
Ryaiden mengajak kakaknya tersebut masuk ke makam. Ryan sedikit kebingungan kenapa dirinya diajak kesini padahal tujuan dia adalah mencari Andi.
Mereka pun sampai di salah satu makam. Ryan membaca nama batu nisan yang ada di kuburan tersebut.
"Ryaiden.... apa maksudnya ini? Kenapa nama Andi ada di batu nisan itu?..." tanya Ryan yang masih terkejut melihat kuburan tersebut.
"Aku juga tidak tahu yang jelas tadi saat aku mengunjungi makam temanku dan aku melihat sosok yang aku kenal menghampiri makam ini. Karena aku penasaran makanya aku menghampiri makam ini dan terkejut melihat nama yang ada di batu nisan" jawab Ryaiden yang menjelaskan alasan dia bisa menemukan makam ini.
"Kau tidak melihat siapa yang datang kesini sebelumnya? Maksudku dengan lebih jelas" Ryan berjongkok dan memperhatikan baik - baik batu nisan tersebut.
"Aku tidak terlalu jelas melihatnya tapi aku bisa mendefinisikannya, ciri - cirinya itu dia pria yang tinggi mungkin sekitar seratus delapan puluh lima ke atas, badannya berotot, dan yang terakhir kuingat dia membawa bunga kesukaan Andi yaitu bunga violet" Ryaiden menjelaskan sedikit tentang orang yang dia lihat tadi.
"Apa tidak ada kamera cctv disini?".
"Aku rasa tidak ada, besok kita coba pagian datang dan tunggu siapa orang tersebut".
"Ide bagus! Besok jam delapan kita harus sudah ada disini".
"Siap kak! Lalu bagaimana kau memberitahu kak Karina tentang ini? Apakah kita harus beritahu sekarang?".
"Sebaiknya jangan dulu tunggu orang tersebut kita temukan baru kita beritahu,sebab tidak baik kita beritahu begitu saja tanpa penjelasan yang jelas".
Ryaiden mengangguk paham. Ryan mengajak adiknya pergi dari makam tersebut. Ryaiden meninggalkan kakaknya di depan gerbang makam dan melajukan mobilnya.
Ryan berdiri di depan mobilnya sambil menatapi gagang pintu mobil. Entah mengapa siang ini bisa menjadi sangat gelap karena awan mendung padahal sebelumnya masih cerah. Air hujan mulai berjatuhan dengan cepatnya.
Banyak orang mulai berteduh tidak dengan Ryan yang masih menatapi gagang pintu mobil. Ryan benar - benar shock saat ini, dia tidak bisa menerima kepergian sang adik ipar.
Hujan semakin deras ditambah ada gemuruh petir. Ryan akhirnya memutuskan masuk ke mobilnya. Dia melajukan mobilnya ke tempat sepi.
__ADS_1
Di tempat sepi tersebut Ryan keluar dari mobilnya lalu menangis. Ryan mendongakkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir yang juga bercampur dengan air hujan. Air hujan membasahi seluruh tubuh Ryan dan si pemilik tubuh tidak peduli dengan raga dia sekarang.
Ryan sengaja memilih menangis di tengah hujan deras,sebab tidak ada satu orang pun yang akan mengetahui tangisannya. Air mata Ryan terus mengalir membasahi pipinya yang sudah basah dengan derasnya hujan. Ryan terisak saat membayangkan makam Andi tadi.
"AAAKKKHHHHH!!!..... KENAPA?! KENAPA?! KENAPA SAAT SEPERTI INI KAU PERGI?! KENAPA?! APA KAU TIDAK PAHAM SITUASI ANDI?! KAKAKMU BARU BAHAGIA! TAPI KAU SUDAH PERGI BEGITU SAJA! AAAAAKHHHH!!!...." teriak Ryan menghadap lapangan luas nan sepi dihadapannya.
Tubuh Ryan jatuh berlutut dengan dirinya yang masih terisak. Ryan benar - benar tidak bisa menerima situasi ini. Tapi yang paling dia khawatirkan adalah bagaimana cara memberitahu istrinya,apakah secara langsung? Atau tidak? Atau mungkin menggunakan cara lain?. Banyak pertanyaan muncul di kepalanya yang belum mendapat jawaban sama sekali.
