Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
DEMAM CINTA


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


Sekolah SMA Unggulan ....


"Aku datang, Dek! Aku tak pernah ingkar janji, sama seperti belasan tahun lalu aku jug datang ke bawah pohon jambu. Namun kau selalu pergi, dulu kau yang datang terambat. Kini aku yang terlambat. Abi sudah datang menjemput namun kakak membuat alasan agar bisa menemuimu, namun kini kau telah pergi membawa cinta pertama dan terakhirku untukmu," gumam Abas sedih.


Keduanya berharap akan dapat bersama, meski kini mereka telah terpisah oleh ruang dan waktu, kesempatan untuk bertemu dan mengucapkan salam perpisahan terlerai begitu saja. Dalam diam saling mencinta dalam do'a saling meminta.


Abas kembali ke tempat Abdullah dan Hanafi menunggu untuk membawanya kembali ke Bandung. Dengan tubuh yang telah kuyub i berjalan lesu menuju mobilnya.


"Bagaimana? Apa sudah selesai urusannya?" tanya Abdullah pada putrnya.


"Alhamdulillah sudah, Abi. Kita berangkat sekarang." Abas hendak membuka pintu mobil namun di tahan oleh Abdullah.


"Ganti dulu pakaianmu, abi nggak mau kamu masuk angin." Rahmat menepuk pundak putranya.


Abaspun mengangguk dan segera melakukan apa yang diinginkan oleh abinya. Ia kembali ke dalam rumah dan mengganti bajunya. Tak lama ia pun selesai. Pemuda itu terlihat sangat tampan dan gagah dalam balutan baju kun marun di padu dengan jelana katun hitam.


"Nah, beginikan kamu kelihatan lebih segar, nggak kucel kayak tadi." Rahmat berusaha menghibur putranya, ia tahu kalau Abas gagal berpamitan pada Fatim.


"Oke sekarang kita berangkat ya, ayo naik!" Abdullah segera masuk ke kursi kemudi dan diikuti Abas duduk di sebelah ayahnya. Mobilpun segera bergerak menuju Bandung meninggalkan kota Jakarta yang meninggalkan kenangan singkat namun indah bagi pasangan Abas dan Fatim.


Sementara itu Fatim sudah sampai dirumahnya, bajunya sudah basah kuyup, bahkan badannya menggigil menahan dingin yang meresap sampai ke tulangnya.


Melihat putrinya yang sudah kedinginan, Nadya segera meminta mbok Ijah untuk membuat wedang jahe. Sementara itu ia sudah bersiap menyambut putrinya dengan selimut tebal.


"Ayo sayang, kenapa nggak neduh sih, kok malah menerobos hujan, udah tahu ini hujannya sangat lebat." Nadya mengajak Fatim masuk dan segera membantunya mengganti pakaian lalu menyelimutinya dengan selimut tebal.


Kini Fatim sudah berbaring di tempat tidurnya, ia bahkan bersin beberapa kali, suhu tubuhnya juga mulai naik, padahal ia sangat jarang sakit meski kehujanan.


Nadya naik kelantai dua menuju kamar putrinya, ia bisa mendengar suara bersin putrinya. Hal ini tentu saja membuat hatinya khawatir.


"Sayang, mama masuk ya?" Nadya mendorong pintu kamar dengan kakinyan karena ia memegang baki yang berisikan wedang jahe serta nasi plus sup hangat buat putrinya.


"Ini minum dulu wedang jahenya, lalu makan nasi dan sup hangatnya supaya kondisi tubuhmu lekas membaik." Nadya duduk di samping putrinya.


"Ma, Fatim nggak mau minum wedangnya, pedas nggak enak," renggek Fatim dengan wajah yang cemberut.


"Ayo sayang, dikit aja ya." Nadya menyodorkan cangkir yang berisi wedang jahe. Namun saat tangannya bersentuhan dengan pipi Fatim, ia terkejut anak gadisnya itu demam.


"Sayang! Kamu demam," ucap Nadya panik.


"Cuma dikit kok, Ma. Bentar juga ilang." Fatim melepaskan tangan Nadya dari pipinya.


"Oke, mama ambil obat dulu ya." Nadya beranjak dari duduknya menuju ke ruang dapur. Di sana ada kotak P3K tempat penyimpanan stok obat keluarganya.


Sementara Fatim membungkus dirinya dengan selimut, ia benar-benar merasa tak enak badan. Dengan cepat ia memejamkan matanya yang terasa panas juga kepalanya yang pusing. Sesekali air matanya merembes keluar karena suhu tubuhnya yang terlalu panas.


