
Karina dan Bimo sampai di rumah sakit tempat Andi di rawat( milik Karina).Mereka bergegas menuju ruangan tempat di rawat Andi.
Ibu satu anak itu menemukan ruangan tersebut kemudian masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Pemandangan di dalam membuat dia kaget dan menutup kembali pintu tersebut.
Bimo menghampiri Dhika yang duduk di luar kamar.Karina menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Paman Dhika! Ibu kenapa?" tanya Bimo yang mendudukan tubuhnya di sebelah Dhika.
"Ibumu masuk begitu saja tanpa mengetuk dulu ya... jadi begini deh" Dhika menceritakan kejadian tadi.
Bimo hanya ber"o" saja.Karina masih merasakan malu yang luar biasa.Di dalam kamar itu memperlihatkan kejadian yang membuat dia malu.
Andi yang di dalam kamar bersama Hans terpaku nelihat kelakuan Karina.Dikarenakan saat di dalam Andi sedang di cium pipi kanan dan kirinya oleh Hans.Sontak saja Karina berteriak melihat pemandangan itu.
"Kakak baru segitu saja melihat kami seperti ini padahal dia lebih dari ini saat bersama kakak ipar" ucap Andi yang sudah sadar dan menggerutu tentang Karina.
"Kalau begitu sayang biarkan kakakmu melihat sekali lagi apa yang kita lakukan tadi atau kita bisa melakukan lebih" ujar Hans yang mengelus paha Andi yang diselimuti oleh celana.
Andi membuat ekspresi tidak senang dihadapan Hans.Yang ditatap hanya tertawa melihat ekspresi si manis.
"Tok...tok...tok..." suara pintu di ketuk kemudian terbuka yang memperlihatkan Bimo dan Karina.
"Paman Andi sakit apa?" tanya Bimo yang mendekati Andi.
"Paman baik - baik saja hanya pingsan saja karena kaget jadi tidak perlu khawatir" jawab Andi sambil mengelus kepala Bimo.
Karina mengecek seluruh tubuh Andi sampai mengangkat tangan selanjutnya ke kaki lalu ke kepala.Selesai pengecekkan Karina langsung memeluk adiknya itu.
"Andi syukurlah kau baik - baik saja" ucap Karina yang menangis dengan cara yang agak lain.
"Kak! Jangn begini!" Andi mendorong kakaknya agar menjauh dari wajahnya.
Bimo terdiam melihat tingkah ibunya yang agak sedikit lebay lagipula Bimo sudah biasa kok.Pandangannya mengarah kepada Hans yang disebelah Andi.
"Paman Hans!" panggil Bimo.
"Ada apa,Bimo?" tanya Hans.
"Bimo membicarakan sesuatu sama paman Hans tapi harua di luar".
Hans dan Bimo keluar kamar sekarang giliran Dhika untuk melihat kondisi adiknya.Tiga saudara itu berkumpul dan berbicara satu sama lain.
__ADS_1
Di luar kamar,Bimo dan Hans saling tatap satu sama lain.Tatapan yang diperlihatkan oleh Bimo sangat khas bagi Hans karena sangat mirip dengan mendiang ayahnya.
"Baiklah Bimo apa yang mau kau bicarakan?".
"Paman tahu orang yang bernama Ryan? Dia pengusaha restoran di sebelah cafe ibu".
Hans sedikit terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh Bimo.Tapi dia berusaha berpikir positif saja tidak mungkin orang yag bernama Ryan hanya satu pasti banyak.
"Ryan siapa?"
"Paman tidak perlu berpura - pura ini dia fotonya" Bimo menyerahkan foto Ryan.
Benar saja dugaan Hans yang dimaksud Ryan adalah orang yang ia kenal.Jadi,Hans sama Ryan ini sepupu jauh gitu makanya tidak terlalu deket sekali.
"Paman tahu kok! Kenapa?".
"Aku ingin meminta informasinya nanti aku kasi apa pun yang berhubungan dengan paman Andi termasuk sempaknya".
Hans hanya tersenyum dengan penawaran yang diberikan oleh Bimo.Dia tidak menyangka kalau Bimo berani menjual informasi tentang pamannya kepada Hans.
"Baiklah! Janji, ya?"
