Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 43: Tingkah Kakek Dito


__ADS_3

Andi merasa jijik mendengar ucapan kakeknya tadi. Hans hanya tertawa kecil melihat tingkah kakek dan cucunya.


"Oh iya Hans! Kenapa kau bisa mengenal kakekku? " tanya Andi kepada Hans.


"Saat itu aku sedang di bar lalu aku bertemu kakekmu yang sedang jadi DJ dan lagu yang diputar bagus semua" jawab Hans yang menjelaskan kronologi dia bertemu kakek Dito.


"Untuk apa kau bar? Main sama cewek lain? Mentang - mentang aku tidurnya lama kau bermain api di belakangku" ujar Andi yang merasa kesal dengan cerita Hans yang pergi ke bar.


"Kamunya tidur kelamaan! Makanya nak Hans cari pengganti lain untuk penghangat ranjangnya" saut kakek Dito yang mulai memanaskan suasana.


"Gitu kamu ternyata ya Hans..." Andi mulai curiga setelah mendengar ucapan kakek Dito.


"Bukan begitu Andi sayang aku hanya melakukan transaksi data saja kepada seseorang dan seseorang itu adalah seorang polisi terkenal di sekitaran kota kemarin aku kunjungi kemarin" Hans menjelaskan tentang dirinya pergi ke bar.


"Oh gitu! Ya sudah terserah kamu saja" Andi memutar bola matanya setelah mendengar penjelasan Hans.


Kakek Dito merasa jijik melihat tingkah cucunya. Tiba - tiba muncul sebuah ide jahil di otak kakek Dito.


"Andi! apakah kamu tahu?".


"Tidak tahu!".


"Cucu kurang ajar!".


"Kakek sendiri bilang "Andi! Apakah kamu tahu?" tentu saja aku jawab tidak tahu".


"Dengar dulu makanya!".


"Iya! Iya!".


"Kakek pernah dengar dari beberapa anak buah kakek kalau kamu punya sembilan mantan dan semua mantanmu itu badannya besar - besar".


"Iya itu benar,kenapa?".


"Yang kakek dengar kamu pernah mengajak dua mantanmu untuk main bertiga,apakah itu benar? Dan yang kakek dengar ada satu mantan yang paling sering ajak kamu main saat kamu h word".

__ADS_1


Andi langsung terkejut mendengar pertanyaan kakek Dito. Hans sedikit penasaran dengan mantan - mantan Andi. Tapi yang aneh menurut Andi adalah kakeknya mengatakan dirinya pernah main bertiga.


"Aku tidak pernah main bertiga selalu berdua saja tidak pernah ajak yang lain".


"Bohong! Ini kakek ada buktinya" kakek Dito langsung menyodorkan ponselnya yang berisi foto bug il Andi.


Dengan cepat Andi langsung merampas ponsel kakek Dito. Hans semakin penasaran setelah kakek Dito menunjukkan foto tersebut.


"Apa itu?!" tanya Hans yang menegaskan nada bicaranya.


"Bukan apa - apa hehehe" jawab Andi dengan rasa paniknya.


"Andi! Tunjukkan padaku! Jika benar kau tidak pernah main bertiga lalu kenapa kau tidak membiarkan aku melihatnya?!" Hans menuntut untuk melihat foto tersebut.


"Ini bukan apa - apa Hans hanya foto biasa saja" Andi semakin ketakutan saat Hans menuntutnya.


Hans mengambil ponsel kakek Dito secara paksa dari tangan Andi. Dia pun melihat foto tersebut yang masih tertera di layar. Hans terkejut bukan main saat melihat foto yang merupakan foto Andi bermain dengan mantannya.


"Apa kau baik - baik saja,Hans?" tanya Andi yang melihat reaksi Hans yang terkejut kemudian mengerutkan alisnya.


Hans langsung memberikan ponsel tersebut kepada kakek Dito kemudian keluar dari ruangan tersebut. Andi sudah mengetahui kalau Hans akan marah setelah melihat foto tersebut. Kakek Dito memang sengaja ingin menguji keyakinan hubungan Hans dan Andi sekarang sudah jelas seperti apa kuatnya keyakinan mereka.


