
Ryan itu begitu saja walaupun papan penandanya masih tutup. Dua pria di dalam sekaligus pemilik Cafe terkejut melihat pelanggan termasuk padahal belum jadwal buka.
"Maaf tuan! Kafe kami belum buka,Apakah Tuhan bisa menunggu sebentar?" ucap pria pertama yang menyambut Ryan.
"Aku hanya sebentar di sini jadi tidak perlu khawatir. Oh iya expresso dua Shot satu" jawab Ryan yang duduk di salah kursi.
Pria tersebut langsung menyiapkan pesanan Ryan. Kemudian pria yang satuan menghampiri dan duduk di sebelah Ryan. Tujuan dia duduk di sebelah Ryan hanya sekedar mengajak berbincang - bincang.
"Halo tuan! Bolehkah saya mengajak anda berbincang - bincang?" tanya pria kedua dengan sopannya.
"Tentu saja! Panggil saja saya Ryan" jawab Ryan dengan senang hati.
"Apakah kau penduduk asli kota ini?".
"Bukan! Saya memang lahir di negara C tapi bukan di kota ini".
"Hmmm.... Kalau saya seorang perantau yang kebetulan orang tua saya punya usaha kafe di kota ini dan saya meneruskan usahanya".
"Ternyata kau adalah anak yang berbhakti".
"Tidak begitu kok Ryan! Saya hanya ingin mengembangkan usaha ini saja. Hmm... Maaf kalau aku menanyakan hal ini, apakah pekerjaan orang tuamu?".
"Tidak apa - apa! Santai saja! Kalau ayahku seorang pengusaha tambang dan dulu ibu saya adalah pengusaha butik tapi sekarang sudah diambil alih".
"Apakah kau tidak punya keinginan untuk meneruskan usaha tambang ayahmu? Lumayan loh".
"Tidak ada! Bisnis ilegal seperti itu aku mau teruskan?! Gila! Dan terlalu beresiko".
"Ohhh.... Apakah kau punya kakak atau adik?".
"Punya! Aku punya adik laki - laki".
"Apakah dia sama sepertimu?".
"Hampir".
"Hee.... Apakah kau sudah punya pasangan? Maaf aku menanyakan hal ini tapi aku tidak memiliki niat apapun melainkan menurutmu kau adalah orang yang romantis dan peduli kepada pasanganmu".
"Aku punya dan dugaanmu benar".
"Hehehe....".
Orang tersebut hanya tersenyum miring setelah mendengar ucapan Ryan. Orang pertama atau adik dari orang kedua memberikan gelas yang merupakan pesanan Ryan yang sudah jadi. Yang memesan memberikan uang sebesar seratus ribu kepada orang pertama. Orang pertama sedikit kebingungan dengan jumlah uang yang diberikan oleh Ryan. Lalu si adik menatap sang kakak dan dia mendapatkan jawaban sebuah senyuman saja.
"Ambil saja kembaliannya,aku permisi" Ryan beranjak dari sana menuju rumah sakit Cemara.
__ADS_1
Ryan berjalan melewati orang - orang yang sibuk dengan kegiatan masing - masing. Sesekali Ryan minum kopinya dan menurut dia rasanya sangat sempurna. Langkah Ryan terus maju menuju rumah sakit Cemara.
♤♡◇♧♤♡◇♧♡♡◇♧
Sesampainya disana Ryan langsung nyelonong masuk karena hampir semua pegawai disana tahu Ryan. Sebab itulah Ryan bisa keluar masuk sesuka dia.
Saat ini Ryan sudah berada di depan ruangan Karina. Tangannya mengetuk pintu kemudian memegang kenop pintu lalu membuka pintu. Kakinya melangkah masuk ke ruangan tersebut.
Tampak Ryan sangat sibuk mengerjalan setumpuk kertas. Karina menoleh ke arah pintu dan dirinya terkejut melihat kehadiran sang kekasih.
"Honey! Kapan kau datang?" tanya Karina yang bangkit dari kursinya dan segera menghampiri Ryan.
Bukannya menjawab pertanyaan Karina, Ryan malahan men ci um bibir Karina. Tentu saja ibu satu anak itu sangat terkejut melihat tindakan yang dilakukan oleh Ryan.
"Aku mau bertanya sesuatu sweetie" Ryan melepas tautannya kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Bertanya tentang apa?" Karina menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya dan duduk di sebelah Ryan.
"Apakah selama ini aku sudah mengalami banyak perubahan? Katakan saja yang sebenarnya sweetie! Aku siap menerimanya".
Bagaikan badai di malam hari yang sangat gelap begitu pula perasaan Karina saat ini. Dia sangat bingung harus menjawab apa tapi yang jelas dia sangat terkejut.
"Kau tidak akan marah kan kalau aku mengatakan yang sebenarnya?" Karina agak sedikit ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Katakan saja".
"Sudah kuduga".
Ryan melempar tubuhnya ke belakang kemudian menepuk jidatnya. Karina merasa khawatir dengan apa yang terjadi selanjutnya.
