Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
CALON MANTU 2


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!🌹


*****


Kamar Perawatan Fatim ....


"Baiklah saya akan kepasien yang lain, jangan lupa minum obatnya dan istirahat, aku tidak mau melihat kamu lemas karena kecapean atau malah dapat keluhan baru karena kontak dengan orang-orang nggak jelas gitu."


"Iya."*Dia kira siapa dia, kenal aja nggak sok mau ngatur gue mau ketemu siapa, lagian berani-beraninya bilang adek-adek dan sahbat gue orang nggak jelas, yang ada loe yang nggak jelas, omel Fatim dalam hatinya.*


Sepeninggalan dokter Haris, adik-adik panti bergiliran untuk bertemu Fatim. Dan Nadya keluar kamar untuk memberikan kesempatan pada mereka bersama Fatim. Sedang menuju pintu keluar ponselnya berdering dan itu dari Momon. Sementara mobil ustad Rahmat baru memasuki area parkir rumah sakit.


"Halo Mon, kenapa? Apa semua sudah beres?"


"Halo juga Bu, mau lapor kalau semua sudah siap, mereka ingin bertemu ibu, tetapi untuk yang kasus peracunan nak Fatim, wanita itu sudah bunuh diri tanpa mau menyebutkan siapa dalang dibalik semuanya, jadi dia lebih memilih pergi dengan membawa semua info yang kita butuhkan, mengenai ponsel dan sebaginya juga sudah dihancurkannya sebelum kami berhasil menemukan keberadaanya."


"Hmmm itu semua diluar dugaan kita, tapi ya sudahlah. Mungkin itu yang terbaik dan semoga saja kejadian aneh tidak lagi menghampiri aku dan Fatim, dan untuk keluarga kelima pemuda itu aku baru bisa nanti sore soalnya sekarang lagi banyak anak panti disini, mereka menjengguk Fatim."


"Oke Bu, akan saya sampaikan pada mereka."


"Mon! Kapan kamu kemari? Fatim nanyain kamu, ajak juga pak Mamat kalau kamu pergi ya!"


"Siap Bu, kalau semua sudah beres baru aku berangkat."


"Oke ... bye! Eh lupa (menutup mulutnya), assalamualaikum!"


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Sambungan telepon pun terputus. Kini Nadya duduk diluar sambil bercengkrama dengan anak-anak panti, dan juga ngobrol santai dengan Jerfy serta teman-temannya. Ia juga telah memesan makanan untuk makan siang nanti bu Wati bersama anak-anak panti serta rombongan Jefry dikantin rumah sakit.


*****


Parkiran Rumah Sakit ....


Mobil Rahmat dan komar sudah parkir, dan karena sangat ramai terpaksa mereka parkir diluar area parkir.


"Assalamualaikum Pak, selamat pagi menjelang siang!" sapa Rahmat pada pak satpam jaga parkir.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, pak Ustad. Maaf ya parkirmya harua diluar area. Karena hari ini banyak yang berkunjung, malah ada yang pakai bus segala."


"Iya, nggak apa-apa kok. Saya ngerti!" Mematikan mesin mobil.


"Mau jenggung atau mau berobat pak Ustad?"


"Alhamdulillah mau jengguk calon mantu." Tersenyum pada pak satpam.


"Alhamdulillah, udah punya calon mantu rupanya, nggak jadi kita besanan pak Ustad?"


"Iya, maaf sebelumnya ya. Semoga aja anakku dan calon mantuku berjodoh nanti."


"Aamiin, iya Tad, silahkan." Meminta Rahmat segera turun dari mobilnya.


"Terimakasih Pak, mari!" Meninggalkan mobilnya menuju keruang informasi.


Rahmat dan Komar berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk menuju ke ruang informasi. Mereka hendak menanyakan ruang perawatan Fatim, soalnya ponsel Nadya sedang sibuk.


"Permisi Sus, selamat pagi menjelang siang!"


"Iya Pak, ada yang bisa kami bantu?"


"Kami mencari ruangan pasien atas nama Fatimah Ananbra."


"Fatim lagi?!"


"Kenapa Sus?"


"Sejak pagi sudah banyak yang mengunjungi Fatim, bahkan selebriti juga kalah dengan Fatim."


"Maksudnya Fatim itu selebritis?" tanya Komar penasaran.