Di ruang dapur Nadya sudah mengobrak ngabrik kotak obat namun ia tidak menemukan obat untuk meredakan demam.


"Sepertinya memang sudah habis, terpaksa aku harus menelpon dokter keluarga." Nadya bergegas menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya.


Sampai di kamar ia segera menekan nomor dokter Ariani namun masih belum di angkat sampai akhirnya di angkat oleh seseorang yang bukan dokter Ariani.


"Haloo, assalamu'alaikum. Apa ini benar nomor dokter Ariani?" tanya Nadya ragu.


"Iya benar, tapi maaf beliau juga sedang kurang sehat dan sekarang di rawat di rumah sakit Harapan Bunda, ada yang bisa saya bantu? Soalnya untul sementara semua tugas beliau dilimpahkan pada saya." jelas seseorang yang mengangakat ponsel dokter Ariani.


"Oh begitu, semoga beliau cepat sehat kembali. Dan masalah saya, putriku demam tinggi dan stok obat yang dokter Ariani kasih waktu itu sudah habis, bisakah anda datang ke rumah kami?" tanya Nadya penuh harap.


"Tentu, saya akan memenuhi tugas saya sebagai dokter pengganti, baik berikan alamatnya." ucap orang yang akan menggantikan dokter Ariani yang sudah siap mencatat.


Nadya telah memberikan alamat rumahnya yang membuat seseorang di seberang telepon tersenyum manis.


*Ini kan alamatnya dek Fatim, jadi yang tadi telepon adalah mamaanya, bu Nadya. Hmmm kalau jodoh untuk bertemu tak akan kemana. Tunggu aku datang, dek Fatim. Batin dokter pengganti yang akan menangani Fatim.*


*****


Kediaman Nadya ....


Sebuah mobil putih memasuki parkiran rumah Nadya di komplek perumahan elit. Seeorang pemuda tampan turun dengan menyandang sebuah jas berwarna putih juga menjinjing koper ditangan kirinya. Lelaki itu berjalan dengan santai namun sangat berwibawa yang menunjukkan kalau ia orang yang berpendidikan. Setelah sampai di pintu utama ia segera menekan bel.


Klek!


Daun pintu terbuka lebar tampak seorang wanita paruh baya berdiri dengan penuh hormat menyambutnya.


"Ini Den Dokter ya?" tanya bi Ijah.


"Iya, Bi. Non Fatim sama bu Nadyanya mana?" tanya dokter muda itu.


"Eh sudah kenal, to? Monggo, mereka ada di atas." Bi Ijah menunjuk menggunakan jari jempolnya sebagai tanda kesopannnya.

__ADS_1


Dokter itu tersenyum sambil mengikuti bi Ijah dari belakang, keduanya segera naik ke lantai dua tempat kamar Fatim berada. Dokter itu di buat takjub oleh dekor unik tangga serta ruangan yang menuju kamar gadis yang di sukainya. Tentu saja hal ini membuat hatinya bersorak senang, akan menjumpai gadis pujaannya di dalam kamarnya.


"Ini kamarnya, Den. Tunggu bibi ketuk dulu ya." Bi Ijah segera mengetuk pintu.


Tok ...tok ...!


"Bu! Ini Den dokternya sudah datang lo."


"Langsung suruh masuk saja,Bi," jawab Nadya.


"Iya"


"Monggo, Den. Silahkan masuk, bu Nadya sudah menunggu di dalam." Bi Ijah segera membuka pintu.


"Sore, Tante!" sapa dokter Haris.


"Dokter Haris! Anda?"


"Iya Tan, saya dokter pengganti sementara untuk semua langganan dokter Ariani selama beliau belum sehat," jawab dokter Haris sambil berjalan mendekat ke arah Nadya dan Fatim.


"Dek Fatim kenapa?" tanya Abas pada Nadya.


"Dia kehujanan, mungkin karena terlalu dingin sehingga membuat tubunya tidak kuat." Nadya memegang tangan putrinya.


"Baiklah kita cek suhu tubuh dulu ya, nih tolong masukan di bawah ketiaknya." Dokter Haris memyerahkan sebuah termometer kecil berwarna putih biru pada Nadya.


Nadya menerimanya dan meminta Fatim meletakkannya di ketiak.


"Nih, ayo sayang angkat ketinya."


Dengan malas Fatim menuruti keinginan sang mama, dan hanya beberapa menit saja sudah terdengar bunyi dari benda kecil yang tadi ia letakkan.


"Maaf ya, boleh saya minta?" tanya dokter Haris.


Fatim memberikan benda kecil itu pada dokter Haris.


