Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 73: Kemunculan adik Ryan


__ADS_3

Ryan mengelus rambut Karina untuk menenangkan emosi sang kekasih. Karina sangat senang bisa mendapatkan kembali rasa kasih sayang seorang kekasih setelah dua tahun lebih.


"Oh ya Ryan! Boleh aku minta rekomendasimu?" Karina kembali menyedot minumannya.


"Boleh! Rekomendasi apa?" Ryan mengambil sedikit makanan yang dipesan Karina.


"Kan Bimo sebentar lagi masuk TK tapi masalahnya aku belum menemukan TK yang bagus, apa kau punya rekomendasi?".


"Punya! Kebetulan aku punya teman yang mengajar di TK tersebut dan TKnya lumayan bagus kok,cocok sekali untuk Bimo".


"Teman? Perempuan atau laki - laki?!".


"Haha... Janga curiga begitu honey! Semua temanku kebanyakan laki - laki jadi tidak perlu curiga. Temanku yang mengajar disana dan dia adalah laki - laki".


"Memangnya untuk apa kau kesana? Apa kau pernah berkunjung?".


"Pernah! Aku kesana untuk menagih hutang kepada temanku".


"Oke! Kembali ke topik! Bagaimana kritea TK itu? Contohnya bagaimana cara guru - guru disana mengajar? Kondisi bangunannya dan lain - lain".


"Kalau cara gurunya mengajar bisa terbilang sangat bagus dan mudah dipahami oleh anak - anak seusia Bimo. Sistem guru mengajar disana menggunakan sistem belajar sambil bermain jadi anak - anak tidak akan jenuh selama di ruangan kelas. Aku pernah masuk sekali ke bangunan TK tersebut dan menurutku bangunannya kokoh, untuk cat temboknya bisa dibilang colorful untuk anak. Juga banyak wahana permainan di TK tersebut dan yang paling penting disana adalah anak harus membawa bekal dari rumah".


"Lumayan bagus ternyata, kapan - kapan kita berkunjung kesana yuk!".


"Kalau aku hayuk saja untuk my honey".


"Mulai deh".


"Salah memangnya aku menggoda pacarku sendiri?".


"Ya... Tidak sih".


"Tuh tahu".


"Iyain aja dah".


"Hehehe...".


Dari sisi lain restoran ada dua bocah sedang memperhatikan Ryan dan Karina sedang berpacaran. Bimo senyum - senyum sendiri melihat kedekatan ibunya dengan Ryan dan Vivi kebingungan melihat ekspresi Bimo seperti orang gila.


"Bibi Karina dan om Ryan memangnya sudah menikah?" tanya Vivi kepada Bimo.


"Belum! Mereka baru pacaran" jawab Bimo yang terus memperhatikan ibunya.


"Ohhh... Bimo! Bimo!" Vivi menepuk - nepuk bahu Bimo.


"Kenapa sih?! Ganggu saja tahu!" Bimo menyingkirkan tangan Vivi dari bahunya.


"Dia siapa Bimo? Kenapa tampan sekali? Apa dia ayah Vivi?" bocah perempuan tersebut menunjuk ke arah seorang pria tinggi dan tampan.


"Aku tidak tahu! Tapi dari wajahnya dia kelihatan seperti paman Ryan" Bimo juga terpukau melihat pria tersebut.


Pria tersebut berjalan ke arah meja yang ditempati Karina dan Ryan. Kemudian secara tiba - tiba pria tersebut langsung duduk di sebelah Karina dan merangkulnya. Ryan yang melihat hal itu langsung memukul lengan pria tersebut dengan nampan yang dia bawa.


"PANK!" suara nampan Ryan.

__ADS_1


"Aduhhh... Sakit tahu kak! Kenapa adiknya sendiri dipukul?!" tanya pria tersebut yang menyebut dirinya sebagai adik dihadapan Ryan.


"Salah sendirilah! Pacar kakaknya sendiri dirangkul jadi wajar saja aku memukulmu" jawab Ryan dengan judesnya.


"Tunggu dulu! Kalian bersaudara?!" Karina langsung menghentikan pembicaraan dua pria tersebut.


"Iya! Dia adikku namanya Ryaiden, aku dan adikku cuman beda setahun dan dia juga lari dari rumah" Ryan memperkenalkan adiknya kepada Karina.


"Ohhh... Hai! Saya Karina" setelah mendengar perkenalan tersebut Karina juga memperkenalkan dirinya kepada Ryaiden.


"Aduhhh... Cantik sekali pacar kakakku! Pengen rebut deh" Ryaiden merasa gemas melihat wajah Karina.


"Heh! Bukan nampan lagi aku pakai mukul wajahmu nanti meja ini yang melayang di wajahmu" Ryan berpura - pura mengambil posisi untuk mengangkat meja itu.


"Hehehe.... Bercanda aja kok" Ryaiden tertawa kecil mendengar kakaknya.


"Jadi... Apa tujuanmu datang kemari? Terus darimana kau tahu lokasi restoranku?" Ryan langsung menanyakan poin utama kedatangan Ryaiden.


