
"Hehehe... Iya bi! Bibi juga semakin sehat" jawab Ryan yang menepuk pelan bahu bibi Rosie.
"Ryan... Kenapa kau tidak mengatakan kalau kau sudah istri dan anak? Apakah kamu sudah menikah?" tanya bibi Rosie yang melihat Karina dan Bimo secara bergantian.
"Hm? Ah belum bi! Aku belum menikah! Ini pacarku namanya Karina dan anaknya bernama Bimo. Karina sudah menikah tapi suaminya meninggal karena terkena serangan jantung Ryan langsung membenarkan pemahaman bibinya.
Bibi Rosie hanya mengangguk paham saja. Ryan membawakan dua koper milik bibi dan pamannya. Mereka semua pergi menuju parkiran bandara dan segera pulang ke rumah Ryan.
Selama perjalanan bibi Rosie sibuk bermain dengan Bimo tidak lupa paman Niki juga ikut bermain. Ryan sangat senang bisa melihat Bimo bisa langsung akrab dengan paman dan bibinya.
"Oh iya Ryan! Bibi boleh bertanya?" ucap bibi Rosie sambil menggelitik perut Bimo.
"Boleh bi! Kenapa?" jawab Ryan yang menoleh sedikit ke spion depan.
"Bisa ceritakan tidak tentang kehidupanmu selama bibi tidak ada disini?" tanya bibi Rosie.
"Ceritanya sangat panjang bi,tapi Ryan berikan dua pilihan saja. Mau cerita tentang kesuksesan Ryan dan Ryaiden atau cerita tentang Ryan menemukan Karina dan Bimo?" jawab Ryan yang berhenti di karena lampu lalu lintas berubah merah.
"Pilihan yang kedua saja! Bibi tidak tertarik dengan pilihan pertama,ayo cerita!" bibi Rosie sangat bersemangat yang akan mendengar cerita kisah cinta keponakannya.
Ryan mulai bercerita dari awal bertemu sampai jadian. Bibi Rosie mendengarkan cerita Ryan dengan seksama sampai hampir lupa berkedip. Paman Niki merasa terkesan mendengar seluruh kisah cinta keponakannya.
Cerita kisah cinta pun selesai bibi Rosie dan paman Niki bertepuk tangan. Bibi Rosie memuji keberanian,kehebatan,dan ketangguhan Ryan yang dimana dirinya benar - benar memperjuangkan sang kekasih. Bimo juga sangat senang mendengar cerita tersebut.
Karina menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Ryan hanya tersenyum saja melihat Karina yang tersipu setelah mendengar cerita dirinya dengan sang kekasih.
"Nak Karina!" panggil bibi Rosie.
"Kenapa bibi?" tanya Karina yang mulai memanggil bibi.
"Umurmu berapa sekarang? Berasal dari keluarga mana? Berapa bersaudara?" bibi Rosie melemparkan banyak pertanyaan untuk Karina seolah - olah Karina seperti sedang diintrogasi.
"Umur saya tahun ini tiga puluh satu,saya berasal dari keluarga Cyndria dan saya anak sulung punya dua adik laki - laki" Karina menjawab pertanyaan itu satu - satu secara urut.
__ADS_1
"Hmmm... Apa pekerjaannya nak Karina?".
"Saya seorang direktur utama di rumah sakit Cemara dan punya usaha kafe".
"Kalau kedepannya nak Karina ingin punya berapa anak?".
"Pengennya sih empat".
"Bisa ceritakan tentang orang tua nak Karina?".
"Ayah dan ibu saya sudah meninggal karena sebuah kecelakaan mobil sejak usia saya tujuh tahun".
Bibi Rosie langsung terdiam mendengar jawaban Karina. Dia pun memutuskan untuk berhenti bertanya karena mengira jika dia bertanya lagi maka,Karina akan ingat dengan masa - masa orang tuanya.
...****************...
Mobil Ryan sudah sampai di rumahnya. Bimo menarik tangan bibi Rosie dan paman Niki di kiri kanannya. Karina membantu Ryan membawa koper paman dan bibinya.
"Kau masih menyimpannya Ryan?" tanya bibi Rosie yang melihat vas bunga lamanya yang diletakkan di atas meja makan.
