
Bimo masih kebingungan dengan sosok wanita dihadapannya. Dia takut kalau kalau wanita itu adalah orang jahat.
"Kaila!" panggil Karina dari belakang Bimo.
"Ibu!" Bimo memeluk kaki ibunya.
"Kak Karina lama tidak bertemu" ucap wanita tersebut yang bernama Kaila.
"Dhika ada di kantornya, ada apa kau kesini?" tanya Karina yang langsung menggendong Bimo.
"Oh! Aku kira dia disini terima kasih kak Karina. Aku tidak menyangka kalau Bimo sudah besar" Kaila pergi meninggalkan Karina dan Bimo.
Sebuah kejadian tidak terduga yang dimana Bimo yang baru mendengar kisah cinta paman Dhika dan Kaila. Disaat yang bersama juga Bimo bertemu dengan wanita yang dicintai oleh pamannya. Sungguh sesuatu yang tidak terduga.
"Bimo! Ibu ada urusan di luar nanti kamu nanti ibu titip di tante July" ucap Karina yang berjalan menuju ruangan dokter July.
"Baiklah bu" Bimo mengangguk menerima ucapan ibunya.
Karina masuk ke ruangan dokter July. Di dalam dokter July sudah menunggu kedatangan Karina dan Bimo.
"July aku titip Bimo dulu , aku ada beberapa hal yang harus selesaikan di luar" ucap Karina yang menurunkan Bimo.
"Tenang saja Karina serahkan saja padaku" jawab July yang mengelus rambut Bimo.
Bimo langsung menerima keberadaan dokter July. Karina selesai menitipkan anaknya langsung pergi keluar ruangan dokter July.
"Tante July! Apakah tante July ada pasien nanti?" tanya Bimo yang langsung menoleh ke arah dokter July.
"Iya ada! Nanti setelah jam istirahatku , kenapa memangnya?" jawab dokter July yang sedikit bingung dengan pertanyaan Bimo.
"Apakah aku boleh membantu? Seperti aku mengambil peralatan gitu?" Bimo menawarkan dirinya untuk membantu pekerjaan dokter July.
"Apa kau yakin? Pasien tante banyak loh~...".
"Tentu saja tante! Aku selalu siap membantu".
"Baiklah!" July menerima tawaran bantuan Bimo.
__ADS_1
Bimo berlompat ria mendengar jawaban dokter July. Dokter July mengajak Bimo untuk makan siang.
Bimo dan dokter July pergi ke kantin rumah sakit untuk makan siang. Dokter July menggandeng tangan Bimo agar tidak hilang.
...****************...
Karina berkendara menggunakan motor menuju cafenya. Entah apa yang dipikirkan Karina sampai dia kembali ke cafenya.
Karina pun tiba di cafenya. Saat dia melepas helmnya dia melihat Ryan sedang menyapu halaman restorannya. Karina turun dari motornya lalu menghampiri Ryan.
"Ryan!" panggil Karina yang langkah kakinya menuju Ryan.
"Hm? Oh ternyata kau Karina! Kemana kau selama ini?" tanya Ryan yang menghentikan kegiatan menyapunya sebentar.
"Plak!!!" satu tamparan mendarat tepat di pipi kiri Ryan yang dilakukan oleh Karina.
"Aku tidak tahu selama ini kau orang sangat jahat" ucap Karina dengan nada bicara kesalnya.
Ryan masih terdiam setelah mendengar perkataan Karina. Masih belum meyadari kesalahannya Ryan bertanya kepada Karina mengenai apa yang terjadi.
"Memangnya apa yang aku telah lakukan? Aku rasa aku tidak pernah melukaimu".
Mendengar Karina mengucapkan janji tersebut membuat Ryan terkejut dan terdiam. Ditambah dalam pengucapan janji tersebut Ryan dapat mendengar jelas nama lengkap Karina. Tubuh Ryan gemetar mendengar nama Karina.
"Karina tunggu dulu! Aku minta maaf! Sungguh aku minta maaf! Aku tidak tahu kalau masalah ini akan seserius ini" ucap Ryan yang memohon maaf kepada Karina.
"Dengar baik - baik ini Ryan! Kau ini adalah orang baru jadi lebih baik kau jaga attitudemu dan jangan bersikap sombong" Karina memperingatkan Ryan mengenai kelakuannya.
