Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 16: Gara - Gara Minta Gula


__ADS_3

"Begini tuan Andi teman saya tidak sengaja membuat Bimo menangis atas perkataannya saya minta maaf" ucap Tio yang menjelaskan kronologi kejadian tadi.


"Memang saya bertanya pada anda? Saya lagi bertanya sama manusia satu ini!" Andi mengsavage omongan Tio sambil menunjukkan wajah judesnya.


"Bukan begitu tuan--..."


"Diam! Memangnya kau siapa?!" lagi - lagi Andi membuat Tio terdiam.


Bimo yang masih menangis itu kemudian mengadukan tindakan Ryan kepada Andi.


"Paman Andi... Tadi dia menghina ibu tahu... Dia mengatakan kalau ibu tidak modal untuk membeli gula".


"Padahal Bimo hanya menuruti perintah ibu saja".


Andi semakin murka mendengar pengakuan Bimo.Pukulan Andi melayang tepat mengenai wajah Ryan.


"Apa yang kau katakan tentang kakakku,hah?! Katakan!" Andi mengangkat baju Ryan.


Tio terkejut kalau yang dihadapannya ini adalah adik Karina yang juga merupakan direktur perusahaan Dhika company yang memegang di bidang kosmetik dan makanan minuman.


"Itu memang benar! Kalau dia kaya seharusnya dia bisa beli sendiri! Untuk apa menyuruh anaknya meminta - minta !" balas Ryan yang balik menarik baju Andi.


"Ryan hentikan! Kalau tidak restoran ini tidak akan hidup lagi dan kita akan mati" ujar Tio yang menarik Ryan sampai terlepas dari Andi.


Ryan memberontak untuk melepaskan diri.Andi menatap Ryan dengan penuh amarah.


"Kenapa kalau kakakku meminta gula?! Salah memangnya?! Kalau mau kasi ya kasi saja! Kalau tidak ya tidak usah! Aku bisa membelikan kakakku satu truk penuh gula!" ucap Andi dengan nada tinggi.


"Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang membelinya ?! Sana pergi!" Ryan membentak Andi sekaligus mengusir Andi.


Dengan perasaan yang masih marah Andi memutuskan untuk pergi bersama Bimo agar masalah tidak tambah rumit. Andi bersumpah membalas perbuatan Ryan itu.


Ryan menjadi sedikit lebih reda setelah Andi dan Bimo pergi.Tio takut kalau hal buruk akan terjadi pada restorannya. Tapi ya sudahlah semua sudah terjadi.


Andi beralih ke cafe kakaknya.Karina terkejut dengan kedatangan Andi dan Bimo yang buru - buru.


"Andi ada apa? Kenapa kau buru - buru sekali? Apa terjadi sesuatu?" tanya Karina kepada Andi.


"Apa kakak tadi yang menyuruh Bimo untuk meminta gula di restoran ? " bukan menjawab pertanyaan Andi malah bertanya kepada kakaknya.


"Iya! memangnya kenapa?Oh ya mana gulanya?".

__ADS_1


"Bimo mendapatkan penghinaan disana! Anak kecil manis hanya meminta gula kak! Mereka juga mengatakan kakak tidak mampu untuk membeli gula!".


"ya ampun Andi... Cuman gara - gara gula aja kamu sampai segitunya sudah biarkan saja kita kan bisa beli nanti".


"hah? Apa maksud kakak?".


"Tadi orang yang memesan kopi dan kebetulan gula habis jadi,aku meminta Bimo untuk meminta di sebelah syukurnya orang tadi minta tidak usah pakai gula ya gitu saja".


Andi dan Bimo terdiam mendengar penjelasan Karina.Mereka bertengkar di restoran sebelah cuman gara - gara gula saja?.


Bimo masih ketakutan mendengar ucapan Ryan yang terus melayang di kepalanya. Tangan Bimo sampai gemetar membayangkan kejadian tadi.


"Bimo! Kamu kenapa,nak?!" Karina yang panik melihat anaknya yang gemetaran.


Bimo sama sekali tidak menjawab yang di kepalanya saat ini perkataan Ryan tentang ibunya yang "tidak mampu membeli gula". Karina dan Andi semakin panik dengan Bimo tidak menjawab pertanyaan Karina.


"Bimo! sadar Bimo! Jangan bayangkan omongan orang kurang ajar tadi!" ucap Andi yang menggoncangkan tubuh Bimo.


Bocah kecil itu sama sekali tidak menjawab dia hanya tetap terdiam. Karina semakin takut dengan kondisi anaknya segera ia menghubungi orang di rumah sakit miliknya.