"Hmm suhu tubuhnya tinggi sekali, tiga puluh sembilan koma delapan. Ini hampir empat puluh derajat. Apa kamu mau di rawat saja?" tanya dokter Haris pada Fatim.


"Enggak, gue mau di sini aja." Fatim memancungkan bibirnya yang mulai merah dan kering, efek suhu tubuhnya yang terlalu panas.


"Oke tapi tolong tante suhu ruangannya didinginkan lagi agar proses penurunan suhu tubuhnya menjadi lebih cepat." Dokter Haris mengeluarkan beberapa obat untuk Fatim konsumsi.


"Kamu sudah makan nasi?"


"Mana nasinya, Tan? Biar aku yang suapin." Dokter Haris mengulurkan tangannya meminta nasi pada Nadya.


"Gue nggak mau!" Fatim menutup mulutnya.


"Oke tante ambilkan dulu minuman air hangatnya biar dia lebih segar." Nadya meninggalkan kamar putrinya.


Sepeninggalan Nadya, dokter Haris membujuk Fatim untuk makan.


"Kamu harus makan lalu minum obat, itu jika kamu mau cepat sembuh atau kamu ingin selalu sakit supaya bisa aku jengguk tiap hari?"


"Ogah." jawab Fatim ketus.


"Ogah makan atau ogah aku jenggukin?" tanyanya lagi.


"Ogah keduanya." Fatim menutup wajahnya dengan selimut yang di tarik perlahan oleh dokter Haris sehingga tampaklah wajah Fatim yang cantik meski sedang sakit sehingga detak jantung sang dokter bertalu-talu.


"Atau kamu bukan demam biasa?" canda dokter Haris.


"Maksudnya?" Fatim penasaran.


"Apa kamu demam asmara?" Dokter Haris menatap netra bening milik Fatim yang membuat hatinya bergetar.


"Enggak juga." Fatim tampak menutupi kegugupannya.


"Kalau nggak buktikan dengan kamu makan nasi juga minum obat." Dokter Haris menekan Fatim.


Dengan terpaksa Fatim memakan nasi dengan sup yang tadi Nadya bawakan, meski sebenarnya ia sedang tidak nafsu makan. Demi menutupi perasaannya ia mau makan. Saat Nadya memasuki kamar, dia nampak senang karena putrinya sudah makan dan segera meminum obatnya.


"Nih!" Nadya menyodorkan minuman air putih hangat untuk putrinya.


Dengan cepat Fatim meminum airnya sampai tandas, dan setelahnya ia segera mengatur posisinya untuk istirahat.


"Oke, semoga lekas sembuh besok." Dokter Haris pamit pada Fatim dan meninggalkan kamarnya. Di luar kamar Nadya sudah menunggunya.


"Maaf Dok apa yang anda lakukan sehingga anda bisa membujuk Fatim untuk makan?" tanya Nadya sambil berjalan beriringan dengan dokter Haris.


"Tante jangan panggil saya dokter Haris, tapi cukup Haris saja. Soalnya kayak formal banget, 'kan kita bukan di rumah sakit ini," ucap dokter Haris sambil tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu di rumah tante panggil nak Haris kalau di rumah sakit dokter Haris." Akhirnya Nadya memutuskan panggilan untuk dokter Haris.

__ADS_1


"Nah itu lebih baik." Keduanya tertawa bersama.


"Jadi apa rahasianya jadi anak gadisku itu mau makan?" Nadya mengulangi pertanyaannya.


"Aku bukan membujuknya melainkan mengancamnya." Dokter Haris tersenyum.


"Maksudnya?" Nadya jadi sedikit binggung.


"Aku bilang dia demam cinta, eh dianya nggak terima, ya sudah kalau bukan dia harus membuktikannya dengan makan nasi dan minum obat, so it's happen." Kembali keduanya tertawa.


"Kamu sungguh jenius nak Haris, biasanya Fatim susah untuk ditaklukkan, ngomong-ngomong terimakasih banyak ya atas semua bantuannya." Nadya menyalami dokter Haris.


Dokter Haris pun meninggalkan kediaman Nadya dengan perasaan gembira meski ia tahu mungkin cinta Fatim bukan untuknya.


Sementara itu di Bandung, keluarga Rahmat juga sedang dilanda kepanikan pasalnya Abas juga sedang mengalami demam tinggi. Sejak kecil ini kali kedua ia mengalaminya. Dulu hal serupa juga terjadi saat pertama ia berpisah dengan Fatim kecil. Sekarang kejadian ini terulang lagi. Dalam igauannya ia beberapa kali meminta maaf pada Fatim kalau ia tidak pernah melupakan janjinya.


