
Keesokan paginya Ryan sudah terbangun terlebih dahulu dan saat ini dia sedang membersihkan diri. Karina masih terbaring lemas di ranjang tanpa sehelai pakaian. Ryan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan celana boxer.
"Sepertinya aku terlalu kasar bermainnya" ucap Ryan yang mendekati Karina kemudian mengelus kepalanya.
Karina menggeliat saat merasakan sentuhan tangan Ryan mengenai kepalanya. Ryan mengangkat tangannya dan membiarkan Karina menggeliat.
"Tidur lagi ya nanti aku yang buatin makanan" Ryan berjalan menuju dapur.
Sebenarnya Karina sudah bangun saat Ryan mandi tapi dia tidak bisa bergerak sama sekali karena ulah ya itu. Karina mengambil ponselnya di atas nakas lalu melihat - lihat sosial medianya.
"Apa?! Apa - apaan ini?! Kenapa Andi melakukan ini?! Tidak mungkin!" Karina terkejut membaca berita yang terbit kemarin malam.
Berita tersebut mengenai tentang Andi yang membul ly salah satu karyawannya dan kasus pele cehan. Karina sangat tahu sifat adik bungsunya jadi menurut dia tidak mungkin Andi melakukan hal seperti itu. Langsung saja dia menghubungi Andi untuk menanyakan kebenarannya.
"Maaf nomor yang ada tuju tidak aktif silakan hubungi lagi nanti, maaf-" Karina langsung mematikan ponselnya dan beralih menelpon Dhika.
"Hmmm... Halo kak? Kenapa menelpon pagi - pagi sekali?" tanya Dhika yang menjawab panggilan telepon kakaknya dalam keadaan setengah sadar.
"Andi! Dia dalam masalah! Coba baca berita hari ini! Cepat!" jawab Karina yang sangat panik membayangkan adiknya akan diapa - apakan oleh awak media.
Panggilan telepon sempat dijeda. Karina mencoba bangun dari ranjang dengan berpegangan pada punggung ranjang. Dia berhasil mendudukkan tubuhnya lalu kembali fokus ke sambungan telepon.
"Kak! Yang benar saja?! Andi tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Andi sangat peduli pada bawahannya,bagaimana mungkin dia melakukan hal seperti itu?!" Dhika sudah membaca berita tentang Andi.
"Kita harus bagaimana sekarang?! Kita mau klarifikasi masalahnya kita tidak punya bukti yang cukup kuat, kakak bingung Dhika" Karina semakin panik membayangkan adiknya nanti.
"Kakak tenang saja ya nanti aku sama Ryan cari bukti,kita cariin pengacara,intinya kita bakal bela Andi jadi kakak jangan panik,oke? Nanti kakak sama Kaila aja" Dhika berusaha menenangkan kakaknya dan segera menghubungi beberapa bawahannya.
"Ya sudah makasi ya Dhika" Karina mematikan panggilan teleponnya dan berusaha menenangkan diri.
Karina memegangi ponselnya dan berusaha menghubungi Andi. Namun panggil tetap tidak terjawab sama sekali dan membuat Karina semakin khawatir.
Di sisi lain Ryan sedang berada di dapur. Tapi dia belum memasak sarapan sama sekali. Dia sedang telponan dengan seseorang yang dia tidak kenal.
"Untuk apa kau menghubungiku? Lalu kenapa kau mengirim foto Andi sedang diculik?" tanya Ryan kepada penelpon yang dia sudah ketahui namanya.
"Aku hanya ingin menculiknya lalu memasulkan berita tentang dia demi menjatuhkan harga dirinya" jawab orang itu dengan senyum miring.
__ADS_1
"Lalu? Apa untungnya untukku?".
"Bukankah Andi adalah adik iparmu? Bagaimana kabar istrimu kalau tahu adiknya saat ini sedang diculik?".
"Apa kau bo doh? Coba kau pikir baik - baik! Jika kau sudah mengeluarkan berita kau malah menculik orang,apa untungnya?".
"Ini bagian dari rencana Ryan,kalau aku menyebarkan video bug il Andi tentu saja itu akan menjadi berita yang sangat panas apalagi dia seorang pengusaha besar".
"Lebih baik kau lepaskan dia karena itu tidak baik untukmu".
"Apa kau tidak kasihan dengan adik iparmu sendiri? Dia ini adalah adik iparmu".
"Aku peduli tapi jika kau orang yang menculiknya aku jadi tidak peduli sebab kau orang yang.... lemah".
"Apa katamu?! Berani sekali kau mengatakan aku lemah!".
"Ini sederhana saja Andi mempunyai banyak bawahan dan tidak ada bawahan yang berpindah hati ke boss lain kecuali mantan kakak iparnya. Mungkin saat ini beberapa bawahan Andi sudah melihat berita buatanmu dan mereka pasti merasa tidak percaya dengan berita tersebut ditambah mereka akan mencari banyak bukti kuat".
