Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 80: Ibunya Ryan sudah pergi


__ADS_3

Sekarang Ryan dan Karina sedang berada di rumah sakit terdekat untuk melihat kondisi ibunya Ryan. Ambulans lain sudah membawa ibunya Ryan tadi dan pihak polisi sedang menyelidiki penyebab kecelakaan,siapa tahu ada pihak - pihak tertentu yang sengaja ingin menabrak mobil ambulans tersebut.


Karina sedang menemani Ryan duduk di luar ruang pemeriksaan ibunya. Dua terus mengelus punggung Ryan untuk menenangkannya. Ryan terus memijat pelipisnya dan masih tidak menyangka kalau ibunya akan mengalami kecelakaan seperti ini. Karina sudah menghubungi Ryaiden untuk segera ke rumah sakit tempat ibunya sekarang.


"Berdoa terus ya honey? Aku yakin ibumu pasti selamat" ucap Karina yang masih berusaha menenangkan pacarnya.


"Apa ini salahku karena telah mencuri uang ibu atau karena aku lari dari rumah sampai ibu menerima karma ini? Huhuhu...." Ryan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa ibunya.


"Jangan berkata seperti itu Ryan! Ibumu pasti selamat! Kita harus yakin!" Karina meyakinkan kalau kejadian ini bukan Ryan penyebabnya.


"Bagaimana aku bisa yakin,Karina? Aku saja sudah meragukan ibuku selama ini" Ryan masih yakin kalau dirinya lah penyebab kejadian ibunya.


Karina yang ingin berbicara tiba - tiba saja terdengar suara pintu ruang pemeriksaan terbuka. Ryan langsung berdiri dan menanyakan kondisi ibunya.


"Bagaimana keadaan ibu saya,dokter? Apa dia baik - baik saja?" tanya Ryan yang memegang kedua lengan dokter tersebut.


"Maafkan kami tuan kami sudah berusaha dan ibu anda...


tidak bisa diselamatkan. Saya turut berduka cita tuan" jawab dokter tersebut.


Ryan terdiam sejenak lalu melepaskan pegangannya dan berjalan mundur. Karina juga terkejut mendengar kabar tersebut. Tanpa mereka berdua sadari kalau di belakang mereka ada Ryaiden yang mendengar semua kabar tersebut.


"Sekarang kami akan memindahkannya ke kamar mayat,permisi tuan" dokter dan perawat mendorong bangkar tersebut keluar ruang pemeriksaan menuju kamar mayat.


Ryaiden terdiam mendengar melihat mayat ibunya sudah ditutup kain putih. Ryan memandang mayat ibunya dengan pandangan kosong. Kedua putranya yang membenci ibunya sendiri akhirnya bisa menangis dan merasa kehilangan setelah ibunya pergi untuk selama - lamanya. Sejak mereka berdua pergi dari rumah, tidak ada salah satu diantara mereka merasa rindu atau merasa ada yang kosong dalam hidupnya. Sekarang baru mereka merasakannya.


"Apa tadi itu kak?! Apa?! Katakan!" tanya Ryaiden yang membentak Ryan dengan air mata bercucuran.


Ryan tidak kuat untuk menjawab pertanyaan adiknya karena dirinya dilanda perasaan kehilangan juga. Dia menggigit bibirnya seolah - olah melampiaskan tangisannya. Karina ingin membantu menjawab tapi ia sadar kalau masalah ini hanya berhubungan dengan dua saudara tersebut.


"Jawab kak! Kenapa kau diam dan menangis,hah?! Apa yang dikatakan dokter barusan?! Kenapa hal ini bisa terjadi kepada ibu?!" Ryaiden menggoyangkan tubuh kakaknya agar segera menjawab pertanyaannya.


"Ibu sudah TIADA! Awal kejadian ini aku bertemu dia di depan minimarket kemudian aku meminta Karina untuk segera menghubungi ambulans dan saat kita dalam perjalanan menuju rumah sakit,ambulans itu lolos kemudian ada dua mobil yang menabraknya! Disanalah ibu meninggal! AKHHHH!!!..." jawab Ryan yang tidak kuat menahan emosinya.

__ADS_1


Ryaiden hanya terdiam setelah mendengar cerita kakaknya. Karina tidak bisa berbuat apa - apa ketika melihat kakak beradik itu sudah merasa kehilangan. Dokter kembali ke Ryan untuk memberitahu penyebab kematian ibunya.


"Permisi tuan! Saya hanya ingin memberitahu penyebab kematian ibu tuan. Penyebab ibu tuan meninggal adalah tabrakan tadi tapi sebenarnya ibu tuan masih bisa selama namun tiba - tiba saja jantung ibu tuan tidak berdenyut kembali. Saya juga tidak mengerti jantung ibu tuan berhenti padahal sebelumnya normal mungkin ini sudah takdir ibu tuan, semoga keluarga tuan diberi ketabahan saya permisi" ucap dokter tersebut yang menjelaskan penyebab kematian ibunya Ryan.


