Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
KONSPIRASI 1


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!🌹


# Kamar Perawatan Fatim #


"Masih nggak mau jawab salam?"


"Iya ... iya ... waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh."


Fatim dan Wawan tertawa melihat wajah Yati yang lucu karena merasa kesal tidak diberi es cream oleh Fatim.


Wawanpun segera keluar untuk membeli es cream. Sementara Fatim bercerita dengan Yati.


"Fren!" sapa Yati pada Fatim.


"Hemm, ada apa?" Melihat kearah Yati.


"Loe kangen sekolah nggak?"


"Ya kangenlah, gue kangen semuanya. Kangen makan bakso depan sekolah, kangen teman-teman dikelas, kengen bu Desy yang cantik, kangen kerja ke My Cafe, kangen adek-adek gue dibawah jembatan, kak Jef, Kak John, hmmm ... kengen semuanyalah." Tersenyum mengingat semua yang dirindukannya.


"Loe nggak merindukan gue?" Memasang wajah imutnya.


"Ya enggaklah." Tertawa melihat wajah Yati yang hancur.


"Kok nggak kengen sih, gue marah nih?" mengancam Fatim.


"Ha ... ha ... teman gue tersayang, nggak usah marah-marah kali, kita kan bertemu tiap hari, masak harus kangen? Loe ada-ada aja Fren." Tiba-tiba Fatim Memegang perutnya karena terasa nyeri yang sangat hebat diperutnya, dan kepalanya juga ikut seperti memutar, tenggorokannya kering dan lidanya kelu, mungkin akibat terlalu banyak tertawa dan bercerita.


"Fren! Perut loe sakit ya? Kok pegang perut dan kepala? Memasang wajah khawatir.


Fatim hanya mengangguk, ia tak lagi dapat berbicara karena menahan sakit. Wajah Fatim semakin pucat, keringat sudah keluar membasahi dahi dan tubuhnya. Dan tubuhnya mengigil karena menahan sakit.


"Fren loe kenapa? Fatim jawab gue?" Mengguncang tubuh Fatim yang terlihat semakin pucat dan dipenuhi keringat.


"Ya Allah Fatim! Fren!" teriak Yati.


Dengan lirih Fatim akhirnya dapat berbicara sebelum semuanya menjadi gelap.


"Dok ... ter ...." Menutup matanya karena semua seolah berputar dan gelap.


"Fatimmmmmm!" teriak Yati yang panik melihat Fatim yang tiba-tiba kesakitan.


Untunglah Yati segera teringat ucapan Fatim barusan, ia segera menekan bel darurat yang ada atas kepala Fatim. Tubuh Fatim tampak membiru dan ia tidak sadarkan diri. Selang beberapa menit tim medispun segera datang.


Yati sudah menangis ia binggung harus melakukan apa, karena ia panik saat melihat perawat memegang ponsel barulah ia teringat apa yang harus dia lakukan. Dengan cepat ia menekan nomor Wawan.


"Tut ... tut ... nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan."


*Ya Allah kak Wawan, angkat dong.*


Berulang kali Fatim menelpon namun jawabannya selalu sama. Kini gantian dengan nomor Nadya.


Nada sambungan mulai terhubung.*Alhamdulillah akhirnya ada yang angkat.*


"Halo assalamualaikum, tante ... tan ...." suara tangisan Yati sudah pecah, ia tak lagi berbicara hanya suara tangisnya yang terdengar.


"Halo Yati!"


"Hiks ... hiks ...."


"Yati kamu kenapa?"


"Hiks ... hiks ...."


"Yati bicara dong, jangan nangis aja!"


Saat Nadya sedang meminta Yati untuk berbicara tampak juga salah satu perawat segera menelpon dokter Haris.


"Halo selamat siang Dok!"


"Ada apa, saya baru saja sampai dirumah? Malah ini masih dimobil belum turun." Mematikan mesin mobilnya.


"Ini gawat Dok, pasien atas nama Fatim Ananbra sepertinya mengalami nyeri diperut dan ngedrop, sekarang pasien pingsan tidak sadarkan diri."


"Apaaa?! Iya ... iya, saya akan segara kesana, tolong tangani dulu sebisanya." Kembali menyalahkan mesin mobil menuju kerumah sakit.


