Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 126: Ryan dipanggil ayah


__ADS_3

Ryan sudah selesai memandikan Bimo dan mengajaknya sarapan bersama. Dia melihat kalau istrinya masih marah dengan dirinya. Tetapi Ryan memiliki cara ampuh untuk menghilangkan amarah Karina.


Ryan membiarkan Bimo duduk di sofa ruang tamu sambil menonton tv dan menunggu ibunya selesai memasak. Tanpa menyiakan - nyiakan kesempatan Ryan melangkah menuju dapur. Dia dapati Karina sudah selesai memasak dan sedang menata meja makan. Kemudian Ryan memeluk Karina dari belakang.


"Akh! Astaga kamu ini! Sudah sana temenin Bimo! Jangan dibiarin sendirian,sana! Sana!" Karina masih saja kelihatan marah dan mengusir Ryan.


"Jangan ngusir begitu sweetie! Sini ci um dulu" Ryan menci um pipi kiri dan kanan bergantian.


"Sudah ah! Ganggu saja!" Karina sebenarnya menahan rasa tersipunya makanya dia tidak kontak mata langsung dengan Ryan.


"Sweetie tersipu ya? Hayo loh...." Ryan melepas pelukannya dan mengetahui maksud Karina tidak menatap langsung dirinya.


"Ish mana ada! Nih lihat! Mana ada wajahku merah kecuali pakai blush on" Karina memajukan wajahnya ke wajah Ryan.


"Mana ? Coba sini lihat, cup!" Ryan juga memajukan wajahnya kemudian menci um bibir Karina.


Reflek Karina langsung mundur dan menutup bibirnya menggunakan telapak tangannya. Ryan hanya tersenyum miring kemudian melangkah mendekati Karina. Langsung saja Ryan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Karina.


"Kemarin malam sudah ya, jadi jangan ada acara nambah ronde - ronde segala" Karina menjauhkan wajahnya.


"Iya sweetie mungkin nanti malam aku ada jatah banyak,hehehe...." Ryan mengec up pelan pipi sebelah kanan Karina lalu pergi ke ruang tamu untuk mengajak Bimo sarapan.


Karina hanya geleng - geleng kepala melihat tindakan suami barunya. Wanita yang baru menikah itu kembali melanjutkan menata meja makannya.


Sekarang semuanya sudah lengkap dan memakan sarapan dengan hikmat. Bimo meminta Ryan untuk mengambilkan sepotong wortel. Ryan tidak hanya memberikan satu potong melainkan langsung memberikan empat potong.

__ADS_1


"Makasi pa- eh! Maksud Bimo ayah" Bimo hampir saja keceplosan menyebut kata paman kepada ayah barunya.


"Tidak apa - apa Bimo mungkin kau belum terbiasa dengan sebutan ayah tapi suatu saat Bimo pasti bisa,ayah yakin" Ryan paham akan situasi Bimo dan menambah beberapa sayuran di piring putranya tersebut.


Bimo hanya tersenyum saja mendengar jawaban ayah barunya. Karina juga sebenarnya sedikit khawatir dengan cara atau sikap Bimo nanti kepada Ryan tetapi dia harus percaya dengan putranya tersebut.


Sarapan sudah selesai dan mereka bertiga bersiap - siap pergi ke tempat masing - masing. Karina pergi ke rumah sendirian sedangkan Ryan dan Bimo pergi ke restoran. Sebelum pergi Bimo mengecup pipi ibunya dan Ryan mengecup dahi sang istri. Karina pergi meninggalkan rumah begitu juga dengan Ryan dan Bimo.


Di perjalanan menuju restoran, Ryan sedang memikirkan topik pembicaraan untuk Bimo. Karena jika ingin membangun hubungan yang baik antara ayah dan anak harus dimulai dari komunikasi. Akhirnya Ryan memutuskan membuka pembicaraan sambil menyetir mobil.


"Bimo".


"Iya pa- ayah? Maaf ya".


"Iya,makasi a...yah".


"Ternyata kau masih kaku".


"Hehehe.... Oh iya tadi a...yah mau tanya apa?".


"Ayah ingin tanya apakah kamu ingin memiliki adik?".


"Bimo kepingin punya adik tapi kan Bimo sudah punya Vivi jadi tidak apa - apa".


"Kalau main sama Vivi ketemunya pas di restoran aja yang ayah maksud adalah adik kandung,adik yang Bimo bisa ketemu setiap hari,bisa ajak main setiap hari,intinya Bimo bisa ketemu setiap hari".

__ADS_1


"Memangnya Bimo boleh minta adik sama ibu,nanti ibu marah bagaimana?".


"Tenang saja ada ayah disini kebetulan ayah kan pengen nambah anak lagi satu atau dua gitu biar suasana rumah ramai aja".


"Ohhh... Oke kalau begitu! Bimo pengen punya adik tapi nanti malam kita sama - sama ngomongnya supaya ibu percaya kalau tidak ibu pasti akan menolak".


"Ide bagus! Nanti ayah traktir apapun yang Bimo mau".


"Makasi ayah".


Ryan terkejut mendengar kata yang disebut Bimo barusan. Dia berusaha mengingat kembali apa yang dikatakan Bimo tadi. Matanya mulai berkaca - kaca membayangkan Bimo setiap hari mengucapkan kata tersebut. Bimo kebingungan melihat ayah barunya yang hampir menangis sambil mengemudi.


"Ayah kenapa? Kok ayah seperti mau menangis saja".


"Terus katakan ayah nak,astaga! Aku tidak percaya kalau aku menjadi ayah secepat ini".


"Ayolah ayah jangan menangis nanti Bimo ikut menangis".


"Huhuhuhu.... Ayah ada - ada saja".


Bimo mentertawakan reaksi ayah barunya mendengar kata ayah. Hubungan ayah dan anak akan semakin dekat dengan seiring berjalannya waktu dan hubungan mereka akan semakin sangat dekat yang dibutuhkan hanya komunikasi yang baik.


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2