
Karina mengecup dahi Ryan. Tangan Ryan menyentuh pipi kanan Karina dan menatapnya dengan penuh cinta.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau memikirkan sesuatu saat melihat diriku?" tanya Karina yang curiga dengan tatapan tersebut.
"Aku memikirkan dirimu,sweetie. Aku selalu memikirkanmu tanpa melihatmu pun aku selalu memikirkanmu" jawab Ryan yang mendudukkan tubuhnya.
"Apa kita pulang sekarang? Ini sudah mulai malam".
"Sebaiknya kita menginap saja tidak baik berkendara di malam hari dan sekarang lokasi villa ini berada jauh dari rumahmu".
"Kau sungguh - sungguh mengatakan itu atau memang ada maksud lain?".
"Tidak ada maksud lain my sweetie,aku mengatakan yang sesungguhnya. Tenang saja sweetie aku tidak akan memakanmu kecuali setelah kita sudah resmi".
"Ho...ho...ho... Begitu rupanya. Hehe... Ternyata my honey is naughty but i like it".
"No sweetie, i'm not naughty i'm just wanna protect you".
"Oke! Oke! Aku percaya sekarang. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah memberitahu orang rumah lalu kita harus mencari pakaian ganti".
"Baiklah! Sekarang aku mau menghubungi Tio dulu".
Ryan beranjak dari kasur menuju nakas untuk mengambil ponselnya sekaligus ponsel Karina juga. Tangan kanan Ryan memberikan ponsel Karina kepada pemiliknya. Sekarang dua orang tersebut saling membelakangi dan sedang menghubungi orang rumah.
Pertama kita bahas Karina dulu yang menghubungi kakeknya.
^^^"Halo kakek!".^^^
"Halo Karina! Bimo tidak mau pulang,bagaimana ini?".
^^^"Aku tidak bisa pulang sekarang,biarkan Bimo menginap di rumah kakek karena aku harus menginap di suatu villa".^^^
"Oke baiklah!".
"Tunggu?! Di villa?! Sama siapa kau di villa".
^^^"Aku bersama Ryan...".^^^
"Katakan padanya untuk memakai pengaman dan jangan kasar - kasar padamu masalahnya kalian belum resmi".
^^^"KAKEK! Ya sudah! Katakan pada Dhika untuk menutup kafe dan bawa kuncinya".^^^
__ADS_1
"Hahaha... Baiklah! Ingat ya mainnya jangan sampai pagi".
^^^"Sudahlah kakek! Aku mau pergi sekarang!".^^^
Wajah Karina langsung berubah merah seperti tomat yang dimana dirinya baru saja selesai menelpon kakeknya. Mari kita beralih ke Ryan yang sedang menghubungi Tio.
^^^"Halo bro!".^^^
"Halo bro! Bagaimana rencanamu ? Apa berjalan lancar?".
^^^"Tentu saja berjalan lancar! Tapi aku tidak akan melakukannya".^^^
"Kenapa? Apa kau lupa bawa pengaman?".
^^^"Aku tidak akan melakukannya sebelum kita benar - benar resmi. Aku ini bukan pria yang seenaknya menggunakan pacar begitu saja. Aku sebagai pacarnya Karina harus menjaga dia sebaik mungkin baik fisik maupun perasaan".^^^
"Heh! Sok suci!".
^^^"Ya aku memang suci! Makanya aku bertekad menjaga Karina. Sudahlah itu saja dan ingat tutup restoran saat sudah jamnya".^^^
"Iya! Iya!".
Sambungan telah selesai. Ryan menoleh ke arah Karina dan mendapati sang pacar sedang mendengar pembicaraannya tadi.
"Iya! Dari awal sampai akhir. Ternyata kau sudah merencanakannya dari awal! Dasar nakal!" jawab Karina yang menarik telinga Ryan.
"Adehh...deh... Aduh sakit Karina! Lepaskan! Aku minta maaf! Aku memang merencanakannya dari awal dan itu dengan tujuan supaya kita ada waktu berdua. Selama ini kau selalu mengabaikanku ditambah kita berdua sama - sama sibuk sebab itulah aku merencanakan ini" Ryan menjelaskan alasan dia merencanakan kegiatan hari ini.
"Kenapa tidak bilang saja? Untuk apa kau susah payah membuat rencana serumit ini? Tinggal katakan saja" Karina melepas tarikan kupingnya lalu memarahi Ryan.
