
Wellcome to Bandung ....
Udara sejuk mulai terasa, pemandangan bak permadani hijau di sekitaran jalan memang menyejukkan mata.
Fatim sengaja menurunkan kaca mobilnya, ia menghirup udara bersih yang begitu menyegarkan. Sangat jauh berbeda tentunya dengan kota Jakarta yang begitu terasa panas menyengat dan banyak polusi.
Abas sesekali tersenyum melihat istrinya terlihat begitu manis saat menikmati keindahan dan kesegaran kota kembang tersebut. Tak lama mereka melewati persawahan yang terhampar luas seluas mata memandang, yang benar-benar menyejukkan mata. Para petani yang mulai meninggalkan sawahnya untuk 'neduh' ke pondok di tepi sawah, karena memang sudah waktunya untuk makan siang. Dan Fatim, gadis itu meminta suaminya untuk berhenti.
"Kak Pop, kita berhenti sebentar ya." Ia terlihat sedikit memohon.
"Kenapa?" Abas mulai melambatkan laju mobilnya.
"Pengen foto di sawah sekalian mau ngobrol sama para petaninya. Nah lihat itu mereka pada istirahat." Fatim menunjuk ke arah pondokan yang ada di tepi sawah.
Tak ingin istrinya merajuk lelaki itu segera menepikan mobil mereka. Tanpa menunggu gadis itu sudah melepaskan sitbeltnya dan membuka pintu mobil. Ia ingin segera turun namun tangannya ditahan oleh Abas.
"Sabar dulu ya, biar aku yang turun dulu." Abas membuka pintu dan turun lalu ia membuka pintu mobil untuk istrinya.
Keduanya berjalan mendekati para petani yang sedang beristirahat.
"Permisi," sapa gadis itu ramah.
"Iya, kenapa atuh Neng gelies?" tanya seorang ibu padanya.
"Apa saya dan suami bisa numpang foto di sini dan di sawah?" Fatim menunjuk ke arah sawah lalu menerbarkan senyum ramahnya yang diikuti oleh suaminya.
"Oo itu, sok atuh nggak apa-apa tapi kita makan dulu ya," jawab ibu itu ramah sambil menyiapkan beberapa piring untuk mengajak tamunya makan siang bersama.
"Wah tidak usah repot, Bu. Kita hanya berhenti sebentar saja kok," kilah Fatim karena merasa tak enak dengan dua suami istri yang sedang 'neduh' di pondok yang mereka singgahi.
"Iya Bu-Pak, tidak usah repot." Abas ikut menimpali. Namun, bukan orang tua namanya jika tidak bisa membujuk pasangan muda seperti kedua insan yang ada di pondok mereka saat ini.
__ADS_1
"Diterima saja, tidak baik lo menolak rezeki yang sudah ada di depan mata 'pamali'." Istri petani itu mengeluarkan jurus ampuhnya.
Kedua insan itu tak bisa berkutik, jurus skak mat yang diluncurkan oleh ibu itu sungguh sakti mandraguna. Tanpa dikomando keduanya duduk di tikar yang telah dibentangkan di dalam pondok. Dengan sedikit rasa tidak enak keduanya mulai menyuapi nasi dan lauk pauk sederhana yang telah terhidang. Rasa makanan yang sederhana ini benar-benar nikmat sangat berbeda ternyata makan dengan suasana alam dengan suasana restoran.
Dua lelaki tampan beda usia itu terngangga melihat dua bidadari cantik yang juga beda usia makan dengan lahabnya.
"Bu boleh nambah ya?" Fatim tersenyum malu-malu yang disambut dengan anggukan ceria wanita paruh baya didepannya.
Selesai makan mereka foto-foto lalu berbincang-bincang, setelah dirasa cukup barulah keduanya undur diri. Sebelum pulang tak lupa Fatim menyelipkan beberapa lembar uang berwarna merah ke dalam bakul nasi si Ibu yang sudah disapu bersih oleh dirinya dan suami.
Baru saja mobil akan melaju tampak di kaca spion dua suami istri itu melambaikan tangan sambil berteriak minta tunggu. Mendengar itu tentu saja Abas segera menghentikan mobilnya dan menurunkan kaca jendela. Agar bisa menghormati keduanya mereka pun turun.
"Maaf ada apa Pak-Bu?" tanya Abas dengan wajah yang sedikit penasaran.
"Ini anu ,huh." Bapak itu berusaha mengatur napasnya yang terenggah-enggah.