"Diam! Intinya aku akan menyi ksa Andi habis - habisa!".
Orang tersebut mematikan panggilan teleponnya secara sepihak. Ryan hanya geleng - geleng kepala mendengar jawaban pelaku.
Ryan mulai memasak sarapan. Pagi ini dia memutuskan memasak nasi goreng campur. Walaupun Ryan masih sibuk dengan kegiatan memasaknya tetap saja dia memikirkan nasib Andi.
Beberapa menit kemudian Karina keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi. Karina melihat badan topless suaminya di dapur.
Dia menghampirinya lalu memeluk badan besar Ryan dari belakang. Ryan bisa merasakan pelukan Karina dan menoleh ke arahnya.
"Pagi sweetie,c up! Bagaimana tidurnya? Apa nyenyak? Atau mungkin saja memimpikan diriku?" tanya Ryan yang menge c up pelan dahi Karina.
"Nyenyak sekali tapi aku tidak memimpikanmu karena badanku sedang bermain denganmu saat aku tertidur" jawab Karina yang sengaja membantu Ryan mengingat kesalahan dia kemarin.
"Hehehe.... maaf ya sweetie akunya kelolosan" Ryan menyeringai menanggapi jawaban Karina.
"Wahhh... sudah masak sarapan saja suamiku, sekarang bangunkan Bimo dan aku yang menata meja beserta peralatan makan" Karina mulai menata meja.
"Siap bu boss!" Ryan langsung meluncur untuk membangunkan Bimo.
__ADS_1
Ryan sudah ada di depan pintu kamar Bimo. Dia melangkah masuk kemudian menandapati anaknya sedang tidur.
"Bim... bangun nak... ayo makan dulu! Mandi dulu baru kita sarapan,oke?" tanya Ryan yang menggoyangkan pelan tubuh Bimo.
"Hmmm... ayah? Iya ayah ini Bimo mau kumpulin nyawa dulu" Bimo merentangkan kedua tangannya agar lebih rileks.
Ryan menggendong putranya lalu masuk ke kamar mandi. Dia menyiapkan air hangat untuk sang putra. Sembari menunggu bak mandi penuh Ryan membantu Bimo membasuh mukanya agar kelihatannya lebih fresh.
"Sekarang mandi terus baru sarapan" ucap Ryan yang mendapat jawaban anggukan dari Bimo.
Bak mandi sudah penuh dengan air hangat. Ryan membantu Bimo melepas pakaiannya,memandikannya lalu mengeringkan badannya. Bimo menyikat giginya begitu juga dengan Ryan.
Bimo sudah selesai mandi, Ryan membawanya keluar kamar mandi. Ryan mencarikan Bimo baju yang sesuai dengan hari ini. Sudah mendapatkan pilihan baru dia pakaikan ke anaknya.
Putra sudah ganteng,bapak sudah tampan,dan ibu sudah cantik sekarang tinggal sarapan bersama. Mereka bertiga makan dengan damai dan dua orang tua tidak ada membuka pembicaraan tentang Andi. Ryan dan Karina lebih memilih bungkam karena mereka ingin menyelesaikan masalah ini sendirian.
"Ibu! Ayah! Bimo boleh main ke rumah Vivi? Kasihan dia tidak ada teman" ucap Bimo yang membuka pembicaraan.
"Tentu saja nak! Nanti ibu antar" jawab Karina yang memberikan sayur favorit Bimo.
"Yeayyy.... nanti ayah jemput Bimo pas jam setengah satu ya".
"Iya nanti ayah jemput".
Bocah manis itu tersenyum bahagia dan melanjutkan sarapannya. Dua orang tua itu saling pandang satu sama lain lalu mengeluarkan senyum.
Selesai sarapan ayah dan ibu Bimo pergi ke arah yang berbeda. Bimo berpamitan kepada Ryan lalu mobil Karina melaju menuju rumah sakit Cemara.
Ryan melambaikan tangannya kepada istri dan anaknya. Melihat dua orang kesayangannya sudah menjauh Ryan langsung mengambil mobilnya lalu pegi ke suatu tempat.
Jalan yang dilalui Ryan bukan menuju restoran buka menuju markas atau pun rumah Ryaiden. Jalan yang diambil berbeda dari biasanya.
Akhirnya Ryan sampai di salah satu gudang tua. Ryan turun dari mobil dan melangkah masuk ke gudang tersebut.
Di dalam gudang tersebut terdapat Andi dengan tangan dan kakinya diikat di suatu kursi,mulutnya diikat,mata ditutup dan badannya diikat pakai tali. Orang yang ada disana bukan hanya ada Andi saja melainkan ada orang lain yang merupakan penelpon tadi.
"Lepaskan Andi!".
__ADS_1
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>