"Bukan sih Pak, dia cuma anak SMA doang, tapi yang mengunjunginya rame udah kayak selebriti aja," jelas suster jaga diruang informasi.


"Ooo, kirain saya dia selebriti. Kalau ia tadi mau protes ke pak ustad masa calon mantunya artis." Terkekeh melihat kearah Rahmat.


"Kamu ada-ada aja Komar, yuk kita keruangan calon mantuku." Mengikuti suster yang akan menunjukkan ruangan Fatim.


Sepanjang perjalanan Rahmat melihat kalau mereka bukan menuju bangsal perawatan biasanya, sewaktu pertama mereka mengunjungi Fatim. Dan ini membuatnya merasa heran.


"Maaf Sus, sepertinya kita bukan menuju ke bangsal perawatan ya, kok jalannya beda arah?" tanya Rahmat ingin tahu.


"Iya Pak, anda benar. Ini jalan menuju ruang perawatan observasi," terang suster yang mengantar mereka.


"Kok bisa? Apa pasien mengalami sesuatu sehingga harus diobservasi?"

__ADS_1


"Iya Pak, pasien keracunan."


"Keracunan?!"


"Iya Pak, pasien sengaja diracuni oleh seorang perawat juga tetapi dia terpaksa melakukannya karena anaknya butuh biaya berobat sehingga dia mau saja saat disuruh oleh seorang perempuan yang ingin meracuni pasien."


"Terus bagaimana kondisi pasien sekarang?"


"Alhamdulillah sudah baikan Pak."


"Suster yang meracuninya apa sudah dipolisikan?"


"Tidak Pak, malah sekarang biaya perawatnya ditanggung oleh keluarga Fatim, dan suster itupun sudah dimaafkannya."


"Subhanallah, sungguh mulia hati Nadya dan putrinya."


*Hemm disini aku sudah menemukan kelebihan calon mantu pak Ustad, batin Komar.*


"Oke Pak, kita sudah sampai. Saya hanya bisa mengantarkan sampai disini. Ruangan Fatim itu yang paling ramai." Memunjuk salah satu kamar yang sangat ramai pengunjung.


"Iya Sus, terimakasih banyak, kami permisi." Berjalan menjauhi suster yang tadi mengantar mereka menuju kamar Fatim.


"Pak Ustad, anak-anak ini siapa? Dan para preman itu?"


"Nanti kamu tanya saja sendiri kalau ingin tahu, jangan mengira-ngira." Berjalan menuju anak-anak yang ada didepan kamar Fatim.


"Assalamualaikum semuanya!" sapa Rahmat dan Komar ramah.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka semua.


"Kalian kenapa ramai-ramai kemari?" Rahmat berbasa-basi.


"Kami menjengguk kak Fatim, sejak tahu dia sakit banyak diantara teman-teman kami yang mogok makan kalau nggak diajak menjengguk kesini."


Merasa penasaran Komar pun bertanya."Memangnya Fatim itu siapa kalian?"


"Kak Fatim itu orang yang baik, dia selalu membantu kami, apa yang kami butuhkan selalu dipenuhinya, mulai dari sekolah kami sampai pakaian atau makanan kami."


*Dan aku menemukan kelebihan calon mantunya pak ustad yang lain lagi.*


"Hemm begitu ya, oke kami masuk dulu ya." Berjalan meninggalkan anak-anak panti yang sedang menunggu giliran untuk masuk juga.


Belum lama berjalan mereka bertemu lagi dengan segerombolan preman."Assalamualaikum!" sapa Rahmat.


"Kalian mengapa ada disini?" tanya Komar yang masih juga penasaran.


"Kami juga mau menjengguk bos kami, Fatim!"


"Jadi Fatim bos preman?"


"Bukan Pak, dia bos bengkel yang kami kerjakan, dia juga yang menjadi donatur tetap buat kami. Dia yang sudah menyadarkan kami dari lembah hitam, kami biar tampang seperti ini tapi kami tidak lagi mereman."


"Hmm sungguh anakku kalah jauh bila dibandingkan dengan Fatim, pantas saja pak ustad menolak putriku. Kalau sudah tahu begini akupun ikhlas melepas putra pak Ustad untuk gadis yang bernama Fatim ini.*


"Yuk kita masuk." ajak Rahmat.