"Aku minta maaf... Ya sudah kalau begitu kita pulang saja" Ryan cemberut karena rencananya harus berakhir.
"Tidak! Rencana ini harus berlanjut hitung - hitung untuk kesenangan kita berdua".
"Jadi?".
"Ayo lanjutkan saja rencana ini,hahaha...".
Karina bersiap - siap untuk pergi membeli pakaian. Ryan tersenyum melihat Karina yang mau menerima rencananya. Keduanya sudah selesai bersiap dan sudah siap berangkat.
Di perjalanan mobil Ryan melaju mengelilingi sekitaran wilayah tersebut. Ryan melihat map wilayah tersebut melalui ponselnya. Mobil Ryan berhenti di satu toko pakaian beserta pakaian dalam.
__ADS_1
Sebenarnya Ryan merasa ragu untuk masuk ke toko tersebut karena dari luar Ryan bisa melihat apa saja yang di dalam. Namun Karina menarik tangan Ryan untuk masuk ke toko tersebut.
Di dalam toko, Karina mengajak Ryan menuju pakaian wanita. Wajah Ryan berubah merah seperti kepiting rebus. Karina sengaja melakukan itu untuk mengerjai Ryan.
"Bagaimana kalau yang ini saja honey?" tanya Karina yang menunjukkan rok mini kepada Ryan.
"Tidak! Cari yang lain!" jawab Ryan yang menolak rok tersebut.
"Kalau yang ini?" kali Karina menunjukkan sebuah celana panjang berwarna hitam namun terlihat ketat.
"Cari yang lain!" Ryan lagi menolak yang ditunjukkan Karina.
Sudah banyak pakaian yang ditunjukkan Karina kepada Ryan tapi selalu ditolak. Karina kembali menyusuri rak - rak pakaian wanita. Dia menemukan satu mainan bagus untuk mengerjai Ryan. Ibu satu anak itu mengambil mainan bagus tersebut lalu memberikannya kepada penjaga toko.
Karina sudah menunjukkan pakaian yang bagus dan Ryan menerimanya. Sekarang giliran Ryan memilih pakaian. Tapi Ryan sudah mendapatkan pakaian yang dia inginkan.
Selesai membayar di kasir, dua orang tersebut kembali ke mobil kemudian melaju ke villa tadi. Di dalam mobil,Karina tersenyum jahat melihat mainan yang beli tanpa sepengatahuan Ryan.
Sesampai di kamar villa, Ryan meminta Karina untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu. Di dalam kamar mandi Karina sudah tidak sabar mengerjai Ryan.
Karina keluar dari kamar dengan menggunakan handuk yang melilit bagian atas dan bawah. Sekarang giliran Ryan membersihkan diri. Saat mereka berdua dihadapan satu sama lain, Karina sengaja melepas lilitan handuknya dan langsung ditangkap oleh Ryan. Tapi posisi tangan Ryan saat menangkap handuk berada di da da Karina.
Ryan melepas tangkapannya dan segera masuk ke kamar mandi. Karina tertawa melihat wajah Ryan. Di dalam kamar mandi, Ryan membayangkan betapa besarnya da da Karina.
"Astaga! Ya ampun! Sabar Ryan! Sabar woi! Wajar itunya besar karena dia sudah memiliki anak, jadi tenanglah" batin Ryan di dalam hatinya yang berusaha menenangkan dirinya.
Karina memakai mainannya secepat mungkin. Dia tertawa jahat setelah melihat dirinya di cermin saat dia memakai mainannya.
Ryan pun sudah selesai membersihkan diri. Matanya terbalalak melihat Karina yang menggunakan mainannya.
"Oh? Hai honey! Kenapa diam saja disana? Ayo kesini!" ucap Karina yang mengajak Ryan mendekat dan sedikit menggodanya.
"Tidak! Kita belum resmi! Sebaiknya jangan! Ini tidak baik!" jawab Ryan yang menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.
"Ayolah Ryan! Malam ini aku kepanasan sebab itulah aku memakai ini" Karina membenarkan posisinya menjadi duduk di tengah kasur.
"Tidak Karina! Aku tidak mau!" Ryan tetap menolak keras tawaran Karina.
"Kenapa honey menolaknya? Bukankah kita hanya akan tidur saja?".
"Masalahnya kau menggunakan linge ri!".
__ADS_1
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>