
Ryan dan Ryaiden terus menyerang pasukan berjas hitam tersebut. Ryaiden terus melayangkan pukulan tongkat,tendangan,dan pukulan tangan juga. Ryan melihat salah satu musuh menggunakan senjata jarak jauh yaitu pis tol. Musuh tersebut menarik pelatuk kemudian Ryan mendorong adiknya sampai terjatuh.
Dengan segera para musuh langsung mengurumi Ryan dan Ryaiden yang terjatuh. Tapi tidak segampang itu karena Ryan langsung melayangkan tiga pukulan home run berturut - turut di orang yang berbeda. Ada satu musuh yang muncul di belakang Ryan yang ingin melukai kepala bagian belakangnya tapi Ryaiden langsung memukul kaki musuh tersebut dan musuh tersebut terjatuh. Terdengar sangat renyah suara tulang patah di bagian kaki musuh tersebut. Ryaiden segera bangkit dan melanjutkan menyerang.
Syukur tempat tersebut sepi dan tidak ada satu pun kendaraan yang berlalu lalang. Ryan menaiki mobil musuhnya kemudian menyerang dari atas. Ryaiden lebih fokus ke arah si pemimpin namun dia mengalami kesulitan saat mendekati di pemimpin. Satu musuh muncul di belakang Ryan lalu Ryan menoleh di saat yang bersamaan. Satu pukulan tepat mengenai bibirnya. Tanpa pikir panjang Ryan langsung membalas pukulan tersebut.
Sekarang ada beberapa musuh yang menggunakan senjata tajam. Dua musuh dengan senjata tajam berhadapan dengan Ryan dan sisanya berhadapan dengan Ryaiden. Ryan menyerang dua musuh tangan kosong dan salah satu musuh dengan senjata tajam langsung menancapkan senjatanya di punggung Ryan.
"Akh! Ekhh!... Kurang ajar!" rintih Ryan yang memegangi punggungnya lalu melayangkan satu pukulan.
Ryan memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Dia menyerang kesana kemari seperti orang hilang kendali. Dua musuh bersenjata tajam ingin menyerang bagian depan Ryan tapi langsung ditangkis oleh Ryan dengan tongkat baseballnya. Sayangnya ada satu musuh yang mengambil senjata tajam yang terjatuh kemudian menyo det lengan Ryan. Sekarang Ryan lumayan memiliki luka tajam yang cukup parah namun jika dia ingin lepas dari pasukan berjas hitam hanya satu caranya yaitu melawan mereka semua dan menang.
Mari kita beralih ke Ryaiden yang masih dalam keadaa stabil. Ryaiden tidak hanya mengandalkan senjatanya saja melainkan dia mengandalkan tangan dan kakinya. Tangan Ryaiden memukul dada musuhnya tepat di bagian tengah - tengah dada. Dilanjutkan dengan serangan pukulan baseballnya tetapi musuhnya menghindar dan pukulan tersebut mengenai kaca mobil. Tanpa pikir panjang Ryaiden mengambil pecahan kaca tersebut lalu menan capkannya di mata musuhnya.
Musuh yang tertan cap matanya itu hilang kendali sampai menyerang rekannya sendiri. Ryaiden dengan segera langsung lari ke arah si pemimpin. Saat akan sampai di depan pemimpinnya tiba - tiba saja ada orang yang menendang wajah Ryaiden. Dia jatuh terguling - guling sampai menabrak mobil.
"Akh! Sial! Awas saja kau!" rintih Ryaiden yang kembali bangkit kemudian bergerak maju.
Kita kembali ke Ryan dengan musuhnya yang tersisa dua biji sisanya sudah tepar. Ryan harus bergerak cepat ke arah kanan kirinya karena dia diserang dua arah sekaligus. Dua musuhnya itu langsung bergerak secara bersamaan dan Ryan segera menunduk lalu diakhiri dengan pukulan tongkat baseball ke kepala salah satu musuh.
Satu sudah jatuh sekarang tersisa satu lagi. Kalau boleh jujur sebenarnya Ryan sangat lelah dan ingin segera mengakhiri perkelahian ini. Ryan dan musuhnya itu melakukan duel sampai lompat kesana kemari di atas mobil. Musuhnya tersebut berhasil mengenai dada Ryan.
"Akh! Ha... Ha... Ha... Akhh!!!... Lelahnya! Tapi ini belum berakhir" ucap Ryan yang menahan rasa sakitnya.
