Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 95: Ryan terbakar api cemburu


__ADS_3

Perhatian! Untuk para pembaca untuk tidak melewatkan bagian paling bawah sebab ada pengumuman author taruh disana. Makasi


Ryan yang sudah selesai menyiapkan cemilan manis untuk sang kekasih. Cemilan tersebut sudah dibungkus dengan rapi. Tangan kiri Ryan membawa bungkus cemilan dan tangan kiri Ryan memegang kunci mobil. Penampilan pakaian sudah rapi sekarang tinggal berangkat saja. Sekarang saatnya berangkat ke rumah sakit Cemara.


Di perjalanan, Edward terlihat tidak sabar bertemu sang kekasih. Dia memutuskan untuk mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena demi keselamatan.


Lima belas menit perjalanan akhirnya Ryan sampai di rumah sakit Cemara. Ryan segera masuk ke ruangan Karina. Sebelum masuk ingat ketuk pintu dulu.


"Masuk!" ini suara Karina ya guys.


Ryan membuka pintu dan matanya melihat Karina sedang bersama pria lain. Langkah kaki Ryan terasa kaku saat masuk ke ruangan tersebut. Karina tampak bahagia sekali saat di dekat pria tersebut.


"Oh! Halo honey! Apa kau ingat membawa cemilanku?" tanya Karina yang langsung menghampiri Ryan.


"Halo sweetie! Aku ingat kok untuk membawa cemilanmu, ini dia!" jawab Ryan dengan sedikit linglung.


Karina meminta Ryan untuk duduk di sofa dan bersebelahan dengannya. Tidak hanya meminta kepada Ryan, Karina juga meminta pria tersebut duduk di sofa. Ketiga orang tersebut duduk di suatu ruangan yang sama tapi di posisi sofa yang berbeda. Ryan dan Karina duduk di sofa yang panjang sedangkan pria tersebut di sofa khusus untuk satu orang.


Karina membuka bungkus cemilan tersebut dan langsung merasa bahagia melihat isinya. Di dalam bungkus tersebut terdapat berbagai macam cemilan manis ditambah ada minumannya juga. Cemilan favorit Karina adalah brownies coklat buatan Ryan. Bagi Karina brownies buatan Ryan adalah brownies paling enak yang pernah dia makan.


"Makasi honey sudah buatin brownies untukku" ucap Karina yang memegang kedua tangan Ryan.


"Sama - sama sweetie! Ayo makanlah" jawab Ryan yang memberikan elusan pelan di pucuk kepala Karina.


"Oke! Ayo makan Ben! Ini enaklah" Karina menawarkan cemilan yang ia makan kepada pria yang bernama Ben.


"Iya! Lanjut saja bu Karina" Ben mengangguk sebagai jawaban.


Ryan menatap tajam pria bernama Ben tersebut. Dari tadi sebenarnya Ryan sudah terbakar api cemburu dan itu semuanya bersumber dari Ben.


"Oh ya honey! Kenalin dia Ben, dokter baru disini sebenarnya dia SMAnya Dhika sih tapi karena Dhika merekomendasikan rumah sakit ini untuk tempat bekerja dia setelah sekian lama dia pergi studi di negara H. Ben dia adalah pacarku namanya Ryan" ujar Karina yang memperkenalkan Ben ke Ryan begitu juga sebaliknya.


Keduanya saling mengangguk sebagai salam pembuka. Ryan merasa risih dengan kehadiran pria bernama Ben tersebut. Masalahnya Ben terus memperhatikan Karina yang sibuk makan cemilannya. Untuk mengalihkan perhatian Ryan mengajak bicara Ben.

__ADS_1


"Kamu dokter bagian apa?" tanya Ryan dengan ketusnya.


"Aku dokter bedah" jawab Ben dengan singkat.


"Ohhh... Kenapa tidak melamar pekerjaan di rumah sakit yang ada di negara H?" Ryan masih belum puas dengan jawaban tadi.


"Aku sudah melamarnya kesana kemari tapi belum dapat panggilan jadi sebagai gantinya aku kembali ke kampung halamanku lalu mendapatkan kesempatan bekerja di rumah sakit ini" Ben menjelaskan sedikit alasan dia bekerja di rumah sakit Cemara.


