
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
*****
Pondok ....
Setelah puas dengan pikirannya, Abas segera bangkit dan menuju tempat wudu. Dia mulai membasuh wajahnya dengan dinginnya air wudu, kemudian kedua tangannya, baru lanjut mengusap kepalanya, daun telinga, serta yang terakhir kakinya. Seketika hati dan pikirannya merasa sangat tenang.
Abas mulai membentangkan sajadahnya, ia memulai salat tahajud di sepertiga malam. Dalam kesyahduan malam menjelang pagi ia bermunajat kepada sang pemilik jiwa. Memasrahkan segala kegelisahannya dan segala yang akan dijalaninya, semoga menjadi barokah untuk dirinya. Karena hanya Dia-lah tempat sebaik-baiknya untuk mengadu bukan pada makhluk atau yang lainnya.
Selesai bermunajat Abas membaca Al Qur'an sebentar, baru lanjut merebahkan diri. Meskipun matanya tak lagi dapat terpejam. Pikirannya melayang jauh entah kemana, membuatnya tampak melamun dalam rebahannya. Hingga akhirnya ia bisa juga memejamkan matanya.
*****
Suasana pondok sudah mulai ramai meski baru menjelang subuh. Pagi ini mereka akan melakukan acara pelepasan sebagai salam perpisahan pada dua orang rekan mereka yang akan menimba ilmu keluar pondok. Hal ini sering dilakukan untuk persiapan para santri sebelum berangkat ke Universitas yang akan mereka tuju, hanya saja kali ini lebih terasa spesial karena anak pak ustad lah yang akan berangkat.
Selepas salat subuh semua santriwan sudah berkumpul di lapangan. Mereka akan mengikuti senam masal. Tampak juga Abas dan Hanafi dalam barisan para santri. Olahraga kali ini keduanya tampak lebih bersemangat, sebab ini akan menjadi olahraga terakhir mereka sebelum nanti berangkat menuju ke Jakarta.
"Bas! Gimana persiapannya? Sudah siap semua?" tanya ustad Fajar.
"Alhamdulillah sudah, Tad. Inshaa Allah tinggal berangkat saja." Abas tersenyum menatap ustad Fajar.
"Jangan sampai kamu terwarnai, sebisanya kamu lah yang harus mewarnai mereka," ucap ustad Fajar.
"Maksudnya, Tad?" tanya Abas bingung.
"Maksudnya jangan sampai kamu terpengaruh dengan kehidupan dan kebiasaan anak-anak di luar pondok. Sebisa mungkin kamu dapat memberikan contoh kepada mereka, syukur-syukur kamu bisa merubah mindset anak-anak gaul itu kearah yang lebih baik. Sehingga bisa lebih islami baik dari segi pakaian maupun akhlaknya." Ustad Fajar menepuk pundak Abas.
"Inshaa Allah, Tad. Do'akan saja semoga kami bisa tetap istiqamah, aamiin Allahumma aamiin." Abas tersenyum menatap ustad Fajar.
*****
Acara pelepasan santri telah selesai sekarang Abas dan Hanafi telah bersiap untuk berangkat.
Meskipun tahu putranya hanya akan ke jakarta selama satu tahun, tetap saja yang namanya orang tua merasa khawatir, terutama perempuan. Sejak abis subuh Maryam sudah sibuk mempersiapkan bekal yang akan di bawa oleh putranya, Abas dan juga temannya, Hanafi.
"Sayang, saat sudah sampai jangan lupa kabari umi mu ini, jangan lupa setiap mau keluar rumah jaketmu di pakai, vitaminmu di minum ya, dan jangan lupa tuk selalu memakan makanan yang sehat dan bergizi seperti sayur dan buah," ucap Maryam sambil merapikan bawaan Abas.
"Iya, Umi. Inshaa Allah, terimakasih banyak. Umi tidak usah terlalu khawatir, Abas kan hanya ke Jakarta. Kapan saja masih bisa bertemu umi dan Abi. Inshaa Allah, Abas akan selalu mengingat nasihat umi dan Abi." Abas memeluk Maryam mesra.
"Haduhhh, lepasin kekasih, Abi mu. Main peluk aja. Umi hanya milik abi seorang," Rahmat tiba-tiba masuk dan mencandai kedua orang terkasihnya.
"Ihhh, Abi. Biarkan Abas memeluk umi dong sebentar, nanti lama lo nggak bisa peluk umi," ucap Abas dengan menempelkan kepalanya pada pundak sang ibu.
