Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 19:Tentang Dhika


__ADS_3

Dhika sedikit bingung memangnya ada orang lain yang berani membangun usahanya di daerah barat selain dia.


" Siapa orang itu? Yang aku tahu hanya diriku yang membeli tanah di daerah barat" tanya Dhika yang masih kebingungan.


"Nah itu dia! Aku belum mendapatkan informasi tentang orang itu dan yang aku dengar antara dia mau membangun atau menjual tanahnya" jawab Andi menjelaskan sedikit tentang orang itu.


"Kenapa kau belum mencarinya? Itu penting! Masalahnya sebagian daerah barat adalah daerahku , daerah timur merupakan wilayah Hans, daerah selatan adalah wilayahnya keluarga Dorothy dan utara itu adalah wilayahmu" ucap Dhika yang memperjelas setiap daerah di negara A.


"Aku tahu kak! Tanpa kau menjelaskannya aku sudah tahu!" Andi menggaruk kepalanya karena kesal.


"Jika seseorang masuk sedikit saja ke wilayahku tanpa izin itu merupakan pelanggaran dan jangan lupa harga diri kita,bagaimana?".


"Iya kakakku sayang... Aku akan mencarinya sekarang sisanya terserah kau saja".


"Oh iya kak! Kayla rindu padamu" Andi beranjak dari sofa dan keluar ruangan.


Dhika merenung sebentar setelah mendengar ada orang lain masuk wilayahnya tanpa sepengetahuan dia. Juga nama wanita tadi yang disebutkan Andi tadi.


"Kayla? Lama aku tidak bertemu dia kebetulan aku juga rindu pada gadis itu , haisshhh..." gumam Dhika mengenai gadis yang bernama Kayla itu.


...****************...


Di rumah sakit Cemara, Bimo sedang berkeliling sambil menyapa pasien,perawat, dokter dan staff rumah sakit lainnya. Bimo bisa dibilang mewarisi sifat ayahnya yang dimana Bimo suka berteman kepada siapa pun.


"Hai mbak perawat!" sapa Bimo kepada salah satu perawat yang melewati dia.


"Hai tuan muda Bimo" perawat itu membalas sapaan Bimo.


Setiap orang di rumah sakit ini berteman baik dengan Bimo walaupun si bocah manis jarang mengunjungi rumah sakit milik ibunya sendiri. Karina sang ibu sedang berada di kantor melakukan pekerjaannya dengan setumpuk kertas.


"Haaa~... banyak juga yang harus di stock padahal aku sudah meminta asistenku untuk segera memesannya, apakah dia lupa?" Karina sedikit mengeluh mengenai pekerjaan dia yang di rumah sakit.


"tok...tok...tok..." suara pintu ruangan Karina diketuk.


"Ibu! Ayo beli es cream!" Bimo tiba - tiba saja muncul dari pintu tersebut.


"Ya ampun sayang! Kamu membuat ibu kaget saja" Karina menghampiri dan langsung menggendong anaknya.


"Ibu~... Ayo beli es cream! Bimo sedang ingin sekali" Bimo merayu ibunya dengan nada bicara manja.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Bimo belanja bersama paman Dhika atau paman Andi?" tanya Karina kepada Bimo.


"Paman Dhika saja! Kan paman Dhika kaya raya" jawab Bimo dengan penuh semangat.


Karina langsung menghubungi Dhika melalui sambungan telepon.Mereka menunggu Dhika menjawab panggilan tersebut.


"Halo?".


"Halo Dhika! Apa kau bisa mengantar Bimo beli es cream ? Sekarang aku sedang sibuk di rumah sakit".


"Bisa kak! Nanti aku jemput Bimo di rumah sakit".


"Terima kasih Dhika".


Percakapan Karina dan Dhika melalui selesai melalui sambungan telepon. Karina menurunkan Bimo kemudian memberitahu anaknya kalau Dhika yang bakal menjemputnya nanti.


Bimo langsung senang mendengar kalau Dhika yang akan menjemputnya. Hal yang disukai oleh Bimo dari Dhika adalah pertama kekayaanya yang dimana ia bisa meminta apa pun yang dia mau.


Kedua adalah kendaraannya , Dhika dan Andi sangat menyukai mobil sport bahkan di rumah mereka ada tujuh sampai lima belas mobil sport dan Bimo sangat menyukai mobil sport yang dibawa oleh dua pamannya itu.