"Ini kenapa ada di bakul nasi?" si Ibu ikut menimpali setelah bisa mengatur napasnya sambil menunjukkan beberapa lembar uang yang tadi Fatim sembunyikan.
Abas terlihat bingung sampai Fatim mendekat dan tersenyum, lalu ia memegang pundak si Ibu.
Setelah acara saling peluk dan lambai kini Abas dan Fatim melanjutkan perjalanan mereka menuju pondok. Gadis itu tidak banyak berceloteh, ia sibuk menikmati indahnya panorama di sepanjang jalan, sesekali ia mengambil ponselnya dan mengambil gambar yang menurutnya unik dan eksotis. Tapi meski suka hunting foto, ia tak pernah mengirimkannya ke medsos, baginya cukup untuk dinikmati sendiri dengan mencetaknya lengkap dengan keterangan gambarnya. Ia telah mempunyai lebih dari sepuluh album foto hasil jepretannya.
"Apa masih jauh Kak Pop?" Gadis itu menoleh pada suaminya.
"Alhamdulillah sudah dekat, Dek. Kamu pasti suka." Abas tak sabar meihat reaksi umi dan abinya saat bertemu dan berbaur dengan menantunya yang unik dan penuh dengan kejutan.
Fatim hanya tersenyum dan tidak menjawab, sebenanya hati gadis itu sedang galau. Ia bingung bagaimana harus bersikap terhadap ayah dan ibu mertuanya, terhadap anak-anak pondok nantinya.
"Kamu melamun atau mikirin aku, Dek." Abas mencandai istrinya.
"Nggak keduanya." Fatim tersenyum sambil menyipitkan matanya yang membuat suaminya tertawa.
__ADS_1
"Ahamdulillah lihat Dek!" Abas menunjuk ke arah depan, plang nama selamat datang di pondok pesantren As Salam sudah terbaca dari arah mereka berada saat ini. Tentu saja ini semakin membuat hati gadis itu ingin menangis.
*Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Apa benar nanti aku nggak bisa sama-sama kak Pop, terus aku tinggal di asrama sama gadis-gadis yang lain. Terus nyuci sendiri dan makannya antri gitu. Ah tapi sepertinya seru juga ya.*
Gadis itu tersenyum sendiri yang membua Abas penasaran. Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya itu? Hal ini membuatnya ingin menjahili istrinya.
"Dek," sapanya pada Fatim dan saat gadis itu berbalik pipinya memyentuh bibir suaminya.
"Curang." Fatim mencubit tangan suaminya yang dibalas usapan lembu dikepalanyanya yang tertutup hijab.
Wajah Fatim merona, hatinya terasa berbunga-bunga seperti musim semi. Ia membuang pandangannya keluar jendela agar Abas tak meihat perubahan raut wajahnya.
Kini mobil mereka telah memasuki gerbang pondok, Abas langsung menuju ke rumah orang tuanya, ia tak ingin jika kedatangan dirinya atau pun Fatim menjadi bahan tontonan di para santri.
Hati gadis itu semakin cepat berpacu seolah ada boom waktu didalamnya yang siap meledak kapan saja. Ia khawatir akan membuat malu suami dan keluarganya.
"Alhamdulilah, yuk turun Dek Loliku sayang." Abas mencoleh hidung istrinya.
"Ihh apaan sih Kak Pop, genit!" Fatim memelototkan matanya pada Abas.
"Nanti kalau di pondok kita nggak bisa begini, Dek. Soalnya hanya Hanafi dan ustad Fajar saja yang tahu kalau kita sudah sah jadi suami istri sedangkan yang lainnya belum tahu." Abas menjelaskan pada istrinya agar nanti dia tidak salah paham.
Fatim menjadi bengong, ia tak menyangka pondok akan membelenggukan kebersamaan mereka. Sebelum turun ia menggenggam tangan suaminya.
"Kak ... apa aku boleh minta ini." Fatim menyentuh bibirnya. Abas yang melihat permintaan istrinya tersenyum lebar.
"Mau minta yang lain juga boleh." Abas memenuhi permintaan istrinya.
"Kenapa minta?" Abas penasaran pada istrinya, pasalnya ia bukan tipe gadis yang suka meminta termasuk sesuatu seperti tadi.
"Buat tabungan, lah katanya nanti kita nggak bisa sama-sama." Jawban gadis itu membuat Abas terkekeh, ia tak menyangka istrinya akan berpikir sejauhnya itu.
__ADS_1
Bagaimana kisah Fatim dan Abas di pondok? Tunggu di next episode ya. Makasih sidah setia selalu.
Bersambung ....