Sementara itu Nadya akhirnya bisa membuat Yati bicara.


"Ayo Yati tarik nafas dan hembuskan, setelah tenang baru bicara ya."


Yati mengikuti arahan Nadya, dan dia merasa sedikit tenang. Barulah ia bisa bicara.


"Tan ... Fatim dia ... dia pingsan dan kesakitan."


Jantung Nadya seolah berhenti berdetak mendengar apa yang Yati katakan. Lututnya seketika lemas. Nadya terduduk sambil memijit pelipisnya, dunianya terasa jungkar terbalik.


*Ya Allah, kuatkan putriku, selamatkanlah dirinya.*


Nadya berusaha bangkit, dan ia berjalan dengan terburu-buru hendak menuju kerumah sakit. Sehingga tanpa sadar Nadya menjatuhkan dompetnya diarea parkir yang tidak jauh dari mobilnya terparkir. Dan dompet itu telah diambil oleh seseorang.


Kini Nadya telah memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah keramainan kota Jakarta.


# Rumah Sakit#


Tim medis segera menangani Fatim. Kondisinya sangat lemah. Untuk penangan yang lebih serius Fatim segera didorong keluar kamarnya menuju keruang observasi. Dokter Harispun sudah datang. Ia berlari sekuat tenanganya. Entah mengapa ada bagian hatinya yang pedih saat diberitahukan kondisi Fatim yang drop.

__ADS_1


Kini dia sedang memeriksa kondisi Fatim yang terlihat sangat lemah, dan diagnosa sementara Fatim mengalami kram perut atau infeksi bekas luka operasi yang kambuh karena terlalu banyak bicara dan tertawa.


Semua alat medis telah terpasang ditubuh Fatim. Denyut Nadinya sangat lemah. Haris terlihat sangat gugup dan takut.


Sementara itu Nadya sudah sampai dirumah sakit, dia berlari dengan tergesa-gesa sehingga dia menabrak seseorang yang juga sedang tergesa-gesa.


"Brukk!" suara benturan tubuh Nadya berbenturan dengan orang yang dia tabrak.


"Aduh maaf saya sedang terburu-buru." Berangkat dan hendak membantu orang yang ditabraknya.


"Tante?"


"Wawan?"


"Tante kenapa terburu-buru?"


"Maaf es creammu berhamburan."


"Nggak apa-apa tante, paling Yati dan Fatim saling rebutan," seloroh Wawan sambil tertawa.


"Fatim tidak akan bisa memakan es cream ini." Memunggut es cream yang berhamburan dengan linangan air mata.


"Tan kenapa? Apa terjadi sesuatu pada Fatim?"


"Iya, Fatim pingsan dan drop, makanya tante buru-buru."


"Innalillahi wainnalillahi rojiun, ya Allah kasihan Fatim."


"Ya sudah Tan, sekarang ayo kita lihat keadaan Fatim." Mengajak Nadya bangun.


Keduanya segera berlari menuju kekamar Fatim.


"Brakk!" Wawan mendobrak pintu kamar Fatim."


"Mana Fatim?" tanya Nadya dan Wawan hampir bersamaan.


"Fatim nggak ada lagi, dia ...." ucapan Yati terputus karena Nadya sudah memotongnya.


"Ya Allah, Maksud kamu Fatimku ... dia ... dia ...." Nadya sudah pingsan tak sadarkan diri. Beruntung Wawan segera menagkapnya sehingga tidak terjatuh kelantai.


Dengan sigap Wawan memapah tubuh Nadya, dan membaringkannya ketempat tidur Fatim.


"Yati maksud loe tadi apa? Tolong jangan berbelit-belit!" pinta Wawan.


"Bukan itu maksud gue Kak, Fatim udah dibawa keruang observasi, bukan me ...." Wawan segera meletakkan satu jarinya dibibir Yati, ia tidak ingin Yati mengucapkan kata-kata itu.


"Oke, sekarang tolong nggak usah kita bahas lagi masalah ini, sekarang cepat loe panggil salah satu perawat jaga didepan sana, minta mereka memeriksa mamanya Fatim."


"Iya Kak." Berlari keluar ruangan menuju keruang perawar jaga.


