
Setelah menghubungi Hiro, Ryan mengembalikkan ponsel Andi. Ryan meminta pergi karyawan yang menangani Andi tadi. Kemudian musuh bebuyutan ini mulai pembicaraan serius mereka masing - masing.
"Masih sakit? Apa esnya perlu ditambah lagi?" tanya Ryan yang melihat pergelangan tangan Andi.
"Kau ingin aliran darahku membeku?! Apa kau gila?!" bukannya menjawab pertanyaan Ryan, Andi memulai perdebatannya dengan Ryan.
"Kan aku cuman bertanya saja! Kalau tidak mau ya tinggal bilang! Tidak usah ngegas seperti itu!".
"Ini semua gara - gara pertanyaanmu be go! Kalau nanya yang benar!".
"Kan sudah benar aku bertanya! Tapi anda yang salah menafsirkan!".
"Heh sudahlah! Oh iya Ryan! Besok saat aku melangsungkan pesta pernikahan konsep apa yang bagus?".
"Menurutku yang bagus adalah konsep bar".
"Apa kau tidak sadar diri?! Ini pesta pernikahan bukan pesta minum!".
"Loh anda yang bertanya ya saya jawab! Salah sendiri lah!".
"Terserahmu saja! Tapi konsep bar sepertinya tidak buruk! Okelah! Minuman apa yang enak disajikan?".
"Minuman yang kau produksi pasti rasanya beuhhhh.... Maknyuss! Aku pernah mencobanya sekali dan enak sekali!".
"Aku rugi nanti! Dimana aku mencari bahan - bahannya? Terus produk minuman yang mana aku jual lagi?".
"Kalau ngadakan pesta pernikahan sebaiknya khusus teman - temanmu dan Hiro saja kalau sama kerabat yang lain ya jelas kau rugi".
"Tetap saja Ryan! Aku tetap rugi!".
"Suruh mereka bayar uang duduk di sofa misal satu jam tiga ratus juta saja".
"Heh! Memang gila kau ini! Masa cuman bayar duduk sampai tiga ratus juta?!".
__ADS_1
"Hei! Dengar ini! Aku sudah memberikan saran semampuku tapi kau selalu salah menafsirkan".
"Iya juga sih terus bagaimana?".
"Berapa banyak teman yang kau punya?".
Andi terdiam mendengar pertanyaan Ryan tersebut. Dia harus kembali mengingat apakah dia mempunya teman atau tidak. Ryan kebingungan melihat Andi yang terdiam sambil memikirkan sesuatu.
"Woi! Ada tidak?!".
"Tidak.... Aku tidak punya teman".
"Bo doh! Kau itu punya teman!".
"Siapa memangnya? Kau tahu kan kondisiku selama sekolah selalu di bully".
"Iya aku tahu! Tapi temanmu saat ini cuman satu yaitu aku".
"Sejak pertama kali kita bertemu,sudahlah! Terserah kau menganggapku apa yang penting kita harus memiliki hubungan yang baik satu sama lain".
Andi lagi - lagi dibuat terdiam mendengar ucapan Ryan. Dia tidak menyangka kalau Ryan akan berkata seperti itu. Andi dan Ryan sering berdebat mengenai hal besar ataupun hal kecil tapi Ryan menganggap hal itu hanya candaan saja tidak hal serius.
Pintu restoran terbuka dan menampakkan Hiro yang sudah datang. Ryan memberi kode kepada Andi kalau tunangannya sudah datang. Andi berpamitan kepada Ryan dan melambaikan tangannya.
"Wahhh... Paman Ryan baik sekali! Paman Andi sebelumnya tidak pernah punya teman dia selalu sendirian. Jika dia pergi kemana pun pasti selalu sama pacarnya tapi selalu gonta ganti" ucap Bimo yang memuji perkataan Ryan barusan.
"Aku tahu dia merasa kesepian maka dari itu aku akan selalu menganggap dia sebagai teman" jawab Ryan yang melihat Andi pergi memasuki mobil Hiro.
"Sudahlah paman Ryan! Jangan terlalu memikirkan tentang paman Andi lagi sebaiknya paman memikirkan ibu saja karena hari ini pergi menggunakan taksi jadi hari ini tidak ada yang menjemputnya" entah apa yang dipikirkan Bimo sehingga mengucapkan perkataan seperti itu.
"Benarkah?! Jam berapa ibumu pulang? Paman akan menjemputnya" Ryan langsung bersemangat mendengar bocoran tersebut.
"Katanya sih jam dua tapi sebaiknya paman chat saja ibu dulu supaya lebih pasti. Paman Ryan aku lapar".
__ADS_1
"Mau makan apa? Ini sudah hampir siang".
"Pasta carbonara aja".
"Siap!".
Ryan langsung melangkahkan kakinya menuju dapur. Bimo sangat menyukai kebaikan yang dimiliki Ryan. Kebaikan Ryan seperti kebaikan ayahnya yang sebelumnya dan Bimo berharap semoga ibunya segera menerima Ryan.
...****************...
"Tada! Pasta carbonaranya sudah jadi! Silakan dimakan" ucap Ryan yang meletakkan hasil makanannya di atas meja.
"Terima kasih paman Ryan! Apa paman Ryan tidak makan siang?" jawab Bimo.
"Makan siang kok! Tunggu sebentar! Paman juga mau mengambil pasta yang paman buat tadi dan minumannya juga" Ryan segera kembali ke dapur.
Ryan kembali dengan nampan berisi pasta carbonara dan cheese meleleh di atasnya ditambah ada dua gelas susu. Tangan Ryan meletakkan tiga hidangan tersebut secara hati - hati. Bimo sangat senang melihat segelas susu diletakkan.
"Baiklah! Ayo kita makan sekarang!" ucap Ryan yang langsung menyantap pastanya.
Bimo juga menyantap makan siangnya tersebut. Keduanya terlihat bahagia saat makan siang bersama. Bimo ingin merasakan cheese meleleh yang di atas pasta milik Ryan. Mata Ryan bisa melihat keinginan bocah kecil tersebut dan tentu saja Ryan langsung memberikannya. Bimo sangat senang bisa merasakan keju meleleh di dalam mulutnya.
"Apakah pastanya enak,Bimo?" tanya Ryan sambil melihat Bimo yang sibuk makan sendiri.
"Enak sekali paman Ryan! Apalagi ditambah keju beuhhh.... Enak sekali" jawab Bimo yang memberi acungan jempol sebagai penilaiannya terhadap pasta buatan Ryan.
Ryan mulai mengetahui selera makanan Bimo. Ternyata sangat jauh berbeda dengan ayah kandungnya. Ryan merasa bersyukur Bimo tidak mengambil sifat ayahnya dengan begini Ryan hanya tinggal membentuk bocah manis tersebut dengan lebih baik.
SEGINI DULU GUYSSS BESOK KAYAKNYA BISA DOUBLE UPDATE TAPI LIAT AJA BESOK
Makasi yang sudah mampir dan baca
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>
__ADS_1