
Dhika terkejut mendengar ucapan Ryan. Bagaimana mungkin Ryan bisa menemukan pelakunya secepat ini?!.
"Siapa pelakunya?! Katakan Ryan" Dhika langsung berdiri mendengar kabar tersebut.
"Namanya Jack, dia temen SMAku dan Andi pernah melakukan kejahatan kepada adiknya Jack" Ryan menjelaskan sedikit tentang Jack.
"Darimana kau tahu? Apa dia memberikanmu informasi apapun?".
"Ya dia mengirim pesan chat kepadaku dan tadi pagi aku baru menemuinya namun sayangnya aku gagal menangkapnya".
"Apa kau ingat bagaimana rupa dia atau kau mengingat sesuatu yang lain tentang si Jack itu?".
"Mobil dia warna biru tua saat dia kabur terus bentuk mobilnya seperti mobil jaman dulu begitu kalau masalah bagaimana rupa Jack, aku punya fotonya".
Ryan membuka ponselnya dan langsung mencari foto Jack. Setelah mendapatkan foto Jack, Ryan langsung menyerahkannya kepada Dhika.
"Saranku sebaiknya kau jangan melapor polisi dulu kalau tidak media akan melahap berita - berita yang tidak sesuai peristiwa, sebaiknya kita cari bukti dan Jack saja kemudian kita ajak bicara" ucap Ryan yang menerima kembali ponselnya.
"Kenapa kau mengatakan seperti itu? Apa untungnya kita bicara dengan dia?!" Dhika kurang menerima saran Ryan yang dianggap sia - sia.
"Pembicaraan ini ada untungnya! Dengan kita bicara sama Jack pasti dia memberitahu alasan kita kenapa dia menyebarkan berita bohong tentang Andi? Jika pembicaraan ini berhasil maka Jack akan mencabut kasusnya serta berita yang dia sebarkan pasti langsung dihapus!" Ryan sedikit membentak Dhika.
"Bagaimana jika tidak berhasil? Apa yang harus kita lakukan?".
"Kita coba saja dulu, pertama kita cari lokasi keberadaan dia".
Dhika langsung menelpon beberapa anak buah terpercayanya untuk segera ke kantornya. Ryan sebenarnya tahu beberapa tempat yang biasa dikunjungi Jack tapi mungkin saja Jack akan berpindah - pindah tempat agar tidak ketahuan.
Di sisi lain Jack yang sedang berada di sebuah gudang tua dekat pelabuhan wilayah barat. Saat ini Jack sedang menikmati mie instan kuah. Andi yang masih merasakan panas dalam tubuhnya sudah merasakan dirinya akan segera tiada. Dia terus memberontak dan bergejolak supaya bisa lepas.
"Heh! Diam kamu!" Jack melempar batu ke arah kaki Andi agar diam.
Tapi tetap saja Andi memberontak bahkan lebih parah dari yang tadi. Jack sangat kesal mendengar kericuhan yang dibuat Andi.
Dia beranjak dari tempat duduknya menuju kursi tempat diikat Andi. Yang diikat bisa merasakan kehadiran musuhnya dihadapannya. Tangan kanan Jack mengangkat cup mie yang berisi kuah panas. Lalu dia tumpahkan tepat di paha Andi.
"HMM! EKKHH!!!" jerit Andi yang mulutnya diikat kain.
"Hahaha.... rasakan manusia jahat! Coba saja kau tidak merusak adikku maka kejadian ini tidak akan terjadi!" Jack mengakhiri kalimatnya dengan menampar pipi Andi sangat keras.
Andi benar - benar sudah dikuat dirinya seperti ini,dimulai dari kedua tangan dan kakinya yang diikat kuat di kursi,badannya diikat di kursi,mulut dan mata juga,dan sekarang pahanya disiram kuah panas ditambah ditam par lagi. Sedangkan yang menyiksa Andi merasakan kepuasan yang tiada tara.
Jack pergi mengambil sesuatu dipojokkan. Terdapat kotak berukuran besar yang berisi alat untuk menyiksa seseorang. Tangan Jack mengambil sebuah pecut panjang. Dia menutup kotak tersebut kemudian kembali menghampiri Andi.
