Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 7: Rencana dimulai


__ADS_3

Di pagi yang sangat indah hari ini Karina dan Bimo sedang menyapu halaman cafe kemudian Bimo melihat Ryan baru sampai dengan sebuket binga mawar.


"Paman Ryan!"


"Pagi Bimo!" Ryan turun dari motornya dan membawa sebuket bunga mawar merah.


Ryan menggandeng tangan Bimo lalu menghampiri Karina.


"Selamat pagi Karina" ucap Ryan yang langsung memberikan buket bungan itu.


"Pagi Ryan"


"Wow..."


"Terima kasih banyak atas bunganya,tapi..." jawab Karina yang sedikit ragu mau menerima bunga itu.


"Tapi kenapa?"


"Saya tidak terlalu suka bunga mawar dan saya sedikit alergi terhadap bunga" jawab Karina yang memegang gagang sapu dengan melebarkan senyumnya.


Rencana pertama dinyatakan gagal!


Ryan menjatuhkan bunga yang ada di genggamannya.Dirinya membeku dan tidak menyangka kalau rencana pertamanya gagal total.


Bimo mengambil buket bunga itu kemudian membuangnya ke tempat sampah karena tahu ibunya alergi terhadap bunga.Dada Ryan seperti tertusuk pedang dua kali karena serangan ibu dan anak.


"Oh iya Ryan!"


"Ini bayar susu kemarin"


"Ambil saja kembaliannya" ucap Karina mengambil tangan Ryan kemudian memberikannya uang sebesar lima puluh ribu.


Ryan masih tidak menyangka kalau pujaan hatinya memberikan sebesar lima puluh ribu padahal niat Ryan selain memberikan bunga juga ingin mengatakan tidak usah bayar segelas susu kemarin.Tapi apa daya Ryan yang terdahului.


"Ayo paman!"


"Biar Bimo yang antar Paman Ryan sampai ke restoran" Bimo menarik tangan Ryan menuju restorannya.


Karina hanya bisa tertawa kecil kalau pria yang suka pada dirinya aku bertindak secepat ini.Namun,Karina tidak sebodoh itu untuk langsung menerimanya.


Di restoran,Bimo mendudukan Ryan yang masih terdiam membeku.Bimo bertemu Tio dan mengatakan,


"Paman Tio"


"Bimo pamit dulu"


"Kasihan ibu di rumah" bocah kecil itu langsung berlari keluar restoran dan kembali ke cafe.


Tio yang melihat temannya itu yang membeku sontak tertawa keras.Dia tidak menyangka kalau Ryan yang baru saja memulai rencananya itu sudah gagal duluan.


"Ryan!"


"Ahahaha..."


"Baru hari pertama sudah ditolak?" tanya Tio yang masih tertawa puas.


"Diam!" Ryan akhirnya mencair dari dirinya yang membeku.


Ryan terduduk diam mempikirkan rencana baru untuk mendapatkan pujaan hatinya.Ryan mulai sekarang harus menghindari yang namanya "bunga".

__ADS_1


Catatan penting:Karina ini memang alergi sama bunga tapi tergantung ukuran,kalau bunganya kecil sedikit kemungkinan alerginya akan muncul sedangkan kalau bunganya besar dan aromanya menyengat alerginya akan muncul.


Kalau bunganya sudah gugur seperti di chapter berziarah sebelumnya maka tidak akan memunculkan alergi.


Karina tiba-tiba kepikiran sama kedua adiknya.Seingat dia adik-adiknya berada di bar malam tadi.Untuk menghilangkan kekhawatirannya Karina menelpon salah satu adiknya dan yanh pertama dihubungi adalah Andi.


Tut...tut...tut...


"Ayo Andi! Angkat telponmu" batin Karina yang mulai makin khawatir.


Tut...tut...tut...


"Clek! Halo? Ini siapa,ya?" suara pria lain yang mengangkat handphone adiknya.


"Tunggu!"


"Kamu siapa?! Kenapa kamu yang menjawab?!"


"Dimana adik saya?!" tanya Karina yang mulai kesal.


Tut..... Suara panggilan suara telah diputus.


Perasaan khawatir makib bertambah.Ia kebingungan,dia panik dan perasaan campur aduk di dadanya dimana ia masih bertanya-tanya tentang kondisi Andi.


Di kamar hotel bernomor 265 ada dua pria yang mengisi kamar itu.Satu pria berbadan kekar,tinggi,dan berwajah tampan sambil menggenggam handphone dengan menggunakan celana kolor saja,sedangkan yang satunya masih tertidur pulas di atas ranjang yang dirinya tanpa berbusana tapi ditutupi oleh selimut.


Pria berbadan kekar itu duduk di pinggir ranjang menatap pria yang masib tertidur pulas itu.


