Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
CINTA BERSEMI DIUJUNG MUSIM


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


Semua yang hadir tertawa riuh melihat keterkejutan kedua mempelai saat pertama kali mereka dipertemukan. Namun saat melihat ekpresi dari keduanya perlahan suasana yang riuh tadi menjadi sepi dan terasa sangat haru.


Tak ada lagi sepatah kata dari pasangan pengantin itu, keduanya hanya saling tatap. Tak terasa air mata jatuh membasahi kedua pipi mereka.


*Subhanallahi walahamdulillahi Allahuakbar, sungguh besar kuasaMu, Engkau mengijabah setiap do'aku di penghujung malam. Pengantin kecilku kini benar-benar nyata ada dihadapanku, batin Abas tanpa menghiraukan air matanya yang juga meluruh.*


*Aku tak pernah menyangka begitu indah jalan cerita cinta yang Engkau tulis untukku. Cintaku akhirnya bisa bersemi diujung musim liburan, sungguh benar jodoh, bala, rezeki, dan maut itu adalah rahasiaMu, kau memang maha mengetahui segalanya. Alhamdulillah terimakasih yaa Allah. Batin Fatim yang merasa sangat bahagia.*


Semua ikut menangis haru sampai sesuatu yang konyol terjadi yang membuat semua yang sedang larut dalam keharuan ikut tertawa sambil menangis akibat ulah keduanya.


Fatim yang menangis sampai tubuhnya terguncang secara reflek menghambur menuju ke pelukan Abas namun dengan cepat Abas menahannya karena kaget dan merasa mereka belum boleh untuk bersentuhan.


"Eh tunggu kamu mau ngapain, Dek?" Abas menahan kening Fatim dengan tangannya.


"Mau meluk," jawab Fatim polos.


"Nggak boleh kita kan ...."


Belum selesai Abas meneruskan ucapannya semua yang hadir termasuk pak penghulu serentak berteriak.


"Sudah Sahhhhhhhh!"


Semua yang hadir tertawa riuh sementara wajah Abas dan Fatim sudah memerah menahan malu.


"Jadi gue udah boleh nih melukin kak Pop?" tanya Fatim dengan wajah sumeringahnya.


"Sudahhhh," jawab semuanya lagi dengan serentak.


"Yeeeee pelukkkkk." Fatim segera memeluk orang yang selama ini sangat dirindukannya sejak ia berumur lima tahun, namun saat mereka bertemu udah nggak boleh saling pelukan.


Dengan canggung Abas membalas pelukan kekasih masa kecilnya, sungguh dalam hatinya yang terdalam ia juga sangat merindukan gadis yang sangat diimpikannya itu. Namun ia merasa malu harus memeluknya didepan semua orang.


"Dek, jangan pelukan di depan semua orang, nggak enak sama yang lain," bisik Abas ditelinga kekasih halalnya saat ini.


"Bodo, gue kangen sama loe, Kak,"balas Fatim pada Abas yang disambut gelengan kepala oleh Abas.


"Woi udahan dong pelukannya, buat gue iri aja," ucap Yati sambil berteriak yang langsung ditutup oleh Wawan mulutnya.


"Tuh kamu dengarkan," bisik Abas lagi.


"Iya, deh," jawab Fatim akhirnya.


Saat akan melepaskan pelukannya tetiba Fatim bertetiak.


"Aduh, nyangkut."


Mahkota yang ada di kepala Fatim tersangkut di kopiah Abas yang membuat keduanya harus kembali berdekatan agar tidak merusak mahkota kekasihnya.


Detak jantung Fatim dan Abas seakan lagi lomba maraton saat mata keduanya kembali bertemu.


"Detak jantungmu sangat kuat, Dek," bisik Abas di telinga Fatim.


"Punya loe juga," jawab Fatim tak mau kalah.


"Ehmmm," suara Nadya membuat tatapan keduanya buyar.


"Mau dilepasin atau biarin aja nih," tanya Nadya sambil menatap anak dan mantunya.


"Mama, apaan sih. Ya lepasinlah, sakit tahu," jawab Fatim jutek.


"Dek, jangan ngomong gitu sama mamamu, itu nggak sopan," tegur Abas pada istrinya.


"Nah dengerin tuh." Nadya tersenyum sambil melepaskan mahkota kepala Fatim yang menyangkut.


Dalam hatinya ia sangat bersyukur bisa menjadikan Abas menantunya, Nadya berharap ia dapat membimbing Fatim untuk dapat bahagia dunia dan akhirat.


"Iya, gue eh aku denger kok." Fatim memancungkan bibirnya, yang disambut tawa oleh Abas dan Nadya.