"Rasakan ini!" Jack mengarahkan satu pecutan ke lengan kanan Andi.
"HMM!".
__ADS_1
"Ini lagi! Lalu ini! Dan ini!" Jack mengarahkan ke lengan kiri,badan,dan perut Andi secara beruntun.
"Bagaimana? Sakit tidak? SAKIT TIDAK?! JAWAB! Oh iya aku lupa kalau mulutmu diikat jadi tidak bisa menjawab,hahaha.... ini yang terakhir rasakan!" Jack yang hendak menyerang kembali tiba - tiba saja ada seseorang yang memegang tali pecutnya.
Orang tersebut menarik tali tersebut ke belakang sampai membuat Jack ikut terhempas. Jack terbentur di tembok dan tidak sadarkan diri. Orang tersebut langsung membuka semua ikatan yang ada di seluruh tubuh Andi.
Setelah dibuka Andi terjatuh lemas. Namun orang tersebut langsung menangkapnya Andi masih dalam keadaan sabar walaupun hanya sedikit. Dia biaa melihat samar - samar yang menyelamatkan dia tersebut.
"Ter...ima...kasih" ucap Andi yang masih lemah.
Orang tersebut langsung membawa Andi pergi dari sana. Mobil orang tersebut langsung melaju menjauh dari gudang tersebut.
Selama diperjalanan tidak ada pembicaraan apapun. Orang tersebut merasa canggung saat akan mengajak Andi bicara. Kenapa demikian? Karena orang tersebut pernah dekat sekali dengan Andi tapi sekarang sudah asing.
Dari pada termakan suasana sunyi orang tersebut memilih mengajak Andi bicara. Tapi sebelum membuka topik pembicaraan orang tersebut menoleh ke arah Andi yang tertidur.
"Andi? Apa kau masih bangun? Jangan tidur Andi! Aku tahu kau diberikan obat tapi dosisnya berlebihan" ucap orang tersebut kepada Andi.
Namun Andi tidak beraksi apapun. Orang tersebut sedikit curiga dengan keadaan Andi. Dia menghentikkan mobilnya di pinggir jalan yang kebetulan dekat pantai.
"Andi? Apa kau ingat suaraku? Kumohon Andi tolong jawab aku! Andi! Jangan - jangan..." orang tersebut pindah tempat ke kursi belakang kemudian mengecek pembuluh nadi Andi.
Tidak ada bunyi detak dan kulit Andi mulai memucat. Orang tersebut memindahkan tangannya ke leher Andi. Benar saja jawabannya sama seperti tadi.
"Andi... jangan katakan kalau ini bohong! Andi! Ini semua bohong! Andiiii!!!.... jangan pergi! Kalau kau pergi bagaimana dengan anak buahmu,Karina,Dhika,Ryan, terutama Aliya dan Vivi! Hei! Jawab aku! Aakhhh!!!" orang tersebut tidak menyangka kalau Andi sudah pergi.
Orang tersebut memeluk tubuh Andi kemudian menggoyang - goyangkannya. Sayang sekali si pemilik tubuh sudah pergi untuk selama - lamanya. Untuk para readers yang menyelamatkan Andi adalah Hans.
Hans sudah memakamkan Andi keesokan harinya di gereja terdekat. Yang hadir hanya Hans saja, dia tidak berani untuk menghubungi keluarga yang lain.
Sedangkan untuk Jack masih mencari keberadaan Andi. Bahkan saat ini dia sedang diburu oleh para polisi.
Karina,Kaila,Aliya,dan Bimo terus berdoa agar Andi cepat ketemu. Aliya sangat khawatir dengan keadaan Andi yang tidak ketemu.
Hari ini adalah hari ke sepuluh pencarian Andi. Yang bertugas mencari hari ini adalah Ryan. Dia sengaja mengajak istrinya karena Karina tidak percaya kalau Andi belum ditemukan sampai sekarang. Sebab itulah Ryan mengajak Karina.