"Bagaimana ini, Abi?" Maryam terlihat gusar.


"Umi yang tenang dan sabar, sebentar lagi anak kita inshaa Allah akan segera sehat, setelah ia minum obat dokter tadi." Rahmat menenangkan istrinya.


"Kamu coba hubungi Nadya, tanyakan keadaan Fatim," pinta Rahmat pada istrinya.


"Iya, aku telepon Nadya sekarang." Maryam mengambil ponsel di atas nakas.


Tut ... tut ...."


Sambungan teleponpun tersambung.


"Halo, assalamu'alaikum," sapa Maryam.


"Wa'alaikumussalam.warahmatullahi wabarakatuh, ada apa Mar?" tanya Nadya.


"Bagaimana keadaan putrimu, kata Rahmat dia kehujanan?" tanya Maryam sedikit khawatir.


"Iya kamu benar, putriku sedang demam tinggi sekarang tapi tadi sudah minum obat," jelas Nadya.


"Putraku juga sedang demam tinggi, ia bahkan mengigau menyebut nama putrimu," jelas Maryam.


"Benarkah? Semoga mereka berdua cepat sembuh dan baik-baik saja, dan semoga juga mereka berjodoh. Kamu harus cepat karena sekarang ada seorang dokter yang sedang mencoba merebut hati putriku," ucap Nadya sambil tertawa.


"Kamu harus menjaga calon putriku itu, semoga dia nggak pindah kelain hati." Maryam membalas selorohan Nadya.


Setelah bertukar kabar keduanya menutup pembicaraan mereka dengan saling mendoakan dan meminta maaf atas segala salah dan silaf baik yang disengaja maupun tidak selama mereka bicara.


Dalam tidurnya Abas mimpi bertemu Fatim, namun keduanya tak saling bicara. Ia berusaha mengejar gadis impiannya namun gadis itu berlari menjauh. Dengan sekuat tenaga ia berlari mengejar gadisnya namun serasa semua sia-sia. Gadis itu berhenti di persimpangan dan menoleh padanya.


"Aku mohon maafkanlah aku! Aku tidak pernah meninggalkanmu, aku selalu datang meski itu terlambat. Kembalilah aku mohon tunggu aku jangan lagi berlari," ucap Abas memohon.


Dari persimpangan yang lain muncul seorang lelaki tampan yang juga mengulurkan tangannya buat Fatim. Nampak ia menjadi bingung, uluran tangan siapa yang harus dia sambut.


"Kemarilah!" Lelaki itu merentangankan tangannya.


"Aku mohon jangan pergi," ucap Abas memohon dengan menamgkupkn kedua tangannya di depan dada.


Fatim yang berada di tengah persimpangan menjadi semakin bingung, di satu sisi ada suara yang memintanya untuk pergi ke lelaki asing itu, dan di sisi lainnya ada suara yang memintanya kembali pada cinta masa kecilnya.


"Pilih saja jalan pertualangan bersama lelaki tampan itu," bisik salah satu suara.


"Jangan pilih saja jalan penuh bunga dan air mengalir itu bersama cinta masa kecilmu maka bunga-bunga itu akan mekar dan indah," bisik suara lainnya.


Dengan ragu Fatim melangkahkan satu kakinya menuju lelaki asing itu, yang membuat sosok Abas menjadi mengabur.


*kenapa tubuh kak Pop mengabur, aku ... aku tak mau lagi kehilangannya, batin Fatim.*


Akhirmya Fatim berbalik dan berlari untuk menyambut tangan Abas yang mulai mengabur. Seketika bunga-bunga di taman itu bermekaran dan menebarkan bau harum semermak ketika tangan keduanya bersentuhan.


"Subhanallah," ucap Abas yang terbangun dari tidurnya, mimpi yang ia alami serasa sungguh nyata. Peluhnya bercucuran dan nafasnya juga tersengal.


"Alhamdulillah panasmu sudah turun, Nak. Apa kamu bermimpi buruk?" tanya Rahmat pada putranya.


"Iya, Bi." Abas menyeka keringatnya.


"Sebaiknya kamu segera berwudu dan salat," pinta Rahmat pada putranya.


Abaspun segera bangkit untuk berwudu dan salat. Setelah selesai ia seger berdoa untuk memohon ampunan Allah, dan memohon pertologanNya, dzat yang maha membolak balikkan hati.


Bersambung ....


Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!


Maaf ya cuma bisa Up segini besok inshaa Allah aku up lagi. mataku udah nggak kuat ngantuk berat.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah ya dibawah ini:

__ADS_1



__ADS_2