"Ayah sakit dan dia tidak dipenjara sama sekali atas kasus pelecehannya itu. Hadeuuhhh... Aku berharapnya dia masuk penjara" Ryaiden menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Kenapa dia tidak masuk penjara? Aku kira itu kasus cukup serius sampai menghamili anak orang".


"Yang aku dengar ayah menyogok beberapa pihak kejaksaan dengan sejumlah uang yang terbilang sangat besar".


"Lalu kenapa kau tidak melaporkan saja tindakan ayah yang menyuap pihak jaksa?".


"Aku tidak punya bukti, jika aku melaporkan kasus ini tanpa bukti itu sama saja dengan pergi berperang tanpa persiapan apapun".


"Kau ada benarnya! Kau tidak ada niat melaporkannya?".


"Hehe... Benar sekali! Bagaimana kondisi ibu?".


"Dia jadi sugar mommy".


"Pria mana yang rela jadi sugar baby ibu - ibu tua itu".


"Entahlah! Ibu pernah pergi ke hotel bersama pria itu tapi setiap ibu pergi ke hotel pasti gonta ganti yang diajak".


"Dia menyewanya di tempatmu?".


"Yap! Selalu datang setiap hari jumat dan sabtu".


Ryan hanya geleng - geleng kepala mendengar kisah orang tua dia sekarang. Karina merasa kasihan dengan Ryan dan Ryaiden dengan kondisi orang tua mereka sekarang. Ryaiden mengambil batang niko tin dari saku celananya tapi saat hendak menyalakannya langsung ditahan oleh Ryan.


"Jangan disini! Ada anak - anak disini dan akan mengganggu pelanggan yang datang".


Ryaiden memasukkan kembali batang tersebut ke saku celananya. Karina bisa melihat jelas kalau adiknya Ryan adalah anak nakal namun masih memiliki sikap baik.


"Oh iya Ryaiden! Kau punya usaha apa? Katanya kau juga lari dari rumah" tanya Karina yang mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku punya hotel di beberapa tempat di kota ini dan negara A" jawab Ryaiden dengan sombongnya.


"Hmmm... Berarti ibu kalian sering menginap di hotelnya Ryaiden dong? Seperti yang Ryaiden bilang tadi".


"Itu benar sekali kak Karina!".

__ADS_1


Ryan merasa sedikit cemburu melihat perbincangan Karina dengan adiknya. Tapi dia harus tahan jika tidak Karina tidak akan menyukainya.


"Oh ya kak! Nih! Dari ayah " Ryaiden memberikan sepucuk surat undangan pernikahan.


"Nikah? Sama ibu saja belum cerai bagaimana dia mau menikah lagi?" Ryan terkejut melihat isi surat tersebut.


"Ayah nikah sama simpenannya dan dia hanya mengundang kita berdua saja juga ayah mengatakan untuk tidak memberitahu ibu tentang hal ini" Ryaiden merasa kecewa melihat ayahnya.


"Aku tidak akan datang! Kau saja" Ryan melempar surat tersebut ke hadapan Ryaiden.


"Aku saja tidak mau datang! Terus siapa dong yang mau jadi saksi pernikahannya ayah".


"Lebih baik tidak usah datang! Biarkan saja! Aku lelah menghadapi tua bangka itu".


"Kau benar juga! Eh kak! Jus jeruk satu dong".


Ryan beranjak dari sana menuju dapur untuk menyiapkan pesanan adiknya. Bimo dan Vivi yang dari tadi melihat dari jauh akhirnya memutuskan mendekat dan bertanya kepada Karina.


Bimo kelihatan gugup saat mendekat tapi langsung di dorong begitu saja oleh Vivi. Dengan penuh keberanian Bimo menghampiri Karina dan menanyakan siapa pria di sebelah ibunya.


"Ibu....".


"Kenapa nak?".


"Siapa pria yang sebelah ibu?".


"Oh dia?".


"Iya bu!".


"Dia adalah adiknya paman Ryan, namanya paman Ryaiden".


Bimo membuat mulutnya berbentuk o setelah mendengar jawaban ibunya. Bocah manis itu melambaikan tangannya kepada Ryaiden.


Di saat yang bersamaan pula Andi datang dengan terburu - buru. Vivi yang melihat kedatangan papinya langsung loncat - loncat kesenangan.


"Papi!" panggil Vivi.


"Ayo kita pulang nak!" Andi langsung menarik tangan Vivi.


"Nanti dulu papi! Vivi masih mau main sama Bimo" Vivi menahan papinya untuk tidak pergi.


"Andi? Kau Andi bukan?" tanya Ryaiden kepada Andi.


"Iya! Kenapa?!" jawab Andi dengan judesnya.


"Kalian saling kenal?" Karina sedikit kebingungan melihat pembicaraan itu.


"Kenal sekali kak! Dia itu dulu mantan f w b ku".


AUTHOR MINTA MAAF KARENA TIDAK UPDATE KEMAREN BESOK AUTHOR KASI DOUBLE UPDATE KALAU SEKARANG NDK BISA SEKALI LAGI AUTHOR MINTA MAAF


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2