
Setelah membahas pernikahan dengan waktu yang cukup lama akhirnya kakek Dito mengeluarkan keputusan kalau Andi bisa menikah tapi acaranya harus tertutup. Yang lain juga menerima keputusan kakek Dito.
Dhika merasa kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak melamar Kaila lebih awal. Namun, Kaila yang mengetahui rasa kecewa Dhika dengan segera menggenggam kedua tangan Dhika dan meyakinkannya.
Setelah semua pembahasan itu mereka kembali ke rumah masing - masing. Ketiga cucu kakek Dito ditambah cicitnya berpamitan kepada sang kakek. Selesai berpamitan barulah mereka masuk ke mobil masing - masing.
Di dalam perjalanan Karina merasa khawatir dengan keputusan kakeknya. Memang saat di rumah kakeknya tadi Karina menerima keputusan kakek Dito tapi entah darimana muncul saja rasa khawatir di benaknya.
"Kau kenapa Karina? Kau terlihat cemas memangnya ada apa?" tanya Ryan yang fokus ke jalanan.
"Aku merasa khawatir dengan keputusan kakek tadi, apa hal ini akan baik - baik saja?" jawab Karina yang semakin merasa khawatir.
"Tadi kau menerima keputusan kakek Dito dan sekarang merasa ragu, apa yang khawatirkan dari keputusan kakek Dito?" Ryan sedikir melirik ke wajah cantik Karina.
"Aku takut jika saat hari pernikahan Andi nanti Hans membuat rencana untuk menghancurkan pernikahan Andi atau bisa saja menculik Andi" tangan Karina gemetaran saat memikirkan hal negatif.
"Jangan khawatir Karina! Andi itu kuat dan dia memiliki pasukan yang hebat jadi, sudah jelas kalau acaranya akan berjalan lancar" tangan kanan Ryan menggenggam tangan Karina yang gemetaran.
"Apa kau yakin?".
"Tentu saja! Jika terjadi hal sesuatu yang tidak - tidak di acara pernikahan Andi maka,aku akan menghancurkan orang yang mengganggu acara Andi".
"Terima kasih Ryan! Aku mulai merasa tenang saat kau mengatakan hal itu" Karina tersenyum manis menghadap Ryan.
Perasaan senang Ryan tidak dapat disembunyikan. Walaupun Ryan sudah menutup mulutnya dengan tangannya sendiri tapi tetap saja ekspresi bahagia Ryan terlihat.
"Cie! Cie! Cie! Paman Ryan! Mulai terbawa perasaan nih,hahahaha" Bimo memergoki Ryan yang terbawa perasaan.
"Mana ada Bimo! Ini semua salah ibumu! Siapa suruh senyumnya manis sekali" wajah Ryan memerah seperti tomat dan menyalahkan Karina atas penyebab dirinya jadi terbawa perasaan.
"Hah?! Kok aku disalahin?! Kamu yang salah! Siapa suruh mentalmu lemah?!" Karina tidak terima dirinya disalahkan.
"Mentalku tidak lemah sama sekali hanya....".
"Hanya apa? Katakan Ryan!".
"Akhh! Tahu ah! Terserah kalian saja malu aku membicarakan hal ini".
__ADS_1
Karina dan Bimo tertawa melihat wajah Ryan yang semakin memerah. Ryan berusaha menahan perasaan malunya tapi hal itu tidak bisa ditutupi karena dirinya sudah terlanjur malu.
...****************...
Mari kira beralih ke pasangan yang akan menikah. Andi tidak membuka pembicaraan sama sekali dan sibuk dengan ponselnya sendiri. Hiro yang menyadari dirinya terabaikan langsung mengambil ponsel Andi dan meletakkannya di tasnya.
"Sayang! Apa yang kau lakukan?! Sebentar lagi aku menang!" protes Andi.
"Sudah cukup main ponselnya! Lebih baik urusi saja calon suamimu ini!" jawab Hiro yang memanyunkan bibirnya.
"Hahaha... Jadi ada yang marah nih! Iya! Iya! Aku ladeni,apa maumu?" Andi tersenyum miring menghadap Hiro.
"Iya aku marah! Puas kau?!".
"Jangan bentak aku seperti itu dong!".
"Kau kan biasanya suka dibentak saat berada di bawahku".
"Hei! Itu lain pembahasan! Ada - ada saja kau ini".
"Oh... Ternyata kau sengaja melakukannya,ha?! Dasar pria nakal!".
"Aduh! Jangan memukulku! Aku minta maaf! Aku minta maaf".
