
Andi menatap tajam sang kakaknya. Karina terdiam saat dirinya melihat tatapan tajam Andi yang dimana tatapan tersebut sebagai pertanda kalau sang adik meminta penjelasan.
"Dengarkan baik - baik ini Andi! Hans pergi ke tanpa sepengetahuan karena dia tidak ingin kau tahu kemana dia pergi itu saja".
"Lalu kenapa harus kakak yang diberitahu?! Kenapa tidak aku saja?! Aku rindu pada dia!! Pergi begitu saja tentu saja ini tidak adil!".
Andi merengek meminta sang sugar daddy kembali. Karina menepuk jidatnya melihat tingkah adiknya. Tiba - tiba saja ponsel Karina berdering kemudian Karina melihat layar ponsel yang ternyata adalah panggilan video call dari Hans.
"Halo Hans!" sapa Karina yang menjawab panggilan video call tersebut.
"Halo Karina! Dimana Andi? Apakah dia bersamamu?" tanya Hans yang penasaran dengan sugar babynya.
Andi yang mendengar suara Hans langsung menarik baju Karina. Dia meminta sang kakak untuk menyerahkan ponselnya untuk berbicara dengan Hans.
"Ini Andi ada di sebelahku, ehh! Jangan tarik bajuku Andi!".
"Makanya serahkan ponselmu aku mau melihat wajah Hans! Hans! Apakah kau disana?! " Andi terus merengek meminta untuk melihat Hans.
"Ya sudahlah kalau begitu Karina! Aku harus kembali bekerja dulu" Hans mematikan panggilan video call tersebut.
Andi merasa sakit hati mendengar Hans menghentikan panggilan. Dia memukul - mukul tangan Karina untuk melampiaskan kekesalannya.
"Kenapa kakak biarkan Hans mematikan panggilannya?! Aku mau bicara!".
"Hans itu sedang sibuk! Sebaiknya jangan diganggu! Sudahlah kakak mau kembali bekerja!".
"Kak Karina jahat! Jahat! Aku doain kak Karina jodohnya Ryan pemilik restoran sebelah!".
Karina langsung menoleh ke arah Andi. Bukannya menatap sang kakak, Andi langsung pergi dari sana. Kebetulan saat itu juga ada Dhika disana dan dia mendengar semua perdebatan Andi dengan Karina.
"Kita ke restorannya Ryan yuk!" ajak Dhika yang dimana Andi sudah berada di sebelahnya.
"Ayo! Kau yang dorong kursi rodaku" jawab Andi dengan wajah datarnya.
Dhika langsung menuruti perintah Andi. Mereka berdua akhirnya memutuskan makan siang di restoran Ryan.
__ADS_1
Bimo yang melihat dua pamannya langsung melambaikan tangan. Mereka berdua berjalan mendekati keponakannya. Andi tidak bisa duduk di sebelah Bimo karena dia masih menggunakan kursi roda tapi Dhika menghadapkan Andi di depan Bimo.
"Paman Andi masih sakit? Terus paman Hans kemana ? Tumben tidak bersama paman" tanya Bimo kepada Andi.
"Masih Bim dan paman harus meminum banyak obat,hadehhh... Untuk Hans...... Paman sangat kesal dengan dia! Masa iya paman ditinggal sendirian sedangkan dia pergi entah kemana! Tidam bilang - bilang lagi! Dasar jahat! Itu juga kak Karina! Kenapa kakak tidak mau memberitahu keberadaan Hans?! Padahal paman rindu sama Hans!" jawab Andi yang tanpa sengaja mengungkapkan kekesalannya.
"Sabarlah Andi! Mungkin Hans masih pergi dinas makanya dia tidak memberitahumu atau mungkin ada pekerjaan mendadak sebab itu dia tidak memberitahumu" ucap Dhika yang berusaha menenangkan Andi.
"Aku tidak terima pokoknya! Kalau memang benar mendadak kenapa dia bisa memberitahu kakak?! Sedangkan aku tidak! Ada apa sih dengan manusia satu itu?!" Andi masih merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh Hans.
"Kenapa paman Andi terus saja marah - marah sama paman Hans? Apakah paman pacarnya paman Hans?" pertanyaan yang dilontarkan Bimo mampu membuat kedua pamannya terdiam.
Setelah dipikir kembali Hans dan Andi tidak memiliki hubungan asmara. Hubungan mereka hanya sekedar sugar daddy dan sugar baby. Andi kembali memikirkan omongan tadi yang dia keluarkan. Dia bingung harus menjawab apa pertanyaan Bimo.
"Paman Hans sedang berusaha mendekati paman Andi sebab itu mereka terlihat dekat dan kelihatannya usaha paman Hans berhasil" Dhika memutuskan membantu Andi menjawab dari pada dia melihat keponakannya menanti jawaban terus.
Andi merasa sedikit lega setelah Dhika membantunya. Tidak lama kemudian Ryan datang dengan membawa makanan yang sudah dipesan Bimo tadi.
"Ini makanan kalian,silakan! Eh ada musuh abadiku ternyata" Ryan langsung tersenyum devil saat melihat wajah Andi.
