Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 87: Aksi Duo bersaudara


__ADS_3

Beberapa jam kemudian Ryan dan Ryaiden akhirnya bangun dari pingsannya. Ryan memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Ryaiden melihat sekelilingnya dan dia merasa ada yang kurang di ruangan tersebut.


"Aduh...duh...duh... Ha? Dimana Andi?" tanya Ryan yang masih merasakan kepalanya yang sakit.


"Oh iya! Andi hilang! Kak! Andi hilang! Dia diculik" jawab Ryaiden yang baru tersadar kalau Andi tidak ada di ruangan tersebut.


Ryan langsung panik dan segera mencari petunjuk atau bukti. Ryaiden memeriksa cctv melalui laptopnya. Ruangan tersebut terlihat sama seperti sebelumnya,tidak ada perubahan sama sekali.


Ryaiden memukul meja sebab dia gagal mendapatkan bukti atau rekaman cctv. Dia bingung harus mencari bukti bagaimana lagi tapi paling dia takuti adalah bagaimana kalau Hiro bertanya dimana keberadaan Andi? Kenapa dia bisa diculik?.


"Kak! Bagaimana ini? Rekaman cctvnya sudah hilang" tanya Ryaiden yang kebingungan.


"Kakak juga tidak mendapatkan petunjuk apapun, apa sebaiknya kita melapor pada polisi?" jawab Ryan yang juga ikut kebingungan.


"Jangan! Ini sangat berbahaya! Jika kita melapor pada polisi maka Hiro akan memarahiku. Sebaiknya kita cari sendiri saja".


"Tapi bagaimana caranya? Tidak ada petunjuk apapun".


"Andi selalu membawa ponselnya dan seharusnya ponselnya masih bisa dihubungi".


"Ya sudah! Kau saja yang menghubungi Andi dan hidupkan speakernya".


Ryaiden langsung mengambil ponselnya dari saku celananya. Dia langsung menghubungi Andi.


Tutt... Tutt... Tutt...


Panggilan pun tersambung. Ryan langsung menginstruksi Ryaiden untuk menghidupkan speakernya.


"Halo? Andi? Apakah kau ada disana?" tanya Andu dengan nada bicara pelan.


"Halo! Siapa ini?! Kenapa mengganggu kami rapat?!" jawab seseorang di sebrang sana.


"Tunggu! Siapa kau?! Dimana Andi?! Kenapa kau yang menjawabnya?! Berikan kepada Andi!" Ryaiden langsung membentak orang tersebut.


"Ada keperluan apa kau mencari Andi?! Saat ini Andi sedang melakukan urusan penting dengan boss".

__ADS_1


"Aku tidak peduli! Intinya berikan kepada Andi! Ini urusan penting!".


"Urusan boss lebih penting dari pada situ! Sudahlah pergi!".


"Heh! Aku katakan sekali lagi untuk berikan kepada Andi!".


"Baiklah kalau kau memaksa".


Orang tersebut memberikan ponsel tersebut kepada Andi. Ryan dan Ryaiden menunggu Andi menjawab panggilan tersebut. Suara Andi mulai terdengar.


"Jangan pak! Aku janji akan mendapatkan data tersebut, kumohon berikan aku waktu sebentar lagi" ucap Andi yang bukan menjawab panggilan telepon tersebut melainkan sedang berbicara dengan seseorang.


"Dasar tidak berguna! PLAK! KAU SUDAH BEKERJA BERSAMAKU LEBIH DARI LIMA TAHUN! TAPI INI PERTAMA KALINYA KAU MEMBUATKU GAGAL! ADA APA DENGANMU ANDI?!" bentak pria tersebut yang sekaligus menampar Andi.


Ryan merebut ponsel Ryaiden. Dia langsung berbicara walaupun sedang ada perdebatan di sebrang sana.


"Hei! Jangan bentak Andi! Kalau kau mau bentak Andi lebih baik kepadaku saja!".


"Ryan? Itu kau? Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau menghubungiku?!" tanya Andi yang dengan nada tinggi.


"Katakan saja padanya aku lagi ada urusan, sudah jangan ganggu aku lagi!".


"Lalu bagaimana dengan Hiro?".


"Biarkan saja! Biar dia yang telpon aku nanti, dah bye!".


Sambungan telepon terputus. Ryan mengembalikan ponsel Ryaiden kepada pemiliknya. Mereka berdua saling tatap seolah - olah memberi tanda.


"Katanya ada urusan dan sepertinya dia akan pulang sendiri,biarkan saja" ajak Ryan yang bersiap - siap untuk pulang.


"Ya sudah! Palingan nanti dia telpon kita balik" jawab Ryaiden yang juga bersiap - siap ikut pulang.


