
Catatan penting: untuk para anything yang bertanya - tanya kenapa belum keliatan hasil revisi dari tadi karena diriviewnya kelamaan! Bikin author kesel aja riview lama - lama. Ini buktinya
Tuh! Tadi jam lima pagi author liat masih aja dirivieq terus selesainya klo ndk salah sekitar jam sepuluh atau setengah sebelas tadi. Sekali lagi author minta maaf,sekian terima kasih.
...----------------...
Sekarang mari kita beralih ke Karina yang menyambangi kondisi kekasihnya. Karina sudah memasuki ruangan yang dimaksud kakeknya tadi dan merasa sangat bersalah setelah melihat kondisi sang kekasih. Saat ini Ryan sedang tertidur pulas dengan tangan kanannya yang terbalut perban, tangan kiri terpasang selang infus, kedua kakinya ditemukan banyak luka lebam,dan banyak luka jahitan di sekitar tubuhnya. Tapi yang paling parah adalah luka jahitan tepat di bagian leher bagian kiri dan lengan kirinya.
Karina berjalan mendekati ranjang yang ditempati Ryan. Tangan Karina menyentuh tangan kanan Ryan yang terbalut perban. Di wajah Ryan terlihat beberapa bekas pukulan. Hati Karina sangat terluka saat melihat kondisi Ryan saat ini. Tangan Ryan bergerak sedikit yang membuat Karina reflek menarik tangannya. Mata Ryan terbuka dan melihat Karina ada di sampingnya.
"Kenapa kau ada disini? Bukankah aku sudah melarang Andi untuk tidak mengajakmu kesini? Lalu kenapa kau masih ingin ikut?" tanya Ryan dengan suara lemah.
"Maaf..... Maafkan aku Ryan..... Aku tahu kalau penyebab dirimu terluka seperti ini gara - gara aku.... Dan aku minta maaf untuk tidak menuruti perintahmu untuk tidak datang kesini...." jawab Karina dengan sesunggukkan.
"Kenapa kau menangis Karina? Tidak ada gunanya kau menangis lagipula aku sudah memaafkanmu dan semua sudah terjadi jadi tidak perlu minta maaf" Ryan mengangkat sedikit tangannya yang terluka yang dimana dia hendak menggenggam tangan Karina.
"Jangan mengatakan hal seperti itu! Ini salahku! Ini.... Huhuhu...." Karina menggenggam tangan Ryan dengan kedua tangannya.
"Ayolah sweetie! Tidak gunanya kau menangis sekarang yang perlu kau lakukan' saat ini adalah membuat keputusan".
"Membuat keputusan? Keputusan apa Ryan ? Aku tidak paham".
"Kau sudah minta maaf tapi kau masih tidak paham dengan masalahmu sendiri".
"Aku tidak mengerti Ryan! Tolong katakan! Aku memang memiliki masalah dengan Silver tapi.... Tunggu dulu! Maksudmu, kau menyuruhku untuk membuat keputusan untuk segera mengakhiri hubungan dengan Silver?".
"Benar! Namun lebih tepatnya adalah kau pilih dia atau aku? Setelah kau membuat keputusan kau harus mengatakan secara langsung kalau kau ingin mengakhiri hubungan dengan orang yang kau tolak".
__ADS_1
"Tentu saja aku memilihmu! Kenapa aku tidak memilihmu?! Kau itu adalah kekasihku! Besok aku temui Silver secara langsung!".
"Sebaiknya kau pergi bersamaku saja".
"Jangan! Kondisimu masih lemah Ryan,bagaimana mungkin aku mengajakmu pergi dalam keadaan seperti ini?!".
"Aku harus pergi karena aku punya dendam yang aku harus balaskan secara pribadi kepada manusia licik itu!".
Karina bisa melihat keteguhan hati Ryan yang sangat ingin balas dendam. Tapi jika dia ingin mengajak Ryan tentu saja kakek Dito akan marah besar karena membawa Ryan keluar dalam keadaan seperti ini. Namum jika dia lakukan secara diam - diam maka hasilnya sama saja ditambah kediaman lama memiliki penjagaan yang sangat ketat dan hanya orang - orang tertentu yang bisa masuk.
