
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
Parkiran ....
Dengan malu-malu akhirnya Yati menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan yang membuat Fatim semakin jadi untuk meledeknya.
" Cieeee ojek gue nggak laku lagi kayaknya mulai sekarang." Fatim tersenyum bahagia saat melihat sahabatnya merasa bahagia. Ia sangat bersyukur seandainya Yati bisa menjadi sepasang kekasih dengan kak Wawan yang memang adalah lelaki yang sangat baik.
"Jadi kita berangkat sekarang?" Wawan tersenyum bahagia karena Yati menerima ajakannya.
"Tapi ...!" Yati menggigit kecil bibirnya yang membuat siapa saja yang melihatnya merasa gemes.
"Tapi apa?" tanya Wawan penasaran.
"Fren gue nanti kasihan pulang sendirian, kalau dia kenapa-kenapa bagaimana? Siapa yang akan menolongnya?" Yati memasang wajah sedihnya.
"Tenang aja bro, gue akan baik-baik aja, gue pulang bareng pak Amat nanti." Fatim tersenyum lebar hingga menampakan deretan mutiara putihnya yang rapi.
"Kamu beneran nggak apa-apa?" Yati ingin memastikan jawaban sahabatnya itu.
"Inshaa Allah, apa masih kurang yakin?" Fatim mendelik pada sahabatnya itu.
"He ... he ... ya udah kalau gitu, gue berangkat ya!" Yati tersenyum malu.
"Berangkat haji apa umroh?" Fatim melihat ke arah Yati yang menautkan alisnya sebagai tanda kalau dia bingung.
"Haji apa umroh? Apa hubungannya sama gue mau pulang?" cerocos Yati yang bingung.
"Ya adalah lah, tadi kan loe bilang mau berangkat, nah itu dia. Gue do'a in loe biar berangkat haji atau umroh maksudnya, 'gitu." Fatim menjelaskan maksud ucapannya yang sebenarnya ia mencandai Yati.
"Aamiin, makasih Fren ku yang baik." Yati ikut tersenyum meski dia tidak tahu Fatim mencandainya.
Kini Yati telah naik diboncengan Wawan, keduanya sudah melaju perlahan meninggalkan My Cafe. Kini tinggal lah Fatim sendiri di parkiran. Ia segera menghubungi pak Amat untuk menjemputnya.
Sedang menunggu pak Amat seseorang dengan pakaian serba hitam menghampirinya. Tiba-tiba saja lelaki itu sengaja menabrak Fatim sehingga tubuhnya terjatuh, dikarenakan dirinya tidak siap. Namun dengan cepat Fatim segera berangkat dari jatuhnya.
Saat itulah lelaki itu berusaha merebut tas yang sedang disandang oleh Fatim.
"Berikan tas loe! Berikan!" bentak lelaki itu.
"Enak saja siapa loe, hah? Mau main ambil aja tas orang, nggak bisa!" Fatim bicara dengan sedikit kesal pasalnya bajunya kotor dan makanan yang sedang ditentengnya terjatuh beberapa kotak.
"Kalau loe tidak memberikan tas itu, gue bacok loe!" lelaki itu mengeluarkan sebilah golok dari balik jaketnya.
"Buset, besar amat golok loe tapi sayang gue nggak takut!" Fatim menyeringai sinis.
"Bodoh! Gue akan ambil secara paksa, jangan salahkan gue kalau loe akan berakhir mengenaskan." Lelaki itu segera menerjang Fatim dengan goloknya.
Baku hantam antara lelaki berjaket hitam dengan Fatim pun tak terelakkan. Meski perutnya masih terasa nyeri tak membuat Fatim merasa keder. Hanya dalam waktu hampir dua puluh menit saja lelaki itu berhasil Fatim taklukkan.
Jilbab Fatim tampak ada yang sobek akibat sabetan golok lelaki berjaket hitam tadi, meski tidak melukai anggota tubuhnya.
"Katakan! Apa mau loe, hah!" bentak Fatim sambil mengunci tangan lelaki berjaket hitam itu ke atas dengan posisi Fatim menduduki punggungnya.
"Akhhh! Lepasin gue, sakittt!" Lelaki itu berteriak sambil mengeleparkan kakinya.
"Katakan dulu tujuan loe, baru gue lepas." Fatim semakin menguatkan kunciannya.
"Tak ada yang menyuruh atau yang memerintahin gue," Lelaki itu berbicara dengan sedikit lelah karena tubuhya serasa remuk mendapat pukulan telak dari Fatim.
"Kenapa loe mau merampok gue?" Fatim sedikit melonggarkan kunciannya.
