
Dhika juga semakin panik mendengar ucapan dokter tadi. Tapi dia hanya bisa berharap Andi selamat saja.
Waktu terus berlalu hingga menunjukkan pukul lima sore. Bimo masih bermain dengan dokter July, Michael mengobati wajah dan badannya yang terkena fisik keras Dhika tadi dan Karina,Dhika, Ryan menunggu dokter keluar dari ruang icu untuk melihat hasil.
Dokter pun keluar dari ruang i cu dengan membawa beberapa kertas di tangannya. Karina segera menghampiri dokter tersebut dan menanyakan kondisi Andi.
"Dokter! Dokter bagaimana kondisi Andi? Apakah dia baik - baik saja?".
"Menurut hasil pemeriksaan tuan Andi mendapatkan beberapa luka robek,lecet dan..." jawab dokter tersebut yang sedikit melambat saat akan menyebut hasil terakhir.
"Dan apa? Katakan dokter!" Karina mengguncang tubuh dokter tersebut untuk menyebutkan hasil selanjutnya.
"Dan tuan Andi mengalami koma hal ini disebabkan tuan Andi kekurangan oksigen dan ada sedikit kerusakan di saraf otaknya. Andi mengalami pemerkosaan oleh banyak orang dan dilakukan secara bergilir dilihat dari dari lukanya. Karena nafsu tuan Andi yang besar yang juga membuat dia sesak nafas dan menurut tes lainnya tuan Andi disuntikkan bahas narkoa atau bahan obat bebahaya lain mungkin ini penyebab terjadinya kerusakan saraf pada otak tuan Andi" dokter tersebut kembali melanjutkan jawabannya dan menjelaskan penyebab dan akibat yang terjadi pada Andi.
Karina terdiam dan terkejut mendengar adik bungsunya mengalami koma. Dhika dan Ryan juga terdiam setelah mendengar jawaban dan penjelasan dokter tadi. Ryan tiba - tiba teringat kalau kakak sepupunya ini suka menyampur beberapa obat bebahaya. Jika memang benar Michael yang mencampur obat lalu menyuntikkannya ke Andi seharusnya ada ramuannya,pikir Ryan.
"Kalau nyonya Karina ingin melihat tuan Andi silakan saja! Sudah diperbolehkan saya permisi" ucap dokter tersebut yang mempersilakan Karina untuk masuk dan melihat kondisi adiknya.
Karina segera masuk ke ruangan tersebut yang diikuti oleh Dhika dan Ryan. Saat di dalam Karina lagi lagi dibuat kaget dan khawatir melihat kondisi Andi saat ini. Tangan kanan dan kiri Andi dipasangi selang infus, banyak luka robek di bagian wajah,tangan kanan, kaki kanan dan kiri, dan Andi dipasangi alat bantu bernafas ditambah perut Andi diperban. Karina lagi - lagi meneteskan air matanya melihat kondisi Andi seperti ini dia berjalan lalu berjongkok di sisi kiri Andi. Tangan Karina menggenggam tangan kanan Andi yang terpasang infus.
"Huhuhuhu... Andi... Kenapa nasibmu seperti ini?... Apa yang kau lakukan sampai dirimu seperti ini? Huhuhuhu..." tanya Karina kepada Andi yang tertidur tidak sadarkan diri ditambah suara tangisannya.
__ADS_1
Ryan kembali mengingat tempat markas Michael. Kalau pun Ryan mendapatkan penawar obat tersebut Andi tidak mungkin langsung sadar paling tidak Ryan bisa mendapatkannya untuk Andi agar si bungu tidak kecanduan obat - obatan. Dhika meratapi adiknya yang tersiksa oleh dirinya. Dia tidak menyangka kalau resikonya akan sebesar ini hanya mencari informasi mengenai Michael saja.
"Karina! Ryan! Aku akan mencari penawar untuk obat yang disuntikkan Andi paling tidak aku membantu kalian dan ini akan membuat kondisi Andi lebih baik" ucap Ryan yang menawarkan bantuannya kepada Karina dan Dhika.
"Bagaimana caranya kau mengambil penawar tersebut? Masalahnya kau sudah memutus hubungan keluargamu itu pasti susah!" ujar Dhika yang mengkhawatirkan Ryan.