"Halo July! Tolong anakku! Dia tiba - tiba terdiam saja dengan tangan gemetar!" ucap Karina dengan seseorang yang bernama July.


"Baiklah aku segera kesana!" Karina menutup panggilan telepon itu kemudian segera pergi menuju rumah sakit sambil menggendong Bimo.


"Hey kalian! Jaga cafe selama Karina pergi!" perintah Andi kepada pegawai cafe Karina.


Para pegawai itu mengangguk paham dan berdoa semoga Bimo baik - baik saja karena selama ini Bimolah yang membantu mereka bekerja.


Andi menghidupkan mobilnya dan segera menuju rumah sakit.Karina yang duduk di kursi belakang bersama Bimo dalam pelukannya dan Andi duduk di kursi kemudi.


Kecepatan mobil Andi mampu membawanya sampai ke rumah sakit dalam lima belas sampai 18 menit.Andi bersumpah kalau terjadi sesuatu dengan Bimo dia tidak akan memaafkan Ryan.


Mereka pun sampai di rumah sakit dan segera Karina membawa masuk Bimo dengan cara menggendongnya.Tampak di pintu rumah sakit July sedang menunggu kedatangan Karina.


"July! Tolong Bimo!" Karina menghampiri July dengan nafas terengah - engah.


"Cepet Karina! Lewat sini!" July menunjukkan jalan ke tempat untuk memeriksa Bimo.


Selama pemeriksaan Karina dilarang masuk ke ruang pemeriksaan walaupun dia direktur rumah sakit ini.Karina takut sekali terjadi sesuatu kepada anaknya.Andi yang melihat kekhawatiran Karina segera menelpon Dhika.


"Halo!".

__ADS_1


"Halo kak Dhika! Bimo masuk rumah sakit!".


"Apa katamu?! Apa yang terjadi?!".


"Nanti aku jelasin semuanya! Tunggu saja kabar dariku dan aku menelpon hanya untuk mengabarimu saja".


"Ya sudah kalau begitu ingat untuk kabari aku sebentar lagi aku rapat".


Percakapan Andi dan Dhika berakhir.Andi menghampiri Karina yang duduk di kursi panjang.


"Kak ini semua terjadi karena pemilik restoran itu padahal temannya sudah memperingati tapi dia tidak mau dengar" ucap Andi yang mengelus punggung Karina untuk membuatnya lebih tenang.


"Awas saja kau,Ryan! Aku tidak akan memaafkanmu kalau terjadi sesuatu kepada anakku" Karina mengepal jari - jari tangannya.


Andi melihat sekeliling rumah sakit dan tanpa sengaja matanya melihat seseorang yang ia kenal bersama wanita hamil.Dia fokuskan kembali pandangannya yang ternyata seseorang itu adalah Hans.


Tiba - tiba saja Andi menjadi linglung melihat pemandangan itu.Banyak pertanyaan di kepalanya mengenai Hans dan wanita tersebut, siapa wanita itu? Kenapa dia bersama Hans? Apakah dia pacarnya Hans?.


Perasaan dia sangat sakit sehingga ia ingin menghampiri Hans dan menampar wajah pria itu tapi dia siapa? Andi hanya pemuas nafsu Hans saja tidak lebih.Andi berusaha menahan air matanya agar Karina tidak semakin khawatir.


Sekuat apa pun Andi menahan air matanya akhirmya jatuh juga dan membahasi pipinya. Andi memalingkan wajahnya dari Karina.


"Kak! Aku mau ke toilet dulu" Andi segera berlari ke toilet dengan wajah tertunduk.


Karina bingung melihat adiknya yang pergi begitu saja.Andi bukan kepentingan dia sekarang kepentingan Karina sekarang adalah kondisi Bimo.


Di toilet Andi membasuh wajahnya agar tidak terlihat wajah menyedihkannya.Dia menatap cermin itu dan berbicara sendiri.


"Sadar Andi! Kau hanya pemuas nafsunya saja" syukurnya toilet itu hanya ada Andi saja.


Andi kembali membasuh wajahnya untuk menghilangkan air mata yang turun.Pintu toilet yang menampakkan pria tinggi dengan jas hitam,kemeja putih,celana panjang hitam,dan tidak lupa wajah tampannya.


"Hm? Andi? Itu kau ?" tanya seseorang itu kepada Andi.


Sontak saja Andi langsung menoleh dan terkejut melihat kehadiran seseorang tersebut.


"Sammuel?".


maaf soal novel bxbnya kemarin mau update tapi sibuk besok aku bikin janji kok.aku bikin novel lagi judulnya bunga Lily milik tuan Edward ayo dibaca.


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>

__ADS_1


__ADS_2