"Iya, boleh. Tapi masa hanya umi saja yang kamu peluk, bagaimana dengan abi mu ini?" Rahmat pura-pura membuang pandangannya.
"Ihhh ternyata Abi bisa lebay juga ya, ha ... ha ...." Abas tertawa bersama sang ibu. Terbesit dalam hatinya ingin tetap tinggal bersama kedua orang tuanya, namun ia sadar kalau yang dia lakukan sekarang adalah untuk kebahagiaan keduanya.
"Baiklah, sekarang sudah waktunya. Peluklah wanita yang menjadi cinta pertama mu itu sepuasnya, abi akan tunggu di luar saja." Rahmat meninggalkan ibu dan anak yang kembali di liputi rasa sedih.
Sebenarnya Rahmat juga merasa sedih tetapi lelaki lebih rapi dalam hal menyimpan perasaan.
Setelah berpamitan mobil yang membawa Abas dan Hanif mulai bergerak. Ratusan penghuni pondok melepas kepergian mereka. Lambaian tangan menjadi begitu berirama saat kita melepas seseorang yang berarti buat kita.
*****
Jakarta ... Kediaman Fatim ....
Sejak subuh Fatim tidak lagi tidur, ia mencoba untuk memulai rutinitasnya yang dulu yaitu joging. Dengan pakaian olahraga komplit khusus muslimah ia mulai keluar rumah untuk berlari mengitari komplek perumahan elite yang dia tinggali. Pada awalnya ia hanya berlari-lari kecil khawatir oragan tubuhnya terkejut dengan aktivitasnya. Setelah dirasa aman-aman saja baru lah ia berlari semakin cepat.
Olahraga yang Fatim jalani hampir setengah jam, kini ia sudah berjalan menuju rumahnya. Rencananya hari ini ia ingin kembali bersekolah, meski belum diperbolehkan oleh Nadya untuk membawa motor seperti biasanya.
Sampai di rumah ....
"Assalamu'alaikum, Mamaaaaaa! Aku pulang!" Fatim segera melepas sepatunya dan berjalan menuju ruang makan. Ia sangat hafal jam segini Nadya akan nongkrong di mana.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua yang sedang berada di ruang makan.
"Sayang! Ganti baju dulu dong! Acemmm bau keringat semua," ucap Nadya yang mengendus baju putrinya sambil menutup hidung, meskipun dia tahu putrinya sangat wangi sebenarnya.
"Iya-iya, Fatim ganti baju dulu tapi tunggu!" Dengan cepat Fatim mencomot sepotong roti dan membawanya berlari menuju kamar.
"Sayang! Jangan gitu dong. Nggak boleh lo makan sambil jalan apa lagi lari-lari," teriak Nadya pada putrinya.
__ADS_1
"Iya, fahamm. Belum di makan kok, ini nanti pas sampai kamar baru di eksekusi," teriak Fatim tak kalah nyaring dari ibunya.
Nadya hanya bisa menggelengkan kepalanya, sedangkan yang lain hanya menahan senyum. Mereka sangat menyayangi Fatim. Berselang sepuluh menit, sang gadis sudah turun dengan kaos oblong dan celana tidur bermotif hello kitty berwarna hijau. Dia segera duduk di samping bi Ijah kesayangannya.
"Bi, boleh ya duduk di sini?" Menarik kursi dan mulai duduk, meski yang di tanya belum menjawab.
Bi Ijah hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian segera mengambil piring dan memberikannya pada Fatim.
"Non Fatim mau makanan yang mana? Biar bibi ambilkan!" tawar bi ijah lembut.
"Nggak usah manja in Fatim, Bi. Biarkan Fatim ambil sendiri. Nanti jadi kebiasaan dan Fatim jadi malas deh," jawab Fatim sambil mencomot makanan yang dia suka untuk sarapannya pagi ini.
"Sayang! Kamu jadi sekolah hari ini kan?" Nadya melihat kearah putrinya sambil menyuapi makanannya.
"Inshaa Allah jadi, Ma. Tapi kata mama nggak boleh makan sambil bicara nanti keselek so kita diam dulu ya! Biarkan makanan ini kita nikmati dengan seksama," ucap Fatim sambil tersenyum.
"Iya, mama minta maaf," ucap Nadya sambil tersenyum. Suasana seketika menjadi hening yang terdengar hanyalah sendok dan juga garpu yang bertemu dengan piring.
Acara sarapan selesai kini Fatim sudah mandi dan menggunakan seragam sekolahnya. Ada kerinduan tersendiri baginya saat memakai kembali seragam kesayangannya, yah hampir satu bulan seragam itu dia tinggalkan.
