Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 72: Kejadian di rumah Sakit


__ADS_3

Beberapa hari kemudian setelah hari pernikahan Hiro dan Andi, Karina dan Ryan banyak mengalami hal romantis. Dimulai dari Ryan yang sangat peduli kepada Karina maupun dalam hal sekecil apapun. Karina merasa Ryan sangat posesif terhadap dirinya tapi meskipun begitu Karina menyukainya.


Hari ini Ryan harus menjaga dua bocah sekaligus di restorannya. Karina menitipkan putranya karena dirinya akan melakukan rapat penting di rumah sakit sedangkan Andi sedang sibuk menangani hal penting. Syukurnya dua bocah itu akur.


Awalnya Ryan menolak permintaan Andi untuk menjaga putrinya. Namun Andi tetap memaksa Ryan untuk menjaga Vivi.


Flashback on


"Ayolah Ryan! Aku titip Vivi sebentar sampai makan siang nanti" ucap Andi yang berusaha membujuk Ryan.


"Disini bukan tempat penitipan anak! Lagipula kenapa kau tidak aja dia saja?" jawab Ryan yang menolak permintaan Andi.


"Aku mau melakukan hal penting dan ini sangat berbahaya untuk anak - anak nanti aku kasi uang jaga Vivi deh".


"Berapa kau mau bayar aku?".


"Lima ratus juta cukup?".


"Lebih dari cukup! Ini nomor rekeningku nanti saat kau pulang baru transfer".


"Sekarang saja aku transfer saat aku berangkat, aku serahkan Vivi kepadamu".


"Oke baguslah".


Andi menyodorkan anaknya kepada Ryan. Setelah menyerahkan Vivi, Andi berpamitan kepada Vivi lalu Andi berangkat. Vivi menghampiri Bimo untuk bermain bersama.


Ryan hanya bisa pasrah ketika restorannya dijadikan tempat penitipan anak. Untungnya para pelanggan Ryan tidak terganggu sama sekali malahan mereka merasa terhibur dengan kehadiran dua bocah tersebut.


...----------------...


Mari kita lihat kegiatan direktur rumah sakit kita. Karina saat ini sedang mengadakan rapat bulanan. Rapat berlangsung secara tertib dan aman. Para dokter dan perawat membacakan hasil bulanan mereka.


Rapat tersebut hanya berlangsung selama satu jam. Rapat sudah selesai dan semuanya kembali melakukan pekerjaan. Saat semua peserta rapat keluar ruangan rapat mereka mendengar ada suara gaduh di bagian resepsionis.


Ada dua ibu paruh daya sedang memarahi pegawai resepsionis. Ibu pertama memaki habis - habisan pegawai tersebut.


"Kamu itu kalau bekerja sebagai pegawai resepsionis kerjanya yang benar dong! Masa iya harga lima obat ini harganya lima juta?! Gila ya?!" ucap ibu pertama dengan nada bicara tinggi.


Pegawai tersebut sudah menjelaskan berkali - kali jika obat yang dipegang ibu pertama tersebut bukan dari rumah sakit ini. Namun, ibu pertama tidak mau dengar dan tetap ngotot pengambalian uang.


Karina yang melihat kericuhan itu langsung menghampiri ibu tersebut. Saat Karina menghampiri ibu tersebut, Karina dibentak oleh ibu itu.


"Siapa kau?! Untuk apa kau datang kemari?!" tanya ibu pertama dengan nada bicara kasar.


"Saya direktur rumah sakit ini! Saya mau menyelesaikan masalah ibu dengan pegawai saya!" jawab Karina yang membentak balik ibu pertama itu.

__ADS_1


"Oh jadi kamu direktur rumah sakit payah ini?" ibu pertama menatap julid Karina.


"Iya! Kenapa ibu membentak dan memaki pegawai saya?!" Karina menatap balik ibu pertama tersebut.


"Beritahu pegawaimu ini yang tidak berguna ini untuk tidak menjual obat setinggi langit! Masa obatnya cuman segini tapi harganya setinggi langit?!".


"Coba saya lihat!".


Ibu pertama itu memberikan obat itu dengan cara melemparnya. Tapi sangat disayangkan sekali ibu pertama itu gagal membuat Karina berjongkok untuk mengambil obat karena Karina berhasil menangkap obat tersebut. Dulu Karina adalah penangkap bola baseball handal sebab itulah dia berhasil menangkap obat tersebut. Karina membaca obat tersebut dan tertawa kecil.


"Maaf ya bu obat yang ibu beli bukan dari rumah sakit kami" Karina menyerahkan kembali obat tersebut.


"Bohong! Ini adalah obat dari rumah sakit ini! Anda jangan menghindar ya" ibu pertama menepis obat tersebut sampai terjatuh.


"Saya tidak bohong sama sekali bu! Saya hafal obat yang keluar masuk di rumah sakit ini. Jika benar ibu benar membeli obat dari rumah sakit ini maka, keluarkan bukti pembayarannya".