"Oke-oke gue akan jelasin tapi tolong lepasin gue," ucap lelaki itu memelas.
"Tapi ingat loe jangan coba-coba kabur." Fatim melepaskan kunciannya.
Lelaki itu tampak bangun perlahan dan duduk di tanah tempatnya terbaring. Sedangkan Fatim duduk berjongkok dihadapannya.
"Berangkat dulu, Bang! Kita duduk di sana!" Fatim menunjuk sebuah bangku kosong di depan parkiran, yang bersamaan itu mobil pak Amat datang.
Lelaki itu mengikuti arahan Fatim, dia berjalan menuju ke bangku panjang yang ada di depan parkiran My Cafe. Tubuhnya tak lagi berdaya untuk sekedar melawan apa lagi melarikan diri. Sedangkan Fatim berjalan untuk mendekati pak Amat.
"Pak! Tolong tunggu sebentar ya, Fatim masih ada urusan dengan lelaki yang duduk di bangku itu." Fatim menunjuk ke arah lelaki yang sudah duduk selonjoran di sana.
"Iya, Non! Terus kotak-kotak itu apa?" tanya pak Amat bingung.
__ADS_1
"Oh itu makanan untuk teman-teman Fatim. Nanti kita antar sekalian pulang." Fatim tersenyum pada pak Amat.
"Ooh iya, Non temui saja lelaki itu nanti biar bapak yang bereskan makanannya." Pak Amat tersenyum. Ia sangat senang karena anak majikannya itu sungguh berhati mulia.
Setelah meminta izin pada pak Amat, Fatim segera menghampiri lelaki yang tadi hendak merampoknya.
"Bagaimana keadaan, Abang? Maaf kalau tadi gue mukulnya terlalu kuat." Fatim duduk di samping lelaki itu.
"Adek nggak salah, seharusnya gue yang minta maaf karena sudah berbuat jahat," ucap lelaki itu menunduk karena malu.
"Gue Fatim, nama abang siapa?" Fatim memperkenalkan diri.
"Gue Benny, dan gue terpaksa melakukan ini. Loe boleh panggil gue abang." Lelaki itu menatap jauh kedepan.
"Abang anak rantau, sudah dua tahun berada di sini. Awalnya dari kampung bermodalkan nekat untuk mengadu nasib di kota. Baru satu minggu sudah kerampokan, semua uang buat modal buka usaha habis." Tampak Benny menunduk mungkin ia merasa sedih.
"Terus?" Fatim memecah keheningan.
"Sejak dirampok itu abang menjadi gelandangan, karena tidak punya uang untuk makan apalagi membayar kontrakan. Dari sini lah abang bertemu para preman yang kemudian memaksa abang untuk ikut mereka merampok bahkan memeperkosa korbannya." Lelaki itu menelan salivanya.
Fatim masih setia menunggu kelanjutan cerita Benny.
"Sejak itu abang ikut mereka, makan minum abang terjamin tetapi sesungguhnya hati nurani abang menolaknya, sampai abang mencoba untuk kabur dan tertangkap. Makanya ini hukumannya, abang harus merampok dan membunuh korbannya." Benny mulai terisak.
"Jika menolak maka nyawa abang yang akan melayang." Tubuh Benny berguncang ia menahan tangisnya.
"Hmmm begitu ceritanya, abang asli mana? Dan para preman yang menyekap dan memaksa abang kerja beginian dimana?" Fatim mengintrogasi Benny layaknya polisi.
"Abang asli Medan, tepatnya kampung Binjai. Base camp kami ada di perempatan jalan sana tidak terlalu jauh dari jembatan yang dikuasai Jefry dan kawan-kawannya. Yang aneh kelompok itu biar mereka preman tetapi tidak pernah berbuat jahat tetapi bisa hidup enak." Benny mencurahkan isi hatinya.
"Gue punya solusi buat Abang, tinggal pilih mau pulang ke kampung halaman atau bergabung ke tim Jefry?" Fatim menatap lekat ke manik lelaki itu.
"Pilihan ini sangat menakjubkan, tetapi kalau boleh jujur ... abang lebih memilih pulang kampung, kasihan ibu sudah tua dan sendiri karena abang anak satu-satunya." Lelaki itu menyeka air matanya yang tetiba mengalir saat menyebut kata ibu.
"Oke deal! Sekarang abang ikut gue ke mobil, kita ke markas bang Jefry. Untuk malam ini abang menginaplah di sana. Besok pagi-pagi aku akan meminta bang Jefry untuk mengantarkan abang ke bandara menuju Medan." Fatim menepuk pundak lelaki itu.
