
Karina terdiam mendengar jawaban Andi. Dia berjalan mundur sampai menyentuh dinding kemudian jatuh terjongkok. Andi tahu ini adalah kesalahan dia.
Penjelasan sedikit guysss, pasukan berjas hitam tadi merupakan musuh Andi. Mereka mengira kalau Ryan dan Ryaiden masih bersama mereka tapi nyatanya tidak. Pasukan berjas hitam itu mengikuti mobil Ryaiden mulai dari menjemput Ryan sampai mobil Ryaiden berhenti di markas Andi. Setelah kejadian Andi diculik pasukan berjas hitam kembali mengikuti mobil Ryaiden. Barulah kejadian perkelahian dimulai.
Karina menangis sambil membayangkan bagaimana rasa sakitnya Ryan tadi. Andi mengepal kuat telapak tangannya. Beberapa menit kemudian dokter keluar dan memberitahu kondisi Ryan beserta Ryaiden,
"Nyonya Karina! Tuan Andi! Kondisi tuan Ryan dalam keadaan berbahaya dan ada penda rahan di bagian otaknya. Jadi harus dilakukan beberapa operasi".
"Lakukan saja! Yang penting Ryan selamat!" jawab Karina yang mengelap air matanya.
"Bagaimana keadaan Ryaiden? Apa harus dilakukan operasi juga?" tanya Andi yang lebih fokus kepada Ryaiden.
"Kondisi tuan Ryaiden tidak begitu parah,hanya memerlukan beberapa jahitan dan pengobatan saja" jawab dokter yang kembali masuk ke ruang pemeriksaan.
Bangkar Ryan didorong ke ruang operasi. Karina tidak kuat melihat keadaan Ryan yang sangat buruk. Lampu ruang operasi sudah menyala yang artinya operasi sedang berlangsung. Karina berdoa agar Ryan bisa selamat.
...****************...
Beberapa jam kemudian dokter keluar dari ruang operasi. Karina segera menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan,Ryan? Katakan!" tanya Karina yang memegang erat kedua lengan dokter tersebut.
"Tenanglah nyonya Karina! Saya katakan sekarang. Kondisi tuan Ryan mulai membaik setelah dilakukan operasi dan mungkin sekitar beberapa menit lagi dia akan bangun, masuklah nyonya!" jawab dokter tersebut yang mempersilakan Karina masuk.
Tangan Karina mendorong pintu,matanya membulat saat melihat keadaan Ryan yang terbaring di atas ranjang dengan alat bantu bernafas disertai selang infus di tangan kanannya. Kaki Karina melangkah masuk walaupun masih dalam keadaan ragu. Perlahan - lahan Karina semakin dekat dengan Ryan.
Karina mengelus rambut hitam Ryan dan menatap wajah tampan Ryan. Ibu satu anak tersebut tidak tega melihat kondisi kekasihnya saat ini dan yang paling dia takutkan adalah bagaimana cara dia memberitahu bibi Rosie nanti.
"Honey.... Aku mohon..... Aku mohon.... Bangunlah..." ucap Karina yang menggenggam erat tangan Ryan yang terdapat selang infus.
Di ambang pintu ruang operasi, Andi melihat keadaan Ryan yang masih terbaring. Dia tahu kalau ini adalah kesalahan dia dan hal ini pasti akan sangat sulit diterima oleh keluarganya, apalagi ditambah keluarga Cindrya yang selalu terancam.
__ADS_1
Andi memutuskan kembali ke ruangan tempat Ryaiden. Saat kaki Andi melangkah dia bisa merasakan rasa kaku dan takut. Tapi dia memaksakan dirinya untuk terus berjalan. Andi berjanji akan mengatasi masalah ini secepat mungkin.
Bangkar Ryan sudah dipindahkan ke ruang inap VVIP dan Karina masih menggenggam erat tangan Ryan dan berharap kekasihnya segera pulih. Pintu ruang inap terbuka dan muncul adalah putra kesayangannya Karina. Bimo sudah mendengar kabar ini dari pamannya dan dia diberitahu agar tidak memberitahu masalah ini kepada siapapun kecuali paman Dhika saja.
"Ibu... Paman Ryan kenapa? Apa yang terjadi pada paman Ryan? Kenapa paman Ryan dipasangi selang infus?" tanya Bimo yang masih tidak percaya dengan kondisi calon ayah keduanya.
"Paman Ryan... Paman... Paman Ryan tadi berkelahi terus dia terluka sampai seperti ini,huhuhu..." jawab Karina yang tidak kuat menahan tangisannya.
