
Tubuh Fatim yang masih pingsan segera Abas gendong dan dimasukkan kedalam mobil, Abi segera memerintahkan Abas untuk membawa Fatim kerumah sakit terdekat.
Sementara kedua penculik yang saling baku hantam kini terlihat panik dan segera melarikan diri, namum mereka melapor ke Gladis kalau tugas mereka telah selesai dan gadis itu telah dibuang kehutan.
Kini Mobil Abas dan Abinya sudah sampai dirumah sakit Kasih Ibu dan segera membawa Fatim ke IGD.
"Tolong sus gadis ini kami menemukannya dijalan dalam kondisi tidak sadarkan diri." Ucap Abi Abas.
"Mari pak segera baringkan disini." menunjuk sebuah bed kosong.
Dengan segera Abas membaringkan tubuh Fatim.
"Maaf ya sebaliknya kalian tunggu diluar dulu biar kami periksa."
"Baik sus."
Abas dan abinya segera meninggalkan tuangan IGD dan menunggu diruang tunggu khusus keluarga pasien. Selang beberapa menit perawat membuka pintu.
"Klek."Keluarga Fatim.
"Iya kami sus, bagaimana keadaanya?"
"Pasien kondisinya baik - baik saja hanya saja sekarang masih dalam pengaruh obat bius, nanti kalau dia sudah siuman boleh segera dibawa pulang, dan berikan dia vitamin ini."Sambil memberikan resep obat.
"Baiklah sus terimakasih banyak ya." Ucap Abi Abas.
"Baiklah pak silahkan temui anak anda, saya permisi dulu dan jangan lupa tebus obatnya ke apotik depan ya." Ucap suster segera berlalu meninggalkan ruang tunggu dan kembali masuk ke IDG.
"Abas kamu tebus dulu obatnya diapotik depan biar Abi yang menunggui gadis itu."
"Baik Abi."Ucap Abas sambil mengambil resep yang diberikan Abinya.
Saat masuk keruangan Fatim, Rahmat segera menghubungi Nadya.
"Halo Assalamualaikum, Nadya."
"Waalaikumusalam, tumben Mat kamu nelepon ada sesuatu yang pentingkah?"
"Iya, aku bertemu calon mantuku dihutan sepertinya dia habis diculik, tetapi dasar calon mantu hebat masih bisa saja melarikan diri, sekarang aku sudah bawa kerumah sakit, cuma aku nggak mau anakmu melihat wajahku, aku tidak mau mereka sampai tahu kalau mereka sudah dijodohkan, aku ingin mereka saling mengenal dan jatuh cinta dengan sendirinya." Sambil terkekeh.
"Aku ikut apa maumu saja, apa Fatim sudah bertemu Abas?"
"Iya malah tadi Abas yang menggendongnya masuk kedalam mobil, dan sepertimya putraku sudah jatuh cinta pada pandangan pertamanya."
"Ha... ha... "Nadya tertawa senang merasa lucu dengan permainan yang akan mereka lakonkan bersama calon besannya.
"Trus apakah yang akan kita lakukan untuk mendekatkan mereka?" Tanya Nadya penasaran.
"Bulan depan aku akan memindahkan Abas ke SMA Unggulanmu itu."
"Apa Abasnya mau?" Dia kan anak pondokan, pandangan anakmu akan tercemar oleh gadis - gadis di SMA unggulan itu nanti."
"Inshaa Allah, Abas anak yang sudah punya bekal jadi tidak akan mudah termakan bujuk rayu anak - anak gadis disana nanti."
"Kasihan putriku akan berjuang untuk mendapatkan pangerannya."
"Begitu juga putraku akan berat perjuangannya mengingat putrimu yang selalu menolak lelaki yang mendekatinya."
"Ha.. ha.. " keduanya saling tertawa mengingat apa yang akan terjadi pada calon anak mantunya nanti.
"Baiklah Nadya aku akan segera pamit, aku tidak mau putrimu melihatku, sepertinya dia sudah siuman, biar nanti Abas yang akan mengantarnya ke Lembang."
"Baiklah Terimakasih banyak ya Rahmat atas bantuannya untuk putriku, dan yakinlah ia akan mengingat sekecil apapun kebaikan kalian dan akan berusaha membalasnya meski nyawa taruhannya."
__ADS_1
"Subhanallah aku sangat terharu, calon mantuku seorang yang berhati malaikat, semoga Allah menjaganya untuk menjadi menantuku, aamiin."
"Aamiin, sekali lagi terimakasih."
Dengan cepat Rahmat meninggalkan ruangan Fatim dan menunggu diluar ruangan.
"Abi.. kenapa diluar?" Katanya mau nungguin si eneng cantik, Abas teh lupa namanya."
"Fatim."Jawab Rahmat keceplosan sambil menutup mulutnya.
"Eh iya, Abi sudah kenalan ya sama Fatim?"
"Ah iya tadi kan kamu yang bilang kalau namanya Fatim waktu daftar."
" Eh iya, Abas lupa maaf ya Abi."
"Begini, tadi Abi dapat telepon dari Umi untuk segera pulang karena ada sedikit masalah dipondok, jadi nanti tolong kamu antar Fatim ke tempat dimana dia Seharusnya berada, pastikan dia selamat ya nak!"
"Inshaa Allah Abi siap laksanakan!"
