Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 75:Membahas tentang TK


__ADS_3

Ryan dan kepala sekolah itu mulai membahas tentang sekolah TK ini. Jadi mari kita simak sama - sama pembicaraan Ryan dan kepala sekolah.(Author kok ngantuk ya?). Yang duluan ngomong adalah Ryan.


"Oke aku mulai saja!".


"Silakan saja Ryan!".


"Jadi begini bro, aku punya pacar dan pacarku ini sudah punya anak satu umurnya sekitar lima tahunan lah. Pacarku ini mengalami kesulitan untuk menemukan untuk menemukan TK yang tepat akhirnya aku rekomendasikan TKmu saja".


"Ohhh... Jika pacarmu berniat menyekolahkan anaknya silakan saja dan saya jamin anaknya akan merasa nyaman disini".


"Kau jelaskan saja langsung ke Karina. Sebelumnya aku juga pernah menceritakan sedikit tentang TKmu ini".


"Ohh.... Okey! TK saya ini sudah mendapatkan cap sebagai TK terbaik di kota ini, mengapa demikian? Karena TK kami mempunyai program yang lebih memfokuskan mental anak dari pada kecerdasannya. Kami menjalankan sistem ini bukan berarti kami tidak peduli tentang keceradasan anak, pendefinisian yang benar adalah kita membentuk anak dengan mental yang bagus dan kecerdasan yang hebat. Sekolah kami tidak menerapkan cara pembelajaran dengan terus - menerus memberikan ilmu kepada anak tapi cara pembelajaran kami yaitu membuat anak - anak beranggapan kalau belajar itu menyenangkan. Apa ada hal lain yang ingin ditanyakan?".


"Misal kalau ada salah satu anak berkelahi dengan temannya bagaimana cara guru - guru disini melerainya?".


"Jika ada anak yang bertengkar kami akan langsung membawanya ke ruang guru. Di ruang guru kami mulai menanyakan kenapa si anak bisa bertengkar,alasannya,dan kenapa tidak melapor ke pihak guru saja. Saat anak tersebut memberikan jawaban kami tidak menyalahkan mereka melainkan kami memberikan pengarahan dan pemahaman dari masalah mereka setelah memberikan pemahaman kami meminta anak tersebut untuk bermaaf - maafan. Ada hal lain lagi?".


"Kapan kau bayar hutangmu?".


"Bulan depan aja".


"Enak saja bulan depan! Ini sudah nunggak selama tiga bulan dan bunganya semakin membesar!".


"Iya sabar! Besok kalau aku gajian pasti aku bayar! Ribet sekali!".


"Ingat ya?".


"Iya!".


Ryan menoleh ke arah Karina untuk melihat reaksinya mendengar jawaban temannya. Ternyata Karina sangat puas dengan jawaban temannya Ryan dan sepertinya dia akan menyekolahkan Bimo disini.


"Saya merasa sangat senang jika anak saya bersekolah disini, kira - kira kapan pendaftaran murid barunya?" tanya Karina dengan wajah full senyum.


"Sekitar dua bulan lagi tapi saya akan menghubungi Ryan kalau saja jadwal pendaftarannya dibuka lebih awal" jawab kepala sekolah dengan sopan.


"Terima kasih banyak pak telah menjawab pertanyaan kami mungkin saya akan menyekolahkan anak saya disini" Karina menjabat tangan kepala sekolah.


"Sama - sama pacarnya Ryan" kepala sekolah membalas jabat tangan Karina.


Sesudah mereka mendapatkan informasi Ryan dan Karina beranjak keluar ruangan tersebut. Kepala sekolah tidak bisa mengantar Ryan keluar karena dia masih memiliki pekerjaan lain.


Di luar area TK, Ryan melihat seorang anak kecil duduk sendirian di dekat gerbang. Ryan memutuskan menghampiri anak kecil tersebut.


"Halo nak!" sapa Ryan.

__ADS_1


"Halo pak! Jangan tangkap saya! Saya tidak nakal!" jawab anak kecil tersebut yang kelihatan ketakutan.


"Hei jangan takut! Aku bukan orang jahat! Dimana orang tuamu? Apa kau sekolah disini?" tanya Ryan yang jongkok disebelah anak kecil tersebut.


"Orang tuaku meninggalkan karena menganggapku anak nakal dan sekarang aku sendirian di jalanan" jawab anak kecil tersebut yang menundukkan kepalanya.


"Hmmm... Apa kau tinggal disekitaran sini? Maksudku apa kau punya tempat berteduh di jalanan ini?".