"Oke sekarang kalian sungkeman dulu ya, minta do'a restu pada kedua orang tua suamimu, dan juga bi Ijah serta pak Amat." Nadya membimbing keduanya menuju tempat semua orang berkumpul.


"Ma, habis ini boleh ganti ya. Berat nggak tahan, gerah, dah lengket rasanya." Fatim melirik sang mama.


"Iya boleh, ajak juga Abas sekalian biar dia juga istirahat," ucap Nadya sambil tersenyum.


"Kok ajak kak Pop sih, dia kan laki-laki. Masa dia mau liatin gu-eh aku ganti baju." Fatim protes pada mamanya.


"Iya lah, Sayang. Kalian itu udah sah suami istri nggak apa-apa tinggal satu kamar hanya saja kalian belum boleh begituan karena kamu masih sekolah, nanti biar abi Rahmat yang jelasin ya," ucap Nadya dengan sabar agar putrinya mengerti.


Kini acara sungkeman sudah selesai, Fatim dan Abas mohon pamit untuk berganti pakaian, selain itu sebentar lagi juga masuk waktu salat zuhur.


*****

__ADS_1


Kamar Fatim ....


Keduanya sudah beriringan menuju kamar Fatim, dengan hati-hati Abas memegang serta mengangkat gamis kekasihnya.


"Jangan tinggi-tinggi ngankatinnya, malu nanti kelihatan kaki gue," ucap Fatim sedikit khawatir.


"Iya, ini juga nggak ketinggian kok. Takutnya nanti keinjak malah kamu jatuh," ucap Abas dengan sabar.


"Nggak apa-apa lagi gue jatuh tapi jatuhnya ke hatimu." Fatim mencandai orang yang baru saja sah menjadi suaminya.


Wajah Abas sudah memerah, ia tak menyangka gadis yang ada dihadapannya ini sama sekali nggak berubah masih ceplas ceplos seperti dulu.


Kini mereka sudah sampai di depan pintu kamar Fatim. Dengan sengaja gadis itu membalikkan badannya untuk melihat wajah lelaki yang sangat dia cintai.


"Ha ... ha ...." Dengan reflek Fatim tertawa lepas.


"Kenapa kamu tertawa, Dek?" tanya Abas bingung.


"Wajahmu memerah, kak Pop sedang jatuh cinta apa malu?"tanya Fatim.


"Keduanya," bisik Abas di telinga Fatim sambil melepaskan pegangannya pada gaun yang sedari tadi di pengangnya. Ia pun berlalu membuka pintu agar mereka bisa masuk.


Kini wajah Fatim yang bersemu merah, baru kali ini ia bisa merasakan hembusan nafas Abas yang begitu wangi. Karena pikirannya yang sedang melayang membuat seorang Fatim melangkah tanpa perhitungan.


"Astaqfirullah," teriak Fatim seketika kakinya menginjak gaunnya sendiri yang membuat tubuhnya terhuyung kedepan.


Bughh!


Suara tubuh Fatim terhempas kelantai. Ia sudah memejamkan matanya meski tangannya sudah siap dalam posisi push up.


*Tapi kok tubuh gue seperti tak menyentuh lantai ya dan aroma tubuh ini sepertinya gue kenal.*


Fatim membuka matanya, dan ia terbelalak karena tubuhnya terjatuh tepat diatas tubuh Abas.


"Buruan bangun! Berat ini," ucap Abas pelan seperti terhimpit lemari.


"He ... he ... maaf, berat ya." Fatim segera hendak berangkat namun karena gamisnya yang licin dan ribet membuatnya kembali terjatuh dalam pelukan Abas.


"Diamlah sebentar," ucap Abas sambil memegang wajah Fatim.


"Kakak mau apa? Ingat kita belum boleh apa itu namanya hubungan-." Abas menutup mulut Fatim dengan jarinya agar gadis itu diam.


"Kakak tahu, tapi apa boleh kakak menciummu?"


"Seketika wajah Fatim memerah, dengan reflek ia menggeleng."


"Iya," jawab Fatim pelan.


"Dengan siapa?" tanya Abas dengan tersenyum, meski dalam hatinya ia merasa sedikit sedih kalau ini bukan ciuman pertama gadis yang dicintainya.


"Dengan lelaki yang sekarang ada dibawah gue," jawab Fatim tersenyum.


"Maksudmu, aku?"


"Iya, ciuman pertama ku bersama kakak waktu aku masih umur lima tahun, tepatnya di bawah pohon jambu sehari sebelum kita berpisah, dan di sana juga kita mengucap janji kelak akan menikah beneran saat gue dewasa."


