Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
CBDM2. 3


__ADS_3

Dua insan yang sedang kasmaran itu pun bersiap-siap untuk berangkat ke Bandung nanti sore kalau tidak malam, sebab mereka masih harus menunggu Nadya yang membawa bi Ijah ke rumah sakit. Abas juga sudah menghubungi kedua orang tuanya kalau ia dan Fatim akan menginap setidaknya satu minggu nanti di pondok.


Tidak mau lama menunggu Fatim mengajak Abas mengunjungi My Cafe yang sudah beberapa minggu tak di kunjunginya karena sibuk ujian dan persiapan nikahan mereka kemarin.


Setelah bersiap mereka pun pergi menaiki motor sport Fatim yang baru saja dibelikan Nadya sebagai ganti motornya yang dulu dirusak oleh orang suruhan Gladis.


My Cafe ....


Fatim turun dan memasuki My Cafe seperti biasa lalu ia meminta Abas untuk duduk di salah satu kursi yang menghadap ke taman. Tak lama gadis itu melihat salah satu karyawannya melintas dan ia pun melambaikan tangannya.


Pelayan itu pun datang lalu berdiri sambil menyodorkan buku menunya.


"Mau pesan apa, Mbak?"


Fatim tersenyum menatap salah satu rekannya itu, namun belum sempat ia menyebutkan pesannya, pegawainya itu langsung menyemoprotnya dengan omelan.


"Ih loe ya sok-sokan mau pesen, loe kemana aja dua hampir dua minggu nggak kerja, loe mau dipecat sama bos Wawan?" Wajah temannya sesama pelayan terlihat manyun.


"Iya, maaf aku eh gue udah izin kok, nih lagi nemenin su-eh, kakak gue." Fatim melirik Abas sekilas," dia dari Bandung." Fatim akhirnya tertawa.


"Oh pantesan loe ngilang, dan tuh abang loe ganteng juga, kenalin dong. Mana tahu nanti jodoh sama gue, kan enak kita bisa jadi sodara." Gadis dengan nama Mona itu merapikan bajunya.


"Nggak boleh, dia udah disegel. Udah ada yang punya," balas Fatim dengan wajah lucunya.


"Maksud loe dia udah nikah? Kayak lahan aja main segel-segelan." Mona tampak mencibirkan bibirnya.


"Yah, gitu deh. Sini buku menunya." Fatim merebut buku menu dari Mona dan memberikannya pada Abas.


Bukannya memilih menu Abas malah sibuk senyam senyum sendiri sambil memperhatikan wajah istrinya.


"Kenapa?" tanya Fatim melihat tatapan mesra suaminya." Naksir ya?" Ia tersenyum lebar melihat Abas yang ikut mengulum senyumnya.


"Iya aku naksir, tapi sepertinya gadis di depanku ini juga sudah disegel. Apa masih bisa daftar?" Abas mulai bisa mengikuti candaan Fatim.


"Kalau untuk abang pasti bisa asal ada syaratnya." Fatim menaik turunkan alisnya lalu terkekeh melihat ekspresi wajah Abas yang sangat lucu baginya.


"Apa syaratnya?" Abas balas bertanya.


"Abang duel dulu sama suamiku." Fatim memasang wajah seriusnya." Apa Abang takut?" Fatim menahan senyumnya.


"Iya abang takut ... takut sama istri abang yang sudah seperti bos preman Tanah Abang," jawab Abas yang membuat lengannya mendapat cubitan super pedas level tiga puluh.


"Aduh Dek, sakit." Abas menggosok tangannya yang putih terlihat memerah.


"Biarin, abisnya masak aku dibilang mirip preman Tanah Abang, kan tanahnya udah dijual jadi tinggal abangnya aja. Aku mau jadi preman tapi ..." Fatim sengaja menggantungkan ucapannya.

__ADS_1


"Tapi apa?" Abas terlihat tak sabar menunggu kata yang akan diucapkan oleh istrinya.