Keduanya sudah selesai bersiap - siap dan segera pulang. Pertama - tama Ryaiden harus mengantar kakaknya pulang dulu.


Di perjalanan menuju restoran Happines Food's, Ryaiden dan Ryan tidak memiliki topik pembicaraan sama sekali. Sampai pada akhirnya ada suatu mobil mengikuti mobil Ryaiden.

__ADS_1


"Ryaiden! Tambah kecepatan mobilmu lalu lakukan belokan tajam" ucap Ryan yang memberi instruksi kepada adiknya.


Ryaiden menuruti perintah kakaknya. Mobil Ryaiden semakin cepat dan tepat di persimpangan lampu hijau menyala. Tangan Ryaiden langsung memutar setir sehingga berhasil melakukan belokkan tajam.


Mobil Ryan terus tancap gas sehingga sudah menjauh dari mobil yang mengikuti mereka. Ryaiden tetap menginjak gas walaupun mereka sudah melewati restoran Ryan.


"Bagaimana kak? Kita sudah lewat dari restoran kakak" tanya Ryaiden yang tetap memegang erat setir mobil.


"Jangan! Lanjutkan saja! Kita tidak tahu berapa jumlah mobil yang mengikuti kita barusan dan kemungkinan mereka memiliki beberapa pasukan lainnya" jawab Ryan yang melirik sedikit ke arah spion.


Mobil Ryaiden sampai pada sebuah jalanan sepi. Ryan meminta sang adik agar kembali ke jalan raya karena sangat beresiko jika berkendara dia jalanan sepi. Tapi saat mobil Ryaiden berputar tiba - tiba saja ada mobil yang menabrak bagian depan mobil Ryaiden. Ryan dan Ryaiden langsung keluar dari mobil bersama barang - barang bawaannya.


Mereka berdua ternyata terjebak dalam jebakan. Tepat dihadapan mereka sekarang ada sekitar mobil van hitam bersama puluhan pasukan. Karena tidak ada pilihan lain selain melawan mereka semua, kakak beradik ini langsung dalam posisi kuda - kuda.


"Kalian berdua! Katakan dimana Andi! Kalau tidak kalian akan ma ti dengan cara mengenaskan" ucap seorang pria yang merupakan pemimpinnya.


"Kami saja tidak tahu dimana Andi yang jelas dia diculik dan kami tidak mengetahui keberadaannya" jawab Ryan yang menguatkan posisi kuda - kudanya.


"Bohong! Kalian itu sengaja tidak menjawab! Kalau kalian menjawab maka, semuanya akan berakhir damai" orang tersebut tetap kekeh meminta Ryan agat memberitahu keberadaan Andi.


"Sudah aku katakan kami--- ada apa Ryaiden?" belum menyelesaikan ucapannya Ryaiden langsung menahan sang kakak dan memberikan pemukul baseball besi.


"Ya sudah! Lebih baik kita bertarung saja untuk membuktikan omongan kami benar" Ryaiden menjawab ucapan orang tersebut dengan menyeret pemukul baseball di tangan kanannya.


Orang tersebut langsung memberikan isyarat kepada pasukannya agar menyerang Ryan dan Ryaiden. Tanpa ragu sama sekali kakak beradik itu langsung memukul musuh pertama mereka tepat mengenai kepala dengan menggunakan alat pemukul tadi. Mereka berdua memutuskan untuk bertarung secara berpisah agar pertarungan ini segera selesai.


Ryan berlari ke arah kiri dan diikuti sebagai pasukan musuh sedangkan Ryaiden berlari ke arah kanan dengan sisa pasukan musuh mengikutinya. Ryaiden memukul musuh - musuhnya secara brutal dimulai dari kepala,leher,tangan,dan kaki. Namun aksinya belum sampai disana tangan kiri ya menjabak rambut salah satu musuh kemudian membantingnya ke atas mobil dan diakhiri dengan pukulan alat pemukul mengenai kepala bagian belakang. Ryan terus melanjutkan aksinya dengan lebih brutal.


Mari kita beralih ke Ryan yang kedua tangan dan kakinya dikunci lalu alat pemukulnya terlepas dari genggamannya. Tapi Ryan tidak semudah itu dikalahkan, dia melu dahi wajah salah satu musuh sehingga pegangan pada tangan terlepas. Tangan Ryan yang terlepas sebelah langsung menghajar wajah musuh di sebelah kirinya. Pegangan pada kaki sudah terlepas lalu beralih ke kaki kanan dan tangannya yang satuan.


Ryan kembali menghajar semua musuhnya kemudian mengambil kembali tongkat pemukul tersebut. Kakak beradik itu masih melanjutkan aksinya,kalian penasaran kan sama kelanjutannya? Besok lagi ya guys.


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>

__ADS_1


__ADS_2