Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 14: Ryan vs Bimo part 1


__ADS_3

Karina melihat anaknya yang membentak Ryan tadi.Bimo sangat ketakutan kalau ibunya akan marah.Tapi Karina abai saja dan melanjutkan pekerjaannya.


"Puas teriaknya ?" tanya Ryan yang mengangkat sebelah alisnya disertai kedua tangannya dilipat di dada.


"Belum! Aku ingin membentak paman lebih keras lagi!" jawab Bimo dengan sangat kasar.


Dua mata saling bertatapan sangat tajam.Bimo memang anak kecil tetapi dia tidak pernah takut untuk melawan orang dewasa kecuali ayah dan ibunya.


"Dengar baik - baik ini Bimo! Paman akan terus berusaha mendapatkan ibumu dan suatu hari aku akan menjadi ayahmu" ucap Ryan dengan bangganya.


"Paman Ryan juga dengarkan ini baik - baik! Aku tidak akan membiarkan paman merebut ibuku!" balas Bimo sambil menunjuk - nunjuk Ryan.


Orang dewasa dan anak kecil ini sama - sama memperjuangkan satu wanita yang sama. Yang dewasa berusaha mendapatkannya dan yang kecil berusaha mempertahankannya.Menurut kalian siapa yang akan menang ?.


Ryan beranjak pergi dari cafe tanpa berpamitan dari Bimo.Si bocah kecil itu tidak mempersalahkan musuhnya itu mau pergi atau tidak asalkan jangan dekat dengan ibunya.


Karina yang melihat Ryan pergi langsung menghampiri anaknya. Bimo yang terkejut tiba - tiba saja sang ibu duduk di hadapannya.


"Bimo..."


"Ada apa dengan paman Ryan?" tanya Karina yang menangkup wajahnya dengan kedua tangannya di meja.


"Ehmm... Tidak ada bu hanya masalah kecil kok" jawab Bimo dengan perasaan gugup.


Karina mengangguk paham tapi dia masih curiga terhadap anaknya itu. Ia pun memutuskan menanyakan sesuatu yang lain dengan topik yang sama.


"Bimo anak ibu tercinta apa Bimo sedang bertengkar dengan seseorang ? Atau ada hal menganjal di hatimu?"


"Jleb!" hati Bimo seperti ditusuk pedang saat ini saat ibunya menanyakan itu.


"Tidak ada bu,Bimo kan orang yang baik jadi mana mungkin ada masalah sama orang lain" kedua kalinya Bimo harus berbohong.


"Ya ampun! Aku berbohong lagi! Seharusnya tidak apa - apa,kan ? Ini demi ibu" ucap Bimo dalam hati kecilnya.


Bimo masih merasakan perasaan gugup yang luar biasa sampai keluar keringat dingin.Perasaan gugup,panik,dan takut dicampur jadi satu dalam hati Bimo.


"Ya sudah kalau begitu ibu mau lanjut kerja dulu" Karina meninggalkan anaknya untuk kembali bekerja.


Bimo menghembuskan nafas panjang leganya.Semua perasaan tadi di hatinya sekarang sudah sirna dan kini ia bisa bernafas lega.Sekarang dia harus fokus menjaga ibunya.


Keesokan siangnya Ryan membawakan makanan buatan sendiri untuk Karina. Kaki Ryan masuk ke cafe tapi dihadapannya sudah ada Bimo yang menghalangi.Pandangan tajam langsung dikeluarkan oleh Bimo dan dibalas balik oleh Ryan.


"Ibu! Paman Ryan membawa sesuatu! Sepertinya bahan peledak" ucap Bimo memanggil ibunya.


Ryan hanya tersenyum mendengar ucapan si bocah kecil nakal tersebut.Karina mendatangi Ryan dan ia melihat kotak makan yang dibawa Ryan.

__ADS_1


"Wah... Ada makanan! Ini makanan Bimo! Bukan bahan peledak" seru Karina yang membenarkan ucapan anaknya.


Ryan tersenyum merasakan kemenangan yang tiba akibat ucapan Karina.Bimo mengerutkan kedua alisnya dan menatap Ryan dengan penuh kebencian.


"Ayo Ryan masuk! Kebetulan hari ini cafe tidak terlalu ramai" Karina mengajak masuk Ryan.


Langkah Ryan bebas masuk tanpa ada yang menghadangnya.Bimo mengikuti Karina dan Ryan dari belakang.


Karina membuka kotak makan yang diberika Ryan tadi.Ternyata isinya adalah sup ayam jahet dan kebetulan juga Karina menyukai sup itu.Mata Bimo membulat melihat makanan yang dibuat Ryan adalah makanan kesukaan ibunya.


"Ryan aku coba, ya sup ini?" Karina menyendok kuah sup itu lalu menyuapnya ke mulut.


"Silakan saja Karina" ucap Ryan sambil memandangi Bimo.


"Ya ampun! Ini sangat enak sekali!" puji Karina terhadap sup itu.


Kemenangan kembali dirasakan oleh Ryan. Dia melebarkan senyumnya tepat dihadapan Bimo.Tidak mau kalah dari Ryan akhirnya Bimo bergerak maju.


"Ibu boleh aku mencobanya ?" tanya Bimo yang juga mengeluarkan jurus memohon imutnya.