"Tapi jadi preman di hati kak Pop, biar bisa malak cinta tiap hari." Fatim tersenyum manis pada kekasihnya.


Masih saling pandang keduanya dikagetkan oleh tepukan buku menu di pundak Fatim.


"Woi jadi pesen nggak? Ngeliatin kakak sendiri udah kayak liatin pujaan hati, eling Fatim eling." Mona menceramahi Fatim layaknya ustazah di mushala dekat Cafe mereka.


"Iya maaf," ucap Fatim sambil menunduk menahan senyum agar Mona tak melihatnya, bisa-bisa sampai pagi nanti dia ceramahnya.


Setelah menuliskan pesnannya, Fatim segera memberikannya pada Mona. Sepeninggalan gadis itu kini datang tamu penganggu yang kedua, dia adalah Yati, sahabat yang sangat dirindukannya.


"Fatimmmm!" teriak Yati yang membuat seluruh penghuni cafe melihat kearah mereka." Miss you baby." Gadis itu memeluk Fatim hangat.


"Bacotmu ya, menggelegar membahana, bisa pelan nggak sih?" Fatim terlihat risih jadi bahan perhatian.


Yang diomelin hanya cengar cengir, seolah bukan dirinya yang sedang dimarahi oleh Fatim. Yati malah duduk dan mendekati Abas, yang membuat lelaki itu mundur sedikit agar ridak terlalu dekat dengan gadis itu.


Melihat hal itu tentu saja bibir Yati sudah mencebik, ia terlihat kesal sama Abas karena tidak mau didekatinya.


"Ihh Kak Abas kok gitu sih, emangnya gue bau dan jelek banget ya? Pakai acara mundur segela," sungut Yati kesal, yang disambut dengan tawa oleh Fatim.


"Makanya nggak usah dekat-dekat, bukan mahram," timpal Fatim lagi.


Akhirnya Yati mulai paham, kenapa Abas mundur satu langkah saat didekatinya.


"Makasih Ayang Mbeb." Fatim tersenyum melihat Abas.


"Oohh so sweet, gue iri tahu, sakit hati juga. Aku kapan dihalalin kak Wawan." Yati cemberut yang membuat Abas ataupun Fatim menahan senyum.


Setelah Abas melepas pegangan tangannya, Fatim sudah ditarik menjauh oleh Yati. Dia ingin mengintrogasi temannya itu, tahu sendiri yang namanya Oneng pasti mulai kepo.


Sampai ditaman belakang kedua gadis itu duduk di taman.


"Fren, gimana setelah menikah? Enak nggak?" Yati mulai melempar pertanyaannya ke kepoannya.


"Mayan," jawab Fatim singkat.


"Curang," dengkus Yati kesal.


"Kok curang? Maksud loe apa?" Fatim pura-pura nyolot yang membuat Yati ciut.


"Ih kamu lagi dapet ya? Sensi amat," rutuk Yati mulai kesal.


"Enggak," jawab Fatim mulai melunak.

__ADS_1


"Tuh kan, jawabannya yang pelit. Masa aku nanyanya tiga pertanyaan tapi loe jawabnya cuma hiji berkah doang." Yati memanyunkan bibirnya yang bisa membuat Fatim selalu tersenyum bila bersamanya.


"Cepet Oneng, loe mau nanya apa? Gue mau makan ini, terus abis dari sini nanti sore kami mau ke Bandung, mungkin satu minggu." Fatim mengamit lengan sahabatnya itu.


"Fren, gimana MP, loe? Kalian udah gituan?" Yati senyum malu-malu sendiri.


"Loe kayak nggak ada pertanyaan lain aja, itu nggak boleh gue jawab, tabu alias rahasia yang hanya boleh diketahui oleh me and him, ngerti?" Fatim mencubit hidung sahabatnya.