"Tentu saja aku masih menyimpannya! Itu merupakan barang berharga bagiku" jawab Ryan yang meletakkan koper paman dan bibinya di kamarnya.
"Kenapa diletakkan di dalam? Terus kamu tidur dimana?" bibi Rosie terkejut melihat kopernya diletakkan di kamarnya Ryan.
"Kan ini kamar bibi! Kalau masalah tidur aku tidak masalah tidur dimana pun" setelah menjawab ucapan bibinya,Ryan memberikan senyuman manisnya.
Bibi Rosie hanya geleng - geleng kepala mendengar jawaban Ryan. Dia berjalan menuju dapur dan melihat isi kulkas. Ryan sibuk berbicara dengan paman Niki sedangkan Bimo fokus dengan dunianya yang dimana dia berlari kesana kemari. Karina menghampiri bibi Rosie yang hendak membuat kopi.
"Bibi Rosie? Apa yang bibi lakukan disini? Biar aku saja yang membuatkan kopi" tanya Karina yang melihat bibi Rosie sedang ingin menyiapkan kopi.
"Tidak apa - apa nak Karina! Bibi hanya membuatkannya untuk suami bibi dan untuk Ryan kau bisa buat,hahaha..." jawab bibi Rosie yang diakhiri tawanya.
Karina tertawa mendengar jawaban bibi Rosie. Mereka berdua menyiapkan kopi untuk pasangan masing - masing. Selesai menyiapkan Karina mengambil nampan dan dua bungkus cemilan biskuit. Di atas nampan sudah tertata rapi dua cangkir dan dua bungkus jajan.
__ADS_1
"Nah... Ini dia minuman beserta jajannya,silakan dinikmati" ucap Karina yang menghampiri dua pria tersebut kemudian meletakkan nampan tersebut di atas meja lalu memindahkan isinya ke meja.
"Wowww... Karinaku sangat rajin" jawab Ryan yang menerima cangkir kopi dari tangan Karina.
"Terima kasih nak Karina" jawab paman Niki yang melempar senyuman manis.
Karina duduk di sebelah Ryan dan bibi Rosie duduk di sebelah paman Niki. Mereka berempat mulai berbincang - bincang tentang satu sama lain. Bibi Rosie menceritakan keseharian dirinya selama berada di rumah lama bersama dua ponakannya. Karina sedikit tertawa saat mendengar kisahnya Ryan kecil.
Tanpa mereka sadari hari sudah mulai gelap. Karina membereskan cangkir dan bungkusan jajan. Namun saat ingin mencucinya tangan Karina ditahan oleh Ryan. Ryan langsung mengambil alih pekerjaan Karina.
"Ini sudah mulai malam nak Karina,apa sebaiknya nak Karina dan Bimo menginap disini saja?" tanya bibi Rosie yang melihat keluar jendela.
"Tidak usah bibi! Saya mau pulang sekarang" jawab Karina yang menggendong Bimo.
"Jika mau pulang biarkan Ryan yang mengantarmu" bibi Rosie langsung mendorong Ryan agar mengantar Karina dan Bimo pulang.
Ryan berpamitan kepada pamab dan bibinya untuk mengantar Karina. Selesai berpamitan Ryan masuk ke mobilnya lalu mulai menyalakan mobilnya. Karina masuk ke mobil Ryan dengan Bimo di dalam gendongannya.
Mereka berdua melambaikan tangan kepada paman Niki dan bibi Rosie. Mobil Ryan mulai melaju membelah jalan raya yang ramai tersebut. Bimo diletakkan di kursi belakang karena bocah tersebut sudah tertidur pulas.
"Kelihatannya Bimo sangat kelelahan" ucap Ryan yang menoleh ke arah Karina.
"Kau benar! Ternyata bibi Rosie sangat baik" jawab Karina yang tiba - tiba teringat bibinya Ryan.
"Tu kan! Apa aku bilang! Bibi Rosie sangat baik" Ryan membelokkan mobilnya.
"Kau benar sekali my honey!" Karina mencubit pipi Ryan saking gemasnya.
"Hahaha... Karina! Boleh tidak aku menginao di rumahmu?".
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA LOVE YOU GUYSSS
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>
__ADS_1