"Ternyata adiknya Karina ya..."


"Tidak menyangka kalau Karina punya adik semanis ini lebih baik aku gunakan waktu ini sebaik mungkin" ucap pria itu sambil mengelus surai si manis dibicarakan.


"Paman Tio!" panggil Bimo yang langsung memeluk kaki Tio.


"Eh! Ada Bimo"


"Kamu ada apa kesini?" tanya Tio yang berjongkok dihadapan bocah kecil itu.


"Ibu minta gula"


"Ini wadahnya"Bimo menyerahkan toples kecil untuk tempat gula.


Tio yang mengambil toples itu tapi di dahului oleh Ryan.Teman dari Ryan ini bingung kenapa dia buru-buru sekali.


"Ini Bimo" Ryan memberika toples sedang dan kecil berisi gula.


"Paman Ryan aku ambil yang kecil aja soalnya ini ibu punya" Bimo mengambil toples kecil gula itu.


Ryan tetap memberikan toples berukuran sedang itu juga membungkuskan makanan yang ia masak tadi.


"Terima kasih paman" Bimo langsung lari dari sana dan kembali ke tempat semula.


"Hei! Apa yang kau lakukan?" tanya Tio yang merasa tidak terima.


"Aku menjalankan rencanaku saja" jawab Ryan dengan bangganya.


"Tapi tidak seperti itu juga!"


"Terus apa kita pakek gula nanti?!"

__ADS_1


"Itu mah gampang Tio"


"Itu masih sisa lagi setoples".


Tio pasrah saja dengan tingkah temannya ini yang masih di mabuk cinta.


Di cafe Karina terkejut melihat anaknya membawa banyak barang.


"Sayang"


"Ibu hanya minta gula toples kecil bukan ukuran sedang "


"Juga ini apa ? Dibungkus segala" tanya Karina yang marah-marah.


"Bimo tidak tahu!"


"Semua ini diberikan oleh paman Ryan" jawab Bimo yang meletakkan semua barang di atas meja.


Karina mengambil toples kecil yang ia punya.Dirinya terkejut ternyata yang diberikan oleh Ryan adalah garam dan bukan gula.


"Kembalikan toples sedang ini dan bawa toples kecil ini bilang sama paman Ryan ini salah isi" ucap Karina yang memberikan kembali dua toples itu.


Bimo kembali membawa dua toples itu dan kembali lagi ke restoran Ryan.Karina menggelengkan kepalanya merasa heran terhadap tingkah Ryan.


Di restoran Ryan dan Tio duduk menanti pelanggan yang datang.Tiba-tiba Bimo kembali membawa toples yang tadi diberikan.Bimo menghampiri dua pria itu.


"Paman Ryan"


"Ini Bimo balikin lagi"


"Ibu bilang isi yang toples kecil ini salah" ucap Bimo yanh meletakkan dua toples di atas meja.


Ryan terkejut mendengar ucapan bocah kecil.Untuk memastikan Ryan mengecek isi toples itu dan benar saja isinya salah,yang seharusnya gula malah garam yang diisi.Rencana kali ini yang ia rasakan adalah rasa malu.


Rencana pertama gagal dan menjadi membeku


Rencana kedua gagal dan yang dirasakan adalah rasa malu.


Sontak Tio tertawa terbahak-bahak melihat kesalahan kedua yang dilakukan temannya.Ryan tertunduk malu akibat kesalahannya.


"Paman Ryan ini bagaimana sih?!"


"Ibu mintanya garam malah yang diisi adalah garam"


"Paman kan punya restoran seharusnya pinter masak dan kalau pinter masak biasanya bisa bedain mana gula mana garam"


"Ini kayaknya paman Ryan tidak pintar masak deh!"


"Garam sama gula saja tidak bisa dibedain" ucap Bimo yang memarahi Ryan dan meng-savagenya.


Tio yang mendengar ucapan Bimo makin terbahak-bahak sambil menepuk meja berkali-kali.Ryan yang merasa dirinya sudah kalah oleh bocah hanya tertunduk malu.


Ryan pergi ke dapur untuk mengganti isi toples yang dibawa oleh Bimo,ia masih membayangkan kesalahan yang ia lakukan hari ini.Sedangkan temannya tidak henti-hentinya tertawa sampai perutnya sakit.


Di kamar hotel nomor 256,Andi terbangun dari tidurnya saat ia ingin menggerakkan badan ia merasakan sakit yang luar biasa dan ia melihat ada pria lain disebelah yang hanya mengenakan celana kolor sedangkan dirinya tanpa busana.


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>


(Jangan lupa beri dukungan dan rekomendasikan ke teman teman kalian)

__ADS_1


__ADS_2