Saat dirinya tengah menangis tiba - tiba saja dia teringat dengan pelaku yang menculik Andi. Ryan berpikir apakah Jack masih disini atau tidak, jika dia masih disini maka dia harus menemuinya dan menanyakan semuanya.
Namun di sisi lain dia ingat kalau polisi sudah mencari Jack kemana pun dan tidak berhasil menemukannya. Ryan sangat bingung harus melakukan apa agar Andi bisa tenang disana.
Setelah menangis selama setengah jam Ryan memutuskan masuk ke mobilnya. Ryan mengelap air mata yang masih di pipinya dan mulai mengendarai mobilnya menuju rumahnya.
Selama di perjalanan Ryan tidak bisa fokus untuk mengendarai mobilnya. Untungnya jalanan saat ini tidak begitu ramai jadi tidak begitu membahayakan.
"Selamat datang honey! Apa kau menemukan sesuatu? Kenapa lama sekali? Dan kenapa tubuhmu basah?" Karina langsung menyambut suaminya dengan penuh keceriaan.
"Aku tidak sengaja hujan - hujanan tadi sweetie,maaf ya" Ryan tersenyum kembali saat melihat kebahagiaannya.
"Tidak apa - apa honey! Sekarang mandi dulu soalnya ada tamu yang mau bicara denganmu" Karina memapah Ryan masuk ke kamarnya.
"Kalau begitu katakan pada dia kalau aku sebentar saja bersih - bersihnya" Ryan menutup pintu kamar dan mulai membersihkan diri.
Karina mengangguk paham dan kembali ke ruang tamu tidak lupa dia menyampaikan pesan suaminya. Ryan segera cepat - cepat membersihkan diri.
Dua puluh menit kemudian Ryan sudah selesai membersihkan diri dan keluar dengan penampilan lebih rapi. Saat Ryan sampai di ruang tamu dirinya terkejut melihat ada Hans disana.
"Hai Hans! Lama tidak bertemu,bagaimana kabarmu?" tanya Ryan yang duduk di sebelah Karina.
__ADS_1
"Aku baik kok,bagaimana denganmu?" jawab Hans yang tersenyum tipis.
"Aku juga baik, ngomong - ngomong ada apa kau datang kesini? Ada hal penting?" Ryan belum menyadari maksud kedatangan Hans.
"Aku ingin memberitahu hal penting dan aku harap agar Karina tetap tenang setelah mendengar kabar ini".
Ryan dan Karina saling pandang satu sama lain dengan wajah kebingungan. Mereka berdua kembali berfokus ke arah Ryan.
"Memangnya apa itu?" tanya Karina.
"Ini mengenai Andi,aku sudah bertemu dengan dia dan dia sudah pergi" Hans berhenti karena tidak kuat mengatakan kabar ini kepada teman baiknya.
Sekarang Ryan paham maksud kedatangan Hans. Ryan memegang erat telapak tangan Karina seolah - olah memberikan tanda untuk tetap tenang.
"Hans apa maksudmu? Andi pergi kemana? Kenapa kau tidak mengantarnya kesini?" Karina masih belum paham dengan maksud Hans.
"Huhhh~... maksudku Andi sudah pergi untuk selama - lamanya atau lebih tepatnya sudah meninggal" Hans akhirnya menguatkan diri untuk mengatakan kabar ini.
Karina terdiam setelah mendengar ucapan Hans. Kedua bola matanya membesar dan genggaman tangannya di telapak tangan Ryan mulai longgar. Air matanya mulai bergelinang di kelopak matanya.
"He... tidak.... ini tidak mungkin.... tidak mungkin! Bagaimana bisa adikku pergi? Apa kau yang membunuhnya? Katakan Hans!" Karina membentak Hans dengan air mata yang berjatuhan.
"Saat itu aku menyelamatkan dia dari si penculik yang bernama Jack lalu saat aku sudah berhasil menyelamatkannya dia mengucapkan terima kasih dan nyawa sudah pergi ke atas sana, saat itu juga aku tidak tahu kalau Andi sudah meninggal! Aku juga shock disana Karina!" tangisan Hans pecah karena sudah kehilangan orang tersayangnya.
Karina langsung memeluk Ryan untuk melampiaskan tangisannya. Ryan memeluk balik Karina karena dia tidak menyangka kalau kabar ini akan secepat ini ke istrinya.
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>
__ADS_1