
"Taraaa." Fatim keluar dengan hijab lebar dalam balutan gamis pemberian umi Maryam yang ada dalam tasnya, ia terlihat sangat anggun dan lengkap dengan kaus kaki pemberian Zahra.
"Masyaallah, kamu sangat cantik dan angun ukh ... eh Fatim," puji Zahra yang diangguki oleh teman-teman lainnya.
"Nggak usah dipuji nanti gue jadi sombong." Kilah Fatim yang tidak mau membuat sahabat barunya merasa minder.
"Yuk kita let's go." Fatim berjalan menuju ke arah pintu.
Semua terlihat kepo mengikuti langkah Fatim menuju keluar asrama. Karena tak ingin mereka terlambat Fatim sengaja tidak memperdulikan ucapan mereka.
Aula sudah ramai, tampak ada beberapa anak perempuan yang terlihat lebih senior berdiri di depan dengan memegang mic.
Semua terdiam menunggu pengumuman yang akan disampaikan oleh para ustazah, begitu lah Zahra dan teman-teman menyebutnya.
"Zahra, ustazahnya bilang apa? Gue nggak ngerti," bisik Fatim di telinga Zahra.
"Kata ustazah besok akan ada pentas seni dan perlombaan khusus santri, dan lombanya per asrama. Kayaknya asrama kita nggak akan ikut." Wajah Zahra sudah menekuk.
"Kenapa?" tanya Fatim lagi.
Belum sempat Zahra menjawab ternyata suara ustazah lebih dulu menggema, memarahi mereka dalam bahasa arab yang tidak menghargai orang berbicara. Zahra langsung diam dan meminta maaf sedangkan Fatim terlihat biasa saja, karena memang sebenarnya dia tidak mengerti.
Melihat hal itu tentu saja ustazahnya menjadi sedikit emosi, dia berpikir Fatim sengaja ingin melawan perintahnya. Dia tidak tahu jika Fatim adalah santri baru untuk beberapa hari kedepan.
Semua ustazah belum diberitahu oleh Abi Rahmat tentang perihal Fatim. Dengan lantang suara ustazah menggema memenuhi aula. Dia menunjuk Fatim agar segera maju ke depan.
Fatim masih tidak mengerti, Zahra yang ada disampinya membisikkan sesuatu ke telinganya baru lah ia mengerti. Dengan cepat Fatim maju ke depan.
Ustazah memarahinya dalam bahasa arab, Rukhayah cs sudah menahan tawa melihat Fatim yang terlihat tidak mengerti.
"Ternyata wajahnya tak sepintar otaknya," ledek Rukhayah yang dibarengi tawa Arimbi dan lainnya.
"So kamu nggak usah takut disaingi sama dia, Khayah. Kamu tahu sendiri 'kan jika akhi Abas menyukai gadis yang pintar dan fasih bahasa arab." Arimbi menimpali dengan tersenyum sinis melihat ke arah Fatim.
Aula tampak hening. Ustazah benar-benar kesal dibuat Fatim. Akhirnya gadis itu berusaha untuk memoerkenalkan dirinya pada ustazah, ia tidak ingin kesalahpahaman ini berlanjut yang akan merusak hubungan yang belum terjalin.
__ADS_1
"Maaf, Zah. Saya baru hari ini di sini, dan saya belum bisa berbahasa arab. Jadi ... bukan maksud saya untuk mengabaikan panggilan Anda. Kemungkinan saya di sini juga tidak lama, kisaran satu minggu atau sepuluh hari saja," jelas Fatim yang membuat ustazah Maysarah terdiam.
Lama ia menatap Fatim, gadis manis yang angun. Terlihat sangat sopan tidak seperti dalam pikirannya. Ia mendekati Fatim.
"Maafkan tazah ya, karena tidak tahu kalau kamu santri baru. Apa kamu yang tadi pagi dibicarakan oleh para santriwati?" Ustazah Maysarah tersenyum.
"Sepertinya iya, Zah. Saya juga minta maaf karena belum sempat berkenalan dengan ustazah di sini." Fatim berbasa basi dengan sopan.
"Baiklah, kamu boleh ke tempatmu. Tanyakan saja apa yang tadi tazah sampaikan pada Zahra." Ustazah menepuk pundak Fatim lembut.
Rukhayah cs memandang sinis pada Fatim dan Zahra, yang tak digubris oleh Fatim. Ia tidak menyangka di pondok masih saja ada santri yang mempunyai sifat seperti itu.
