Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 12: Menolong Andi


__ADS_3

Andi berusaha melepaskan diri dengan terus menggerakan tangannya tapi si mantan itu terus menarik tangan Andi hampir keluar toko.Pegawai toko ingin membantu namun,dia takut bertindak.


"Niko lepaskan! Tanganku sakit!" ucap Andi yang kesakitan.


Si mantan itu bernama Niko.Dia pernah berpacaran sama Andi selama 2 tahun di tengah jalan hubungannya harus kandas karena dia telah berselingkuh. Keesokan harinya setelah Niko melakulan kegiatan bejatnya disaat itu pula baru dia menyadari tindakannya.


Niko mencari Andi kemana - mana sampai pada hari ini dia bertemu dengannya.Dia berjanji akan membuat Andi kembali kepadanya dan tidak akan mengulangi kesalahannya.


"Andi dengar dulu! Aku bisa jelaskan!"ucap Niko sambil memegang tangan Andi dengan dua tangan.


"Lebih baik kau lepaskan aku! Aku tidak mau mendengarkanmu!" Andi terus berusaha melepaskan tangannya.


Yang satu ingin si mantan kembali padanya tapi dengan cara yang kasar sedangkan yang satunya tidak mau kembali dan berusaha melepaskan diri. Mereka berdua menjadi tontonan publik di mall sampai ada yang merekam.


Niko yang sudah habis kesabarannya menampar wajah Andi yang membuat tanda merah di pipi kanannya. Andi terlihat sangat shock dia menyentuh pipinya yang terkena tamparan tadi.


"Aku sudah bilang dengar penjelasanku dulu! Kau ini memang susah dikasi tahu!" Niko membentak Andi sangat keras sehingga membuat Andi terdiam.


"Dengar baik - baik ini Andi! Aku mengakui kesalahanku! Aku salah! Sekarang kau puas! Sekarang lebih baik kau kembali padaku!"


"Kenapa aku harus kembali kepadamu,Niko?! Kau itu pembohong! Kau orang yang paling jahat yang pernah aku kenal! Aku tidak mau kembali kepadamu!"


"Plak!!!" satu tamparan kembali mengenai pipi kanan Andi yang sekarang membuat dia terduduk.


Niko terlihat sangat marah wajahnya memerah karena amarahnya.Orang - orang disana mulai berbisik dan membicarakan tentang pertengkaran Niko dan Andi.


Orang yang bersama Niko tadi maju membela kekasihnya. Wanita tersebut berjongkok kemudian mengangkat dagu Andi.


"Ya ampun jeleknya... Apakah tamparannya kurang?" tanya wanita dengan nada bicara ketus.


"Sudahlah Amel biarkan saja! Aku saja yang menyeretnya nanti" ucap Niko yang langsung menarik paksa tangan Andi sampai terseret.


"Niko lepaskan! Aku bilang lepaskan!" teriak Andi yang merintih kesakitan.

__ADS_1


Orang - orang yang ada di mall itu hanya menyaksikan pertengkaran Niko dan Andi. Mereka takut bertindak karena menganggap hal itu bukan urusan mereka.


"Hei lepaskan adikku!" ucap Dhika yang muncul entah darimana yang juga kebetulan dia sedang ada meeting dengan klien di salah satu cafe di mall itu.


"Kak Dhika..." air mata Andi tumpah saat melihat kehadiran kakaknya disini.


Dhika bergerak maju kemudian memukul wajah Niko. Genggaman tangan Niko terlepas dengan segera Andi berlari ke belakang kakaknya.


Dhika memukul wajah Niko secara terus menerus sampai keluar darah.Kemudian dua bodyguard Dhika menariknya agar Niko tidak mati di tempat.


"Apa kau tidak puas menyiksa adikku,hah?! Lebih baik kau berhenti mendekati adikku!" Dhika membentak di genggaman dua bodyguardnya.


Terlihat di belakang Dhika sang adik sedang berlindung.Sifat licik wanita Amel ini keluar dia mendorong Andi yang kebetulan dekat dengan pembatas yang melingkar di dalam mall. Andi terjatuh dari sana dan Dhika terlambat menyadarinya.


Semua orang di mall itu berteriak melihat Andi yang terjatuh.Badan Andi yang hampir mencapai lantai bawah mall tiba - tiba terjatuh di matras yang sangat besar yang sudah dipersiapkan oleh Hans.