"Terima kasih atas informasinya dok" jawab Ryan yang menahan tangisannya sebentar.


Ryaiden menembenturkan kepalanya di dinding kemudian memukul - mukul dinding tersebut. Anak bungsu tersebut tidak dapat menahan rasa sesak di dadanya dan rasa tangisannya. Ryan memeluk erat Karina lalu menangis di dalam pelukan sang kekasih.


Kakak beradik itu bingung bagaimana harus mengabari sang ayah. Masalahnya sang ayah lagi sakit dan sebentar lagi akan menikah dengan wanita barunya. Tapi Ryan tetap bertekad mengabari sang ayah apapun keadaannya.


...****************...


Beberapa jam kemudian Ryan menghubungi sang ayah untuk memberitahukan kabar duka ini. Karina menepuk pelan lengan Ryaiden yang tidur di pahanya diakibatkan anak bungsu itu menangis sangat keras hingga dia kelelahan.


Tuuutttt...


"Halo ayah! Ini aku Ian atau Ryan".


"Ah! Ahh! Ah~..... Aduh pak Burdir~... itumu sangat kuat... Bisa - bisa aku hamil gara - gara dirimu... Hm~..." yang menjawab bukan pak Burdi melainkan seorang wanita yang sedang bermain dengan ayahnya Ryan.


"Halo? Siapa ini?" barulah ayah Ryan menjawab.


"Anak sulungmu! Hei pak Burdi! Istrimu meninggal karena kecelakaan kau harus datang ke acara pemakamannya tiga hari lagi".


"Ohh... Ryan ternyata! Aku ingat nama lainmu. Istriku meninggal? Oke ya sudah".


"Apa kau tidak sedih pak tua?! Itu istrimu!".


"Dengar baik - baik ini Ryan! Ayah sudah lelah dengan pernikahan ini karena kenapa? Karena ibumu sibuk bermain api dengan pria lain sejak Ryaiden berusia lima tahun. Pada saat itu ayah sangat mencintai dia melebihi ayah sendiri tapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri, ayah mulai tidak percaya dan mulai mencampakkan dia".


"Lalu?".


"Ayah memutuskan ikut bermain api dengan wanita lain. Ayah sengaja membiarkan kau dan adikmu bermain di rumah paman Niki karena ayah berpikir jika kalian disana maka,kalian akan mendapatkan banyak kasih sayang,pelajaran,dan segala sesuatu yang tidak kita miliki di rumah. Juga ayah merasa bersyukur kalau kalian sering main kesana sebab ibu kalian sering membawa prianya ke rumah. Terserah kalian mau membenci ayah atau tidak namun ayah akan tetap datang ke pemakaman ibu kalian".

__ADS_1


"Terima kasih ayah! Apa ayah jadi mencoret nama kami berdua di kartu keluarga?".


"Jadi! Ayah ingin kalian bebas dari ikatan keluarga yang menyebalkan ini dan memulai keluarga sendiri lagipula ayah sudah mengganti marga ayah menggunakan marga nenek".


"Cih! Nama marga terkenal dipakai agar para wanita tertarik".


"Hahaha.... Jangan lupa datang ke pernikahan ayah".


"Maaf kami tidak datang karena wanita yang ayah akan pinang membuang anaknya. Kan ayah paling sensitif untuk masalah anak".


"Dimana anak yang dia buang?".


"Sekarang bersama Ryaiden di markasnya".


"Ayah akan memberikan pelajaran kepada wanita tersebut karena telah membuang darah dagingnya sendiri! Lihat saja!".


"Haha... Jaga dirimu ayah! Jangan lupa datang dan jangan main keras - keras".


"Iya! Iya! Ayah sayang padamu".


Ryan hanya tersenyum setelah menutup panggilan telepon ayahnya. Dia duduk di sebelah Karina yang dimana sang kekasih mulai mengantuk.


"Sweetie.... Kita kembali ke villa dulu yuk?" ucap Ryan dengan pelan membangunkan Karina.


"Hm? Ayo dah! Aku mulai mengantuk,hoaammm~...." jawab Karina yang membangunkan Ryaiden.


Ketiga orang tersebut kembali ke tempat masing - masing dengan dua lokasi terpisah yang satu kembali ke rumah dan sisanya pergi ke villa. Ryan memperingatkan sang adik untuk berhati - hati mengemudi di malam hari. Pasangan tersebut masuk ke mobilnya Ryan yang terparkir rapi dan melaju kembali ke villa.


Di dalam perjalanan kembali menuju villa,Ryan tidak merasa mengantuk sama sekali. Entah mengapa dirinya bisa tidak mengantuk sama sekali padahal kemarin dirinya begadang sampai jam satu pagi untuk membuat konsep baru restorannya. Ryan menoleh ke arah Karina dan mendapati sang kekasih sudah tertidur nyenyak.


"Hehehe... Imut sekali janda satu ini".


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA LOVE YOU GUYSSS SORYY BNYK TYPO KMRN

__ADS_1


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>


__ADS_2