Mereka berdua di dalam satu mobil sedangkan Bimo masih dititipkan di Kaila dan Aliya. Ryan melihat sekeliling dan begitu juga Karina.
"Honey bagaimana ini? Aku tidak menemukan tanda - tanda Andi" ucap Karina yang khawatir.
"Sabar sweetie,kita pelan - pelan carinya pasti ketemu" jawab Ryan yang melihat sekeliling jalan.
Ryan dan Dhika sudah mengerahkan seluruh pasukannya,seluruh kepolisian,bahkan membuat pamflet orang hilang. Namun sampai sekarang Andi belum ketemu sama sekali.
Hans sering melihat mobil polisi patroli. Dia juga sering ditanya apakah dia melihat Andi atau tidak, tentu saja Hans menjawab tidak. Alasan dia tidak memberitahu pihak kepolisian berserta keluarga karena dirinya yang belum siap memberitahu kabar ini.
Saat ini Hans sedang duduk di sebuah kafe tempat biasa dia duduk bersama Andi. Hans menatapi kursi kosong yang ada dihadapannya. Biasanya Andi duduk disana sambil bercerita tentang segala hal yang dia temui hari ini.
__ADS_1
Mari kita kembali ke pasangan Ryan dan Karina. Saat ini mereka berdua sedang berada di kantor polisi. Ketua polisi tersebut memberitahu kalau mereka memutuskan untuk mengakhiri pencarian ini dan menyatakan kalau Andi sudah tiada. Karina tidak menerima pernyataan tersebut dan langsung protes.
"Bagaimana bisa bapak menyatakan kalau adik saya sudah tiada? Apa bapak sudah melihat mayatnya?".
"Kami tidak melihat mayatnya tapi ini sudah lebih dari seminggu dan menurut ketentuan kalau pencarian lebih dari seminggu biasanya dinyatakan sudah meninggal,kalau bu Karina masih tidak percaya ibu bisa melakukan pencarian sendirian".
"Baik! Saya akan cari sendiri, ayo honey!".
Karina menarik tangan Ryan keluar dari kantor polisi tersebut. Ryan menundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih dan permintaan maaf, dan ketua polisi membalasnya dengan menundukkan kepala juga.
"Tunggu sweetie! Pelan - pelan" ucap Ryan yang dipaksa masuk oleh Karina.
"Ayo jalankan! Cepat!" Karina tidak menggubris ucapan Ryan.
"Tenang dulu sweetie,kita cari kemana lagi? Satu kota sudah kelilingi tapi kita belum menemukan Andi sama sekali" Ryan menatap Karina untuk mengajak bicara serius.
"Intinya kita keliling saja lagi!".
"Tapi--.... tunggu dulu" ponsel Ryan berbunyi kemudian dia melihat panggilan masuk dari adiknya.
"Halo Ryaiden! Kenapa?".
".....".
"Jangan bohong! Itu tidak benar!".
".....".
"Ya sudah kalau begitu aku segera kesana".
Ryan mematikan panggil tersebut lalu melaju ke kafenya. Karina sedikit bingung dengan raut wajah Ryan yang tampak khawatir.
"Kenapa honey? Apa ada masalah?" tanya Karina.
"Kau ke kafe dulu nanti aku ceritakan kejadiannya".
"Kenapa? Aku mau ikut!".
"Sweetie,dengarkan ini baik - baik aku mau ke tempat Ryaiden dan kata dia tempat itu berbahaya jadi sebaiknya kau tunggu di kafe nanti saat aku pulang baru aku beritahy masalahnya,oke?".
Karina mengangguk paham dengan mulut dimajukan. Ryan merasa gemas saat melihat wajah Karina seperti itu. Mobil Ryan menuju ke kafenya.
Beberapa menit sudah mengantar Karina, Ryan pergi menuju lokasi yang diberikan Ryaiden. Saat ini dia sudah sampai tapi tempat yang dia datangi adalah kuburan.
"Apa ini tempatnya?" tanya Ryan kepada adiknya yang berdiri dihadapannya.
"Iya! Ayo masuk!" jawab Ryaiden yang mengajak kakaknya masuk.
__ADS_1
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continues\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>