Andi kembali duduk manis di kursinya dengan melipat kedua tangannya dan pipinya dikembungkan. Hiro berusaha menahan tawanya melihat keimutan sang tunangan. Andi menoleh ke arah Hiro dan kyuuuttt cup!... Hiro melayangkan satu kecu pan di bi bir Andi.
"Hei!".
"Dengar! Jangan kaget seperti itu! Kita sudah melakukan hal yang lebih dari ini".
"Iya aku tahu! Tapi tadi itu membuatku kaget".
"Hahaha... Makin sayang deh sama kamu".
"Hihi... Aku juga makin sayang sama kamu".
Hiro memberi elusan di kepala Andi. Mereka berdua kembali melihat ke arah depan. Mobil Hiro melaju cepat ke apartement Andi.
__ADS_1
...****************...
Beberapa hari berlalu Karina,Ryan,Bimo,Dhika,dan Kaila sibuk menyiapkan acara pernikahan Andi. Yang nikah siapa yang repot siapa hadeuhhh... Heran author.
Karina dan Kaila sibuk mencari baju nikahnya dan untuk Ryan,Dhika,dan Bimo sibuk menyiapkan dekorasi. Andi meminta agar acara pernikahannya dilaksanakan dengan kemegahan dan kemewahan. Karina dan Dhika tahu Andi lebih kaya dari pada dua kakaknya tapi mereka berpikir kenapa harus pakai uang kedua kakaknya. Namun Andi tidak membiarkan kedua kakaknya keluar uang banyak. Andi memberikan dua kartu kreditnya dengan jumlah masing - masing seratus miliar. Tentu saja Karina dan Dhika langsung menyiapkan yang terbaik untuk adiknya.
Hari ini Ryan dan Bimo sudah selesai membantu Dhika memilih dekorasi. Bimo berlari keluar gereja dan tanpa sengaja matanya melihat seorang pria tua berdiri sendirian di ujung gereja. Memangnya Bimo ingin menghampiri pria tua itu tapi karena ibunya memberi pesan agar tidak mendekati atau dekat dengan sembarang orang. Jadi,Bimo memutuskan untuk mencari Ryan agar menemaninya.
"Paman Ryan! Temani aku cari kakek itu yuk!" ajak Bimo yang menarik tangan Ryan.
"Yang disebelah sana?" Ryan menunjuk kakek tua di ujung sana.
"Iya! Ayo paman!" Bimo terus menarik tangan Ryan.
Akhirnya Ryan memilih mengikuti permintaan so bocah manis. Mereka berdua menghampiri kakek tersebut. Tapi saat Ryan akan menyapanya kakek tersebut menoleh ke arah mereka tapi kakek itu bukan kakek tua asli melainkan dia adalah Hans.
"Hm? Hans! Apa yang kau lakukan disini? Kenapa rupamu lecek seperti pakaian tidak pernah disetrika?" tanya Ryan yang kebingungan melihat penampilan Hans.
"Ayahku mengusirku dari rumah karena aku menolak Nika. Memang kenyataannya kalau Nika yang menjebakku tapi ayah tidak mempercayaiku sama sekali sehingga dia menarik semua fasilitas yang aku miliki dan beginilah kondisiku sekarang" jawab Hans yang menjelaskan kondisi dia sekarang.
"Apa kau punya tempat tinggal sekarang? Atau kau punya uang?" Ryan merasa sedikit kasihan melihat keadaan Hans.
"Aku tinggal di apartement yang ditempati Andi. Aku tinggal disana bukan untuk membututi Andi tapi memang bayaran apartement disana murah makanya aku tinggal disana dan untuk masalah uang aku masih memiliki empat kartu atmku" Hans menatap langit saat menjawab ucapan Ryan.
"Kasihan sekali kondisi paman Hans... Coba saja paman Hans tidak bermain bola saat itu bersama wanita lain pasti paman Hans sudah jadian sama paman Andi" ucap Bimo yang ikut kasihan dengan kondisi Hans sekarang.
"Hehehe... Akunya saja yang bo doh bisa begitu mudahnya mempercayai wanita seperti Nika" Hans terkekeh pelan mengingat kebo dohan dia.
"Sudahlah Hans! Jangan dipikirkan lagi! Besok kau harus memperjuangkan yang lebih baik dari pada Andi" Ryan memberikan semangat kepada Hans.
"Terima kasih Ryan! Tapi Andi adalah mahluk yang paling sempurna menurutku" Hans mengangguk pelan mendengar dukungan Ryan.
DIJUAL PRIA TAMPAN DAN KAYA YANG BERNAMA HANS AYO SIAPA MAU BELI TINGGAL ISI KOLOM KOMENTAR SAJA
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>
__ADS_1