"Iya aku dengar! Aku dengar! Tapi aku mohon jangan membenciku Karina! Aku sangat mencintaimu!" Ryan menggenggam salah satu tangan Karina.
"Awas! Jika kau ingin aku membalas cintamu itu... Kamu harus bisa menjaga, mencintai,dan menerima Bimo apa adanya" Karina menepis tangan Ryan.
"Iya aku bisa melakukan hal itu! Aku akan melakukan apa pun selama kau tidak membenciku" jawab Ryan yang menerima semua ucapan Karina.
Ryan dan Karina terdiam sejenak untuk menenangkan diri. Kemudian Ryan meminta Karina untuk mampir ke restorannya. Tapi sayangnya Karina menolak tawaran itu.
"Aku kesini hanya untuk menyelesaikan masalah anakku dengan dirimu. Aku tidak ingin memperpanjang masalah dan masalah ini aku anggap sudah selesai tapi aku tidak yakin dengan kedua adikku" ucap Karina yang menyebutkan tujuan kedatangannya ke cafe.
__ADS_1
"Dua adikmu? kamu punya adik?" tanya Ryan yang masih belum menyadari adiknya Karina.
"Astaga Ryan! Kau ingin aku membalas cintamu tapi kamu tidak tahu tentang keluargaku? Bagaimana kau ini?".
"Sungguh aku tidak tahu adikmu sama sekali,kan aku orang baru disini jadi aku tidak tahu apapun mengenai dirimu".
"Padahal Bimo ke restoranmu setiap hari dan kau tidak bertanya kepada Bimo?".
"Aku tidak kepikiran saat itu".
"Tidak kepikiran? Kalau kamu ingin mendekatiku kamu harus mengetahui tentang diriku dengan begitu kau akan lebih mudah mendekatiku".
"Jadi... Siapa adikmu?".
"Aku punya dua adik. Adikku pertama bernama Cyndria Radhika Saputra ,pekerjaan dia adalah direktur perusahaan Holan's Company. Untuk adik keduaku bernama Cyndria Andita Vindrio, pekerjaannya adalah macam - macam sih. Andi bisa jadi dancer,backup dancer,dancer club malam bisa juga jadi wakil direktur dadakan di perusahaan adik pertamaku tapi pekerjaan utamanya sih boss dari bar terbesar di benua C" Karina menjelaskan tentang identitas Dhika dan Andi.
"Adikmu itu direktur Holan's Company ? Perusahaan media terbesar di dunia itu? Apakah itu benar?" tanya Ryan yang masih tidak percaya dengan penjelasan Karina.
"Itu benar kok! kenapa memangnya?" tanya Karina yang sedikit kebingungan.
"Tidak ada kok! Aku hanya meyakinkan keraguanku saja" tangan Ryan gemetar mendengar kebenaran dua adik Karina itu.
" Ada yang ingin kau tanyakan lagi?".
"Tidak ada! itu saja cukup! Aku permisi dulu" Ryan terburu - buru masuk ke restorannya.
Karina tahu kalau tingkah yang ditunjukkan oleh Ryan adalah perasaan takut. Hal tersebut adalah suatu hal yanh wajar menurut Karina karena baginya siapa pun yang mendengar nama dua adiknya pasti akan ketakutan.
Merasa semua urusannya sudah beres Karina memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Karina memakai helm,menaiki motornya,menyalakan mesin dan wushhhh... langsung melaju ke rumah sakit.
Di dalam restoran, Ryan terduduk lemas dengan segelas air ditangannya. Tio bertanya - tanya dengan kondisi Ryan hingga bisa seperti ini. Karena masih dalam ketakutan Tio masih belum berani mendekati temannya itu.
Ryan merasakan tangannya yang dingin karena ketakutannya itu. Yang dikatakan Tio memang benar! Jika kita bermasalah dengan orang kemarin( maksudnya Andi) mereka akan dalam masalah. Semua sudah terlambat dan tidak ada yang bisa dilakukan oleh Ryan.
Makasi yang sudah mampir maaf ya ceritanya kadang suka ndk nyambung sy masih penulis baru tapi seterusnya sy akan berusaha lebih baik lagi terima kasih
Sambil menunggu update chapter terbaru dari cafe and restoran sy sarankan untuk para riders membaca novel sy yang lain yaitu bunga Lily milik tuan Edward dan Vino and William( yg ini khusus bxb).
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>