"Janji! Kalau paman mau foto bugil paman Andi nanti aku bobol hpnya" Hans tertawa mendengar jawaban Bimo.
"Oh... Jadi begitu paman aku kira dia kaya sekali ternyata masih menengah" ujar Bimo mengenai Ryan.
"Iya dan bodohnya dia tidak mau mengambil alih perusahaan ayahnya seharusnya dia ambil dan kembangkan saja usaha ayahnya dengan begitu,kan gampang" ucap Hans membicarakan tentang Ryan.
"Jujur saja paman Hans aku tidak suka paman Ryan dekat - dekat dengan ibu".
Hans paham sekarang kenapa Bimo meminta informasi mengenai Ryan ternyata tidak ingin ibunya direbut.Namun,itu bukan urusan Hans jadi dia memberikan saja informasi Ryan.
"Sudahlah Bimo ibumu tidak semudah itu untuk ditaklukan tenang saja" Hans yang sedang menghibur Bimo.
Bocah kecil manis itu hanya mengangguk.Hans merasakan beberapa kemiripan antara Bimo dan ayahnya memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
...****************...
Keesokannya cafe milik Karina terlihat sangat ramai sekali membuat para pegawainya kewalahan untuk melayani atau membuat pesanan.Untungnya ada asisten kecil yang bersedia membantu keramaian cafe.
Di tetangga sebelah terlihat pelanggan yang tidak begitu ramai sekali Ryan dan Tio jadi lebih santai bekerjanya.Keburukan dari sepinya pelanggan adalah dia mendapat keuntungan yang sedikit.Padahal mereka sudah melakukan promosi dengan cara apa pun tapi hasilnya sama saja.
__ADS_1
"Tio! Kenapa lama sekali restoran kita ramai? Coba lihat cafenya Karina sangat ramai sekali" keluh Ryan kepada Tio.
"Ya sabar namanya usaha baru dimulai ya masa iya baru buka sudah ramai begitu saja" jawab Tio sambil mengelap gelas.
Ryan menatap restorannya yang tampak sepi cuman ada beberapa pelanggan saja.Tio sedikit kasihan dengan temannya itu.
"Tio! Aku ke cafe sebelah dulu" ucap Ryan yang pergi menuju cafe Karina.
...****************...
Di cafe Ryan langsung di sambut oleh Bimo dengan ekspresi tidak menyenangkan.Bimo mempersilakan Ryan masuk.
"Silakan masuk paman Ryan aku antarkan kau ke mejamu" ucap Bimo yang memandu Ryan menuju mejanya.
Bimo sampai di meja khusus untuk Ryan.Sayangnya,Bimo tidak menawarkan menu apa pun juga tidak memberikan segelas air.
"Paman Ryan aku ingin membicarakan sesuatu penting" Bimo duduk di hadapan Ryan.
"Apa itu ?".
"Jauhi ibuku kalau tidak paman akan mendapatkan balasan yang setimpal".
"Siapa yang mengajarimu seperti ini? Apa kau tidak tahu mengancam orang yang lebih tua itu tidak baik?".
"Bimo tidak akan mengancam paman asalkan menjauh dari ibu karena paman Ryan tidak pantas untuk ibu".
"Paman tetap akan mendekati ibumu dan sampai mendapatnya".
"Sebaiknya paman menjauh saja karena paman tidak pantas untuk ibu.Biar aku beritahu saja pekerjaan ibuku bukan hanya pengusaha cafe dia lebih dari itu".
Perbincangan terhenti sementara akibat Ryan yang terkejut dengan ucapan Bimo.Memang saat ini usia Bimo masih lima tahun tapi dia bisa memahami hal apapun seperti orang dewasa.
"Jujur saja awalnya aku mengira paman Ryan adalah orang yang baik ternyata tidak".
"Bimo kau lebih baik diam aku tidak suka berbicara seperti itu jika kau masih berbicara seperti itu aku adukan kepada ibumu"
"ADUKAN SAJA!" bentak Bimo.
Semua pandangan tertuju ke arah Ryan dan Bimo begitu juga dengan Karina.Bimo seketika membeku di saat ibunya memandang tajam dirinya.
*Terima kasih yang sudah mampir
__ADS_1
To be continued*\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>