"Kau tidak apa - apa honey? Kau tampak lelah" Karina meraih tangan Ryan kemudian mengusapnya.
"Hehehe.... Sekarang aku harus bagaimana sweetie?.... Aku bingung bagaimana cara mengembalikan diriku yang seperti dulu lagi....." Ryan menjawabnya sambil meneteskan air matanya.
"Honey lebih baik jamgan dipikirkan! Menurutku dirimu yang ini tidak terlalu buruk juga".
"Tadi kau mengatakan kau tidak menyukainya,bagaimana sih?".
"Iya memang aku tidak menyukainya tapi bukan dalam artian aku membencinya. Artian aku tidak menyukainya adalah lima puluh persen aku tidak suka dan setengah persennya lagi aku suka".
"Ohhhh..... Seperti itu. Tetapi aku ingin diriku yang dulu. Bagiku diriku yang ini sangat jahat dan sangat judes sekali".
"Nahhh.... Sifat judesmu itu yang merubah dirimu itu".
"Bagaimana cara menghilangkannya,ya?".
__ADS_1
Keduanya berpikir sejenak. Ryan tidak mampu memikirkan solusinya hingga Karina bersuara. Karina mendapatkan ide solusi yang sempurna untuk masalah ini.
"Aku tahu caranya!".
"Apa itu sweetie?".
"Ayo kita ke hotel! Dan saat kita disana baru aku beritahu caranya".
Ryan mematung setelah mendengar ucapan Karina. Pria tersebut tidak tahu sifat Karina yang ini. Karina melambaikan tangannya di depan Ryan karena dia kelihatan bengong.
"Plak! Hei! Jangan bengong! Ayo kita ke hotel!" Karina masih kekeh dengan idenya.
"Tunggu dulu Karina! Aku tahu kita sedang menjalin hubungan tapi tidak begini juga dong my sweetie" Ryan menolak ide gila Karina tersebut.
"Siapa bilang kita mau bikin baby?".
"Heh? Tunggu? Bukan itu?!".
"Jelas bukanlah! Aduhhhh!!!.... Kelamaan deh! Sini!".
Karina memegang tangan Ryan kemudian tangannya yang satuan mengambil tas. Wanita tersebut berjalan keluar ruangan sambil menarik Ryan. Entah alasan apa yang terbenam dipikiran Karina untuk melakukan hal ini.
Di parkiran, Karina merogoh saku celana Ryan kemudian menyalakan mobil Ryan. Kemudian dia mengemudikan mobil tersebut menuju hotel pilihan dia tapi yang masih bingung adalah Ryan. Apakah dirinya akan selamat jika ketahuan pergi ke hotel bersama Karina? Apakah Dhika dan Andi akan marah? Apakah aku akan kelepasan saat disana nanti? Kira - kira seperti itu pertanyaan yang muncul di kepala Ryan.
Beberapa perjalanan akhirnya mereka berdua telah sampai di hotel pilihan Karina. Ryan masih takut untuk melakukan ide yang disarankan Karina. Mereka berdua sudah memesan kamar hotel paling bagus dan perfect.
Di kamar hotel, Ryan duduk di pinggir ranjang dengan keringat yang bercucuran. Sebelumnya bercucuran air mata dan sekarang bercucuran keringat dingin. Karina membuka seluruh pakaiannya kecuali **********. Setelah melepas beberapa pakaian kemudian Karina duduk di paha Ryan.
"Sweetie jangan seperti ini! Yang ada besoknya nyawaku dijabut oleh Dhika dan Andi" Ryan menjauhkan wajahnya dari tubuh Karina.
"Untuk apa kau takut? Kalau kelepasan mainnya kan tinggal tanggung jawab, apa susahnya?" Karina mengalungkan kedua tangannya di leher Ryan.
"Untuk dirimu tidak susah karena kau sudah pernah menikah tapi bagiku yang susah! Karina aku minta kau sekarang lepaskan lingkaran tanganmu!" Ryan berusaha menahan nafsunya yang terus menjalar.
"Kita main yuk!".
"AAAKKKKKHHHHHHHHH!!!!!!!!!........ KUMOHON KARINA JANGAN LAKUKAN INI DI LUAR NIKAH! AKU TAHU AKU BERASAL DARI AYAH DAN IBU YANG BURUK TAPI AKU TIDAK INGIN MENJADI ANAK YANG BURUK! JADI TOLONG LEPASKAN LAH!".
"Aku tidak mau! Aku mau mainnya sampai pagi pokoknya sampai rahimku penuh".
"Jangan ya Karina? Masalahnya aku belum siap punya anak di luar nikah".
"Ya sudah tinggal nikahi saja aku kalau sudah tembakannya masuk".
Ryan mematung sejenak dan terdiam. Karina pikir dengan cara ini akan berhasil namun belum memberikan reaksi apapun. Setahu Karina kalau Ryan itu paling takut berhubungan ba da n di luar nikah. Jadi dengan ketakutan tersebut Karina menggunakannya untuk mengembalikan sifat Ryan yang sebelumnya.
__ADS_1
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA s
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>