Air mata haru kembali mengalir di sudut mata keduanya, mereka tak menyangka janji masa kecilnya tertunai sudah kini. Dengan perlahan Abas meraih tengkuk gadis diatas tubuhnya, ia mulai mencium bibir mungil gadis didepannya.


Lama terhanyut dalam ciuman pertama keduanya saat dewasa membuat keduanya lupa jika mereka masih berbaring di lantai tepatnya di depan pintu, sampai lantunan suara azan berkumandang.


"Azan." Dengan reflek Abas melepaskan ciumannya dan berusaha duduk dan menarik kekasihnya untuk bangun.


"Maaf," ucap Abas pada Fatim.


"Untuk?" tanya Fatim dengan wajah malu-malunya.


"Yang tadi, kakak kebablasan."


"Kayak penjaga gawang aja, iya nggak apa-apa . Gue ikhlas. Kan sudah sah juga." Fatim terlihat cuek dan kini sudah duduk di tepi tempat tidurnya.


"Bantu gue lepasin sleting bajunya ya, tapi ingat harus merem." Fatim mendelik pada Abas." Kakak baru boleh buka mata kalau gue bilang sudah."


"Iya." Abas duduk tepat di samping Fatim dan mulai memejamkan matanya.


"Belum." Fatim mulai melepaskan bajunya." Awas jangan ngintip nanti bisulan matanya." Kini gadis itu sudah ngacir ke kamar mandi dengan meninggalkan gaun pernikahannya di lantai.


"Sudahhhh." Teriakan itu membuat Abas membuka matanya.


Hening, tak ada pergerkan siapapun di sana. Abas tersenyum dan merapikan pakaian Fatim yang berserakan.


"Dasar bocah," gumam Abas sambil kembali tersenyum.


Tak lama Fatim keluar dengan celana katun mirip piyama lengkap dengan baju santainya yang senada, tak lupa ia juga masih mengenakan hijabnya.


"Sekarang giliran kakak, pegi sono!" Fatim menunjuk ke arah kamar mandi.

__ADS_1


"Tapi kakak nggak bawa baju ganti masih di mobil." Abas melihat ke arah Fatim.


"Tenang, baju gue banyak kok." Fatim menuju lemarinya.


"Nih!" Fatim menyerahkan baju kaos oblong berwarna hijau mirip dengan dia pakai serang.


"Kok ada gambar hello kitty sih, Dek?"


"Kalau nggak mau ya nggak apa-apa." Fatim hendak memasukkan kembali bajunya.


"Ya udah, sini." Abas mengambil baju yang Fatim berikan dan berlalu menuju kamar mandi. Kemudian ia membuka bajunya kemudian menggantinya dengan baju kaos oblong milik Fatim dengan gambar hello kitty, karena bajunya masih ada di mobil.


Saat ia keluar Fatim menahan senyumnya.


" kita salat, Dek!" ajak Abas pada Fatim.


Tanpa banyak protes keduanya salat zuhur berjamaah untuk pertama kalinya, kemudian mereka turun untuk makan siang bersama. Nanti setelah asyar semuanya akan kembali pamit ke Bandung. Namun Abas akan tinggal sehari baru nanti ikut ke Bandung bersama Fatim. Karena lusa ia sudah harus bertolak ke Arab Saudi.


Kini keluarga Abas sudah berpamitan untuk pulang, tak lupa Rahmat menjelaskan apa yang sudah dan belum boleh mereka lakukan, karena meski pernikahan ini sudah sah di mata hukum dan agama tetapi mengingat Fatim yang masih sangat muda juga belum siap untuk jadi seorang ibu rumah tangga.


"Oke sekarang kami pamit, semoga jadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah." Maryam mencium dan memeluk anak menantunya.


Suasana rumah sudah lengang, hanya tinggal Fatim, Abas, Nadya, dan para asisten rumah tangganya saja. Seketika Nadya menghampiri keduanya.


"Sayang, malam ini mama akan ada meeting penting. Jadi kalian makan malam berdua saja sama bibi dan pak Amat, ya. Maaf belum bisa makan bersama malam ini." Nadya tersenyum memegang tangan putrinya.


"Iya, Ma. Nggak apa-apa kok, biasanya juga begini tapi sekarang ada kak Pop yang nemenin jadi nggak sepi deh." Fatim mekirik Abas sambik memainkan alisnya yang membuat Nadya ikutan tertawa.


*****


Malam sudah menjelang keduanya sudah duduk di kamar Fatim.


"Dek, kamu biasanya ngapain kalau udah salat isya begini?" tanya Abas yang duduk di sofa.