"Kok gitu sih, tapi kan gue kepo?" Yati masih terlihat kesal.


Fatim hanya tertawa melihat ulah sahabatnya itu, setelah melepas rindu kini Fatim sudah kembali bersama kekasihnya yang ternyata sedang ditemani oleh seorang perempuan.


*Wih siapa tuh, baru ditinggal lima menit udah ada aja yang mau nyerobot suami gue, abisnya gue beruntung banget, dapat suami tampan dan shalih.*


"Ehemm." Fatim mendekati meja suaminya yang terlihat menarik napas lega saat mata mereka bertemu.


Fatim segera menarik kursi dan duduk, wanita yang ada dihadapan Abas menatapnya intens.


"Mbak ini siapa? Main duduk aja dekat suami orang," celoteh wanita yang ada di depan Abas, dia terlihat tidak senang.


"Mbak sendiri siapa? Sudah tahu lelaki ini suami orang tapi masih duduk di sini." Fatim tersenyum sinis.


"Ya suami saya lah, masa suami mbaknya?" Wanita itu menjawab asal.


"Ya gitu deh, saya duduk di sini juga karena dia suami saya, ehhm sepertinya kita berbagi suami deh. Mbak istri ke berapa?" Fatim terlihat santai, sementara Abas terlihat kurang senang dengan wanita yang ada didepannya itu.


"Dasar pelakor, main ngaku-ngaku suami orang, apa nggak ada lelaki lain. Kamu itu cantik, masih muda, masak mau sama suami orang." Wanita itu masih terlihat sengit mengakui Abas sebagai suaminya.


"Maka dari itu Mbak, karena saya cantik, saya masih muda makanya saya dapat suami yang tampan selangit ini, nah kalau mbak sendiri apa namanya kalau bukan pelakor? Mana buktinya kalau suamiku ini juga suaminya Mbak? Atau siapa yang nyuruh Mbak begini?" tanya Fatim to the point yang membuat wanita didepannya ini tak berkutik.


Mendapat tatapan tajam dari Fatim membuat wanita itu bergeming. Ia memang sedang taruhan dengan teman-temannya, jika bisa merayu Abas untuk minum bersama mereka maka ia akan mendapatkan sejumlah uang taruhan.


Setelah mengetahui kebenaran dari tujuan wanita itu Fatim mengajaknya kembali ke meja teman-temannya. Melihat hal itu semua wanita cantik dan tajir yang ada didepannya terdiam.


"Maaf ya Mbak-mbak cantik semua, kalian boleh saja nangkring di sini tetapi jangan pernah mengulangi perbuatan kalian untuk taruhan merayu lelaki lain yang bukan pacar apalagi suami kalian, karena itu akan menyebabkan kesalahpahaman di antara pasangannya, dan itu bisa dituntut ranah hukum atas tuduhan fitnah atau memberikan informasi palsu. Lagian taruhan pakai uang itu sama dengan judi, jadi jika mau berbuat maksiat jangan di tempat saya, cari saja tempat yang lain." Fatim menatap mereka tak berkedip dan tanpa senyuman.


Akhirnya para wanita sosialita itu meminta maaf dan meninggalkan My Cafe. Kini Fatim kembali menemui suaminya.


"Terimakasih, Dek Loli. Tadinya bingung mau bicaranya bagaimana agar mbaknya nggak tersinggung." Abas merasa tidak enak.


"Iya nggak apa-apa, abisnya salah sendiri suamiku tampan." Fatim terkekeh manja.


Kedua pasangan kasmaran itu akhirnya bisa makan setelah penuh drama yang mereka lewati. Setelah makan mereka kembali ke rumah untuk bersiap-siap pergi ke Bandung. Di sana keluarga Abas sudah menyiapkan kejutan untuk mereka berdua.


Terimakasih sudah membaca jika berkenan jangan lupa tap like dan kirim hadiah untuk Fatim dan Abas.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2