"Memangnya Michael tidak memutuskan hubungannya dengan keluarganya juga? Dia sama sepertiku! Ingin hidup bebas dan memiliki usaha sendiri - sendiri. Dulu aku sering bermain ke markas dia dan sampai sekarang aku masih ingat setiap jalur" jawab Ryan yang berusaha meyakinkan Dhika.
"Apa tidak berbahaya? Masalahnya itu markas musuh" tanya Karina yang mengusap air matanya.
"Tidak perlu khawatir Karina! Aku bisa melakukan apapun demi dirimu dan keluargamu!" jawab Ryan yang penuh dengan perasaan bangga dalam dirinya.
"Kenapa kau ingin membantu kami? Lalu dimana kau akan menemukan markas Michael?" tanya Dhika kepada Ryan.
"Aku tidak ingin Andi menjadi Michael kedua itu saja. Sekarang aku membenci Michael karena dia kecanduan meracik dan mengkonsumsi obat bebahaya. Pertama kali dia mengkonsumsi obat saat dia berusia dua puluh tahun itu pun juga terpengaruhi oleh temannya. Michael menjadi menyukai obat bebahaya dan karena dia sering mengkonsumsi obat dia pun menjadi gia. Pernah satu hari dimana dia kehabisan obat,dia pun mulai meracik obat sendiri. Saat aku masuk ke markasnya saja aku bisa melihat banyak obat racikan di lemari ruang kerjanya. Sejak saat itu aku membenci dia karena mengkonsumsi obat tersebut.
Aku akan pergi ke negara F untuk menemukan markasnya, jangan khawatir!" jawab Ryan yang menjelaskan alasan dia membantu Karina dan Dhika untuk menyembuhkan adiknya dan alasan dia membenci Michael.
"Dulu tidak begitu dia... Kenapa dia sekarang menjadi seperti ini?" Karina sedikit takut membayangkan kondisi Michael saat dulu.
"Biasa pengaruh temannya" jawab Ryan.
__ADS_1
Karina menjadi takut kalau adiknya akan menjadi seperti Michael yang kecanduan obat - obatan. Dia hanya berharap Dhika dan Ryan cepat menemukan cara untuk menyembuhkan Andi.
Dhika berjalan keluar ruangan sambil merenungi cara dia menemukan penawar tersebut. Tanpa sengaja matanya melihat Kaila yang berlari ke arahnya. Kaila berlari semakin cepat kemudian memeluk Dhika. Tanpa diduga Kaila merasakan kesedihan di dalam diri kekasihnya dan dia bisa mendengar suara tangisan Dhika. Kaila bisa memahami kondisi Dhika sekarang.
"Bagaimana kondisi Andi? Apa dia baik - baik saja?" tanya Kaila yang mengusap surai Dhika.
"Dia koma... Huhu... Aku kakak yang buruk! Kenapa aku membiarkan Andi mencari informasi sendiri! Seharusnya aku menemani dia disana atau aku letakkan saja penjaga di depan kamarnya" jawab Dhika yang tidak tahan membendung tangisannya.
"Sabar sayang... Yang penting kau sudah menyelamatkannya saja itu sudah cukup" Kaila berusaha menenangkan Dhika untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku kakak yang buruk Kaila! Aku biarkan adikku dalam bahaya!".
"Dhika! Jangan menyalahkan dirimu sendiri! Ini semua sudah terjadi! Percuma saja kau menyesalinya sekarang!".
Kaila memeluk kuat pacarnya tersebut yang sedang terpuruk. Dhika sama sekali tidak bisa berhenti menangis dan tidak bisa berhenti membayangkan kejadian yang tadi.
MAKASI YANG SUDAH BACA DAN MAMPIR
AUTHOR MINTA MAAF MUNGKIN CERITANYA TIDAK KADANG SUKA TIDAK NYAMBUNG ATAU KELUAR DARI JALUR TAPI SAYA AKAN BERUSAHA YANG TERBAIK UNTUK PARA RIDERS UNTUK MEMBUAT KALIAN PUAS DAN SENANG MEMBACA NOVEL INI
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>
__ADS_1