"Tadi Bimo yang pesan, apa kau memesan juga?" Dhika kemudian menjadi penengah diantara mereka berdua.
Bimo sangat senang melihat steak dan susu ada dihadapannya. Andi menyebut pesanannya dan Ryan mencatatnya begitu juga dengan Dhika yang ikut memesan. Ryan kembali ke dapur untuk menyerahkan catatan pesanan tersebut.
Setelah memberikan kertas yang bertulis pesanan Dhika dan Andi, Ryan kembali ke tempat Bimo duduk. Andi sedikit bingung dengan pemilik restoran tersebut. Dalam pikiran Andi tersimpan sebuah pertanyaan untuk Ryan.
"Kenapa kau tidak mengambil pesanan kami?" tanya Andi sambil memainkan ponselnya.
"Aku bossnya disini dan yang mengambil pesananmu nanti adalah pegawaiku" jawab Ryan dengan senyum yang dipaksa.
"Lalu untuk apa kau mencatat pesanan kami sedangkan kau memiliki beberapa pegawai?" Andi memulai adu mulut dia dengan Ryan sedangkan Dhika hanya bisa geleng - geleng kepala saja melihat pertengkaran mereka berdua.
"Itu merupakan sikap sopan santun saya kepada tuan Dhika dan tuan Andi".
"Oh begitukah? Tapi senyuman tuan Ryan seperti dipaksa,apakah anda tertekan dengan kehadiran saya?".
__ADS_1
"Sedikit saja! Sebagian besarnya saya ingin membungkam mulut tuan Andi yang tajam itu".
"Hahaha... Mulut saya tidak tajam hanya sedikit pedas".
Ryan sudah kehabisan kata - kata untuk melawan ucapan Andi. Bimo dan Dhika yang duduk disana seketika berubah menjadi penonton bayaran. Tiba - tiba saja ponsel Andi berdering. Ketika dia melihat layar ponselnya dia langsung bersemangat dan segera menjawab panggilan telepon tersebut yang ternyata dari Hans.
"Halo Hans! Kau dimana? Aku merindukanmu" tanya Andi yang sangat senang.
"Ahhh~... Pelan... Pelan tuan Hans.... Ahhh~..... Sabarlah Nika ini tidak akan sakit" suara yang muncul tersebut memang suara Hans tapi dia sedang bersama seorang wanita dan mereka sepertinya sedang melakukan bercocok tanam.
Ponsel Andi terjatuh dari genggamannya dan Andi terdiam saat mendengar suara itu. Tanpa disadari Andi meneteskan butir air matanya.
"Panggil aku sayang Nika! Ayo katakan!..... Sayangku tuan Hans.... Ahhh!!!... Kenceng sekali sayang! Ah! Sabarlah sedikit lagi aku keluar... Pak! Pak! Pak!" suara Hans dan wanita yang bernama Nika tersebut masih terdengar jelas di telinga Andi.
Andi memberanikan diri mengambil ponselnya kemudian dia membanting ponselnya ke lantai sampai rusak dan mati. Belum selesai sampai disitu saja Andi juga berkali mengulangi tindakannya tersebut sampai tangannya berdarah terkena kaca layar ponselnya. Dhika menarik kursi roda Andi dan berusaha menyadarkan adiknya.
"Akhhhhh!!!!!... Sialan kau!!!... Awas saja kau! Akhhh!!!!!!!!... Aku benci kau Hans!!! Aku benci!!! Benci sekali!!!" teriak Andi seperti orang gila yang juga mengacak - acak rambutnya dan memberontak saat kedua tangannya dipegangi oleh Dhika.
Pelanggang yang makan di restoran seketika merasa tidak nyaman melihat Andi. Mereka memutuskan membayar lebih awal kemudian pergi dari sana. Melihat para pelanggangnya yang pergi Ryan terpaksa menutup restorannya sementara waktu sampai kondisi Andi lebih tenang.
...****************...
Andi bisa terduduk diam karena kedua tangan dan kakinya diikat oleh Dhika dan Tio. Mereka terpaksa melakukan itu agar Andi tidak melukai dirinya sendiri.
"Paman Andi kenapa? Kenapa paman diikat?" tanya Bimo yang masih bingung dengan situasi sekarang.
"Paman Andi hanya sedikit kesal saja Bimo jadi,jangan khawatir!" jawab Ryan mengelus pucuk rambut Bimo.
Dhika sudah kembali bersama sang kakak. Karina langsung berjongkok dihadapan Andi dan perlahan - lahan menanyakan kondisi sebenarnya walaupun dia sudah mengetahui masalah sebenarnya.
"Andi tenang dulu,ya? Ini aku! Karina! Jadi tenang dulu,ya? Aku ada disisimu jadi tenanglah" ucap Karina yang berusaha menenangkan Andi sambil mengusap punggung telapak tangan adiknya.
Andi tidak menjawab pertanyaan Karina sama sekali. Pandangan Andi terlihat kosong seolah - olah dia sudah kehilangan energi kehidupannya.
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>