"Baiklah Abi pamit, biar nanti Abi naik mobil angkutan umum nanti baru minta dijemput mobil pondok."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Setelah kepergian Abinya Abas segera masuk kedalam ruangan dan Fatim sudah duduk bersender dibed rumah sakit.
"Klek ." Kenop pintu terbuka.
"Eh kamu udah sadar mbak." Reflek menutup mulutnya.
"Ehm maksud aku Fatim."
"Eh loe lagi, kok gue ada dimari, tempat apa ini seperti rumah sakit?"
"Iya emang kamu dirumah sakit, aku nemu kamu dihutan pinggir kota, kebetulan aku nganterin Abi aku pulang lewat sana jadi ketemu deh kita, dan kamu pingsan jadi langsung kita bawa kerumah sakit deh." Jelas Abas panjang lebar.
"Oh.. iya gue ingat kalau gue diculik oleh dua orang lelaki dan astagaaa baju gue, celana gue."Ucap Fatim panik.
"Tenang saja semua pakaian kamu masih lengkap kok dan perawat bilang kamu nggak kenapa - napa hanya pengaruh obat bius saja. "
"Alhamdulillah syukur deh kalau kayak gitu, trus sekarang bagaimana, gue mau keluar dari rumah sakit, nggak betah gue."
"Iya boleh, kamu mau aku antar kemana?"
"Lembang, bolehkah?"
"Sure why not."
"Kalau begitu yuk kita cabut."
"Eh jangan, jangan dicabut infusnya nanti kamu berdarah, biar aku panggilkan suster dulu."
Fatim yang melihat ekspresi Abas sudah ketakutan tak bisa memahan tawanya.
"Loh kok kamu tertawa sih, ada yang lucu ya? " Tanya Abas polos.
"Iya loe yang lucu."
"Lah kok aku sih, emang aku ngapain bisa kamu sebut lucu."
"Loe sih, loe kira yang mau gue cabut infusnya kan?"
__ADS_1
"Iya lah abisnya kamu bilang cabut."
"Maksud gue cabut itu ayo kita pulang, segera berangkat."
"Oh gitu." Wajah Abas sudah memerah menahan malu.
Duh kenapa pakai acara merah segala sih tuh muka kan jadi tambah nggak karuan jantungku, comelnyeeee, batin Fatim.
"Maaf ya, soalnya aku nggak faham bahasa gaul kayak kamu itu."
"Nggak apa - apa gue yang harusnya mint maaf sama loe udah buat loe binggung."
"Nggak aku yang salah. "
"Gue."
"Aku."
"Gue."
"Aku yang salah."
"Ya udah deh loe yang salah dari pada sampai subuh kita nggak kelar - kelar." Ucap Fatim sedikit kesal.
Untung aja cakep kalau nggak dah gue kepret nih cowok bikin kesel aja. Eh kok kepo sih gue hadehhh kenapa dengan jantung loe Fatim.
Akhirnya Abas segera memanggil suster untuk melaporkan kepulangan mereka, setelah selesai mengurus administrasi rumah sakit kedua sejoli itu pun mulai bergerak meninggalkan rumah sakit menuju ke Lembang.
*****
Lembang (Teropong Bintang)
Semua rombongan sudah menginap dirumah penduduk, termasuk Yati dan Rangga.
"Kak bagaimana kabar Fatim apa sudah ada konfirmasi dari keluarganya?"
"Gue juga nggak tahu karena gue nggak
punya nomor kontak Fatim, seharusnya dia baik - baik saja kalau yang jemput dia kemarin ajudannya."
"Kenapa gue merasa gelisah ya kak, gue kangen Fatim." Ucap Yati sedih.
"Bukan hanya loe, gue juga sangat merindukan Fatim." Ucap Rangga senyam senyum sendiri.
Wajah Yati langsung cemberut saat tahu Rangga sangat merindukan Fatim.
Kenapa bukan gue sih kak yang loe rinduin, gue kan juga cantik biar nggak setajir Fatim, eh beneran nggak ya kalau Fatim Tajir, penasaran gue, ahh Fatim cepet kesini dong gue kangen.
Sementara itu diperjalanan menuju Lembang.
Mobil Abas melaju dengan kecepatan sedang, keduanya merasa sangat canggung untuk bicara, namun akhirnya Fatim memberanikan diri untuk memulai percakapan terlebih dahulu.
"Ehmm nama loe kemarin siapa gue lupa?"Tanya Fatim berbasa basi.
"Em aku Abas, masak cowok setampan aku kamu lupain sih."Sambil mengalihkan pandangan agar nggak melihat wajah Fatim secara lansung.
"Eh iya Abas, loe kok aneh sih masak nggak mau lihat wajah gue yang cantik ini kalau ngomong."Ucap Fatim polos.
"Emm itu karena kita nggak boleh saling pandang terlalu lama Fatim, takut timbul fitnah."Ucap Abas sambil menatap lurus kedepan.
Fatim yang binggung dengan pemikiran Abas menjadi semakin penasaran dengan lelaki yang kini disedang menyupir disampingnya.
**Aduh nih cowok buat gue penasaran aja ya, semoga Kelembangnya masih jauh ya biar aku bisa ngejahilin nih cowok, ha.. ha.. batin Fatim senang.
__ADS_1
Haduh Fatim, bisa copot jantung aku kalau lama - lama melihatmu apalagi senyummu mengoda imanku, ya Allah ampunilah aku dan selamatkanlah jantungku**.