Menurut yang ia tahu seharusnya anak-anak yang nyantri itu punya akhlak yang baik dan mulia, apa mereka tidak menyadari mengapa orang tua menyekolahkan mereka di sini dengan tujuan serta harapan apa?
Setelah duduk kembali bersama Zahra dan kawan-kawannya, terdengar kembali suara ustazah yang memyebutkan rangkaian lombanya.
Setelah selesai semua dibubarkan, rombongan Fatim segera keluar dan mereka berpaspasan dengan rombongan Rukhayah.
"Aku yakin kalau asrama delapan nggak akan berani untuk tampil, sejak lama semua orang tahu jika mereka anak yang di bawah rata-rata." Rukhayah berlalu sambil mengibaskan hijabnya dengan sengaja.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Zahra geram. Ia hendak melabrak Rukhayah biar dia tahu rasa sakinya diremehkan. Namun, dengan cepat Fatim mencegahnya.
Benar saja ucapan Fatim sangat mujarab, Zahra menyurutkan langkahnya dan menunduk. Ia tak pernah berpikir sampai sejauh itu.
"Maksih ya, Tim. Sudah mengingatkan aku." Zahra menunduk malu.
"Kita balik ke asrama yuk! Bentar lagi asar." Fatim mengajak teman baru mereka.
*****
Asrama Delapan ....
Fatim duduk menunggu giliran untuk mandi, kesempatan itu ia gunakan untuk kenalan dengan teman-teman lainnya. Ada Nur, Mira, Nisa, Sari, Qori, Mila, Asha, Rania dan Hanin. Ditambah dengan Zahra cukup sepuluh orang, dan Fatim bonus kesebelas.
Fatim mengajak mereka untuk membahas kegiatan lomba tahunan setelah salat asar. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun oleh pihak pondok.
__ADS_1
Masih di dalam masjid, semua santriwati sudah kembali ke asrama kecuali rombongan Fatim.
"Kita bahas sekarang ya," tanya Fatim membuka percakapan.
"Jangan di sini, Tim. Nggak enak didengar oleh yang lain," bisik Nisa pelan.
"Betul itu, Nis," timpal Mira.
"Ya sudak kita bicarakan di kamar saja, tetapi kalian duluan ya. Gue masih mau ke toilet dulu, bawaan alam kagak nahan." Fatim sengaja mencenggirkan wajahnya agar terlihat lucu, sehingga mampu mengusir kegalauan teman-temannya.
Benar saja semua merasa terhibur dengan keberadaan Fatim, selain itu mereka juga merasa dihargai. Meski wajah mereka biasa saja tetapi gadis itu mau menerima mereka apa adanya.
Dari kejauhan Abas memperhatikan istrinya, tidak nampak taut sedih, kecewa, atau ketakutan di sana.Wajah itu selalu berseri seperti biasanya. Melihat istrinya menuju toilet, ia bergegas menyelinap ke sana.
Dengan sabar ia menunggu di tembok samping toilet, setelah terlihat istrinya keluar dengan cepat ia menarik tangannya yang membuat gadis itu terpekik kaget.
Untung saja Fatim belum mengeluarkan jurus andalannya yaitu bantingan bantal guling. Jika ia maka tamat lah riwayat suaminya.
"Ihhh Kak Pop, kenapa main tarik-tarik segala? Katanya nggak boleh ketemuan. Nah ini." Fatim menunjuk diri dan suaminya.
"Aku kangen, kamu nggak kangen?"
Abas mendelikkan matanya untuk mencari kebenaran di mata kekasihnya itu.
"Nggak, kenapa?"
Fatim memasang wajah cuek yang membuat Abas merasa kesal.
"Kamu beneran, Dek?" tanya Abas ingin memastikan.
"Iya, Kak. Gue eh aku beneran ... beneran rindu berat ama kamu." Fatim tersenyum sambil mencium pipi suaminya kemudian berlari meninggalkanya dengan wajah yang memerah dan hati yang berdebar.
Pikiran Abas terbang melanglang buana ke alam khayalan, dan saat tersadar ia bingung ternyata kekasihnya itu telah hilang dikelokan asrama putri.
Ya Allah, bidadariku benar-benar membuat gemas dan rinduku membuncah, ingin rasanya aku bersamamu lebih lama, tapi sayang sekarang kita lagi di pondok. Aku akan berusaha untuk menahannya demi kamu dan juga diriku.
__ADS_1
Bersambung ....
sesuai janjiku untuk kalian, semoga suka ....