Ryan kembali menyerang musuhnya menggunakan tongkat baseball yang sudah bengkok sana sini. Pukulan tersebut berhasil mengenai bagian leher musuh. Ryan membuang tongkat baseballnya dan melakukan serangan dengan tangan kosong. Dua orang itu saling adu tojos dan tidak ada pukulan yang terlewatkan. Ryan mundur beberapa langkah kemudian melihat pecahan kaca mobil yang disebabkan adiknya tadi. Tangan Ryan mengambil pecahan kaca tersebut kemudian menyo det bagian atas dada musuh. Karena sudah merasa kesal Ryan mengakhirinya dengan bantingan badan. Ryan memeluk badan musuh kemudian membawamya ke belakang sampai kepala musuh berda rah.
__ADS_1
Sudah selesai dengan urusan musuhnya, Ryan membantu adiknya melawan si pemimpin. Ryan harus berjalan pincang karena kakinya mengenai sedikit pecahan kaca tadi.
Ryaiden sedang asyik duet dengan si pemimpin sedangkan pasukan yang tadi sudah KO. Ternyata kekuatan si pemimpin lebih besar dibandingkan Ryaiden. Adik Ryan mengalami kesulitan untuk menahan atau menangkis serangan si pemimpin. Ryan yang muncul dari belakang langsung melukai leher si pemimpin dengan senjata tajam yang dia dapat tadi. Melihat kesempatan yang ada Ryaiden langsung mengambil tongkat pemukul milik kakaknya tadi kemudian memukul kepala pemimpin itu. Akhirnya si pemimpin tumbang juga. Sebelum dia sadar kembali Ryan mene mbak badan sebanyak empat kali.
"Hah~.... Akhirnya selesai,sekarang bagaimana cara kita pulang? Apakah kita harus menelpon orang rumah?" tanya Ryaiden yang duduk di atas salah satu mobil.
"Jangan telpon orang rumah! Kalau kita menelpon orang rumah yang ada paman dan bibi menjadi khawatir. Sekarang kita harus ke rumah sakit dan sekarang juga menelpon Karina" jawab Ryan yang mengambil ponselnya dari saku celana dan untungnya masih dalam keadaan utuh.
Tutt..... Tutt..... Tutt..... Panggilan tersambung.
"Halo sweetie!".
"Halo honey! Kenapa?".
"Apa kau di rumah sakit?".
"Aku ke rumah sakit sekarang bersama Ryaiden dan siapkan dua kamar inap".
"Hah? Kenapa aku harus menyiapkan dua kamar inap? Siapa sakit? Apa kau perlu dokter?".
"Intinya siapkan dulu sebentar lagi aku kesana".
"Oh... Okelah".
"Aku sayang kamu,sweetie♡".
__ADS_1
"Aku sayang kamu juga,honey♡".
Panggilan selesai.
Ryan langsung berjalan menuju rumah sakit Cemara diikuti adiknya di belakang. Sebenarnya Ryan sudah tidak kuat menahan rasa sakit di punggung dan lengannya tapi dia harus tahan sampai di rumah sakit.
Beberapa menit mereka berjalan pada akhirnya mereka bertemu satu mobil lewat. Mobil tersebut berwarna hitam dan si supirnya adalah Andi.
"Cepat naik!" ucap Andi yang menurunkan kaca mobilnya.
Ryan dan Ryaiden langsung naik ke mobil Andi. Mobil tersebut kembali melaju menuju rumah sakit Cemara. Tidak ada pembicaraan sama sekali selama perjalanan. Andi memutuskan untuk bungkam saja karena dia tahu kalau penyebab mereka berdua terluka adalah karenan dirinya.
...----------------...
Beberapa menit kemudian mobil Andi telah sampai di rumah sakit Cemara. Kebetulan juga Karina sedang berjalan - jalan di taman rumah sakut. Saat Karina melihat siapa yang keluar dari mobilnya Andi,dirinya langsung berlari menghampiri sang kekasih.
Ryan dibantu berjalan oleh Andi. Karina langsung menginstruksikan para perawat untuk mengambil dua bangkar. Ryan dan Ryaiden langsung ditidurkan di bangkar tersebut. Bangkar tersebut langsung dilarikan ke ruang pemeriksaan. Andi menunggu di depan ruangan tersebut dan Karina menghampirinya.
"Apa yang terjadi kepada Ryan dan Ryaiden? Kenapa mereka bisa seperti itu?" tanya Karina dengan wajah serius.
"Mereka terlibat perkelahian" jawab Andi dengan singkat yang juga berusaha menahan emosinya.
"Dimana mereka berkelahi? Siapa penyebab mereka berkelahi? Katakan Andi!" Karina mulai berlinang air mata dan menggoyangkan badan Andi.
"AKU PENYEBABNYA! AKU YANG MEMBUAT MEREKA SEPERTI ITU!" Andi sudah tidak tahan menahan emosinya.
__ADS_1
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>