Ryan bi like:" orang ini pasti to l ol makanya tidak terima di rumah sakit manapun yang ada di negara H,heh! Tidak pantas untuk Karina!".


"Ohhh... Pernah dekat sama cewek?" ini Ryan yang bertanya kembali.


"Pernah sih seingatku saat aku masih kuliah s - dua".


"Ohh.... Uhuk! Kamu suka sama Karina,ya?".


Pertanyaan yang dilontarkan Ryan langsung mendapatkan jawaban pukulan keras dari Karina. Ben sedikit bingung dengan maksud ucapan Ryan tapi saat dia melihat raut wajah Ryan baru dia paham kalau pria tersebut sedang cemburu.


"Oh! Maaf,ya ? Aku tiba - tiba menanyakan hal seperti tadi aku hanya takut saja kau mengambil Karina" Ryan berusaha menutupi rasa malunya dengan raut wajah sombong.


"Hahaha... Tidak apa - apa pak Ryan! Tapi menurut saya, pak Ryan itu sangat hebat loh" Ben tidak mempermasalahkan pertanyaan Ryan tadi karena baginya itu merupakan hal yang wajar selama pacaran.


"Kenapa saya dibilang hebat?".


"Karena saya dengar - dengar dari Dhika kalau bu Karina sangat susah didekati dan sangat susah ditaklukan sedangkan pak Ryan bisa menaklukan bu Karina dengan begitu mudahnya,wah.... Hebat sekali".


Ryan terdiam mendengar ucapan Ben. Orang yang dia curigai dari tadi tidak menyangka akan memuji dirinya. Ryan baru merasa malu setelah Bem mengatakan kalimat barusan. Karina hanya tersenyum tipis melihat Ryan terdiam.


"Ayo Ben! Cobain brownies buatan Ryan" Karina memberikan satu potong brownies.


"Terima kasih bu" Ben menerima potongan brownies lalu memakannya.


Ben mengacungkam jempol kepada Ryan yang merupakan sebuah pujian. Ryan hanya tersenyum saja sambil menundukkan kepalanya. Karina meminum minumannya lalu menanyakan sesuatu kepada Ben.

__ADS_1


"Ben!".


"Kenapa bu?".


"Bagaimana kabar kakakmu?".


"Baik! Ada apa,ya bu? Eh tunggu! Dari mana bu Karina tahu kalau saya punya kakak?".


"Aku melihat informasimu dari kakakmu dan kebetulan juga kakakmu adalah teman satu kelasku saat masih kuliah".


"Ohh... Yang saya dengar dari kakak saya kalau kakak saya pernah suka sama teman satu kelasnya saat kuliah,apakah itu ibu?".


"Aku tidak tahu! Dia itu pendiam dan jarang terbuka kepada siapapun, menurutku dia paling dekat sama aku saja atau tidak ada sama teman kelas sebelahnya".


"Hmmmm....".


Ben mengangguk paham dan kembali lanjut memakan brownies. Tanpa disadari kalau Ryan mendengar semua pembicaraan Karina dengan Ben. Sebenarnya Ben sudah mengetahui kalau Ryan sedang terbakar api cemburu dari awal pembahasan tadi sebab itulah dia memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan. Api cemburu pertama sudah padam sekarang ada api cemburu kedua dan semua itu bersumber dari api cemburu pertama.


"Hmmm... Bu Karina saya pulang dulu,ya? Saya mau istirahat. Permisi" Ben segera kabur dari sana agar memberikan ruang kepada sepasang kekasih tersebut.


Karina menoleh sedikit ke arah Ryan yang menunduk dan terdiam. Sebenarnya Karina tahu kalau Ryan itu terbakar api cemburu tapi ya sudahlah...


BESOK SAJA KITA DENGAR PEMBICARAANNYA YA GUYSSS.


AUTHOR INGIN MENYAMPAIKAN PENGUMUMAN AUTHOR INGIN MEMBERIKAN NAMA FANS KEPADA SEMUA PEMBACA AUTHOR YANG TERCINTA


AUTHOR KEPIKIRAN NAMA anything dari kemarin ,bagaimana guys? Mau tidak?.


Kalau mau silakan like chapter ini oke guys terima kasih.


Makasi yang sudah mampir dan baca


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2