__ADS_1
"Kami tidak akan pulang sebelum ibu mengizinkan kami untuk bermain disini setiap hari" jawab Ryan dengan tegas.
"Baiklah terserah kalian berdua saja! Mulai sekarang ibu tidak akan peduli pada kalian lagi! Terserah kalian mau makan atau minum atau mau pergi kemana pun terserah kalian yang penting sekarang adalah kalian berdua pulang!" ibu Ryan menghentak - hentakkan kakinya saking kesalnya.
Ryan menggandeng tangan Ryaiden untuk meyakinkan adiknya. Dua bocah itu berpamitan kepada bibi Rosie kemudian berjalan menuju ibunya. Semenjak kejadian itu Ryan dan Ryaiden tidak begitu dekat dengan orang tuanya.
Ryan dan Ryaiden menjalankan hari - harinya sepeerti biasa walaupun harus menjadi musuh ibunya. Sampai pada umur Ryan berusia dua puluh satu dia memutuskan untuk lari dari rumah bersama adiknya. Sebelum pergi dia meminta kepada ayahnya agar menyoret nama dirinya dan adiknya di kartu keluarga. Ayah Ryan hanya menyetujui keinginan putranya tersebut.
Setelah mereka keluar dari penjara tersebut mereka memutuskan untuk mengikuti ibunya agar mendapatkan kartu atm sang ibu. Sebenarnya Ryan memiliki kartu atm sendiri tapi dia ingin mentransfer uang ibunya menuju kartunya.
Ketika ibunya berdiri di dekat mesin atm, Ryan dan Ryaiden memperhatikan dari jauh. Ryan memerintahkan Tio untuk menghubungi nomor ibunya. Rencana Ryan berjalan lancar sang ibu meninggalkan kartu atmnya di mesin atm. Ryan dan Ryaiden segera menghampiri mesin atm tersebut lalu segera mentransfer semua uang.
Ibu Ryan menerima telepon tapi dia merasa ada yang aneh dengan orang yang menelponnya. Tio segera memberitahu Ryan kalau teleponnya telah diputus dan berjalan kembali ke mesin atm. Ryan dan Ryaiden mempercepat pergerakannya sebelum sang ibu sampai. Ibu Ryan semakin dekat dan untungnya semua uang di kartu atm sang ibu telah masuk ke kartu atm Ryan dengan sebesar lima ratus juta.
Ryan dan Ryaiden segera menjauh dari mesin atm. Mereka berdua langsung menuju rumah sang bibi tercinta. Tapi jumlah uang yang ada di kartu Ryan bukan cuman lima ratus juta melainkan sebesar sembilan ratus juta.
Saat mereka berdua sampai di depan rumah bibinya tiba - tiba saja ada seorang ibu paruh baya memberitahu dua laki - laki itu.
"Saya nyarik pak Niki dan bu Rosie kira - kira ada orangnya di rumah atau tidak? Karena dari tadi saya melihat rumah ini kosong" jawab Ryan yang menjawab dengan sopan.
"Ohh... Bu Rosie! Dia sudah pindah dari kemarin katanya dia pindah ke negara A bersama pak Niki. Juga menurut rumor yang beredar di sekitar sini pak Niki memiliki banyak hutang atas rumah ini mungkin sekitar dua ratus juta" ibu tersebut memberitahu segala hal yang dia tahu mengenai paman dan bibi Ryan.
Mereka berdua terkejut mendengar jawaban ibu tersebut. Kemudian ada tiga orang pria berjas memasuki halaman rumah bibi Rosie.
"Hei tuan! Anda tidak boleh masuk sembarang seperti itu! Ini rumah bibi saya" ujar Ryan yang menahan pemimpinnya.
"Rumah bibimu? Bibimu memiliki banyak hutang kepada kami namun jika kau bersedia membayar hutangnya maka saya akan mengembalikan rumah ini" jawab pria botak yang merupakan pemimpinnya.
__ADS_1
"Berapa banyak hutangnya?".
"Tiga ratus juta itu sudah bersama bunganya".
"Sekarang saya bayar! Apa bisa transfer?".
"Tentu saja bisa! Ini nomor rekening saya silakan transfer kesini".
Ryan langsung mentrasfer uangnya melalui ponselnya. Selesai mentransfer uang untuk membayar hutang rumah bibinya, tiga orang tersebut pergi dari sana begitu juga dengan ibu paruh baya tadi tapi dengan arah yang berlawanan.
Ryan dan Ryaiden memasuki rumah tersebut. Di dalam rumah tidak ada barang apapun suasananya sepi. Ryan meletakkan tasnya di ruang tamu dan menyusuri rumah tersebut.
Sejak tinggal disana Ryan dan Ryaiden memulai usahanya. Ryan lebih fokus ke bidang kuliner yang dimana awalnya dirinya dan Tio hanya menjual kue - kue kering di depan rumah juga secara online. Sedangkan Ryaiden lebih fokus ke bidang perhotelannya yang awalnya dirinya bekerja di suatu hotel dan bar.
Waktu terus berlalu hingga Ryan mempunya pabrik pembuat kue kering sendiri dan Ryaiden yang mempunyai hotel sendiri. Ryaiden memutuskan tinggal terpisah dengan kakaknya disebabkan lokasi hotelnya yang terbilang jauh. Ryan mengiyakan permintaan adiknya tapi dengan syarat dirinya harus sering - sering menghubungi sang kakak.
Ryan yang mulai bosan dengan usaha itu - itu saja akhirnya memutuskan untuk membuka usaha restoran. Dia dan Tio menemukan bangunan setengah jadi di sebelah kafe Karina. Pembangunan dimulai dan berlangsung selama sebelas bulan hingga akhirnya bangunan tersebut jadi. Terus tinggal mengisi restoran tersebut. Saat sampainya Ryan pergi ke restorannya untuk survey terakhir di restorannya dan disana juga dia bertemu Bimo dan Karina.
OKE SUDAH SELESAI MARI KITA KEMBALI KE DUNIA DIMANA RYAN DAN KARINA SEDANG BERDUAAN DI VILLA.
Ryan terbangun dari mimpinya dan mendapati Karina sedang mengelus rambutnya. Tangan Ryan menggenggam tangan Karina yang digunakan untuk mengelus rambutnya.
"Hm? Sudah bangun ternyata, apa honey tidur nyenyak?" tanya Karina yang menyentuh pipi Ryan.
"Nyenyak sekali sweetie~... Tadi aku mimpi tentang masa laluku" jawab Ryan yang mengecup punggung telapak tangan Karina.
AUTHOR MAU MINTA REQUEST LAGU KPOP YANG BAGUS BAIK ITU TITLE TRACKNYA ATAU B SIDENYA GPP SILAKAN KOMEN DIBAWAH
__ADS_1
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>