"Tapi Ryan jika aku mengajakmu pergi yang ada aku akan dimarahi oleh kakek" ucap Karina yang menarik salah satu kursi kemudian duduk di sebelah ranjang.
"Nanti aku yang bicara pada kakek Dito" jawab Ryan dengan santainya.
"Bagaimana kau bisa meyakinkan kakek? Kakek adalah orang yang sangat keras kepala" Karina masih belum berani menerima keputusan Ryan.
"Karina! Dengarkan ini baik - baik! Silver sekarang adalah musuhku! Dan dalam prinsipku siapapun yang telah menghajarku maka aku harus membalasnya berkali - kali lipat. Sekarang kau paham?" Ryan menjelaskan alasan dia tetap ingin pergi.
"Hahaha.... Kau imut sekali".
Karina sontak saja wajahnya berubah merah setelah mendengar pujian tersebut. Ryan tersenyum miring melihat wajah Karina yang berubah merah. Wajah Ryan dimajukkan sedikit kemudian memberikan kecu pan ringan di bi bir manis Karina.
"Hmm! Masih sakit masih saja suka menggoda! Tahu ah!" Karina mendorong tubuh Ryan untuk melepaskan tautan.
"Hehe.... Kau itu terlalu manis,sweetie" Ryan menjilat bibirnya sendiri setelah tautan lepas.
"Iya dong! Kan aku kesayangannya Mr. Ryan".
"Ohoho..... Semakin berani ternyata".
__ADS_1
"Hehehe.... Tidak! Hanya bercanda".
"Terserah kau saja! Oh ya sweetie! Bagaimana kalau aku menta to tubuhku?".
"Eh?! Kenapa?! Tubuhmu masih banyak luka kayak gini masih saja mau minta di ta to".
"Aku ingin menutupi luka - luka ini makanya aku ingin men ta to nya. Tidak seluruh tubuhku kok hanya lengam kiri dan leherku saja".
"Di leher terlalu beresiko".
"Tidak apa - apa sweetie! Aku punya teman yang ahli dalam melukis tubuh".
"Ya sudah kalau begitu".
Setelah melakukan pembicaraan panjang Karina memberi Ryan makan dulu. Ryan menolaknya karena dia sudah makan tadi tapi Karina tetap memaksa Ryan untuk tetap makan agar cepat sembuh. Akhirnya Ryan menerimanya walaupun harus makan sambil menangis.
●•●•●•●•●•●•●•●•●•●•●•●
Karina mengatakan besok akan mengajak Ryan untuk pergi menemui Silver namun nyatanya dua minggu kemudian. Kenapa demikian? Karena kondisi kesehatan Ryan yang tiba - tiba saja drop dan mengharuskannya dirawat di rumah sakit. Untungnya Ryan tidak sampai pingsan.
Jadi setelah dua minggu akhirnya Karina dan Ryan bisa menemui Silver. Lokasi pertemuan mereka adalah di suatu kafe yang sudah disewa satu lantai oleh Silver. Karina menertawakan penampilan Ryan yang banyak bekas luka. Inilah alasan Ryan memutuskan untuk melukis tubuhnya.
Mereka duduk di salah satu meja dan sudah menunggu selama setengah jam lebih. Ryan tampak kesal karena sudah menunggu terlalu lama dan sebentar lagi dia memiliki jadwal melukis tubuh dengan temannya. Jadwal tersebut tidak diketahui sama sekali oleh Karina karena mungkin saja dia akan melarangnya dan mengatakan "Kau itu baru sembuh masa sudah bikin ta to?! Tidak boleh!". Makanya Ryan sengaja melakukannya secara diam - diam.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya yang ditunggu tiba juga. Ryan berusaha sabar karena mungkin saja dirinya akan langsung meledak jika tidak menahan emosinya. Silver tampak terlihat biasa saja dan lebih menaruh pandangan ke arah Karina.
"Baiklah! Apa yang ingin kalian katakan?" tanya Silver dengan menggunakan tangannya untum menumpu dagunya.
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA LOVE U ANYTHING
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>