"Punya tapi sudah dirusak oleh anak - anak SD".


"Hei kalau bicara dengan orang itu tatap matanya jangan menunduk seperti itu terus".


Anak kecil itu akhirnya memberanikan diri menatap Ryan. Dia sangat terkejut melihat wajah Ryan dan langsung terlihat sangat marah.


"Kau?! Kenapa kau ada disini?! Apa kau tidak puas sudah mengambil ibuku, pria tua?!".


Ryan kebingungan mendengar ucapan anak kecil tersebut. Anak kecil hendak kabur tapi langsung ditahan oleh Ryan dengan cara tangan Ryan menangkap tangan bocah tersebut.


"Tunggu dulu nak! Aku bukan pria tua! Umurku masih dua puluh enam! Tidak perlu takut".


"Biarkan aku pergi! Lepaskan aku!".


"Aku ingin bertanya".


"Tanya apa pak? Bapak sudah mengambil ibuku sebab itu ibuku membuangku".


"Itu si pria tua bernama si Burhan Burhan itu!".


"Burhan? Maksudmu pak Burdi?".


"Iya si Bundir itu!".


"Jaga bicaramu nak! Yang nama yang kau ucapkan itu adalah ayahku".


"Ohh... Jadi ayah dan anak sama ya... Lepaskan aku anaknya pak Bundir".


"Nama ayahku, Burdi! Bukan Bundir!".


"Terserah! Lepaskan aku!".


"Tunggu dulu! Aku bisa menyalamatkanmu! Aku juga bisa membawamu ke ibumu".


"Apa kau bersungguh - sungguh?".


"Aku bersungguh - sungguh".

__ADS_1


Anak tersebut akhirnya bisa tenang dan Ryan membawanya ke dalam mobil. Karina sedikit bingung dengan kehadiran bocah tersebut. Ryan menjelaskan kepada Karina tentang bocah tersebut.


Mobil Ryan melaju ke rumah Ryaiden. Ryan sengaja mengunjungi adiknya untuk membantu penyelidikannya. Dia berharap bocah ini mau buka mulut mengenai semua yang dia lihat selama ibunya bersama pak Burdi.


...****************...


Mobil Ryan sudah terparkir di halaman rumah Ryaiden. Dia mengajak Karina dan bocah tersebut untuk menemui Ryaiden.


"Jadi bocah ini adalah anak di luar nikah ayah?" tanya Ryaiden yang menyuruput kopinya.


"Iya! Jika kau ingin tanya lebih jelas tanyakan saja kepada bocah ini dan mungkin saja kau menemukan petunjuk dari bocah ini" jawab Ryan yang meninggalkan rumah Ryan diikuti Karina di belakang.


"Paman! Apa paman bisa membawaku menuju ibuku?" tanya bocah itu kepada Ryaiden.


"Tentu saja asalkan kau menuruti semua perintahku maka, kau akan mendapatkan ibumu kembali" jawab Ryaiden yang kembali fokus ke laptopnya.


"Baiklah! Aku mau menuruti semua perintahmu" bocah itu bertekad kuat untuk mendapatkan ibunya.


"Baguslah! Hei bocah! Siapa namamu?".


"Namaku Rhino".


"Nama yang bagus, panggil aku paman Ryaiden".


Bocah itu mengangguk paham mendengar ucapan Ryaiden. Dia akan mendapatkan ibunya apapun caranya.


Kembali ke pasangan tercinta kita yang sedang menikmati dunia mereka. Ryan mengajak Karina menuju suatu tempat. Karina tidak mengetahui jalan apa yang dia lalui dan dia tidak tahu dirinya akan diajak kemana oleh sang pacar.


Mobil Ryan berhenti di suatu pantai cantik. Karina turun dari mobil. Ryan langsung menggandeng tangan Karina.


"Kenapa kau mengajakku kesini?" tanya Karina yang menatap Ryan.


"Aku ingin kita menikmati waktu berdua di tepi pantai. Aku tahu saat ini bukan sore hari tapi aku hanya ingin cuddle saja dengan dirimu" jawab Ryan yang memeluk tubuh Karina.


"Apaan sih Ryan? Jangan disini deh! Nanti diliatin orang".


"Biarin saja! Jika orang - orang melihat kita itu artinya mereka tidak akan berani mendekatimu karena Karinaku sudah jadi milik orang".


"Idih! Milik siapa memangnya?".


"Miliknya Ryan".


"Di dalam mobil aja cuddlenya ya? Disini panas".


"Ke villa sebelah sana aja yuk".

__ADS_1


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>


__ADS_2