Karina menyuapi putranya itu. Saat kuah sup itu mengenai lidah Bimo kemudian turun ke kerongkongannya dia bisa merasakan kelezatan yang tidak biasa. Bimo terdiam merasakan rasa sup yang sangat nikmat itu.


"Apa ini?! Kenapa bisa sup ini sangat enak?! Rasa ini sangat berbeda dari sup ayam jahe yang pernah aku rasakan sebelumnya" batin Bimo yang terkejut dengan kelezatan sup buatan Ryan.


Kini Ryan lagi - lagi merasakan kemenangan melawan Bimo. Untuk skor sekarang sudah dua kosong.


"Aku membuatnya secara sungguh - sungguh dan ditambah dengan bumbu cinta" jawab Ryan dengan sombongnya.


"Matamu cinta! Mana mungkin dia pakai cinta! palingan alasan saja untuk meluluhkan hati ibu!" kesel Bimo di dalam hatinya yang mengomentari jawaban Ryan.


"Berarti hanya sup ini yang paman pakai bumbu cinta? Yang lainnya tidak? Artinya nasi goreng kemarin yang paman berikan tidak serius dong? Karena rasanya sangat asin" ucap Bimo yang mengeluarkan banyak pertanyaan untuk Ryan.


Sekarang Ryan membeku mendengar banyak pertanyaan yang diberikan oleh Bimo. Yang juga membuat Ryan membeku adalah Bimo membahas nasi goreng keasinan kemarin.


"Ehm... Itu kebetulan saja paman tidak sengaja menaruh banyak garam" jawab Ryan dengan perasaan malu.


Bimo mengembangkan senyumnya yang melihat kemenangannya atas dia membahas kembali masalah kemarin. Skor Ryan dan Bimo menjadi dua satu.


"Karina aku harus kembali dulu,Tio memerlukan aku sekarang" ucap Ryan yang langsung pergi dengan tergesa - gesa.


Saat ini Bimo tertawa di dalam hatinya melihat Ryan pergi dengan rasa malunya. Karina melanjutkan memakan sup ayam jahenya.


...****************...


Keesokan lagi Ryan membawa sesuatu untuk Karina. Saat ini hari sedang sore tepat pukul enam dan cafe sudah tutup.

__ADS_1


" Karina !" panggil Ryan.


Karina langsung menoleh mendengar Ryan memanggil namanya. Ryan langsung mengeluarkan sebuket coklat untuk Karina. Bimo yang melihat pemandangan itu langsung tersedak saat meminum susu.


"Ryan apa ini?"


"Hadiah untukmu terima saja".


Karina sedikit takut untuk menerima buket coklat itu.Dikarenakan coklat yang ada di buket itu mahal semua.


"Kakak! Aku membeli coklat yang kakak minta kemarin--... Eh?" Dhika yang muncul tiba - tiba dengan satu kantung plastik coklat mahal kebetulan juga memiliki merek yang sama seperti di buket dibawa Ryan.


Mereka kebingungan dengan situasi saat ini tidak dengan bocah kecil yang menyaksikan situasi itu.Kemenangan sudah dihadapannya saat ini.


"Loh? Kok bisa sama,ya?" tanya Dhika yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Bimo mentertawakan wajah Ryan yang kebingungan itu. Dia pun beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri ibunya.


"Hai paman Dhika! Oh? Apa itu?" tanya Bimo yang pura - pura tidak tahu situasi saat ini.


"Ini coklat yang diminta kakak kemarin katanya untukmu" jawab Dhika yang memberikan satu kantong plastik coklat itu kepada Bimo.


Tentu saja dengan sangat senang hati Bimo menerima coklat itu.Karina yang sudah kembali sadar dari kebingungannya membuka suaranya.


"Ehmm... Ryan... Maaf,ya? Aku sudah membeli coklat yang sama sepertimu"


"Sejujurnya kemarin aku sudah meminta adikku untuk membeli coklat ini jadi maaf,ya..." ucap Karina yanh sekaligus meminta maaf kepada Ryan.


Bimo tersenyum jahat kepada Ryan.Pandangan terpancar jelas ke arah Ryan.


"Paman Ryan sebaiknya simpan saja coklat itu atau berikan kepada paman Tio" Ryan yang melontarkan serangan kata - katanya.


"Tidak apa - apa sebaiknya ibumu saja yang simpan" Ryan lansung menyerahkan buket cokelat itu ke tangan Karina dan langsung pergi begitu saja.


"Kak! Dia kenapa ?" tanya Dhika yang kembali kebingungan.


"Entahlah, lagipula kakak sudah minta maaf "


"Sekarang bagaimana dengan coklat yang banyak ini ?" jawab Karina yang langsung mengalihkan topik pembicaraan.


"Ibu sebaiknya kita apartemen pahama Andi kita berikan sebagian kepada paman atau tidak kita makan sama - sama disana" saran Bimo yang menggigit sepotong coklat.


"Itu ide bagus Bimo, aku siapkan mobil dulu kak" ujar Dhika yang langsung menyiapkan mobilnya.


Karina masuk ke dalam untuk mengambil tasnya dan mengunci setiap pintu di cafe sedangkan Bimo mengikuti pamannya itu.Sudah selesai mengunci pintu Karina menuju mobil Dhika. Mereka berangkat menuju apartemen Andi.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir baca : )


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>


__ADS_2