"Kalau nggak belajar, baca komik, kadang baca novel, sesekali pernah juga main game. Kenapa?" Fatim menatap wajah Abas.


"Kita ganti dengan baca Qur'an, mau?" Abas balik menatap wajah gadis yang dicintainya.


"Boleh, tapi gue nggak begitu lancar atau fasih membacanya," jawab Fatim jujur.


"Kita belajar sama-sama, nanti saat aku sudah jauh dari mu, ingatlah tuk selalu membaca Al Qur'an jika kamu merindukan aku, inshaa Allah selama nyawaku masih bersama ragaku maka aku akan selalu menyematkanmu di penghujung malamku." Abas tersenyum sangat manis.


"Kalau kakak yang merindukan kamu bagaimana? Apa yang harus kakak lakukan?"


"Hmm apa ya?" Fatim tampak berpikir, kemudian ia mengambil sebuah permen lolipop."Ini." Ia menyerahkannya pada Abas.


"Alasannya?"


"Kita pertama kali bertemu karena rebutan permen ini, kita bisa akrab dan jadi sahabat juga berawal dari permen ini. Dan sekarang kita juga sudah jadi suami istri masih perantara permen ini, gue-." Abas menutup bibir Fatim dengan jarinya.


"Mulai detik ini nggak ada kata gue atau loe tapi ganti aku kamu, ngerti?" Abas mencubit gemas hidung Fatim.


"Iya, a-aku mau setiap melihat permen ini dimanapun kak Pop berada harus ingat Loli." Fatim tersenyum.


"Oke, mulai detik ini juga kita kembali ke panggilan masa kecil, Loli," ucap Abas.


"Kak Pop," ucap Fatim, sambil keduanya nengaitkan kelingking.


Kini keduanya berwudu dan mulai saling menyimak bacaan Al Qur'an mereka, pertama mendengar Abas mengaji Fatim sangat tersentuh dan haru, lantunan ayat suci yang dibaca sangat merdu. Begitu juga dengan Abas sangat terkejut di buat oleh Fatim yang juga begitu mahir membacakan ayat demi ayat hingga membuatnya ingin menangis sampai gadis itu menutup bacaanya.


"Shodaqallahul adzim." ucap Fatim sambil menutup mushab Al Qur'annya.


"Subhanallah, bacaanmu sungguh luar biasa, Dek. Tadi katanya nggak bisa?"


"Biasa lagi, Kak. Masa gu-eh aku mesti sombong itu bukan tipe gu-aku." Fatim memukul mulutnya.


"Kenapa, ribet ya? Lama-lama juga akan biasa. Sini kita bobok yuk!" Abas menepuk sisi tempat tidur.


"Emang bo-."


"Kan udah sah." Abas tersenyum manis yang bisa membuat wajah seorang Fatim bersemu merah.


Fatim berbaring dalam pelukan Abas."Jadi lusa kak Pop dah berangkat?"


"Rencananya begitu, jagalah kehormatan dan cintamu hanya untuk aku, suamimu. Dan akupun inshaa Allah akan menjaga kehormatan dan cintaku untukmu istri sahku." Abas mencium kening Fatim.


Fatim terisak dalam dekapan suaminya, ini pertama dan akan jadi yang terakhir untuk keduanya. Karena lusa Abas akan berangkat untuk melanjutkan kuliahnya di Arab Saudi, sedangkan ia akan melanjutkan sekolahnya hingga ia tamat Sekolah Menengah Atas.


Serahkanlah semuanya kepada Allah, ia lebih tahu apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita mau. Sebagai manusia kita hanya berusaha namun hasil akhirnya Allah juga yang menentukan, namun bukan berarti kita harus bersikap pasrah atau menyerah. Karena Allah itu sesuai prasangka umatnya. Seperti kisah cinta Fatim dan Abas, tak kan ada kata tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak.


Kini perahu kehidupan keduanya baru saja akan melaju mengarungi samudra kehidupan yang penuh liku serta pasang surut, semoga mereka mampu berlabuh dalam indahnya muara kasih dan sayang yang terbalut dalam kata SAMAWA.


TAMAT!


Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku dari part awal hingga part akhir, juga terimakasih banyak yang sudah memberikan Tap jempol, vote serta komennya. Tanpa kalian aku dan novelku bukanlah apa-apa, hanya Tuhan saja yang bisa membalas semua kebaikan kalian. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan.

__ADS_1


Jangan lupa kunjugi juga novel ku Nyanyian Takdir Aisyah, sudah TAMAT ya SS1 dan SS 2nya. aku tunggu kunjungannya.



__ADS_2