"Kamu yang benar, Dek?" Mata Benny berkaca-kaca.
"Iya, Bang! Inshaa Allah." Fatim tersenyum kembali pada lelaki yang ada dihadapannya.
"Ayo Pak, kita berangkat sekarang!" ajak Fatim pada pak Amat.
"Lelaki itu?" Pak Amat menatap penuh tanya pada lelaki yang sedang bersama Fatim.
"Dia bang Benny, akan ikut bersama kita ke tempat kak Jefry." Fatim membuka pintu mobil untuk lelaki itu.
"Abang di depan ya sama pak Amat," ucap Fatim melirik ke arah Benny.
"Tapi ...." Benny tidak melanjutkan ucapannya karena Fatim sudah mendelik tajam sebagai ungkapan tidak ada protes.
Merekapun akhirnya meninggalkan My Cafe menuju ke arah bawah jembatan. Hanya dalam setengah jam mereka sudah sampai.
"Assalamu'alaikum," sapa Fatim riang pada semua penghuni basecamp.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Kakak Fatim!" teriak anak-anak kecil serempak, mereka tampak begitu ceria karena sudah lama tidak bertemu. Sejak Fatim kecelakaan mereka hanya sekali bertemu Fatim. Meski kirimannya selalu ada tetapi itu bukan sosok yang mereka tunggu.
Benny sangat terkejut dengan pemandangan dihadapannya, ia sangat tidak menduga jika hati Fatim begitu mulia. Menyayangi anak-anak jalanan tanpa pamrih. Ia merasa sangat malu sekaligus beruntung bisa bertemu gadis dihadapannya saat ini.
"Kak Jef, mana?" tanya Fatim pada adik-adiknya.
"Gue di sini." Jefry berjalan mendekati Fatim, tidak dipungkiri ia juga sangat merindukan Fatim jauh di lubuk hatinya.
"Kenapa?" tanya Jefry lagi sambil tersenyum menatap gadis malaikatnya.
"Gue mau titip teman, namanya Benny. Dia asli Medan. Malam ini tolong ajak dia menginap di sini, besok pagi-pagi tolong kak Jef antar ia ke bandara. Dia mau pulang ke kampung halamannya. Selain itu gue ingin kak Jef selesaikan dulu urusanya dengan preman di ujung jalan sana." Fatim menjelaskan perihal Benny pada teman-temannya.
Mendengar cerita Fatim membuat Jefry berserta teman-temannya geram.
"Tidak usah menunggu besok, kami akan menyelesaikan masalahnya malam ini juga, besok mereka semua sudah akan ada di hotel prodeo." Jefry menatap Fatim dan Benny bergantian.
"Oke, gue tunggu kabarnya, tetapi harus ingat tetap jaga keselamatan tim." Fatim tersenyum.
"Bang Ben, gue cabut (berangkat) dulu. Semoga bang Ben betah dan bisa tidur nyenyak." Fatim tersenyum dan menepuk pundak Benny.
"Kak Jef tolong kemari sebentar!" Fatim melambaikan tangannya pada Jefry.
"Kenapa, Dek?" Jefry mendekat, ia semakin merasa terpesona melihat kecantikan Fatim yang semakin jelas terlihat apa lagi setelah ia berhijab.
__ADS_1
"Tolong berikan amplol ini nanti setelah bang Ben sampai di bandara. Bilang padanya gunakan uang ini untuk modal usaha di kampung." ucap Fatim sambil memberikan sebuah amplop yang cukup tebal.
"Kakak boleh tahu berapa isinya?" tanya Jefry yang penasaran.
"Rahasia, tetapi itu inshaa Allah cukup untuk modal awal membangun usaha kecil-kecilan." Fatim tersenyum manis melihat ekspresi Jefry yang kepo pada amplop yang dia titipkan.
"Udah ah, hari semakin malam gue pamit, Assalamu'alaikum!" Fatim segera kembali ke mobil dan mulai bergerak meninggalkan camp di bawah jembatan.
*Yaa Allah ternyata masih benar-benar ada manusia yang berhati malaikat seperti gadis itu, aku sungguh malu Pada-Mu yaa Allah karena terlalu putus asa dan meninggalkan semua perintah-Mu. Terimakasih Fatim, kau telah membuka pintu hatiku, batin Benny penuh haru.*
Bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
Ceo dingin dan Gadis Kampung
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Ceo Somplak
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
* Syala Yaya
Istri kedua tuan Krisna
* Cherin Kauma
l Love My Army Wife
*Oktavia Tresiani
Pacarku Hantu
__ADS_1