Belum lagi keduanya melangkah mereka dikejutkan oleh suara yang memanggil mereka.


"Ustad tunggu!" tampak dua pasutri setengah baya itu berjalan sambil melambaikan tangan pada Komar dan Rahmat.


"Astagfirullah haladzim, ya Allah maafkanlah aku, aku melupakan mereka," ucap Rahmat segera menghampiri keduanya.


"Ya Allah Pak Mansyur, maafkan saya. Saya benar-benar lupa kalau kita harusnya berempat."


"Iya Ustad, nggak apa-apa. Asalkan masih ketemu itu sudah cukup."


"Apa kalian capek? Atau haus?"


"Nggak kok Pak Ustad."


"Ya sudah, yuk! Itu ruangannya sudah dekat." Menujuk sebuah kamar berwarna biru yang ramai dengan orang-orang.


Belum sampai ke kamar Fatim, mereka sudah disambut oleh Nadya."Assalamualaikum, Mat! Kok nggak ngabarin sih kalau mau kemari? Maryam mana?"


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, iya Nad. Maaf saya nggak ngabarin dulu. Ponselmu sibuk, sedangkan Maryam sedang banyak kerjaan. Dan ini kenalin orangtua santri yang minta ikut kemari." Menunjuk Komar.


Nadya pun memangkupkan tangan didepan dadanya."Nadya, salam kenal!"


"Oh iya salam kenal juga, saya Komar."


"Dan mereka siapa Mat?"

__ADS_1


"Kenalkan saya Mansyur dan ini istri saya Subaidah."


Nadya segera menyalami keduanya, karena memang mereka lebih pantas jadi orangtua Nadya. Namun yang membuat Nadya kaget karena tiba-tiba keduanya bersimpuh dikaki Nadya dan menangis sambil meminta maaf.


"Maafkanlah kami, saya tidak sengaja membelanjakan uang ibu, namun kami belum memakannya tetapi saat kemari makanan yang kami bawa sudah berserakan dijalan, maafkanlah kami."


"Bapak-Ibu, ayo bangun. Jangan bersimpuh begini, itu tidak baik. Dan saya kurang faham dengan semua ini." Mengangkat keduanya dengan dibantu oleh Rahmat dan Komar.


Kemudian mereka semua duduk didekat tangga didepan kamar Fatim. Mansyur menceritakan semua kejadian dari mulai menemukan dompet, membeli makanan, sampai mereka bertemu Rahmat. Dan akhirnya hadir dirumah sakit ini.


"Ya Allah, Pak-Bu. Hati kalian sungguh mulia, padahal tidak apa-apa jika ingin membeli makanan dengan uang saya itu, jadi sekarang kalian belum makan?"


Keduanya menggeleng lemah yang membuat Nadya merasa sangat sedih. Dengan segera Nadya meminta pelayan kantin untuk membawakan makanan buat keduanya. Termasuk untuk Rahmat dan Komar juga. Setelah makan barulah mereka keruangan Fatim.


*****


Kamar Perawatan Fatim ....


Sebelum memasuki kamar Fatim, Rahmat sudah memberitahukan kepada Komar agar tidak membicarakan Abas putranya karena itu masih rahasia.


"Assalamualaikum Fatim, calon mantu om. Sudah baikan?"


"Waalaikumussalam, eh Om Rahmat. Alhamdulillah sudah baikan om. Silahkan duduk."


Wajah Komar langsung berbinar saat melihat Fatim. Ia turut merasa bahagia bika Abas bisa berjodoh dengan Fatim, gadis yang cantik, dengan segala kelebihannya. Dan ia pun mengakui jika dibandingkan Fatim, putrinya akan kalah jauh.


Merekapun berbincang dengan gembira sampai waktu zuhur tiba. Mereka segera menunaikan shalat berjamaah dimushala dekat sebelah kamar Fatim. Dan sejak itu Komar menjadi semakin yakin untuk tidak lagi menuntut pak Ustad Rahmat untuk menjodohkan Abas dengan putrinya.


🌹Bersambung.....🌹


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati


*Kauma


I Love My Army Wife


*Novi Wu


Bos Come Here Please!


*Ricky Wijaksono

__ADS_1


Api Dibumi Majapahit


__ADS_2