"Aku lupa membawanya!".


"Disini ibu lah yang berbohong! Jika ibu datang ke rumah sakit saya untuk mengkomplein obat ini seharusnya ibu juga membawa bukti pembayarannya untuk dijadikan sebagai barang bukti!".


"Saya sudah mengatakannya saya lupa membawanya! Puas kau?!".


"Saya belum puas sebelum ibu mengeluarkan bukti pembayaran".


"Rumah sakit ini tidak memberikan saya bukti pembayaran sama sekali!".


"Kenapa kamu bisa mengatakan hal seperti itu?! Katakan!".


"Karena ini adalah rumah sakit saya!".


"Bohong!".


"Disini ibu yang berbohong! Tadi ibu mengatakan lupa membawa bukti pembayaran dan sekarang ibu mengatakan rumah sakit saya tidak memberikan bukti pembayaran! Yang mana benar ibu?!".


Ibu pertama itu terdiam mendengar ucapan Karina. Dia tidak memiliki ide untuk menyerang Karina lagi. Karina sudah mengetahui kalau ibu pertama ingin memeras dia dengan cara menyalahkan harga obat lalu meminta pengambalian obat dengan nilai yang berlipat ganda dari harga obat.


"Ayo jawab bu! Yang mana ucapan ibu yang benar yang pertama atau yang kedua?!" Karina memilih menyerang balik ibu pertama tersebut.


"Ehm.... Eh--... Aku..." ibu pertama sudah terbata - bata saat akan menjawab.


"Karina! Obat itu bukan obat sungguhan melainkan permen, coba lihat" seru July yang merobek kulit obat dan memperlihatkan isinya.


Karina yang melihat isi kulit obat tersebut sangat terkejut. Ibu itu langsung merasa ketakutan dan panik. Dengan segera ibu pertama menarik ibu kedua untuk lari dari sana. Tapi sayangnya ibu pertama gagal kabur karena berhasil ditahan oleh Karina dengan cara menjambak rambut ibu tersebut. Karina tanpa rasa ampun menarik ibu tersebut melalui rambut yang dia jambak. Lalu ia hempaskan sampai ke tembok. Dokter July langsung memanggil keamanan untuk membawa dua penipu ini ke polisi.


"Heh ibu! Anda jangan macam - macam sama saya! Kelihatannya saja dari luar saya seperti gadis polos dan baik hati tapi saya memenangkan perkelahian satu lawan satu geng" ucap Karina yang kembali menjambak rambut ibu itu sampai kepalanya terangkat.

__ADS_1


"Kamu wanita jahat! Wanita mana yang berani menjambak seorang ibu - ibu seperti ini" ibu itu masih ada energi menjawab ucapan Karina.


"Ada kok bu! Ini kan yang ada dihadapan ibu!".


"Mentang - mentang kamu direktur kamu bisa seenaknya menyiksa orang seenaknya".


"Mentang - mentang ibu seorang pengangguran bisa menipu orang seenaknya! Makanya kerja bu!".


Karina melepas jambakan rambut ibu tersebut lalu pergi dari sana. Pihak keamanan membawa pergi dua ibu tersebut ke pihak yang berwajib. Para dokter,perawat,dan pegawai disana terpukau melihat aksi direktur cantik mereka. Mereka memberikan apresiasi kepada Karina atas tindakannya. Karina hanya melambaikan tangannya kepada para bawahannya.


Setelah semua kejadian yang terjadi tadi Karina memutuskan untuk pergi ke restoran Ryan untuk menjernihkan kepalanya.


Saat di restoran, Karina hanya memesan jus jeruk dan kentang goreng saja. Tentu yang menyajikan pesanannya adalah sang kekasih. Ryan bisa membaca raut wajah Karina yang ditekuk.


"Ini pesanannya my queen" Ryan meletakkan piring berisi kentang goreng dihadapan Karina begitu juga dengan minumannya.


"Makasi my prince" Karina tersenyum kepada Ryan.


"Kamu kenapa?" tanya Ryan yang duduk di depan Karina.


"Tidak ada kok!" jawab Karina yang mengambil gelas jusnya lalu meminumnya.


"Kamu kenapa? Cemberut aja".


"Dibilangin tidak ada kok".


"Jangan dipendam gitu baby! Bilang dong".


"Itu tadi ada ibu - ibu yang ngeselin sekali mau nipu aku".


"Coba cerita".


Karina menceritakan semua yang terjadi di rumah sakit tadi. Ryan mendengar cerita Karina dengan seksama.


"Jadi begitu ceritanya sayang...".


"Memang ngeselin sekali".


"Tu kan benar! Sudah tahu nganggur cari pekerjaan dong bukannya nipu".


"Ya sudah! Makan dan minum dulu supaya tenang lagi pikiranmu jadi bisa kerja lagi".


"Hehehe... Makasi sayang".


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA

__ADS_1


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>


__ADS_2