Selesai berpakaian, Fatim tampak menelpon seseorang. Siapa lagi kalau bukan temannya tersayang.
"Assalamu'alaikum, Fren!" Fatim mengawali panggilannya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Fatimmmmmm!" teriak Yati yang memekakkan telinga.
Dengan cepat Fatim menjauhkan ponselnya dari telinga, tidak tahan dengan suara Yati yang menggelegar membahana. Kalau dibiarkan bisa memecahkan gendang telinga.
*Astagfirullah haladzim nih anak, bisa rusak telinga gue.*
Setelah aman barulah Fatim melanjutkan bicaranya." Kamu sekolah nggak?" tanya Fatim pada sahabatnya itu.
"Sekolah, dung! Kamu?!" diam menunggu jawaban.
"Aku inshaa Allah, sekolah!" jawab Fatim tersenyum meskipun Yati tak bisa melihat senyumnya.
"Alhamdulillah, akhirnyaaaaaaa!" teriak Yati lagi.
"Akhirnya apa?!" Fatim pura-pura bingung.
*Yaa Allah, jujur banget nih anak.*
Fatim tersenyum sendiri mendengar alasan sahabatnya itu, dan kejujuran sahabatnya itulah yang menjadi kebanggaan Fatim.
"Oke, segera bersiap! Sebentar lagi gue jemput loe," ucap Fatim dengan senyumnya.
"Siap, Boss!" Yati memberi hormat meski Fatim tak dapat melihatnya. Panggilan pun diakhiri keduanya dengan salam dan saling mencium dari balik ponsel.
Ada rasa bahagaia tersendiri saat kita bisa menikmati hari, apa lagi bersama orang-orang terkasih. Seperti Fatim dan Yati, persahabatan mereka bagaikan kepompong yang merubah ulat menjadi kupu-kupu.(Lagu siapa nih, ayooo! Wkwkw)
*****
Sementara itu sebuah mobil yang syarat dengan muatan sudah memasuki kota Jakarta, penumpangnya dua pemuda tampan tampak duduk manis dengan tenang.
"Abi! Apa kita sudah sampai di rumah yang akan kami tinggali?" tanya Abas menoleh pada Rahmat yang sedang menyopir.
"Iya, sebentar lagi sampai. Paling sekitar sepuluh menitan lagi," jelas Rahmat.
Abas dan Hanafi kembali diam, menunggu dengan debaran jantung yang tak menentu, pasalnya mereka akan menjadi siswa baru di sekolah SMA Unggulan.
"Nah, ini kita sudah sampai." Rahmat mulai menepikan mobilnya dan berhenti tepat di sebuah rumah ukuran minimalis dengan dekor yang elegan.
"Wah, Bi. Ini mah bukan kos-kosan atuh, tapi beneran rumah," Hanafi yang hanya diam saja ikut buka suara.
Abas dan Rahmat tentu saja tersenyum dengan komen yang Hanafi ucapkan.
"Kamu benar, Han. Ini rumah bukan kos-kosan. Dan kalian akan tinggal di sini selama satu tahun kedepan." Rahmat menjelaskan.
"Sekarang ayo bawa barang-barang kalian ke dalam, kita jangan sampai telat. Masa baru hari pertama sudah telat," ucap Rahmat lagi.
Ketiganya segera turun dan memindahkan bawaan keduanya kedalam.
"Sekarang kalian ganti baju seragam dulu, habis itu kita segera berangkat, masalah barang-barangnya nanti akan ada yang bantu abi merapikannya." Rahmat meminta keduanya untuk bergegas.
"Abi katanya kami hanya akan satu tahun saja di sini, nanti kami masuk kelas berapa?" tanya Abas binggung.
__ADS_1
"Kalian akan masuk kelas tiga, sesuai dengan umur kalian," ucap Rahmat.
"Bukan dari kelas satu, Bi?" tanya Abas lagi.
"Tidak, Bas. Dulu kamu memang minta turun kelas waktu di SD karena Loli, sekarang dia sudah hilang entah kemana, jadi kamu masuk kelas sesuai yang seharusnya," ucap Rahmat penuh penekannan.
"Iya, Bi," jawab Abas singkat. Ada rasa sedih saat abinya menyebut nama Loli, entah di mana gadis kecilnya itu sekarang.
bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
Ceo dingin dan Gadis Kampung
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Ceo Somplak
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
* Syala Yaya
Istri kedua tuan Krisna
* Cherin Kauma
l Love My Army Wife
*Oktavia Tresiani
Pacarku Hantu
__ADS_1