
Karina benar - benar tidak bisa menahan tangisannya. Ryan juga mengalami hal yang sama tapi dia tidak ingin membuat istrinya menangis lagi.
"Itu saja yang aku bisa beritahu,kalau begitu aku permisi" ucap Hans yang berjalan meninggalkan rumah Ryan dan Karina.
"Ryan.... bagaimana ini?.... aku tidak menyangka....huhuhu..." Karina menatap wajah suaminya dengan matanya yang memerah.
"Dengarkan aku baik - baik sweetie, sebenarnya aku baru saja mengetahui tentang kejadian ini tapi aku belum berani memberitahumu karena aku saja baru mengetahui berita ini dari Ryaiden" jawab Ryan yang menenangkan istrinya.
"Darimana Ryaiden mengetahuinya? Kenapa dia bisa mengetahuinya?" Karina perlahan - lahan mulai tenang.
Ryan menceritakan kejadian tadi sambil mengusap air mata istrinya. Karina mendengarkan baik - baik cerita suaminya.
"Jadi begitu ceritanya sweetie dan aku sarankan jangan mendatangi kuburan Andi untuk sekarang karena kondisimu yang masih emosional seperti ini" Ryan memeluk Karina dan mengajaknya beristirahat di kamar.
Karina menuruti Ryan dan mereka berdua menuju kamar. Di dalam kamar, Ryan menidurkan Karina yang dimana wajahnya masih basah akan air mata.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Keesokan harinya Ryan beserta istri dan anaknya mengunjungi kuburan Andi. Karina berusaha menahan air matanya tapi karena sentuhan tangan Ryan tiba - tiba saja air matanya terjun bebas.
Di sisi lain Bimo tidak paham dengan maksud kedua orang tuanya datang ke kuburan yang dia tidak ketahui. Bimo memandangi wajah orang tuanya yang tampak sendu sekali.
"Ibu! Ayah! Kenapa kita kesini ? Siapa yang meninggal?" tanya Bimo yang polosnya belum mengetahui apapun.
Karina menatap Ryan agar dia yang memberikan jawaban sebab dirinya tidak kuat untuk bicara.
__ADS_1
"Jadi begini yang meninggal adalah paman Andi, Bimo pasti tahu kalau beberapa hari yang lalu kalau paman Andi diculik dan kemarin paman Ryaiden menemukan makam paman Andi disini" jawab Ryan yang langsung memeluk putranya.
Bimo sempat diam sejenak dan langsung menangis. Ryan memeluk erat putranya agar merasa lebih tenang.
"Ayahhh.... huhu.... kenapa paman Andi bisa pergi?.... wuaahhhh....." tangisan Bimo semakin keras saat setelah mendengar kabar tersebut.
"Memang sudah jalannya nak.... sekarang doakan saja paman Andi disana,ya? Kita harus bisa mendoakan paman Andi dengan sangat baik supaya kita bisa melihat paman Andi tenang disana" Ryan menggendong dan memeluk putranya.
Bimo mengangguk paham kemudian membantu Karina menabur bunga. Ryan menyiram air dan mereka bertiga mulai melafalkan doa untuk Andi.
Selesai mereka berziarah Ryan mengajak dua orang kesayangan mereka ke kafenya.
Bimo tampak sangat lemas setelah pergi dari kuburan. Karina memasak sarapan untuk putranya hanya untuk sekedar menambah energi anaknya.
Ryan sedang menghubungi Ryaiden mengenai masalah kema tian Andi. Mereka berdua mulai penyelidikan yang dimulai dari saksi pertama yaitu Hans.
Ryan memangku putranya lalu mulai berbincang. Bimo masih tampak lemas saat berbicara dengan sang ayahnya.
"Bimo! Ini sarapanmu sayang" Karina datang dengan sepiring nasi goreng dan segelas susu vanila.
"Nah ayo makan dulu ya nak! Ayah yang suapin ya? Berikan padaku Karina" Ryan mengambil sarapan buatan istrinya tersebut.
Ryan mulai menyuapi sang putranya. Perlahan - lahan senyum Bimo mulai berkembang di wajahnya. Melihat hal tersebut Ryan dan Karina ikut bahagia melihatnya. Keluarga kecil itu harus bisa terbiasa dengan perubahan yang baru saja terjadi.
TIME SKIP
__ADS_1
Hari demi hari,bulan demi bulan mereka mulai terbiasa. Ryan juga memberitahu kepada Dhika dan semuanya setelah hari mereka pergi berziarah. Semua orang yang mendengar itu sangat terkejut mendengarnya dan Ryan langsung memberikan lokasi kuburannya.
Awalnya mereka semua tidak menyangka kalau Andi sudah pergi. Aliya tidak berhenti menangis setelah mendengarnya. Ryan tahu kalau ke depannya ini akan menjadi sesuatu yang baru dan berat.
Aliya yang baru saja bertemu dengan Andi dengan takdir yang tidak baik ini membuat mereka harus berpisah. Keponakan Ryan tersebut seperti orang kehilangan arah setelah mengetahui kabar tentang kekasihnya. Ryan dan Karina khawatir dengan kondisi Aliya yang membuatnya seperti zombie.
Karina pernah menyarankan Aliya agar pergi ke psikolog tapi dia menolak. Alasan Aliya menolaknya adalah dia tidak ingin merepotkan siapapun,itu saja. Karina memberitahu Ryan mengenai hal ini dan meminta dia saja yang membujuk Aliya.
"Aku tidak terlalu yakin sweetie,bisa saja dia menolakku" tolak Ryan yang mengelap gelas yang baru dicuci.
"Coba saja honey,siapa tahu berhasil kan kau pamannya" jawab Karina yang tetap meminta Ryan membujuk Aliya.
"Ya sudah kalau begitu" Ryan meletakkan gelas terakhir lalu berjalan mendekati Aliya yang duduk di salah satu meja kafe.
Ryan duduk dihadapan Aliya. Pamannya tersebut sengaja melebarkan senyumnya agar ponakannya juga ikut tersenyum.
"Kenapa paman? Kok tiba - tiba senyum gitu" tanya Aliya yang merasa malu melihat wajah tampan Ryan.
"Paman suka saja,bagaimana kondisimu saat ini?" jawab Ryan yang langsung mengalihkan topik.
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
Author minta maaf tidak update beberapa hari kemarin disebabkan author memiliki banyak urusan dan kurang memiliki waktu untuk menulis.
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>
__ADS_1
Sekali lagi author minta maaf