Di sisi lain Ryan sedang duduk berdua bersama Karina di restorannya sambil menikmati makan siang bersama. Ryan merasa senang bisa makan bersama Karina setelah dua bulan penyelidikan. Karina bisa merasakan kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ryan.


"Emh! Enak sekali masakanmu! Aku tidak menyangka kau bisa memasak seenak ini" puji Karina terhadap makanan buatan Ryan.


"Hehehe... Terima kasih Karina itu semua butuh usaha untuk memasak makanan yang penuh cinta" Ryan merasa malu - malu saat dipuji oleh sang pujaan hati.


"Oh ya Ryan! Kemana kau selama ini ? Jarang sekali aku melihatmu" tanya Karina mengenai keberadaan Ryan yang jarang dia lihat.


"Ohh... Soal itu aku sedang mencoba beberapa makanan baru lumayan menambah menu di restoran ini" Ryan harus terpaksa menjawab pertanyaan Karina dengan kebohongan karena selama ini Ryan sedang melakukan penyelidikan.


Karina mengangguk paham menerima jawaban Ryan. Mereka berdua kembali melanjutkan makan siang bersama hingga sampai ada satu insiden dimana si putra kesayangan Karina berteriak memanggil ibunya.


"IBU!!!".

__ADS_1


Satu restoran itu bisa mendengar teriakan Bimo yang menggelegar. Karina mengisyaratkan Bimo untuk mendekati meja tempat Karina makan. Bimo berlari menuju meja tersebut.


"Ibu! Minta uang!" Bimo langsung menumpukkan kedua telapak tangannya dihadapan Karina.


"Tadi kan sudah anakku sayang, kenapa kau minta lagi?" tanya Karina yang mengeluarkan dompetnya.


"Pakai beli jajan sama beli minuman" jawab Bimo dengan mengeluarkan jurus wajah imutnya.


"Jajan apa mau dibeli? Jangan jajan terus" Karina hanya mengeluarkan satu lembar uang dengan nominal yang paling kecil.


"Kok cuman segini bu? Mau lagi!" Bimo tidak menerima dirinya diberikan uang dengan nominal yang kecil.


"Segitu saja! Dari pada belanja jajan yang tidak sehat lebih baik makan bersama ibu dan paman Ryan juga tabung uang itu" Karina mengajak Bimo untuk makan bersama.


Dengan senang hati Bimo langsung bergabung dengan Karina dan Ryan. Karina menyuapi Bimo makanan yang dia makan. Bimo menikmati makanan yang masuk ke mulutnya tersebut. Ryan memiliki ide jahil untuk mengerjai Bimo.


"Bimo! Biar paman suapi kamu juga ya?".


"Tidak mau! Maunya sama ibu saja!".


"Ayolah! Ini juga enak tahu".


"Benarkah? Bimo juga mau".


Ryan menyuapi Bimo dengan makanan yang pedas. Setelah memakannya Bimo langsung kepedasan dan mencari air disekitarannya. Karina langsung memberikan jus jeruk kepada Bimo.


"Paman Ryan jahat! Kenapa Bimo dikasi makanan pedas?!" tanya Bimo yang baru selesai meminum jus jeruk ibunya.


"Hahahaha... Paman hanya bercanda saja jangan terlalu serius" Ryan tertawa melihat Bimo yang kelihatan gemas saat marah.


"Bimo akan memaafkan paman asalkan paman membelikan Bimo ice cream" Bimo langsung menyebutkan syarat minta maafnya.


"Haha... Iya nanti paman belikan" Ryan langsung menyetujui syarat tersebut.


Mereka bertiga kembali melanjutkan makan bersama layaknya keluarga. Ryan masih saja iseng menjahili Bimo walaupun berapa kali sudah dibentak oleh Bimo.

__ADS_1


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>


__ADS_2