Andi sangat ketakutan sekali dengan kejadian tadi untungnya ada Dhika dan Hans yang membantu dia. Hans langsung menghampiri Andi yang ketakutan tanpa ragu dia memeluk Andi.


Amel yang masih di atas harus berhadapan dengan Dhika sedangkan Niko sudah terkapar tidak berdaya. Dhika pelan - pelan mendekati Amel kemudian menggenggam tangannya dan melemparnya ke bodyguardnya.


Hans membawa Andi pergi ke rumah sakit menggunakan mobil dan disusul oleh Dhika dibelakangnya dengan beberapa bodyguard.


Sesampai di rumah sakit yang juga kebetulan milik Karina itu langsung cepat ditangani. Hans menunggu di luar ruang pemeriksaan bersama Dhika.


"Cklek..." suara pintu ruangan yang terbuka yang memperlihatkan dokter keluar.


"Bagaimana keadaan Andi,dok?" tanya Hans kepada dokter itu.


"Pasien hanya shock saja sampai pingsan jadi tidak perlu khawatir" jawab dokter yang menjelaskan kondisi Andi.


Hans dan Dhika merasa lega setelah mendengar kondisi Andi baik - baik saja.Di dalam kantong celana Dhika ponselnya berdering.Dhika mengambilnya yang memperlihatkan nama "kakak Karina janda cantik" kemudian dia menjawab panggilan telepon itu.


"Halo kak!".

__ADS_1


"Halo Dhika! Aku dengar dari asistenku kalau Andi masuk rumah sakit , apa itu benar?!".


"Iya kak dia hanya shock saja jadi tidak perlu khawatir kak".


"Memangnya apa yang terjadi sampai Andi shock segitunya?".


"Ceritanya panjang nanti saja aku cerita kalau sudah bertemu kakak".


"Dhika beritahu asisten rumah sakitku untuk tidak menggunakan perawat wanita gunakan perawat pria,ya?"


"Iya kak iya sudah dulu,ya? aku mau lihat kondisi Andi dulu"


"Baiklah"


Dhika memutus panggilan itu lalu masuk ke ruang rawat yang sudah disiapkan oleh perawat tadi.Di dalam tubuh Andi terbaring di ranjag rumah sakit dengan keadaan belum sadarkan diri.


Hans yang masuk lebih dulu sudah berada di samping Andi sambil mengusap punggung tangan Andi.Ekspresi wajah Hans menandakan kalau dia sangat khawatir sekali.Dhika yang niatnya mau masuk kini harus menunggu lagi di luar.( jadi nyamuk oleh dua orang yang lagi sibuk mesra mesraan itu:v)


...****************...


Di cafe Karina sedang merasa khawatir dengan kondisi adiknya walaupun sudah diberitahu kabar kondisinya.Bimo tidak peduli dengan ibunya yang mondar mandir khawatir.


"Ibu sebentar lagi cafe tutup ini sudah mau sore" ucap Bimo yang sudah selesai mencuci piring da gelas.


"Iya nak! Kita ke rumah sakit dulu baru pulang ke rumah,ya?" Karina yang lagi menyiapkan isi tasnya.


Bimo mengangguk sebagai jawabannya.Karina mengajak Bimo keluar cafe kemudian mengunci gerbang cafe.Motor Karina sudah menyala,Bimo sudah naik dan helm sudah di kepala masing - masing.Semua sudah siap kemudian mereka melaju menuju rumah sakit.


Dalam perjalanan pikiran Bimo bukan menuju pamannya yang di rumah sakit melainkan menuju Ryan yang ingin bersama ibunya.Dia tidak akan membiarkan posisi ayahnya diganti orang lain dan ibunya menjadi suami orang lain TIDAK AKAN!.


Bocah manis itu memikirkan cara agar Ryan menjauh dari ibunya.Pertama dia tidak berpikir kalau Ryan hanya senang bermain dengannya namun ada tujuan lain di maksud kelakuan baiknya itu.Nyatanya Ryan hanya menggunakannya sebagai alat untuk mendekati ibunya.


Bantu promosi dan terima kasih sudah mampir baca

__ADS_1


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>


__ADS_2