Ketiga adalah ketampanan Dhika,kemana pun Bimo jalan - jalan bersama Dhika semua orang yang lewat pasti terpukau baik itu wanita atau pria.


"Yang benar saja tuam muda?!" tanya pegawai wanita satu kepada Bimo.


"Itu benar! Pamanku itu sangat tampan,baik,dan kaya sayangnya dia masih jomblo" jawab Bimo yang sedang bergosip dengan dua pegawai wanita tersebut.


"Kyaaa!!! Ya ampun tuan muda!!! Kami ingin sekali bertemu dengan pamanmu itu!" dua wanita tersebut kegirangan sampai melompat - lompat.


Bimo tersenyum mendengar teriakan dua wanita tersebut. Dua wanita tersebut membayangkan wajah tampan sang paman dari bocah manis itu.


Beberapa menit kemudian Dhika telah sampai di rumah sakit. Dhika masuk ke bagian resepsionis yang membuat dua pegawa wanita itu histeris.


"Permisi mbak! Apakah mbaknya melihat bocah berusia lima tahun disini?" tanya Dhika kepada mbak resepsionis.


"Paman Dhika! Aku disini!" jawab Bimo yang muncul di kaki Dhika.


Dua pegawai wanita itu langsung tunduk hormat kepada Dhika setelah mendengar namanya. Bimo sedikit bingung , sebenarnya apa yang terjadi pada dua wanita itu?.


Dhika mengajak Bimo keluar dan pergi ke tempat tujuan. Tangan Dhika menggandeng tangan Bimo.

__ADS_1


"Paman apa yang terjadi tadi?" tanya Bimo yang menoleh ke arah Dhika.


"Tidak ada kok Bimo" jawab Dhika yang berusaha untuk menetralkan suasana dan tidak perlu membahas kejadian tadi.


Dhika membukakan pintu mobil untuk Bimo. Setelah itu Dhika masuk ke mobilnya. Mereka pun langsung pergi menuju tempat tujuan.


...****************...


Di apartement Andi si pemilik sedang mencari informasi tentang orang yang mau memasuki wilayah kakaknya. Dia mencarinya di komputer dan ponselnya.


Untuk pertama kalinya Andi kesusahan untuk mencari informasi orang ini. Andi pergi ke dapur untuk membuat minuman agar pikirannya lebih tenang.


"Ting... Tong..." suara bel rumah berbunyi.


Andi segera membukakan pintu untuk orang yang telah menekan bel rumahnya. Saat membuka pintu Andi sangat terkejut dengan apa yang ia lihat.


"Sammuel... Apa yang kau lakukan disini?! Kan sudah bilang kita sudah berakhir!" ucap Andi dengan nada ketakutan.


"Andi dengar dulu! Aku ingin berbicara denganmu! Ini mengenai perasaanku" Sammuel menahan tangan Andi yang akan menutup pintu.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan kurang ajar!" Andi mendorong pintu itu agar tidak melihat wajah sang mantan.


"Andi! Kumohon! Dengarkan aku sekali saja!" Sammuel menahan sekuat tenaga pintu yang akan ditutup.


Kaki Sammuel menendang pintu kemudian langsung memeluk Andi. Sammuel terus menguatkan pelukannya dan Andi terus memukul punggung Andi.


"Sammuel menyingkir kau! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" Andi memukul,mencakar,dan menampar - nampar punggung Sammuel.


"Jangan begitu Andi! Berikan aku kesempatan sekali lagi!" Sammuel meluapkan emosinya melalui perkataannya tadi.


Tangan Sammuel menyelusup ke kaos baju Andi. Yang disentuh tidak bisa melawan lagi karena merasa kegelian.


"Andi dengarkan! Aku masih sangat mencintaimu! Kumohon kembali kepadaku! Aku mohon!" Sammuel memohon - mohon kepada Andi.


"Lepaskan! Sammuel lebih baik kau pergi! Kalau tidak kau akan dalam masalah aku mohon" teriak Andi yang berharap ada orang yang mendengarnya dari luar.


Saat ini kondisi apartement sedang sepi jadi tidak ada satu pun orang atau pun tetangga yang mendengar.


Makasi supportnya sorry update malem

__ADS_1


to be continued\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>


__ADS_2