Bimo berjalan pelan mendekat ke bangkar yang ditempati Ryan. Bocah manis tersebut terkejut melihat keadaan Ryan dari dekat dan dia merasa kalau ini hanyalah mimpi.
"Kapan paman bisa sembuh? Apakah paman akan segera sembuh?" kelopak mata Bimo mulai penuh dengan air mata.
"Ibu tidak tahu.... Berdoa saja paman Ryan segera sembuh" Karina langsung memeluk Bimo saat air mata turun membasahi pipi putranya.
Ibu dan anak itu menangis karena tidak menyangka kalau Ryan akan tertimpa kejadian seperti ini. Ponsel Karina berdering dan saat dia melihat siapa nama yang tertera di layar dia langsung menghapus air matanya dan menguatkan diri.
"Halo Karina! Ini bibi Rosie! Bibi pinjam ponselnya Tito sebentar".
"Bibi hanya ingin bertanya, apakah Ryan bersamamu? Masalahnya dia belum pulang dari jam sepuluh pagi sampai sekarang dan sekarang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam".
"Maaf bi! Karina tidak tahu".
"Ohh... Bibi kira kamu tahu keberadaan Ryan sekarang,ya sudah kalau begitu terima kasih banyak nak Karina".
"Iya sama - sama bibi Rosie".
Panggilan telah berakhir dan Karina jatuh terduduk sambil menutup wajahnya. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan berbohong kepada calon mertua dia sendiri. Tapi yang mendengar pembicaraan Karina dengan bibi Rosie bukan hanya Bimo saja melainkan ada Andi yang berdiri di belakang Karina.
"Sampai kapan kakak akan terus menyembunyikannya? Bibinya Ryan harus tahu hal ini!" tanya Andi yang melipat kedua tangannya kemudian meletakkannya di depan dada.
"Lebih baik kau diam! Aku tidak kuat untuk mengatakannya" jawab Karina yang menggeleng kepalanya.
__ADS_1
"Katakan saja kak! Lebih baik kakak mengatakannya langsung dari pada menunggu orang lain mengatakannya!".
"Kau tahu apa,Andi?! Semua ini gara - gara kamu! Jika kau yang ingin memberitahu yang sebenarnya katakan saja!".
"Baiklah! Aku akan mengatakannya sekarang!".
Andi beranja pergi dari sana dan Karina tidak menduga kalau Andi akan benar - benar mengatakannya. Karina menahan tangan adiknya kemudian Andi langsung menepis tangan kakaknya.
"Apa kak?! Tadi kakak minta aku memberitahu bibinya Ryan,sekarang apa?!".
"Ak--... Aku kira kau akan memberitahunya nanti ternyata kau langsung memberitahunya sekarang".
"Dengar kak! Aku akan melindungi nama kakak saat berbicara dengan bibinya Ryan nanti. Jadi,aku minta kakak untuk tidak perlu khawatir dan jagalah Ryan".
"Aku takut bibi Rosie marah dan tidak merestui hubunganku dengan Ryan lalu meminta kami untuk segera mengakhirinya".
"Kakak tidak perlu khawatir! Jika bibinya Ryan tidak merestui hubungan kakak langsung saja keluarkan Ryan dari ruang inap! Dari rumah sakit ini! Dan biarkan dia membayar sendiri biaya rumah sakit lalu kita minta dia mengganti biaya ganti rugi operasinya! Kakak tahu kan berapa biaya operasinya?".
"Iya aku tahu... Aku hanya takut saja".
"Sekarang jaga Ryan baik - baik dan segera buat daftar biaya operasi Ryan jika bibi manusia itu tidak merestui hubungan kakak berikan daftar itu padaku lalu aku akan mengatasinya".
"Baiklah.... Hati - hati Andi".
Kaki Andi kembali melangkah keluar kamar inap menuju restorannya Ryan. Bimo juga ikut ketakutan setelah mendengar perdebatan sang ibu dengan paman keduanya. Karina kembali duduk di sebelah Ryan dan menglafalkan doa.
OH YA GUYSS... SEDIKIT INFO SEDIKIT BESOK ADALAH HARI JUMAT DAN KALIAN TAHU HARI ITU ADALAH HARI UNTUK..... UPDATE NOVEL INI.
JANGAN LUPA KOMEN DI BAWAH UNTUK JAWABANNYA
Makasi yang sudah mampir dan baca
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>