Keadaan Fatim semakin memburuk, dan dari mulutnya mengeluarkan busa.


"Ya Allah, kenapa Fatim begini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa gejala Fatim bukan seperti seseorang yang kram perut pada umumnya, ini lebih seperi pada keracunan, kita harus cepat sedot seluruh racun yang kemungkinan ada dalam tubuh Fatim," perintah Haris.


Setelah melakukan penyedotan, dan pemeriksaan ternyata benar Fatim telah diberi obat bercampur racun yang bekerja sekitar setengah jam setelah diminum.


Dokter haris sangat murka terhadap kejadian ini, dia tidak habis pikir kenapa mereka sampai kecolongan bila ada penyusup yang masuk. Saat mengecek CCTV pun tidak ada terlihat seseorang yang aneh dan asing memasuki kamar Fatim.


"Cepat kalian panggil kedua sahabat Fatim yang menjaganya, mereka pasti tahu apa yang terjadi sebelum Fatim keracunan."


"Baik Dok." Keluar ruang observasi.


Salah seorang perawat segera kekamar Fatim, dan dia melihat ada rekannya yang sedang memberikan pertolongan kepada Nadya.


"Bisa bicara dengan teman Fatim yang menunggunya sejak pagi?"


"Iya Sus, saya," jawab Yati.


Yang satu lagi?"


"Saya Sus," jawab Wawan.


"Oke kalian berdua ikuti saya." Berjalan meninggalkan ruangan Fatim yang sekarang ditempati Nadya.


Kini mereka sampai diruang observasi.


"Siang Dok!" sapa Wawan dan Yati bersamaan.


"Siang, silahkan duduk."


Wawan dan Yati menarik kursi yang ada didepan Haris.


"Ada apa Dok? Apa yang dapat kami bantu?"


"Tolong kalian jawab dengan jujur, setengah jam sebelum Fatim pingsan apa yang dia makan atau minun?"


"Obat," jawab Yati.


"Siapa yang memberi obatnya?"


"Suster jaga," jawab Wawan.


"Iya." Yati mempertegas jawaban Wawan.


"Apa kalian ingat wajahnya?"

__ADS_1


"Ya saya ingat," jawab Yati.


"Oke, sekarang ikut saya keruang CCTV." Beranjak keluar ruangan yang diikuti Yati dan Wawan.


#Ruang CCTV #


Scurity yang berjaga segera mempertontonkan rekaman dikamar Fatim. Dan tampak ada beberapa perawat yang keluar masuk. Dan saat perawat yang terakhir Yati segera meminta tayangannya distop.


"Iya yang itu ... perawat yang paling terakhir itu, dia yang memberi Fatim obat, selain obat tablet dia memberikan obat syrup juga, katanya vitamin supaya Fatim cepat pulih." jelas Yati.


"Oke, sekarang cari perawat itu, dan segera bawa kemari," perintah Haris marah.


Dengan cepat tim security segera bergerak melakukan penyisiran. Berdasarkan keterangan dan pantauan di CCTV mereka berhasil meringkus suster tersebut.


Kini mereka telah menagkapnya dan membawanya pada dokter Haris.


#Ruangan Dokter Haris #


"Nama kamu siapa?"


" Na-Nany," jawabnya terbata.


"Apa yang kamu lakukan pada pasien itu?"


"Maafkan saya Dok, saya terpaksa. Anak saya sakit dan saya butuh uang untuk berobat Dok, saya juga sebenarnya tidak tega, tapi saya benar-benar terpaksa. Saya memberikan obat yang seperti biasanya tetapi obat-obatan itu sudah dilumuri racun, Dok." ucapnya sambil terisak.


"Ya Allah, Nany! Apa kamu tidak takut dosa menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja?"


"Ampuni saya Dok, saya takut dosa." Menangis terisak.


"Sekarang beritahu saya, siapa yang menyuruh kamu?"


Kira-kira siapa ya yang menyuruh Nany meracuni Fatim? Tunggu jawabannya diepisode berikutnya ya.


🌹Bersambung.....🌹


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


* Sudrun


Samudra


Penjelajah Malam


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


*Cindy Elvira


Ketika Muslimah Jatuh Cinta


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati


*Kauma


I Love My Army Wife

__ADS_1


__ADS_2